Setelah Ki Bekel sampai di pintu gerbang dari rumah Juragan Tarya itu, mereka tidak langsung masuk karena menunggu Raka Senggani.
Mendengar suara ribut -,ribut di depan gerbang rumah Juragan Tarya itu, maka kawanan rampok itu segera keluar, namun tiba -tiba,
" Syiiet, syiet, syiet,!"
" Cleb, cleb, cleb,!"
" Aaaaakkh,!'
Terdengar teriakan dari mulut kawanan rampok itu, tiga orang telah tewas tertembus pisau pada pangkal tenggorokannya.
Terjadi kepanikan di dalam rumah itu, para kawanan rampok itu saling pandang satu dengan yg lainnya,
" Siapa pelakunya, siapa pelakunya,!" teriak mereka lagi.
Namun belum habis keheranan mereka kembali tiga orang temannya tumbang tertembus pisau di lehernya kembali.
Kepanikan terjadi di kawanan rampok itu, adalah salah seorang yg berkata,
" Segera laporkan kepada Ki Lurah di dalam,!" terdengar teriakan.
Maka buru -buru salah seorang kawanan begal itu melaporkan kejadian yg terjadi di luar, akibat serangan gelap yg telah menimbulkan korban.
Sementara di luar kembali terjadi serangan gelap yg terus menjatuhkan beberapa korban.
Saking kalapnya para perampok itu berpencar mencari sang penyerang itu.
Dan itu semakin memudahkan si penyerang gelap kembali untuk melancarkan seranganya membunuh dari kegelapan.
Hingga terdengar suitan panjang yg merupakan isyarat ,
" Tampak nya Angger Senggani telah memerintahkan kita untuk masuk menyerang, kalian para pemuda tegakkankah dada kalian hadapilah musuh dengan gagah berani,!" kata Ki Lamiran.
Seluruh yg di luar gerbang itu segera masuk meskipun masih ada beberapa penjaga di depan gerbang itu.
Dengan di pimpin oleh Ki Bekel, Ki Lamiran dan si Mbah Mukri maka para penjaga gerbang itu segera dilumpuhkan.
Melihat hal itu para kawanan rampok yg sudah banyak berkurang itu segera menghadang kedatangan dari Ki bekel dan teman -temannya itu, sementara korban terus berjatuhan dari si penyerang gelap itu.
Ki Bekel mendekati Dalang Ki Renggo Sudiro,ia pun berkata,
" Mari Ki Renggo kita harus mengusir mereka jangan hanya berdiam diri saja,!" ucapnya.
Karena Ki Bekel tahu sebenarnya dalang Renggo Sudiro itu pun memiliki kepandaian, dan Akhirnya sang dalang pun mau ikut membantu Ki bekel melawan para perampok, beserta para pengrawit mnya.
Tidak hanya Ki dalang yg di ajak oleh Ki Bekel, para tamu undangan yg sedari tadi hanya pasrah dan berdiam diri saja di ajak turut serta melawan kawanan rampok itu.
Walhasil hampir seluruh tamu undangan yg sedari tadi pasrah dengan hanya berdiam diri saja menyerah kan barang-barang perhiasannya, kini melakukan perlawanan.
Kali ini keadaan berbalik, para kawanan rampok yg terlihat terdesak karena hampir ratusan orang menyerang mereka, akan tetapi itu tidak terlalu lama di sebabkan Singo Ireng segera keluar setelah mendapatkan laporan bahwa ada penyerang gelap yg menyerang para anak buahnya.
Setelah keluar dilihatnya para anggota nya itu tengah dikerubut oleh banyak orang.
" Berhenti kalian, sekarang aku perintah kan untuk berhenti,!" teriakan yg di lambari ajian gelap ngampar itu.
Para pengerubut itu langsung ambruk begitu mendenagr suara yg menggelegar itu, sehingga para kawanan rampok itu bisa bernafas lega.
" Memang Ki Lurah sangat tinggi ilmu nya, orang yg banyak itu bisa ambruk sekali bentak ,!" kata salah seorang rampok dari alas Mentaok itu.
Akan tetapi kebahagiaan para perampok itu hanya sekejap saja karena tiba -tiba terdengar suara seruling yg bernada ngelangut.
Dan kejadian terbalik , para tamu undangan bangkit kembali dan merusak pendengaran dari para perampok.
Mereka mulai memegangi telinga nya supaya tidak mendengar suara seruling yg ngelangut itu.
" Segera totok pendengaran kalian,!'' teriak Singo Ireng.
Sang kepala rampok itu segera turun ke halaman rumah Juragan Tarya itu.
" Ki Bawuk segera kumpulkan barang-barang ber harga itu, dan secepatnya kita tinggalkan tempat ini, karena hari pun telah pagi,!' ujarnya kepada Ki Bawuk.
