Aku dan Erlangga sudah setengah perjalanan untuk mencari Roi, tapi sayang kami tak kunjung menemukan keberadaan Roi saat ini.
"Roi, Roi" teriakku lagi, aku hampir putus asa tak kunjung menemukan keberadaan Roi.
"Roi, Roi" kini Erlangga juga kembali berteriak untuk memanggil nama Roi, anak itu walaupun terlihat sangat menyeramkan tapi tetap saja dia adalah seorang anak kecil, jika tiba-tiba hilang begitu saja tentu akan membuat semua orang merasa khawatir dengannya.
"Er, sepertinya kita juga harus berpencar disini untuk menemukan Roi lebih cepat" usulku, sambil mengelap keringat yang sedari tadi sudah membasahi muka ku.
"Sepertinya begitu lebih baik Nay" jawab Erlangga.
"Kalau begitu biar aku ke sebelah sana" ucap Erlangga sambil menunjuk ke arah hutan.
"Oke, kalau begitu biar aku ke arah danau" ucapku, sambil melangkah menuju danau begitu juga dengan Erlangga dia lebih melangkah masuk ke dalam hutan.
Saat sampai di dekat danau aku melihat Roi, anak kecil yang sedari tadi kami cari, anak kecil yang sudah membuat kakaknya dan kami semua merasa khawatir.
Aku segera melangkah maju mendekati Roi, yang sedang memandang ke arah danau, perlahan aku mendekati Roi untuk bertanya dengan ramah pada anak laki-laki itu.
"Roi" panggilku, tak perlu menunggu waktu lama Roi langsung menoleh padaku dengan tatapan sendu nya dan mata yang basah, aku rasa pasti Roi habis menangis.
"Kenapa kamu ada disini?" ucapku lagi, aku mensejajar tubuhku agar sesuai dengan tinggi Roy.
Roy menatapku sebentar dengan tatapan sendunya sembari berkata. "Aku ingin pulang" jawabnya. Roy terus menatapku dengan tatapan sendunya.
" Apakah kamu ingin pulang ke rumahmu yang dulu?" Ucapku lagi pada Roy.
"Tidak! Aku tidak ingin kembali ke rumah itu lagi, karena kata kakak rumah itu tidak layak untuk kami" jawab Roi cepat.
"Ya sudah kalau begitu kita pulang, kakakmu sangat mengkhawatirkan kamu Roi" bujuk ku pada Roi, aku harus membujuk anak ini dengan pelan-pelan.
"Roi, Roi" itu suara Erlangga yang sedari tadi belum menemukan keberadaan Roi, aku segera mencari keberadaan Erlangga melewati sumber suara Erlangga.
Aku dapat melihat Erlangga sedang berada di jalan menuju danau, aku segera Melambaikan tamanku pada Erlangga agar dia mendekat ke arahku dan juga Roy.
"Di sini ucapku" sambil melambaikan tanganku pada Erlangga, agar dia bisa menemukan diriku dan Roy. Aku dapat melihat Erlangga berjalan mendekat ke arah kami berdua. "Syukurlah akhirnya Roi ditemukan juga" ucap Erlangga sambil memegang tangan kiri Roi dengan lembut.
Aku dapat melihat Erlangga menghela nafas lega, saat tahu jika Roi sudah bersamaku.
"Sudah kalau begitu mari kita pulang, pasti Nita sudah menunggu kedatangan Roi" ucapku, pada Erlangga.
Erlangga segera menyetujui usulan ku. "Mari Roi"
Aku dan Erlangga menggandeng tangan Roy bersebelahan dan aku menggandeng tangan Roy di sebelah kiri kami berjalan menuju kosan untuk mengembalikan Roy pada Nita yang dari tadi sudah uring-uringan karena adiknya tidak bisa ditemukan.
"Syukurlah, akhirnya Roi ketemu juga" Arin, mengucap syukur kala dia melihat aku dan Erlangga menggandeng tangan Roi.
"Biar aku antar Roi ke kamarnya" ucap ku.
Erlangga, Dika dan Arin hanya bisa setuju, mereka sekarang bisa bernafas lega saat mengetahui Roi sudah ditemukan.
"Roi, kamu akhirnya pulang juga nak" ucap bibi, sambil berjalan mendekati aku dan Roi, yang ingin berjalan menuju tangga.
Roi hanya diam tak bergeming melihat bibi menyapanya. "sepertinya dia sedang tidak ingin berbicara bibi" tuturku sopan pada bibi. "Aku mengerti Nayla, sekarang cepat bawa Roi kepada Nita" sahut bibi, tak lupa dia tersenyum padaku, sebelum pergi.
"Mari, Roi" ajakku, sambil menuntun Roi menaiki satu persatu anak tangga.
Selama menuju kamar Nita aku tak sedikitpun melepaskan tangan anak kecil ini padaku, aku terus memegangnya erat tangan Roi agar dia merasa nyaman.
Sesampainya di depan pintu kamar Nita, aku kembali mensejajarkan posisiku pada Ro.
"Roi, ayo masuk, kakakmu sudah menunggumu di dalam sedari tadi" ucapku lembut pada Roi, aku mengelap air mata anak itu yang hampir jatuh.
"Jangan menangis" cegah ku, aku paling tidak bisa melihat orang lain menangis di depanku.
"Aku takut" jawabnya terbata.
"Kenapa kamu takut Roi?" bingungku.
"Aku takut kakak akan memarahiku lagi dan menamparku, karena aku bermain dengan Adel"
"Adel?" ulangku. "Apakah Adel yang kamu maksud, anak perempuan yang bermain denganmu kemarin di bawah pohon?" tanyaku penasaran.
Roi hanya menganggukan kepalanya beberapa kali, tanda bahwa apa yang aku katakan itu benar.
Aku tersenyum sebentar pada Roi. "Masuklah, kakakmu sudah menunggumu, aku jamin dia tidak akan menyiksamu lagi, asalkan kamu menurut" tuturku lembut pada Roi.
"Masuklah, percaya padaku" aku kembali meyakinkan Roi, bahwa tidak akan terjadi apa-apa padanya.
"Jika kakakmu kembali menyiksamu, kamu bilang saja pada kakak Nayla" ucapku terakhir kalinya, syukurlah setelah aku berkata seperti itu Roi segera masuk ke dalam kamar Nita.
Aku memastikan sebentar jika Nita benar-benar tidak akan menyakiti Roi lagi, aku dapat mendengar tangis penyesalan Nita, setelah merasa jika Nita tidak akan menyakiti Roi lagi aku segera beranjak dari depan pintu kamar Nita.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu, nanti aku akan memeriksanya, kalau sekarang aku terlalu lelah" keluhku.
Aku kembali ke bawah untuk menemui Erlangga dan yang lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Evi Yanti
kasihan roi
2022-06-29
0
Anak orang
Semangat Nayla
2022-06-20
0