Saat pagi menjelang Erlangga dikagetkan dengan adanya Nayla yang sudah pingsan di depan pintu keluar kosan itu, dengan gerak cepat Erlangga segera mendekat pada Nayla.
"Apa yang terjadi?" tanya Erlangga pada diri sendiri, sebelum Erlangga membawa Nayla ke atas dia segera memeriksa tubuh Nayla terlebih dahulu, tapi anehnya tidak ada tanda-tanda sesuatu yang terjadi pada Nayla.
"Lebih baik sekarang aku membawa Nayla ke kamarnya" ucap Erlangga dengan tatapan sendunya melihat Nayla seperti itu.
Erlangga menggendong Nayla menuju kamar Nayla yang berada di lantai atas, saat di lorong menuju kamar Nayla, Erlangga berpapasan dengan Dika dan Arin.
"Apa yang terjadi?" tanya Arin pada Erlangga.
"Entahlah aku sendiri tidak tahu, tadi saat aku ingin ke dapur, aku tidak sengaja melihat tubuh Nayla sudah tergeletak di depan pintu keluar masuk kosan" jelas Erlangga pada keduanya.
"Kalau begitu sekarang aku panggilkan bibi terlebih dahulu" ucap Dika, dia berlalu pergi setelah mendapat persetujuan dari Erlangga dan Arin, sedangkan Arin mengikuti Erlangga menuju kamar Nayla.
Sesampainya di kamar Nayla, Erlangga segera membaringkan tubuh Nayla ke atas kasur milik Nayla yang tadi sudah sempat dibersihkan oleh Arin.
Lima menit kemudian bibi dan paman serta Dika sudah tiba di kamar Nayla.
"Apa yang terjadi?" tanya bibi pada mereka.
"Entahlah, tadi kau menemukan Nayla sudah tergeletak di depan pintu kosan" jawab Erlangga, dia memberikan jawaban sama pada bibi, seperti Erlangga menjawab pertanyaan Arin tadi.
"Sudah kamu periksa Er? siapa tahu atas sebuah tanda yang melukai dirinya" ucap paman dengan nada datar nya.
"Kenapa orang ini jika bicara sangat datar, tanpa ekspresi" batin Arin.
"Tidak ada tanda apapun paman" Erlangga kembali menjawab. Memang benar tadi saat Erlangga memeriksa tubuh Nayla tidak ada bekas apapun disitu, bahkan bekas cekikan dan cakaran yang Nayla dapat dari Nita sudah tidak ada lagi.
"Mungkin dia hanya tidur sambil berjalan" lagi paman mengeluarkan suaranya.
"Tidak mungkin Nayla tidur sambil berjalan, aku yakin di kosan ini ada hantunya" sangkal Arin cepat.
"Terserah kamu saja gadis cantik" ucap bibi.
"Sudah sayang jangan seperti ini kasihan sekarang Nayla belum sadar" Dika berusaha menenangkan Arin.
Erlangga hanya bisa duduk di kasur Nayla sambil mengelus pucuk kepala Nayla, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
***
Perlahan aku membuka mataku, sebelumnya aku mendengar suara paman dan bibi, juga Dika dan Arin sepertinya mereka sedang memperdebatkan sesuatu, tapi aku merasakan ada sentuhan lembut di pucuk kepala ku.
Saat aku membuka mata, tatapan ku menjadi kosong menerawang apa yang terjadi padaku semalam, bukahkan Nita mencekik ku sampai mati? semua orang menatapku heran dan penuh tanda tanya saat aku sudah mulai membuka mataku, sekarang tatapanku benar-benar kosong.
"Nita" ucapku sambil menatap Erlangga dengan tatapan kosong, aku tidak lagi melihat senyum manis yang selalu diterbitkan di bibirnya, sekarang hanya ada tatapan sendu saat Erlangga menatapku, entah kenapa aku tidak suka Erlangga seperti itu.
"Nita kenapa?" tanya Erlangga lembut padaku.
"Semalam dia mencekik ku hampir mati dan dia juga menampar dan sempat mencakar ku, disini" ucapku, tapi aku tidak dapat menemukan bekas apa-apa di leher maupun di mukaku, ini sangat aneh menurutku bahkan jelas sekali semalam Nita menyiksaku dengan sangat bengis, mengerikan dan menakutkan.