Setelah sampai di luar ruangan maka ia pum berteriak,
" Hehh, pengecut segera keluar, tunjuk kan batang hidungmu, jangan cuma berani dari kegelapan,!" kata Singo Ireng.
" Aku di sini ,Ki Singo,!" ucap Raka Senggani.
Tiba -tiba pemuda itu telah berada di belakang Singo Ireng.
" Bagus, ternyata ini biang keroknya yg mengacaukan rencana kami,!" bentak Singo Ireng.
" Rencana busuk itu memang perlu untuk dihentikan,!" jawab Raka Senggani.
Dengan masih menggenggam seruling di tangan kirinya pemuda itu melangkah maju mendekati Singo Ireng.
Kedua orang itu saling ber mhadapan,mereka telah memasang kuda kudanya siap untuk bertarung.
" Siapa kau sebenarnya, belum tahu kau berhadapan dengan siapa,!" kembali terdengar ucapan dari Singo Ireng.
" Siapa aku itu tidak penting, dan aku tahu sedang berhadapan dengan kepala rampok asal mentaok yg bernama Singo Ireng,!" jawab Raka Senggani.
" Bagus kalau kau telah mengenalku, sekarang ber siap lah, karena kepalamu akan aku pisahkan dari tubuh mu,!" kata Singo Ireng sambil mengacungkan goloknya.
" Tidak semudah itu Ki Singo, karena kepalaku terbuat dari wesi,!" jawab Raka Senggani.
" Banyak mulut, terima ini, heeaaahh,!" teriak Singo Ireng.
Kepala rampok dari Mentaok itu melesat menerjang tubuh dari Raka Senggani sambil membabatkan golok nya.
Menghadapi serangan yg cepat itu, Raka Senggani tidak berusaha untuk menghindar dan berusaha menangkis serangan itu dengan serulingnya,
" Traaak,!' bunyi benturan golok Singo Ireng dan seruling Raka Senggani.
Singo Ireng terdorong surut selangkah akibat benturan tenaga dalam itu, sedangkan Raka Senggani tampak kokoh pada posisinya.
" Lumayan hebat tenaga dalam Singo Ireng ini, aku harus hati+hati,!" berkata dalam hati Raka Senggani.
Kembali pemimpin begal asal Mentaok itu menerjang dengan mengarahkan tebasan ke arah kepala Raka Senggani, namun pemuda itu kali menghindar seraya memberikan tendangan balasan ke arah perut, Singo Ireng terlambat menghindar,
" Buuugggh,!" terdengar hantaman tendangan dari Raka Senggani itu.
Singo Ireng sampai terjajar dan akhir nya terjatuh karena tidak mampu menahan keseimbangan, namun dengan cepat ia berdiri kembali.
Kali ini Singo Ireng memutar goloknya dengan cepat, di buka dengan tendangan ke arah pinggang Raka Senggani kemudian disusul dengan sabetan golok mengarah ke leher memaksa Raka Senggani harus berjumpalitan menghindari serangan itu.
Pertarungan keduanya membuat terhenti semua pertarungan yg terjadi di situ antara kawanan rampok dan penduduk desa Kenanga yg di pimpin Ki Bekel.
Mereka semuanya kemudian melingkari perang tanding itu, sehingga membuat ruang kepada keduanya untuk mengeluarkan segenap kemampuan nya.
Sementara Ki Bekel menyuruh para pemuda untuk memberikan pertolongan kepada para korban yg masih hidup dari para warga desa Kenanga dan juga korban yg telah tewas.
Kembali ke pertarungan antara kedua tokoh itu antara Raka Senggani dan Singo Ireng.
Pemimpin begal dari alas Mentaok itu merasa mendapat lawan yg diatasnya mulai keteteran dengan serangan- serangan dari Raka Senggani.
Ketika tusukan seruling dari Raka Senggani mengarah ke mata dari Singo Ireng itu ternyata hanya tipuan, kemudian sebuah pukulan tangan kanan yg di sertai tenaga dalam berhasil menghantam dada Singo Ireng, membuat tubuh Rampok asal Mentaok itu harus terdorong surut.
Tidak menyia nyiakan kesempatan , Raka Senggani meneruskan sebuah tendangan mengarah ke leher dari Singo Ireng, namun meskipun telah mendapatkan pukulan pada dadanya, Singo Ireng tidak lengah, ia berhasil menghindari serangan itu dan ganti balas menyerang dengan goloknya ke kaki dari Raka Senggani , pemuda itu terpaksa melentingkan tubuh guna menghindari sabetan itu.
Namun Raka Senggani pun tidak kalah gesitnya secepat turun langsung melurukkan ujung serulingnya ke arah batok kepala Singo Ireng.
