Tidak ada satupun orang yang ingin hidup dalam teka-teki maupun, hidup dalam kesengsaraan, penuh pertanyaan dan hidup dalam kegelapan juga rasa takut.
Begitu juga dengan seorang Nayla putri, entah apa sebabnya dia bisa berada di alam gaib bukan dunia manusia.
Jika kita mendengar tentang alam gaib, tentu saja hal-hal yang dibayangkan akan sangat menyeramkan, itu pula yang dialami Nayla.
Tapi yang membuat Nayla merasa aneh, kenapa bukan hanya dirinya yang terjebak dalam dunia gaib ini, tapi ada orang lain selain dia, entah Nayla harus merasa bersyukur atau kasihan, jika kasihan pada orang lain dia sendiri terjebak di tempat aneh ini.
Perlahan Nayla mengerjapkan kedua kelopak matanya. "Au! kenapa kepalaku sakit sekali" ucap Nayla, sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
Nayla menelusuri seluruh tempat itu, tidak ada apa-apa disana, hanya ada hamparan rumput yang aneh dan pasri.
"Grusuk" suara barusan berasal dari sebelah Nayla, kini membuat Nayla menoleh ke sampingnya. "Nay" panggil Erlangga dengan suara lirihnya.
"Erlangga!" buru-buru Nayla duduk dan membantu Erlangga untuk duduk bersamanya.
"Lalu dimana Arin dan Dika?" tanya Erlangga saat sudah ikut duduk di samping Nayla.
Bukannya menjawab Nayla buru-buru memeluk Erlangga dengan sangat erat. "Hiks….aku takut, Er" ucap Nayla pada Erlangga, dengan air mata yang kembali mulai bercucuran.
Erlangga mengusap pucuk kepala Nayla dengan sayang. "Udah ya Nay, jangan menangis lagi ada aku disini, sekarang jangan nangis lagi oke" pinta Erlangga lembut, dia mengelap air mata Nayla yang sedari tadi terus jatuh membasahi wajah cantiknya.
Sungguh Erlangga sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, melihat Nayla sangat rapuh seperti ini dirinya merasa sudah tidak kuta, dia kembali membawa gadis yang masih ketakutan itu ke dalam dekapannya.
Erlangga memperlakukan Nayla dengan penuh kasih sayang, Nayla sendiri tidak tahu kenapa Erlangga melakukan hal itu padanya, tapi rasa nyaman yang dia dapat dari Erlangga membuat Nayla ingin terus bersama Erlangga, tak ingin berpisah.
"Er, kita cari Dika sama Arin sekarang!" ucapnya setelah puas menangis dipelukan Erlangga.
"Percumah saja jika aku terus menangis tidak akan merubah semuanya" batin Nayla, dia berusaha memandang Erlangga dengan senyum manisnya.
"Beneran udah nggak takut lagi, hmmm?"
"Nggak!" jawab cepat Nayla.
"Kalau gitu sini aku bantu berdiri" ucap Erlangga lagi, sambil menyodorkan satu tangannya pada Nayla.
Dengan senang hati Erlangga menerima uluran tangan Erlangga. "makasih, Er" ucapnya setelah berdiri.
"Akhirnya kamu bisa senyum lagi Nay, walaupun masih ada rasa takut dari matamu" batin Erlangga. Dia memegang lembut tangan Nayla untuk mengikutinya berjalan menelusuri tempat yang sama sekali tidak mereka berdua kenal.
"Kita sebenarnya ada dimana Er?" bingung Nayla, setelah melihat tempat sekitar, tidak sama dengan kosannya dulu.
"Aku juga kurang tahu Nay, sekarang yang penting kita bisa ketemu sama Dika juga Arin, kalau mereka sudah ketemu kita bisa cari tempat untuk tinggal sementara di tempat ini, karena hari sudah semakin sore" jelas Erlangga.
"Aku menurut saja Er, karena aku benar-benar tidak tahu tempat apa ini" jawabnya sambil tersenyum, kala melihat tangannya yang dipegang lembut oleh Erlangga.
