" Bagaimana ini,!" pikir Ki Demang Muncar lagi.
Di tengah serangan golok yg sangat cepat dari Singo Lorok, Demang Muncar masih melihat para pengawalnya gugur satu persatu, hingga ia pun kurang waspada,
" Hiyyyah, ***** kau Ki Demang,!" teriak Singo Lorok .
Golok begal asal gunung Tidar itu tak terbendung lagi menghantam pundak dari Ki Demang,
" Aaakkhh,!" teriak Ki Demang itu.
Bajang wunut, putra dari Ki Demang yg masih duduk di pelaminan melihat ayah nya jatuh tergeletak bersimbah darah segera berlari mendekati orang tuanya itu.
" ******, Ku bunuh kau,!" teriak putra Ki Demang itu .
Dengan menggunakan pedang Ki Demang , maka Bajang wunut segera memyerang Singo Lorok.
Masih menggunakan busana pengantinnya, Bajang wunut menyerang membabi buta ke arah Singo Lorok.
Kepala begal asal gunung tidar itu hanya menghindari serangan tanpa ada tata gerak itu, sehingga ketika tubuh Bajang wunut mulai terlihat kelelahan, tak pelak lagi, Singo Lorok ganti balas menyerang,
" Hiyya, hiyyahh,!"
Dua kali tebasan goloknya segera mengakhiri hidup dari Sang pengantin itu, dengan sebuah jeritan yg panjang leher Bajang wunut nyaris putus di tebas golok Singo Lorok.
" Kakaaaaang,!"
Terdengar teriakan dari Tara Rindayu, pengantin perempuan putri dari Juragan Tarya itu pun berlari ke arah suaminya yg sudah tewas tidak bernyawa itu.
" Kejaaam, sungguh kejaaam, kalian telah membunuh suami ku,!" teriak Tara Rindayu ssmbil memeluk tubuh sang suami yg baru saja dinikahinya itu.
" Ha,ha,ha, tenanglah wong ayu, ada kakang yg siap menggantikan suami mu itu,!" ucap Singo Lorok.
" Puuuihh, mana sudi aku dengan manusia laknat, berhati kejam seperti mu, lebih baik aku mati,!" ucap Tara Rindayu.
Putri Juragan Tarya itu segera mengambil pedang yg ada di genggaman dari Bajang wunut suami nya itu.
Ia segera mengarahkan ujung pedang itu ke arah perutnya, akan tetapi,
" Tidak,!" terdengar suara dari Juragan Tarya melarang putrinya untuk melakukan bunuh diri itu.
Kesempatan itu tidak di sia -sia kan oleh Singo Lorok, dengan cepat sang begal Gunung Tidar itu merampas Pedang yg ada di genggaman dari Tara Rindayu itu.
Seraya meraih tubuh putri Juragan Tarya itu, Singo Lorok membawa keluar Tara Rindayu sambil berpesan kepada Ki Bawuk,
" Bereskan mereka semua, ambil seluruh barang berharga, aku tunggu di tempat persembunyan,!" ucapnya sambil mendekap tubuh Tara Rindayu.
" Tinggalkan anak ku, kalau kalian mengingnkan harta ku silahkan, ambil ,tetapi jangan bawa anakku,!" teriak Juragan Tarya yg datang beserta istrinya.
" Kakang Ireng, habisi sekalian Juragan Tarya itu,!" ucap Singo Lorok kepada Kakaknya itu.
" Kau mau kemana Lorok, tugas kita belum selesai,!" ujar Singo Ireng.
" Aku akan ke tempat biasa, kakang bereskan, tinggal para cecurut saja, masakan Kakang Singo tidak bisa mengatasinya,!" jawab Singo Lorok terus keluar dari gerbang rumah Juragan Tarya itu sambil membawa Tara Rindayu yg dalam keadaan tertotok.
" Lorok, Lorok, kalau urusan perempuan saja matamu langsung ijo,!" gumam Singo Ireng.
Juragan Tarya yg melihat putrinya di bawa kabur oleh Singo Lorok itu berusaha mengejar akan tetapi di halangi oleh Ki Bawuk,
" Mau kemana Juragan, sebaiknya Juragan di sini saja ,!" kata Ki Bawuk sambil memalangkan goloknya ke dada Juragan Tarya.
Orang kaya itu tidak bisa bergerak lagi, karena ia tidak sanggup untuk melawan.
Sementara para pengawal desa Kenanga yg di pimpin oleh Sura Birono pun sudah dalam kesulitan, sudah banyak yg gugur, termasuk Sura Birono yg tertembus pedang pada bawah ketiaknya, di sela -sela itu ia masih sempat berpesan pada temannya,
" Wijing, cepatlah kau ke rumah Ki Bekel, katakan kepadanya, keadaan di sini, pergi sana, cepat,!" katanya kepada Wijing.
Pemuda itu segera berusaha menghindari serangan dari lawannya untuk mencari kesempatan melarikan diri.
Ketika kesempatan itu datang dengan cepat Wijing melarikan diri, menuju rumah Ki Bekel.
