Tidak terasa malam begitu cepat, aku segera menutup jendela kamarku, dan kembali memperhatikan desa ini, benar saja, desa tempatku tinggal sekarang kembali ramai di malam hari, seperti malam kemarin mereka semua terus melihat ke bawah tidak ada satupun orang yang menoleh ke atas.
"Memang aneh" ucapku, sambil terus memandang orang-orang itu dari jendela kamarku.
Perlahan aku melihat ada seorang yang bergerak-gerik aneh, aku terus memperhatikan orang itu, ternyata dia menoleh ke atas.
"Arghh!" jantungku kembali terasa seperti akan copot, muka laki-laki tadi sudah hancur penuh dengan darah dia sempat menatapku tajam.
"Haha, haha, haha, aku pasti salah lihat" sangkalku, aku tidak percayan dengan apa yang baru saja aku lihat.
"Oke Nayla, kamu harus memastikan kembali apa yang kau lihat barusan" ucapku yakin.
Dengan gerak cepat aku kembali membuka jendela kordeng yang tadi sempat aku tutup dengan kasar, karena takut dan juga kaget.
Aku menghelanafas ku secara perlahan, ternayata apa yang aku lihat tadi sepertinya hanya halusi nasiku saja, buktinya sekarang orang-orang di desa ini tetap seperti pertama aku lihat, mereka terus menundukan kepala seperti biasa.
Aku yang merasa bosan segera menghidupkan televisi kecil yang terdapat di kamarku.
"Sial" ucapku kesal, ternyata televisinya tidak dapat hidup sama sekali, lalu aku beralih melihat buku yang terdapat di meja samping tempat tidurku, aku membuka buku itu secara perlahan, tapi sayangnya aku tidak tertarik sama sekali dengan buku itu.
"Sepertinya sekarang sudah waktunya makan malam, lebih baik aku segera pergi makan malam"
Aku benar-benar meninggakan kamarku untuk kembali mengisi perutku siapa tau disaat malam aku bisa bertemu dengan penghuni kosan ini, semalam aku melewatkan makan malamku, jadi aku tidak tahu apa yang terjadi dikosan ini tadi malam.
***
Nayla yang baru saja menutup pintu kamarnya, tiba-tiba saja televisi yang tadi dia nyalakan lalu dia matikan kembali, hidup begitu saja dengan sendirinya, lalu buku yang dia buka tadi juga membuka sendiri di halam terakhir yang Nayla pegang.
"Heheh" seorang perempuan berpakain merah, sedang tertawa di atas kasur Nayla, tawanya sangat mengerikan jika ada orang yang mendengarnya, pasti orang itu akan ketakutan.
Sedagkan Nayla saat ini sudah berada di ruang makan, disitu terdapat sepasang kekasih yang sedang menunggu makan mereka.
"Kalian sudah lama tinggal disini?" tanya Nayla ramah, pada sepasang kekasih itu.
"Aku Nyala" ucap Nayla memperkenalkan diri.
"Gadis cantik sihlakan duduk dulu" jawab seorang cowok dengan ramah, sambil memberikan kursi untuk Nayla.
"Aku, Arin dan ini pacarku Dika, senang bertemu denganmu" ucap Arin sambil menjulurkan tanganya pada Nayla, tidak lupa dia juga tersenyum pada Nayla.
Nayla menerima uluran tangan Arin dengan senang hati.
"Mengenai pertanyaan mu tadi, kami berada disini baru satu hari yang lalu" ucap Dika sambil memasukan makanannya ke dalam mulutnya.
"Kami juga tadinya tersesat, tapi kami beruntung bertemu dengan Erlangga" tambah Arin, dia juga sambil menyantap makanannya.
"Erlangga!" ulang Nayla. "Sepertinya nama itu sangat tidak asing bagiku" sahut Nayla dengan rasa penasarannya.
"Entahlah, tapi yang kami tahu, kami tersesat karena jembatan yang berada disini putus, maka dari itu dengan terpaksa kami harus tinggal di kosan ini, tapi aku membaca di internet tentang desa ini yang sudah lama kosong" jelas Arin.
Mereka yang sedang asik ngobrol tiba-tiba datang seorang cowok ganteng mendekat ke arah meja makan dimana Nayla, Arin dan Dika berada.
"Maaf telat" ucap cowok itu.
"Ini Erlangga" Dika tidak menjawab ucapan Erlangga, malah dia balik memperkenalkan Erlangga pada Nayla.
"Aku seperti pernah melihatmu sebelumnya" ucap Nayla.
"Mungkin kebetulan saja, aku Erlangga dan nama kamu siapa?" tanya Erlangga pada Nayla dengan senyum ramah.
"Aku Nayla, senang bisa kenal denganmu, semoga kedepannya kita bisa menjadi teman baik" ucap Nayla senang.
"Tapi sebentar, tadi Arin bilang kalian berada di kosan ini baru satu hari satu malam buka?"
"Iya benar" jawab Arin dan Dika kompak.
"Setahuku kosan disini sudah penuh, tapi kenapa kalian masih bisa menyewa kamar? lalu aku juga belum melihat penghuni lain selain kalian bertiga dan Nita juga Rio" ucap Nayla merasa bingung.
"Lalu dimana penghuni yang lainnya?"
"Kata bibi, penghuni dikosan ini jarang sekali berintraksi dengan penghuni yang lainnya, itu wajar bukan jika ada orang yang sulit berintraksi dengan orang lain" jawaban logis dari Erlangga mampu membuat Nayla paham dan mengikuti logikanya, karena yang dikatakan Erlangga ada benar adanya, pasti ada orang yang tidak terlalu suka berinteraksi dengan orang banyak.
"Tapi apakah kalian saat sampai disini melihat ada orang yang berkeliaran di desa ini? karena saat kau sampai disini tidak ada satupun orang yang keluar dari rumah mereka, tapi yang anehnya mereka akan keluar di malam hari"
"Lalu mereka akan terus menunduk ke bawah, seperti mencari sesuatu" terang Nayla.
"Sama kita juga tidak melihat satupun orang di desa ini saat sampai di tempat ini, menurutku hal ini sangat aneh" sahut Arin sepertinya dia juga mempunyai pemikiran yang sama seperti Nayla.
"Sudah jangan berpikir yang aneh-aneh lebih baik sekarang kita makan, lagi pula wajar jika tidak ada satu orangpun yang keluar dari rumah mereka di pagi hari, lihat saja kabut di tempat ini sangat tebal"
"Siapa yang akan keluar di hari yang selalu penuh kabut, lebih baik berdiam diri di dalam rumah bukan" jawaban yang Dika berikan ada benarnya juga.
"Sudah Nayla jangan banyak berpikir lebih baik sekarang kamu makan dulu" ucap Erlangga lembut.
"Hmmm" sindir Dika yang langsung mendapatkan cubitan dari Arin. "Biarkan mereka seperti itu, aku rasa mereka cocok" bisik Arin di telinga Dika.
"Tapi bisakan kamu nggak nyubit aku?" sebal Dika, dia pura-pura marah sekarang.
Nayla dan Erlangga hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah Dika dan Arin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Amaira Singkil
next kk
2022-06-13
0
Yukity
semangat🆙😍
2022-06-13
0