Nita!

 Tidak terasa waktu begitu cepat sekarang sore hari sudah mulai mengembang di penjuru Desa itu. Nayla dan Erlangga tadinya sedang mengambil potret diri Nayla, untuk langsung Nayla pindahkan ke dalam laptopnya ketika semuanya sudah selesai Nayla dan Erlangga segera kembali ke kosan seperti biasanya.

"Terima kasih banyak Er, untuk hari ini aku akan memindahkan potret diriku ke dalam laptopku nanti, aku meminjam kameramu terlebih dahulu" ucap Nayla pada Erlangga. 

"Nanti akan kuberikan kameraku padamu atau jika tidak bawa saja sekarang" Jawab Erlangga dengan senyum yang selalu mengembang di bibir manisnya.

"Sekali lagi terima kasih banyak Er, kalau begitu akan duluan ke atas" pamit Nayla pada Erlangga.

Saat Nayla sampai di depan kamar Dika dan Arin, tangan Nayla ditarik oleh keduanya.

"Eh, kenapa?" tanya Nayla bingung pada mereka berdua. Nayla menatap Dika dan Arin secara bergantian, karena tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari mereka berdua.

"Ada yang mau kita omongin sama lo" ucap Arin akhirnya. "Aku curiga tahu sama bibi juga paman" tambah Arin lagi.

"Maksudnya apa?" tanya ku dengan rasa bingung. 

"Lo inget kan apa yang aku bilang waktu di meja makan hari itu, kalau muka bibi seperti mayat, aku yakin Nay pasti kamu juga curigakan kalau sebenarnya di kosan ini ada hantunya?" kata-kata Arin barusan membuat jantung Nayla berdetak dengan sangat kencang, seakan membenarkan apa yang Arin katakan baru saja.

Nayla masih mematung di tempatnya, "Aku juga sebenarnya, saat pertama kali masuk ke dalam kosan ini merasa seperti banyak hal-hal aneh"

"Kalian berdua ingatkan saat aku bicara pada bibi di meja makan, tentang sesuatu yang menetes dari atap kamarku, itu bukan air tapi darah, aku sangat yakin itu darah" ucap Nayla. dia mulai frustasi dengan semua ini.

"Aku juga sebenarnya curiga dengan Erlangga, ini sangat aneh saat pertama kali aku masuk ke kamarnya, aku mencium bau sesuatu yang sangat menyengat, itu seperti bau, ah! bau apa aku lupa" kini Dika ikut berkomentar.

"Bau kapur barus maksudmu?" tanya Nayla.

"Iya benar Nay, itu seperti bau seorang yang baru saja meninggal"

"Tapi saat aku masuk ke dalam kamarku, aku juga mencium bau seperti itu" ungkap Nayla.

"Bukankah kita juga mencium bau yang sama saat masuk ke dalam kamar kita Dika?" tambah Arin.

"Tapi kenapa Erlangga tidak pernah membuka jendela dan hordeng kamarnya?" Dika semakin membuat Nayla dan Arin bingung.

"Itu karena jendela kamarku rusak, dan aku juga tidak tahu kenapa bibi melarang ku membuka hordeng jendela kamarku" suara Erlangga membuat ketiga orang itu tersadar. 

"Erlangga! kamu sejak kapan disini?" tanya Arin, sedangkan Nayla hanya bisa menunduk karena merasa bersalah pada Erlangga.

"Aku baru saja kesini, saat aku mengetuk pintu kamar kalian tidak ada yang membukanya, jadi aku masuk saja, aku hanya ingin meminjam chasan pada Dika" jawab Erlangga, entah dia berkata jujur atau tidak.

"Kalau begitu aku ke kamarku dulu, kepalaku mulai terasa sakit" ucap Nayla sambil hendak berjalan.

"Biar aku antar Nay, kepalamu sedang sakit" tawar Erlangga. 

"Tapi aku meminjam chasan sebentar pada Dika, mana Dika?" tanya Erlangga sambil mengangkat satu aslinya.

Dika segera tersadar dari pikirannya sang sudah kalang kabut. "Sebentar aku ambil dulu" Dika mengambil casan yang terdapat di dalam tasnya.