Sedangkan di rumah Bekel Kenanga sendiri tengah bersiap menuju ke Rumah Juragan Tarya, namun mereka di mkejutkan dengan kedatangan Wijing yg berlari seperti Kesetanan,
" Ketiwasan Ki Bekel, ketiwasan," ucap Wijing tak jelas membuat Ki Bekel bertanya,
" Apa nya yg ketiwasan, coba tenang kan diri mu, dwarani ambil mkan air putih,!" perintah Ki bekel kepada putri nya itu.
Sebentar kemudian datanglah Dewi Dwarani membawakan secangkir air putih kemudian diserahkan kepada Wijing.Pemuda langsung meminumnya habis.
" Coba ceritakan bagaimana kejadian di rumah Juragan Tarya itu,!" kata Ki Bekel kepada Wijing.
" Begini Ki Bekel, hampir seluruh pengawal desa Kenanga dan pengawal kademangan Muncar telah tumbang ada yg tewas dan banyak yg terluka sedangkan Tara Rindayu berhasil di bawa lari salah seorang perampok dan suaminya pun telah tewas,!" kata Wijing setelah agak tenang.
" Hahhh, bagaimana ini Kakang Lamiran apa yg harus kita lakukan,?" tanya Ki Bekel kepada pande besi desa kenanga itu.
" Tenang, Ki Bekel , kita jangan terlalu panik , sebaiknya kita mencari jalan keluar yg terbaik bukan begitu , Mukri,!" kata Ki Lamiran kepada teman mnya itu.
" Benar Ki Bekel, sebaiknya kita memperhitungkan kekuatan kita dan mereka baru menentukan langkah selanjutnya ,!" jawab si mbah Mukri.
" Berapa jumlah mereka, Ngger,?" tanya Ki Lamiran kepada Wijing.
" Mungkin sekira lima puluh orang, Ki,!" jawab Wijing.
" Banyak sekali jumlah mereka , Ngger,!" seru Si mbah Mukri.
" Sedangkan jumlah kita kurang dari tiga puluh, dan para pemuda itu belum terbiasa melakukan pertarungan,!" ucap Ki Bekel.
" Sebaiknya , Kemuning, kakang Witangsa diajak turut serta, sekedar membuat perimbangan kekuatan,!" ucap Raka Senggani.
" Dan bagi kalian teman -teman ku semua sudah saatnya tunjukkan kemampuan kalian untuk melindungi desa tercinta ini, panggil pula dua orang yg ada di rumah Ki Rono itu,!" kata Raka Senggani.
" Sebaiknya aki dan Ki Bekel segeralah ke rumah Juragan Tarya itu, upayakan jangan menyerang sebelum Senggani tiba,!" ucap Raka Senggani lagi.
" Hehh, angger Senggani mau kemana,?" tanya Ki Bekel heran.
" Senggani mau pulang sebentar, ada yg ketinggalan Ki , !" jawab Raka Senggani kepada Ki Bekel.
" Ki, dimana aki taruh pisau -pisau itu,?' tanya Raka Senggani kepada Ki Lamiran.sambil berbisik
" Ada, Ngger, ada di bawah thledekan, !" jawab Ki Lamiran.
" Silahkan kalian lebih dahulu , nanti Senggani menyusul,!" ucap anak muda itu seraya berjalan keluar rumah Ki Bekel menuju rumah Ki Lamiran.
Dengan ilmu peringan tubuhnya Raka Senggani sebentar saja telah tiba di rumah Ki Lamiran itu.
Sementara Ki Bekel, Ki Lamiran, mbah Mukri, Jati Andara putra dari Ki bekel, Dewi Dwarani serta para orang -orang tua dan pemuda itu segera berangkat ke rumah Juragan Tarya, bahkan Sari Kemuning dan Japra Witangsa pun ikut di dalam rombongan itu.
Meskipun tangan kiri Japra Witangsa terluka namun tidak terlalu parah tidak seperti Ki Jagabaya sendiri yg masih harus berbaring.
Sehingga rombongan itu terlihat cukup banyak, mereka pun menuju rumah Juragan Tarya.
Di rumah Juragan Tarya sendiri nyaris sudah tidak ada lagi perlawanan, sehingga dengan mudahnya kawanan rampok itu mengambil barang-barang berharga milik para pengunjung dan para pesinden dari rombongan wayang tersebut.
Juragan Tarya dan istrinya yg di ikat tangannya ke belakang itu di suruh untuk menunjuk kan dimana saja ia menyimpan barang barang berharga nya.
Dengan di kawal oleh Ki Bawuk, Ki Kaliran dan Lembu ijo mereka menggeledah seluruh isi rumah dari Juragan Tarya tersebut.
Malam telah jauh dan rasanya sebentar lagi pagi akan tiba, namun malam yg mencekam di rumah Juragan Tarya itu belum pun berlalu.
Ketika terdengar suara orang banyak datang ke tempat itu, maka kawanan rampok asal mentaok dan Gunung Tidar itu pun bersiap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
bisa2 mc nya masih sempat pulang kerumah, ampun...ampun.
2024-11-14
0
Ajna dillah
kenapa gk masang jebakan
2024-03-30
0
Mohd Zalami
tidak ada strategi & rencana yg jelas..
2024-03-26
1