Pagi harinya aku terbangung karena kaget, pintu kamarku diketuk dengan sangat keras, sampai suara ketukan pintunya terdengar sangat nyaring di dalam gendang telinga ku, hampir saja aku terjatuh dari ranjang tempat tidurku karena kaget, tapi untungnya aku bisa tersadar lebih dulu sebelum aku benar-benar terjatuh dari ranjang kasur ku.
"Sebentar" ucapku, walaupun suaraku sangat susah keluar karena baru bangun tidur aku tetap berusaha untuk teriak, agar orang yang mengetuk pintu kamarku bisa menunggu terlebih dahulu, lima detik suara pintu itu tidak terdengar lagi. Sampai saat aku hendak bangun menuju pintu, pintu itu kembali diketuk dengan sangat keras.
"Tok! tok! tok!" suara itu bukan lagi seperti ketukan pintu, menurutku suara tersebut sudah seperti gedoran. "Siapa sih pagi-pagi begini sudah membuatku kesal" ucapku, sambil berjalan mendekati pintu kamarku.
"Iya" aku membuka pintu sambil bersuara, tapi tidak ada siapa-siapa di depan pintu kamarku.
"Siapa?" tanya ku, entah pada siapa, ini sudah kedua kalinya aku mengalami hal semacam ini. "Kenapa tidak ada orang" bingung ku, aku kembali berlalu menutup pintu kamarku, saat aku sudah sampai di ranjang kasurku suara pintu kamarku yang diketuk kembali terdengar.
"Iya, tunggu sebentar" tapi saat aku hendak bangun, aku mendengar suara bising dari bawah ranjang kasur ku.
Aku melihat ke bawah kolong sebelum kembali membuka pintu, aku ingin memastikan ada apa di bawah kolong ranjang ku.
"Roi, kenapa kamu bisa disini?" tanyaku lembut pada anak itu. "Sini" aku kembali berbicara dengan lembut dengan Roi. Tapi anehnya dia hanya menatapku dan terus mundur ke belakang.
"Tok! Tok! Tok!" pintu kamarku kembali di ketuk. "Tunggu sebentar Roi, aku akan membuka pintu kamarku dulu, siapa tahu ada orang" ucapku, sambil meninggalkan Roi, aku membiarkan dia berada di bawah kolong ranjang ku, saat aku pergi meninggalkan Roi sebentar, aku dapat melihat dia terus menatapku, jika boleh jujur sebenarnya aku sedikit takut dengan matanya.
"Nita, pasti kamu mencari Roi, sebentar dia tiba-tiba ada di kamarku, biar aku panggil kan" ternyata orang yang sedari tadi mengetuk pintu kamarku dengan keras adalah Nita.
Saat aku berbicara Nita tidak mengeluarkan suara apa-apa dia hanya memandangku diam.
"Roi, Roi kakakmu mencarimu" ucapku, aku kembali memeriksa ke bawah kolong ranjang kasur ku, tapi anehnya Roi sudah tidak ada lagi disana.
"Kemana dia" gumunku, lalu aku berbalik menuju pintu kamarku, untuk memberi tahu Nita jika Roi sudah tidak ada lagi di dalam kamarku.
"Ro….." aku menggantung kalimatku saat melihat Roi sudah bersama Nita, Nita menggandeng tangan kecil Roi menuju kamar mereka, aku dapat melihat Roi menoleh ke arahku sambil melambaikan tangannya dan dia juga tersenyum padaku, aku hanya membalas senyumnya tanpa membalas lambaian tangannya.
Karena hari masih pagi jadi aku memutuskan untuk mandi, kamar mandi di kosan ini sangat luas jadi bisa dipakai secara bersama.
Aku masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan takut, aku segera menyalakan keran air.
"Serk" air dari keran itu segera membasahi tubuhku, namun saat aku sedang membasahi rambutku tiba-tiba saja aku melihat sesuatu yang bergerak dari gentong air yang berada di dekat pintu masuk, aku sekarang sudah mulai ketakutan, belum reda ketakutan yang aku alami, tiba-tiba saja kran air yang terdapat di paling pojok membuka sendiri.
"Argah…!" teriak ku ketakutan, aku segera mengambil handuk ku untuk menutupi tubuhku, dengan gemetar aku berjalan ke arah pintu kamar mandi..
Saat sampai disana aku melihat Dika dan Arin menatapku heran, aku rasa mereka berdua pasti mendengar teriakanku.
"Nay kamu kenapa?" tanya Arin sambil memelukku, dia tahu aku sedang ketakutan, Arin dapat merasakan itu dari tubuhku yang bergetar.
"Aku, melihat ada sesuatu di dalam gentong itu" ucapku terbata-bata sambil menunjuk gentong yang aku maksud tadi.
Dika yang penasaran dengan segera mengecek apa yang ada di dalam gentong itu dengan raut wajah Dika yang terlihat takut juga.
Dika terus mengaduk air di dalam gentong tersebut, sampai dia menemukan sesuatu. "Rambut palsu siapa ini" ucapnya sambil membuang wig itu ke sembarang tempat.
"Itu namanya wig Dika" ucap Arin yang masih setia memelukku, aku masih merasakan takut.
"Tapi tadi saat aku membuka kran untuk mandi tiba-tiba saja kran yang paling pojok juga ikut terbuka" ucapku lagi, aku benar-benar masih ketakutan.
"Kosan ini sudah sangat tua, dan juga pasti kran-kran itu sudah banyak yang rusak, jadi wajar saja kalau misalnya mau membuka kran satu yang lain akan ikut, karena sudah lama" jelas Dika dengan raut wajah sedikit takut juga.
"Sudah kalau begitu tolong kamu keluar dulu, aku dan Nayla akan mandi" usir Arin pada Dika, tanpa membantah Dika segera pergi dari hadapanku juga Arin.
Masih dalam posisi yang sama Arin memapahku untuk kembali mandi.
"Bibi kenapa aku tidak pernah melihat Nita dan Roi ikut gabung makan bersama kami?" tanyaku penasaran pada bibi, aku melupakan kejadian tadi pagi, karena masih sedikit syok aku memutuskan untuk sarapan nanti jadi sekarang aku sarapan sendiri tanpa Erlangga, Dika dan Arin.
"Nita tidak suka bergaul" ucap bibi berbisik padaku, sambil melirik paman yang sedang membaca koran.
"Tapi kenapa penampilan mereka sangat menyeramkan?" tanyaku lagi, aku mulai kepo tentang Nita dan Roi.
"Aku dengan dia dan Roi diusir ibu tirinya dari rumah"
"Kasihan sekali" ucap ku tidak menyangka nasib Nita dan Roi seperti itu.
"Lalu kenapa mereka tidak pulang ke rumah?" tanyaku lagi.
Tapi saat bibi akan kembali menjawab pertanyaanku dia urungkan karena mendapat deheman dari paman.
"Hmmmm" suara deheman paman kembali terdengar sampai dua kali.
"Sudah, tidak baik membicarakan orang lain, biar mereka hidup dengan kehidupan mereka"
"Selamat menikmati sarapanmu Nayla" ucap bibi sambil berlalu pergi meninggalkan aku di meja makan sendiri, sebelum benar-benar pergi aku melihat bibi menatap paman sebentar, lalu dia pergi ke dapur sambil membawa semua piring kotor.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments