Memang Sumolewu ter desak oleh serangan dari Raka Senggani, sebentar kemudian,
" Aaakkhh,!''
Ter dengar teriakan keluar dari mulut rampok Sumolewu itu.
Ia memegangi pundak nya, meski tidak mengeluar kan darah, tetapi rasa nyeri segera di rasa kan oleh Sumolewu akibat kena pukul oleh seruling Raka Senggani.
" *******, ter nyata kau memang sudah bosan hidup berani ber main -main dengan ku, terima ini, Hiyyah,!" ter dengar teriakan dari mulut Sumolewu.
Sebuah cahaya putih keluar dari tangan rampok itu, nampak nya ia memang ingin menghabisi Raka Senggani.
Mendapati serangan dari pukulan jarak jauh, Raka Senggani segera melompat ke belakang, ia pun segera memusat kan pikiran nya sambil merapal ajian nya,
Sehingga ketika lontaran ajian yg di lepas kan oleh Sumolewu itu segera di papasi nya dengan ajian nya,
" Heyyaahh,!"
" Blleetaaaarrr,!'' suara ledakan yg di timbul kan akibat benturan dua ajian ter sebut.
Raka Senggani tidak ber geming dari tempat nya sementara Sumolewu sampai ter lempar lima tombak ke belakang.
" Kakaaaaang,,!" teriak Sumolangu.
Adik dari Sumolewu itu segera ber lari mendekati kakak nya itu yg sedang ter kapar.
Per lahan-lahan semburat merah muncul dari ufuk timur menerangi alam mayapada, sehingga nampak lah tubuh dari Sumolewu itu yg sedang pingsan.
Raka Senggani segera mendekati tubuh perampok itu.
" Hehh kamu , segera ambil kan air, saudara mu itu belum tewas, cepat,!" perintah Raka Senggani kepada Sumalangu.
Sumolangu diam ter paku, timbul di dalam hati nya ingin menyerang Raka Senggani jika ia mendekat.
" Cepat ambil kan air, atau nyawa saudara mu itu tidak akan ter tolong lagi, semua ter serah kepada mu,!" perintah Raka Senggani lagi.
Sumolangu jadi ragu, ia sebenar nya tidak yakin kepada pemuda itu akan tetapi nyawa dari kakak nya itu memang perlu untuk di selamat kan.
Raka Senggani tidak perduli, ia terus mendekati tubuh Sumolewu, dan kemudian memijit beberapa bagian dari tubuh Sumolewu itu, ia menotok nya.
Setelah menyalur kan hawa murni ke tubuh Sumolewu itu, tidak berapa lama, tubuh itu pun ber gerak dan ber nafas lagi meski tidak teratur.
Setelah di lihat nya ke samping ter nyata Sumolangu telah datang membawa air dalam sebuah bumbung bambu.
Kemudian Raka Senggani meraih bumbung bambu itu dan kemudian meminum kan nya ke mulut Sumolewu beserta sebutir obat,.
Tidak berapa lama tubuh Sumolewu ber nafas dengan normal.
Setelah melihat tubuh dari Sumolewu itu telah melewati masa kitis nya, Raka Senggani ber alih ke tempat dua orang penunggang kuda itu.
" Bagaimana dengan saudara mu itu, apakah masih pingsan,?" tanya nya kepada sang Gadis.
" Iya, kakang Sandika masih pingsan,!" ucap gadis yg ber nama Wedari itu.
" Coba Ku lihat, !" kata Raka Senggani.
Ia kemudian memeriksa keadaan Sandika itu.
Setelah di lihat nya, luka di pundak dari pemuda itu telah membiru, Raka Senggani ber desis,
" Racunn,!"
Setelah menotok di bagian dekat luka itu, Raka Senggani bangkit lagi dan mendekati dua orang perampok itu, di lihat nya Sumolewu sudah siuman dan telah mampu duduk.
" Tolong berikan penawar racun mu itu,!" pinta nya kepada Sumolewu.
" Ahhh, aku tidak memiliki penawar nya,!" jawab Sumolewu sambil meringis.
" Jangan bohong, jika nanti Ku periksa, ada penawar racun itu maka nyawa mu pasti tidak akan selamat,!" gertak Raka Senggani.
" Kakang Sumolewu sudah lah, serah kan saja, kalau bukan atas bantuan raden ini mungkin nyawa kakang sudah tidak ter tolong,!" ungkap Sumolangu.
Akhir nya Sumolewu merogoh saku baju nya dan menyerah kan dua butir obat yg ber bentuk bulat agak kehitaman.
Raka Senggani kemudian membawa obat itu dan meminum kan nya ke mulut Sandika.
Tubuh Sandika yg tadi nya pingsan tiba -tiba bangkit dan muntah,
" Hoooekkhh,!"
Cairan ber warna kehitaman keluar dari mulut Sandika, sampai beberapa kali terulang.
Setelah muntahan itu mulai ber warna cerah baru lah Sandika tidak mengeluar kan muntahan lagi.
Melihat per kembangan dari Sandika mulai membaik, Raka Senggani mendatangi lagi dua rampok itu.
" Segera lah pergi dari tempat ini, bawa serta saudara mu itu, karena ia masih membutuh kan perawatan untuk memulih kan kembali kesehatan nya, karena pukulan ku tadi memerlu kan perawatan yg cukup lama untuk sembuh seperti sedia kala, cepat lah,!" kata Raka Senggani.
Sumolangu hanya mengangguk , kemudian ia memapah Sumolewu untuk bangkit dan segera pergi dari tempat itu.
" Terima kasih den, atas pertolongan dan pengampunan nya,!" ucap Sumolangu kepada Raka Senggani.
" Jangan ber terima kasih kepada Ku, yg jelas ubah lah sikap kalian jangan suka mengambil yg bukan milik kalian , mungkin kali ini kalian masih beruntung tetapi lain kali mungkin akan berbeda,!" jelas Raka Senggani.
Kedua perampok itu kemudian meninggal kan tempat itu, tinggal lah Raka Senggani, Wedari dan Sandika.
" Mengapa kamu biar kan orang macam itu hidup di dunia ini,!" ucap Wedari.
" Kalau kita melakukan apa yg mereka lakukan, jadi apa beda nya kita dengan mereka,?" balik Raka Senggani ber tanya.
Nampak Wedari ter diam mendengar kan ucapan dari Raka Senggani itu.
" Kenal kan nama ku, Lintang Sriwedari dan ini kakak ku Lintang Sandika, kami berasal dari Demak,!" kata Lintang Sriwedari sambil menjulur kan tangan nya.
." Nama ku Senggani, Raka Senggani berasal dari desa kenanga di Kadipaten Pajang,!" jawab Raka Senggani sambil menyambut tangan Lintang Sriwedari itu.
" Bagaimana, apakah kalian akan melanjut kan perjalanan,?" tanya Raka Senggani kepada Lintang Sriwedari.
" Bagaimana kakang , apakah sudah mampu untuk naik kuda lagi,?" tanya Lintang Sriwedari kepada kakak nya.
" Mungkin sebentar lagi bisa, Wedari,!" jawab Lintang Sandika.
" Memang nya tujuan Kakang Senggani mau kemana, kalau boleh tahu?" tanya Lintang Sriwedari kepada Raka Senggani.
" Aku mau ke kotaraja Demak, ingin ber temu Tumenggung Bahu Reksa,!" jawab Raka Senggani begitu saja.
" Tumenggung Bahu Reksa,?" tanya kedua kakak beradik itu ber samaan.
" Iya, memang nya kenapa, ada yg salah dengan ucapan Senggani tadi,?" tanya Raka Senggani heran.
" Tidak, tidak ada yg salah, kalau boleh tahu urusan apa ingin ber temu dengan Tumenggung Bahu Reksa itu,?" tanya Lintang Sandika.
" Kami di desa kenanga membutuh kan bantuan prajurit Demak untuk menghadapi kawanan rampok yg siap merampok desa kami dan kekuatan mereka cukup besar, mungkin desa kami tidak akan sanggup mengjadapi nya,!" jelas Raka Senggani.
" Begini saudara Senggani, Tumenggung Bahu Reksa itu adalah orang tua kami, dan kami pun saat ini tengah di panggil pulang untuk di perbantu kan di dalam kesatuan prajurit Demak yg akan menyerang Ujung kulon tepat nya di Sunda Kelapa karena saat ini pasukan Demak masih kekurangan prajurit,!" ucap Lintang Sandika.
" Wah kalau begitu, memang Jodoh, mungkin dengan bantuan kalian berdua, Tumenggung Bahu Reksa mau mengirim kan prajurit nya membantu kami di Kenanga,!'' ucap Raka Senggani.
" Mudah-mudahan,!" jawab kedua orang itu.
Setelah Mentari beranjak naik, akhir nya dengan di papah oleh Raka Senggani, Lintang Sandika mampu naik ke punggung kuda nya, kemudian ketiga nya segera meninggal kan tempat itu.
Akan tetapi Lintang Sriwedari dan Raka Senggani hanya berjalan , cuma Lintang Sandika yg menaiki kuda nya.
" Sudah lah Wedari, silah kan kalian naiki kuda mu itu,biar Senggani tetap ber jalan, tidak usah sungkan,!" kata Raka Senggani memper silah kan Lintang Sriwedari untuk menunggangi kuda nya itu.
" Tidak apa -apa kakang Senggani, hitung -hitung supaya kakang Sandika tidak ter lalu ter guncang-guncang di atas punggung kuda nya jika kita ber jalan kaki,!" jawab Lintang Sriwedari.
" Ter serah lah, namun jika kalian memang memerlu kan untuk cepat sampai tidak apa -apa jika kalian lebih dahulu,!" kata Raka Senggani.
" Begini saja kakang Senggani, jika kita nanti menemui sebuah desa yg ada menjual Kuda, biar nanti kami akan membeli kan nya untuk Kakang Senggani,!" kata Lintang Sriwedari lagi.
Kemudian ketiga nya melanjut kan per jalanan dengan sangat per lahan.
Ketika hari menjelang malam tiba lah ketiga nya di sebuah desa yg lumayan besar dan ramai karena per lintasan menuju ke Kotaraja demak.
Kemudian mereka mencari penginapan untuk melepas lelah dan ber istrahat pada malam itu.
Di bilik penginapan ketiga nya kembali mengobrol.
" Sebenar nya kalian ber dua dari mana, hingga harus secepat nya kembali ke Demak,?" tanya Raka Senggani.
" Kami ber dua dari Lereng Lawu dari padepokan panembahan Wira disasra.
Kami adalah murid padepokan itu, dan karena saat ini Demak tengah mempersiap kan pasukan nya untuk menyerang Sunda Kelapa, oleh Romo kami di panggil pulang,!" jelas Lintang Sandika kepada Raka Senggani.
" Kalau tidak salah padepokan Lawu masih dekat hubungan nya dengan Pengging,?" tanya Raka Senggani.
" Benar Senggani, padepokan Lawu memang masih memiliki kekerabatan dengan penguasa Pengging,!" jawab Lintang Sandika lagi.
" Apakah kalian berdua telah tuntas menimba ilmu di Lawu tersebut,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Belum kakang Senggani, kami masih merupakan murid per tengahan dari padepokan Lereng Lawu, masih banyak murid yg berada di atas kami,!" jawab Lintang Sriwedari.
" Dan kamu sendiri berasal dari padepokan mana,?" tanya Lintang Sandika.
" Ah, Senggani tidak memiliki padepokan, hanya Seorang diri saja dan guru Senggani pun telah tiada,!" jawab Raka Senggani.
" Akan tetapi ilmu kakang Senggani sangat tinggi, perampok itu sampai hampir tewas ketika ber hadapan dengan kakang tadi,!" ujar Lintang Sriwedari dengan rasa kagum.
" Mungkin kebetulan saja, dan memang dalam hal ilmu silat sudah menjadi lumrah ada kalah dan menang ter gantung bagaimana kita menghadapi nya, karena di atas langit masih ada langit,!" kata Raka Senggani.
" Tetapi kalau kami yg menghadapi kedua orang itu tadi tentu kami akan tewas dan mungkin cuma nama saja yg kembali pulang,!" jelas Lintang Sandika.
" Memang kami masih perlu terus meningkat kan kemampuan kami, mengingat saat ini banyak tokoh -tokoh tua yg memilki kesaktian yg luar biasa, sayang nya di pergunakan pada jalan yg salah,!" seru Lintang Sriwedari.
" Yah , seumur kita memang harus terus meningkat kan kemampuan supaya tidak harus ke teteran menghadapi golongan tua yg sudah menang pengalaman dan tahu titik kelemahan dari suatu ilmu kadigjayaan,!" kata Raka Senggani lagi.
" Benar kata mu Senggani, kami memang harus terus ber latih meningkat kan kemampuan kami, kelak jika jadi prajurit Demak kami tidak harus ketakutan jika harus ber hadapan dengan para rampok yg ber ilmu tinggi,!" kata Lintang Sandika.
" Aku, setuju dalam hal ini ,!" kata Raka Senggani.
Setelah cukup lama mereka mengobrol dan malam pun kian larut akhir nya ketiga nya pun masuk ke dalam bilik nya.
Raka Senggani satu bilik dengan Lintang Sandika, sedang kan Lintang Sriwedari berada di bilik sebelah.
Di dalam bilik Lintang Sandika masih sempat ber tanya kepada Raka Senggani,
" Dengan kemampuan mu itu mengapa harus meminta pertolongan dari prajurit Demak, bukan kah seorang diri sanggup menghadapi para perampok itu,?" tanya Lintang Sandika.
" Kalau perampok nya satu dua orang mungkin masih sanggup, akan tetapi jika jumlah mereka puluhan, se sakti apa pun kita pasti kalah, karena mereka tentu nya pun bukan kosongan, oleh sebab itu kami memerlu kan bantuan yg lumayan banyak, di desa kenanga sendiri hanya sekira dua puluh orang saja yg bisa di andal kan, sementara dari pengamatan Senggani sendiri , jumlah perampok itu tidak kurang dari lima puluh orang,!" jelas Raka Senggani kepada Lintang Sandika.
Kemudian kedua nya berusaha memejam kan mata karena suara burung -burung malam telah ter dengar ber sahut sahutan.
Keesokan pagi nya setelah selasai subuh , ketiga orang itu segera melanjut kan perjalanan menuju Kotaraja Demak setelah sebelum nya membeli seekor kuda yg ada di jual di penginapan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
inilah pendekar nusantara terlalu sopan...hhhh
2024-11-14
0
Ajo jatah
Munafik anjing
2024-08-21
0
noName
❤️💙❤️🌿❤️💙♥️💐💐♥️💙❤️❤️🌿👍👍
2024-01-17
2