Terpaksa Singo Ireng harus mundur dengan tiga kali salto ke belakang.
Dan mendarat sempurna di tanah.
" Kau memang cukup hebat anak muda, sebutkan nama mu sebelum ajianku ini menghancurkan tubuh mu,!" kata Singo Ireng .
Pemimpin Rampok asal Mentaok itu kemudian bersedekap dan mulutnya mulai komat kamit membaca mantera, tampaknya ia akan mengeluarkan ilmu pamungkasnya,
Sedangkan Raka Senggani yg telah melihat lawannya itu merambah pada tataran ilmu kadigjayaan segera melakukan hal yg sama, ia kemudian memusatjan nalar budi nya pada yg Maha kuasa untuk bisa melawan kebatilan dengan ilmu yg dimilikinya.
Nampak Raka Senggani tengah melakukan persiapan mengeluarkan ajian Wajra geni yg di milikinya.
Tangan kirinya dipalangkan di depan dada, sedangkan tangan kanannya mengepal di sebelah pinggangnya.
Saat cahaya mentari mulai menerangi desa Kenanga terdengarlah teriakan dari Singo Ireng,
" Aji gelap Wancal,!" teriaknya.
Selarik cahaya kehitaman segera menderu menerjang Raka Senggani.
Namun Raka Senggani pun melepaskan ajiannya dengan sebuah teriakan yg nyaring,
" Aji Wajra geni, !"
" Dhhuaaarrr, !"
Terdengar letupan dari kedua ajian itu ketika ber temu.
Tampak tubuh dari Singo terlontar tiga tombak ke belakang, namun ia masih mampu menjaga keseimbangannya hingga tidak terjatuh.
Bagi Raka Senggani, ia hanya mundur dua langkah dari tempatnya semula.
" Memang hebat Rampok alas Mentaok ini,!" pikir Raka Senggani.
Ia kemudian bersiap melakukan serangan lagi karena dilihatnya Singo Ireng pun telah bersiap pula.
" Heeaaahh,!" teriak Singo Ireng melancarkan ajiannya lagi
Kembali cahaya kehitaman itu meluruk tubuh Raka Senggani, kali ini Raka Senggani segera membalas serangan itu,
" Hhhiiiaaahhh,!"
" Dhumbhh, Dhhuaaarrr,!"
Tubuh dari Singo Ireng terlempar semakin jauh dan kali ini ia harus terjatuh karena menghantam tembok rumah Juragan Tarya.
Tampak dari hidungnya mengeluarkan darah.
Memang dua kali percobaan ilmu kadigjayaan itu, Singo Ireng masih kalah tenaga dari Raka Senggani , sehingga ia berusaha mengatur jalan pernafasannya untuk mengerahkan kembali ajiannya karena memerlukan tenaga dalam tingkat tinggi.
Setelah merasa cukup kuat, Singo Ireng kemudian bersiap lagi untuk menyerang Raka Senggani untuk yg ketiga kalinya.
" Sudahlah Singo Ireng, lebih engkau menyerah,!" ucap Raka Senggani kepada Singo Ireng.
" Puuuihh, bedebah, pantang bagi Singo Ireng untuk menyerah, kau terima ini bocah ******, Heeeeaaah,!"
Untuk ketiga kalinya serangan dari Singo Ireng itu dilancarkan.
" Dhhuaaarrr,!"
" Aaaaakkh,!"
Terdengar teriakan yg menyayat hati mengakhiri hidup dari pemimpin rampok asal Mentaok itu.
Tubuh nya membentur dinding tembok dari rumah Juragan Tarya itu hingga ambrol keluar , sehingga tubuh nya pun langsung berada di luar rumah Juragan Tarya itu, tubuh itu diam tidak bergerak lagi.
Raka Senggani langsung melesat untuk melihatnya.
Setelah dilihatnya tubuh dari Singo Ireng itu telah tidak bernyawa lagi.
Tubuh Singo Ireng itu sperti hangus terbakar, menghitam.
Sementara di kejauhan terlihat debu mengepul, dari beberapa kuda yg menuju ke tempat itu, setelah mendekat ternyata para prajurit dari Kadipaten Pajang yg dipimpin oleh seorang Rangga tiba di tempat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Ajna dillah
rampok habis prajurit datang payah
2024-03-30
0
Yuki tanzeela
rampok yg katanya kondang dan jd buronan Demak/pajang anak buahnya klh sama orang" kampung, ser guyu tp,,,,,,
2023-07-19
3
Polo Tarigan Silangit
keterkejutan singo Ireng mana, padahal dia yg tersurut mundur, ee..masak MC pula yang memuji lawan, se olah Thor berpihak pada lawan
2023-07-10
2