Aku dapat melihat Erlangga menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa Nay, aku sudah memeriksa semuanya kau baik-baik saja" jelas Erlangga padaku.
"Tidak!, tidak mungkin aku sangat mengingatnya semalam Nita menyiksaku" jawabku sendu, kenapa tidak ada yang percaya padaku.
"Aku hanya menemukanmu sudah tergeletak di depan pintu keluar masuk kosan, Nay" tambah Erlangga lagi, sekarang aku hanya bisa menatap Erlangga dan mereka semua dengan tatapan kosongku.
Bagaimana bisa semua bekas luka yang aku alami semalam tidak berbekas sama sekali, bahkan aku masih bisa merasakan tangan Nita yang mencekik leherku semalam, kejadian yang menimpaku sangatlah aneh.
Bahkan aku mengingat kata-kata Nita yang diucapkan sebelum dia ingin membunuhku, jika aku tidak sendiri di kamar ini melainkan ada orang lain selain diriku. Siapa yang dimaksud oleh Nita.
Gadis berbaju merah itu siapa?.
"Kalau begitu mari kita keluar biarkan Nayla beristirahat" ajak bibi pada mereka semua, aku segera tersadar dari lamunanku.
Aku melihat mereka satu persatu pergi meninggalkan kamarku agar aku bisa beristirahat dengan tenang, tapi saat Erlangga hendak bangkit aku memegang tangannya dengan sangat erat, sehingga Erlangga mengurungkan niatnya untuk beranjak berdiri.
"Ada apa Nay?" tanaya lembut.
"Aku takut" jawabku sambil menatap kosong. "Tolong temani aku disini" pintaku pada Erlangga, aku dapat melihat Erlangga menganggukan kepalanya ke padaku.
"Tidurlah Nay, kamu butuh istirahat agar lebih baik" suruh Erlangga padaku, tanpa menjawab ucapan Erlangga aku segera memejamkan mataku, agar aku merasa badanku lebih baik dari sebelumnya.
Sampai aku kembali terbangun, aku tidak tahu seberapa lama aku tertidur, aku menoleh ke sebelah ternyata Erlangga ikut tertidur sambil duduk denganku, aku merasa kasihan dengannya, sekarang aku merasa diriku jauh lebih baik dari sebelumnya.
Aku kembali menatap Erlangga yang masih tertidur dengan pulas di sampingku, senyum terbit di bibirku begitu saja, saat menata Erlangga yang tidur begitu pualsa nya dengan duduk, lalu aku beralih menatap keluar jendela untuk melihat sekarang malam atau masih sore.
Tapi saat aku memperhatikan kaca jendela dengan saksama, aku melihat sebuah rambut panjang yang tergerai begitu saja dan rambut itu terus bergerak hampir menutupi seluruh kaca jendela yang ada di kamarku.
"Argh….!" teriakku kencang hingga membangunkan Erlangga.
"Ada apa Nay?" tanya Erlangga padaku dengan nada khawatir.
Aku tidak menjawab pertanyaan yang Erlangga berikan padaku, aku hanya menunjuk ke arah kaca jendela menggunakan telunjuk ku, tapi aku tetap menutupi mataku dengan selimut.
"Tidak ada apa-apa Nay" ucap Erlangga.
Aku segera membuka selimut yang menutupi semua wajahku dan segera menoleh ke arah kaca jendela setelah mendengar ucapan yang Erlangga katakan.
Aku hanya menyerit heran ketika tidak melihat apa-apa di kaca jendela itu, seperti apa yang Erlangga katakan tadi, aku benar-benar melihatnya dengan jelas tadi jika itu sebuah rambut yang sangat panjang yang hampir menutupi semua kaca jendela yang berada di kamarku.
Tapi Jika aku berkata dengan Erlangga bahwa aku melihat sesuatu di jendela itu pasti dia tidak akan percaya toh percumah saja jika aku mengatakan dengan yang sebenarnya jika dia tidak akan percaya.
"Aku lapar" ucapku akhirnya.
"Kalau begitu mari kita makan, kamu mau makan bersama Arin dan Dika, atau mau makan disini saja"
"Aku ingin makan malam bersama dengan yang lainnya di bawa Er"
"Baiklah mari kita ke bawah"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Evi Yanti
kasihan Nayla
2022-06-26
0