"Ini Er" 

"Kalau gitu gue sama Nayla duluan Dika, Arin, thanks buat casannya nanti aku balikin" 

Saat sudah memastikan jika Nayla dan Erlangga sudah benar-benar pergi Arin segera memarahi Dika. "Kamu sih, unduh-nuduh Erlangga gitu aja, padahalkan dia udah baik sama kita" kesal Arin pada Dika.

"Ya maaf, habisnya aku ngerasa kalau Erlangga sedikit aneh" 

"Besok kamu harus minta maaf sama Erlangga, untung dia nggak denger semua apa yang kita bilang tadi" ucap Arin pada Dika, Arin pergi meninggalkan Dika begitu saja dengan rasa kesalnya.

***

Malam harinya Nayla yang merasa sangat haus segera turun dari lantai atas menuju dapur, tapi anehnya malam ini seperti tidak ada satupun orang yang berada di kosan itu.

Nayla baru saja kembali dari dapur, saat dia melewati kamar Nita dan Roi, tidak sengaja mendengar suara tangisan seorang anak kecil juga suara seorang perempuan yang sedang marah ditambah suara tamparan yang sangat kuat.

"Kakak sudah bilang, jangan pergi jauh-jauh! plak, plak" suara itu terdengar sangat keras.

Nayla yang mendengar itu semua dari balik pintu hanya bisa meringis seperti merasakan tamparan yang Nita berikan pada Roi.

"Kenapa Nita tega sekali" gumun Nayla, sekarang dia tidak sadar jika Nita sudah berada di depannya.

"Kenapa kamu menguping? tanya Nita dengan sangat marah.

"Aku tidak berniat seperti itu" jawab gugu Nayla.

"Kenapa kamu tidak cepat kembali ke kamarmu hah? temanmu yang selalu menatapku tajam sudah menunggumu sedari tadi" geram Nita.

Nayla sudah mulai was-was dengan Nita. " Maksud Kamu apa? aku hanya tinggal sendiri di kamarku" sangkal Nayla.

"Tapi aku melihat gadis berbaju merah itu selalu masuk ke kamarmu, sekarang kamu haru mati!!" ucapan Nita menggema di seluruh kuping Nayla.

Nita berjalan lebih mendekat ke arah Nayla, Nayla yang tahu pergerakan dari Nita segera berlari dengan secepat mungkin.

"Tolong….., hik….hik…" Nayla terus berlari untuk menghindari Nita.  

Pergerakan Nita terlalu cepat hingga dia bisa mengejar Nayla dengan mudah. "Hahaah…! kamu harus mati Nayla" ucap Nita, sambil mencekik leher Nayla dengan sangat keras.

"Hik… tolong lepas!" Nayla terus berusaha memberontak beruntung, perlawanan yang dia lakukan tidak sia-sia.

Nayla terus berlari ke lantai bawah untuk menghindari Nita yang terus mengejarnya, saat sudah sampai di lantai bawah Nayla segera berteriak untuk kembali meminta tolong, tapi sayang tidak ada satupun orang yang mendengar teriakannya. 

Bahkan saat dia ingin keluar dari kosan itu pintu kosan terkunci dengan sangat rapat, Nayla terus berusaha tapi semuanya hanya sia-sia saja. Nita yang pergerakannya begitu cepat tentu sangat bisa menyusul Nayla yang sudah ketakutan dan hampir mati.

"Hahaha Nayla kamu harus mati" ucap Nita lagi, dengan suara yang begitu sangat mengerikan, Nita terus berjalan mendekati Nayla dan kembali mencekik leher Nayla dengan sangat kuat.

"Hiks….Hiks…. tolong lepaskan aku, aku mohon" pinta Nayla dengan sisa-sisa kesadarannya pada Nita, Nayla menatap Nita dengan tatapan aneh, sekaligus takut.

Sampai Nayla pingsan dan tidak sadarkan diri lagi Nita baru melepaskan cekikannya pada Nayla, lalu Nita pergi begitu saja  meninggalkan Nayla yang sudah pingsan.

Terpopuler

Comments

Kucing Hitam

Kucing Hitam

lanjut kak

2022-06-14

2

Anak orang

Anak orang

lanjut kak, kasian si Nayla

2022-06-14

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!