Satu hari lagi jembatan sudah akan jadi, itu artinya aku akan segera meninggalkan kosan ini, tapi sebelum itu aku ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi di kosan dan di desa ini, maka dari itu aku memutuskan untuk merekam apa yang sebenarnya terjadi di kamarku saat malam hari.
"Mari kita mulai, Nayla!" ucapku pada diri sendiri, lalu tanganku beralih mengambil tas milik ku yang terletak diatas naskah kamarku.
Aku mengotak atik isi tasku, karena seingatku, aku selalu membawa kamera kemana saja aku bepergian, walaupun sebenarnya aku tidak ahli dalam memotret, tapi entah kenapa aku sangat menyukai kamera untuk aku bawa kemana-mana.
"Dapat" ucapku senang, aku segera menyalakan kamera ku dan meletakkannya di meja dekat televisi kecil yang tidak bisa digunakan itu, aku sedikit menyembunyikan kamera itu agar tidak ada yang mencurigainya.
"Sekarang aku harus tertidur dan memeriksa camera itu kembali besok pagi" ucapku dengan yakin.
Suasana malam ini dengan malam-malam yang sebelumnya sangat amat berbeda, aku dapat merasakan, jika malam ini hawanya lebih menyeramkan dari malam sebelumnya.
Tadi saat selesai makan malam aku melihat keadaan Arin terlebih dahulu, beruntungnya keadaan Arin jauh lebih membaik dari tadi pagi.
"Lebih baik aku meminum obat ku terlebih dahulu" ucapku, lalu tanganku bergerak mengambil kedua botol obat ku, yang isinya hanya tinggal sedikit lagi.
Waktu itu aku hampir membuang kedua botol obat ku ini karena merasa bosan dan kesal setiap hari harus menelan dua butir obat yang sangat besar, aku merasa seakan dunia ku hanya ada obat, obat dan obat.
Tapi semua itu aku urungkan karena kepalaku yang selalu merasa sakit, dan aku benar-benar membutuhkan obat itu.
"Waktunya untuk tidur Nayla" suruhku pada diri sendiri, aku segera mematikan lampu kamarku, karena aku sudah mengantuk, aku tidak bisa tidur dalam keadaan cahaya lampu yang terang.
Tapi saat lampu kamarku sudah mati dengan sempurna, bau busuk memasuki lobang hidungku, bau ini seperti pertama kalinya aku menginjakan kaki di kamar ini.
Bukan hanya bau busuk yang sekarang aku rasakan tapi juga suasana yang amat sangat mencekik diri ku juga sangat membuat ku susah sekali untuk bernafas.
Pikir ku daripada terus begini lebih baik aku segera memejamkan mataku.
Beruntung bau busuk dan suasana mencengkam itu tidak lagi menghampiri diriku setelah aku menutup mataku secara perlahan-lahan.
***
Pagi harinya aku terbangun seperti biasanya setelah selesai membersihkan diri aku, bergabung dengan yang lain di meja makan untuk menyantap sarapan pagi, aku tersenyum saat sampai di bawah ternyata Arin sudah bisa ikut sarapan pagi dengan kami.
Aku berjalan mendekat ke arah meja makan disana sudah ada Erlangga, Dika dan Arin seperti biasanya. Aku heran pada diriku sendiri kenapa aku selalu datang terakhir ke maja makan.
"Pagi semua" sapaku dengan senyum cerah yang sudah terbit sedari tadi di bibirku saat aku melihat Arin sudah bergabung dengan mereka.
"Pagi Nayla" mereka bertiga menjawab dengan sangat kompak tak lupa ketiganya juga tersenyum padaku.
"Maaf telat" ucap ku tidak enak. "Bagaimana keadaanmu sekarang Ri?" aku meneruskan perkataanku untuk bertanya pada Arin..
"Jauh lebih baik Nay, dari sebelumnya" jawab Arin, sambil bersiap untuk menyantap makanan nya.
"Nay, bukannya kamu memang selalu datang terakhir saat makan" Dika menjawab ucapanku tadi. Sedangkan Erlangga hanya tersenyum padaku.
"Iya, karena aku bukan tukang makan kayak kamu Dika!" ucapku sambil menekankan dikata 'Dika'
Erlangga dan Arin hanya terkekeh geli melihat perdebatan ku dengan Dika, aku bisa berkata seperti itu karena memang benar adanya Dika adalah tukang makan yang handal.
"Sudah sekarang kita makan dulu" ajak Erlangga dan aku segera menyetujuinya tanpa memperdulikan Dika yang sudah ngoceh tidak jelas seperti burung beo.
"Nay, ngomong-ngomong gimana kamu beneran narok kamera di kamarmu tidak?" tanya Dika saat dia sudah menyelesaikan makananya.
Ah, benar juga apa yang dikatakan Dika, aku hampir lupa tentang kamera itu, aku dapat melihat Erlangga, Arin dan Dika menuntut jawaban dariku atas pertanyaan yang Dika lontarkan barusan.
Karena aku tidak segera menjawab pertanyaan Dika, aku masih asik dengan makananku yang masih ada.
"Aku lupa, aku sudah meletakan kamera itu tapi belum aku periksa" jawabku, setelah aku selesai mengunyah makanan terakhirku, sambil aku mengelap mulutku dengan tisu.
"Kau benar melakukannya, Nay?" tanya Erlangga padaku.
Tapi belum sempat aku menjawab pertanyaan Erlangga, kami dikagetkan dengan suara Nita yang memanggil nama Roi.
"Roi, Roi, kamu dimana" ucap Nita sambil berteriak seperti orang kesetanan.
"Nita ada apa?" tanya bibi yang kebetulan lewat di sebelah Nita. Dengan suara terbata-bata Nita menjawab pertanyaan bibi. "Roi tidak ada di kamar"
Kami yang melihat itu segera menghampiri Nita dan bibi juga paman yang berada di dekat tangga.
"Ada apa?" tanya Erlangga merasa khawatir begitu juga dengan aku.
"Roi hilang" jawab Nita lagi, kini dia sudah menangis, aku bingung kenapa ekspresi perubahan dalam diri Nita begitu cepat, tadi dia sedang berteriak sekencang-kencangnya, lalu kemudian dia akan marah-marah tiba-tiba tertawa dan sekarang dia menangis.
"Kalau begitu biar kita bantu cari" usulku dan bibi langsung menyetujuinya.
"Bibi bawa saja Nita untuk beristirahat di kamarnya" ucap ku lagi, lagi dan lagi bibi menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu mari kita cari Roi" ajakku pada Erlangga, Dika dan Arin.
Tanpa banyak tanya lagi mereka mengikuti langkahku dari belakang, saat sudah sampai di depan pintu kosan aku memberhentikan langkahku.
"Ada apa, Nay?" tanya Arin bingung.
"Lebih baik kita berpencar agar Roi bisa cepat ditemukan" usul ku.
"Kalau begitu biar aku dengan Arin dan kamu bersama Erlangga" kami bertiga menyetujui pembagian yang dilakukan Dika.
Aku dan Erlangga mendapat jatah untuk mencari Roi berada di selatan, dimana danau yang sering aku dan Erlangga datangi berada. Sedangkan Arin dan Dika mendapat bagaimana mencari Roi ke arah timur.
Setelah pembagian selesai kami berempat segera memancar untuk segera menemukan Roi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Anak orang
Semangat kak
2022-06-20
1