Raka Senggani terus masuk ke dalam hutan yg cukup lebat itu, ia melalui jalan setapak , kelihatan nya para rampok asal gunung tidar itu membuat sarang cukup jauh ke dalam hutan karena sudah lama berjalan, Raka Senggani belum melihat tanda-tanda mereka.
Raka Senggani terpaksa menggunakan ilmu penyerap bunyi dalam melangkah apabila ia mendengar ada orang yg tengah berbicara.
Ia pun langsung memanjat sebatang pohon yg besar untuk mencari arah suara itu.
" Hehh, tampaknya mereka membuat tempat cukup jauh ke dalam , dan sangat sulit untuk dicapai karena ada jalan yg terjal yg harus dilalui untuk sampai kesana,!" ber kata dalam hati nya Raka Senggani.
Ia melihat sebuah tempat di seberang sana yg di depannya ada jurang yg memisahkan , memang ada jalan untuk ke sana tetapi melalui jalan yg berbatu dan cukup terjal, kalau tidak hati-hati tentu akan terpleset dan jatuh ke dalam jurang yg dalam.
Karena itu jalan satu-satu nya, jika dalam keadaan siang hari tentu mereka akan melihat siapa pun yg akan datang ke tempat itu .
" Cukup baik mereka membuat sarang nya dan kali ini, Senggani tidak bisa lebih dekat ke sana, mungkin nanti setelah malam,!" pikir Raka Senggani.
Ia pun terus berusaha memasang pendengarannya atas pembicaraan orang-orang.
Namun Raka Senggani tidak dapat mendengar dengan jelas, ia pun kemudian turun dari pohon itu dan kembali ke pategalan mbok rondo.
Raka Senggani tidak menemukan Ki Lamiran di gubuk mbok rondo itu, akhir nya ia memutuskan untuk kembali pulang ke rumah Ki Lamiran, hari pun telah menjelang sore.
Sementara di rumah juragan Tarya, telah kedatangan Ki Lamiran yg akan memberitahukan tentang ancaman yg akan datang ke keluarga juragan Tarya itu.
" Silahkan ki Lamiran, silahkan, ada keperluan apa Ki,?'' tanya Juragan Tarya dengan ramah.
" Ahh, tidak juragan, sebenarnya, aki datang kemari hanya ingin memberitahukan sesuatu,!" ucap Ki Lamiran.
" Apa itu Ki, apakah sesuatu yg penting,?" tanya Juragan Tarya
" Iya juragan Tarya, bahwa sebenar nya ada yg penting tentang keadaan dari Juragan Tarya yaitu tentang masalah keamanan juragan sekeluarga,!" jelas Ki Lamiran.
" Tentang keamanan kami, maksud nya,?" tanya Juragan Tarya tidak mengerti.
" Dari yg didengar oleh angger Senggani, kemarin ada orang yg menyebut-nyebut bahwa mereka akan datang merampok kemari, kalau ditelusuri seperti nya kawanan begal gunung Tidar yg dipimpin oleh Singo lorok,!" jawab Ki Lamiran lagi.
" Kawanan begal gunung Tidar, ?" tanya Juragan Tarya kaget.
" Demikianlah kiranya, juragan,!" jawab Ki Lamiran.
" Tunggu ki, tadi Ki Lamiran menyebutkan nama Raka Senggani, apa hubungan anak itu dengan kawanan rampok gunung Tidar itu,?" tanya Juragan Tarya penuh selidik.
" Begini gan, Angger Senggani dan aki sendiri tengah berada di pategalan dan ketika angger Senggani ingin mandi di sendang tanpa sengaja ia melihat dua orang keluar dari dalam hutan dan ber bicara tentang Juragan Tarya, bukan nya Angger Senggani ada hubungan dengan kawanan rampok itu, karena angger Senggani telah hampir tiga hari berada di sini,!" jelas Ki Lamiran yg merasa bersalah karena telah menyebutkan nama Raka Senggani.
" Pantaslah angger Senggani tidak mau datang kemari, itulah kalau orang kaya , curiga melulu, sudah dikasih tahu malah mencurigai orang yg memberitahukan itu,!" berkata dalam hati Ki Lamiran.
" Kira-kira berapa jumlah mereka Ki,?" tanya Juragan Tarya.
" Kalau masalah itu aki tidak tahu,!" jawab Ki Lamiran lagi.
" Baiklah Ki, biar nanti orang-orang Ku melihat mereka, dan kalau perlu dihabisi saja mereka itu,!" kata Juragan Tarya.
Ki Lamiran pun pamit pulang , ia kemudian langsung menuju ke rumah nya karena hari telah menjelang malam.
Ternyata cukup lama Ki Lamiran berada di rumah Juragan Tarya.
Sesampainya di rumah, dilihatnya pelita telah menyala, rupanya Raka Senggani telah lebih dahulu kembali.
" Ehh Ki , darimana saja , tadi ketika Senggani kembali ke gubuk , Ki Lamiran tidak berada di sana,?" tanya Raka Senggani.
" Aki ke rumah Juragan Tarya, guna menyampaikan berita yg telah angger dengar itu,!" jawab Ki Lamiran berterus terang.