Sudah hampir tiga puluh menit keduanya mencari keberadaan Dika dan Arin tapi belum juga ketemu.
"Aku capek, Er" rengek Nayla.
"Kita istirahat dulu disini Nay, entar lanjut lagi cari Dika sama Arin" putus Erlangga, dia juga tidak tega melihat Nayla yang sangat kelelahan.
Mungkin Nayla belum menyadari satu hal, kenapa dia dan Erlangga setelah jatuh dari jurang yang sangat dalam belum kehilangan nyawa, tentu saja jawabannya karena mereka terjebak di alam gaib, tapi ada sebuah rahasia yang tidak Nayla ketahui.
"Argh….! cacinggg……!" teriak seorang dengan sangat kencang, suara itu menyita perhatian Erlangga dan Nayla, padahal baru saja Nayla akan terlelap di bahu Erlangga.
"Cacinggg, Dika! kenapa cacingnya berbentuk aneh sekali" Arin yang baru saja sadar buru-buru menjauh dari cacing itu.
Anehnya cacing tersebut terus mengikuti langkah Arin.
Dika yang baru saja sadar hanya bisa melihat Arin yang terus berlari ketakutan.
"Arin!" mendengar suara yang sangat dia kenali Arin buru-buru berlari ke tempat dimana Erlangga dan Nayla berada.
"Arin, ada apa?" tanya Nayla khawatir.
Dia buru-buru memeluk Arin, sepertinya Nayla lupa jika tadi dirinya sama halnya dengan Arin sangat ketakutan.
"Cacing Nay, cacingnya bentuknya aneh banget masa ada kakinya, terus dari tadi ngikutin aku terus" ucap Arin terbata-bata.
Sementara itu, Dika yang sedari tadi berteriak sambil memanggil Arin, mengambil nafas panjang, rasanaya saat ini dia baru bisa bernafas lega.
"Mana cacingnya sayang?" tanya Dika, disela-sela mengatur nafasnaya. karena berlari sedari tadi.
"Udah aku buang" jawab Erlangga cepat.
Memang tadi Erlangga juga melihat cacing yang dimaksud oleh Arin, begitu juga dengan Nayla, tadi dengan cepat Erlangga membuang cacing itu, sebelum merembet kemana-mana.
"Udah Arin jangan takut lagi Erlangga udah buang itu cacing aneh" sahut Nayla, sambil tersenyum pada Arin.
"Syukurlah kita ketemu disini, dari tadi aku sama Erlangga udah muter-muter nyariin kalian tapi belum ketemu juga" tambah Nayla.
"Tapi kalau dipikir itu cacing bantuin kita juga sih, kalau nggak ada cacing pasti kita berempat belum ketemu sekarang" Erlangga ikut nimberung.
Dika hanya bisa pelangak-pelongok saja sekarang. "Sekerang aku tanya, kita dimana?" pertanyaan Dika, sukses membuat mereka semua termenung.
"Belum pasti kita ada dimana sekarang, tapi yang jelas lebih baik sekarang kita cari tempat untuk beristirahat malam ini"
"Tapi jangan langsung otw cari tempat berteduh ya, aku lagi capek abis lari-lari barusan, kita tunggu tiga puluh menit lagi sampai aku lumayan mendapatakan tenaga lagi" pinta Arin.
"Sayangnya Dika capek ya" ucap Dika sambil mengelus rambut Arin dengan sayang.
"In ya, kalau boleh jujur sebenernya gue kesel kadang liat tingkah Arin sama Dika yang menurut gue terlalu lebay, si Dikanya itu loh, tapi karena aku teman yang baik lebih baik aku tersenyum pada mereka, walaupun hati ngenes, bukan karena iri, tapi si Dika benar-benar terlalu lebay" batin Nayla, dia sampai menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dika yang terlalu berlebihan, mau bagaimana lagi namanya juga orang udah sayang.
"Kamu kenapa Nay?" tanya Erlangga saat melihat Nayla mengelengkan kepalanya beberapa kali.
"Nggak papa kok Er"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Ilmara
nayla
2022-06-28
0