" Apa jawab Juragan Tarya, Ki,?" tanya Raka Senggani.
" Katanya, ia akan menyuruh orang-orang nya mendatangi tempat itu, dan kalau perlu, menghabisi mereka,!" jawab Ki Lamiran.
" Wah gawat Ki, kalau perlu mereka jangan ke sana,!" ucap Raka Senggani setengah ber teriak.
" Memangnya kenapa Ngger, apakah angger telah masuk dan melihat mereka bertempat,?'' tanya Ki Lamiran heran.
" Benar Ki, Senggani tadi memang telah masuk ke dalam hutan, dan telah melihat mereka, jumlah mereka cukup banyak mungkin diatas lima puluh orang,!" jawab Raka Senggani.
" Wah gawat kalau begitu,!" seru Ki Lamiran.
" Iya, mana tempatnya sulit di jangkau, terpleset sedikit saja nyawa taruhannya, jadi bisa dibayangkan bagaimana kemampuan mereka itu, tentu memiliki ilmu yg cukup tinggi sehingga dengan mudahnya keluar masuk dari tempat yg berbahaya itu,!" jelas Raka Senggani.
Ki Lamiran nampak terdiam setelah mendengar penjelasan dari Raka Senggani.
" Kalau menurut Senggani , lebih baik mereka di tunggu saja diluar hutan, baru setelah nya di serang, atau lebih baik lagi sampai hajatan dari Juragan Tarya di gelar tentu mereka yg akan datang sendiri tanpa harus kita yg ke sana!" kata Raka Senggani lagi.
" Baik juga usulmu itu, Ngger, !'' balas ki Lamiran.
" Memangnya tukang pukul Juragan Tarya berapa orang, Ki, ?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lamiran.
" Mungkin sepuluh orang atau paling banyak dua puluh orang,!'' jawab Ki Lamiran.
" Ahhh, kalau mereka akan masuk ke dalam hutan itu pasti akan mengantarkan nyawa saja,,!" ungkap Raka Senggani.
Pembicaraan keduanya terputus karena Raka Senggani melaksanakan sholat maghrib, dan setelah itu, keduanya bersantap malam .
Kembali keduanya terlibat pembicaraan lagi.
" Ki, Senggani akan masuk ke sana besok malam, jadi pinta Senggani , aki bisa mencegah orang-orangnya juragan Tarya untuk masuk ke sana, sebelum kita mengetahui pasti jumlah mereka,!" kata Raka Senggani sambil menyuapi mulutnya dengan makanan.
Keesokan paginya kembali kedua orang itu ke pategalan mbok rondo dan bekerja seperti biasa.
Nampak terlihat beberpa orangnya juragan Tarya yg mendekati gubuk mbok rondo itu.
" Ki, Apakah aki yg bernama lamiran itu,?" Tanya seorang yg berbadan besar dengan kumis tebal melintang dan di pinggangnya terselip sebuah golok.
" Benar, aku adalah Lamiran yg memiliki pategalan ini,!" jawab Ki Lamiran sambil menghenti kan kerja an nya.
" Apakah aki yg memberi laporan kepada juragan Tarya, kemarin, tentang adanya gerombolan rampok yg berada di hutan itu,?" tanya orang yg berbadan besar dengan kumis tebalnya sambil menunjuk ke arah hutan yg tepat berada di belakang pategalan itu.
" Iya, memang aki sendiri yg mengata kan kepada Juragan Tarya bahwa ada gerombolan rampok yg bersarang di hutan itu,!'' jawab Ki Lamiran lagi.
" Ahh , Ki Lamiran nampaknya berbohong , ter bukti , setelah kami periksa ke dalam tidak ada seorang pun yg berada di sana,!" seru orang itu sambil menatap ki Lamiran dengan tatapan tidak senang.
" Ahh, mungkin aki yg tua ini salah melihat, kalau memang tidak ada apa-apa nya di dalam hutan tersebut, jadi maaflah, mata sudah lamur, maklum sudah tua,!" jelas Ki Lamiran.
" Tetapi yg kami dengar dari Juragan Tarya, bukan aki sendiri yg melihatnya melain kan teman ki Lamiran, seorang pemuda dan bernama Senggani, mana anak itu,?" tanya orang itu lagi.
" Ehh, dia tidak sedang berada di sini, pagi tadi ia berangkat ke demak guna menjenguk ibu nya yg sedang sakit,!" jawab Ki Lamiran berbohong.
Karena pande besi desa kenanga itu melihat ada gelagat kurang baik dari orang-orang itu, memang mereka adalah tukang pukul dari Juragan Tarya yg ber tugas menjaga keselamatan dari juragan nya itu.
Namun setelah melihat langsung. para tukang pukul Juragan Tarya itu, timbul di dalam hati dari Ki Lamiran perasaan yg tidak senang atas mereka.
" Sekali lagi kami peringatkan kepada Ki Lamiran, jangan memberi laporan yg tidak jelas kepada juragan kami, nanti aki sendiri yg susah,!" terdengar nada ancaman dari ucapan tukang pukul Juragan Tarya itu.
" Baik kisanak , sekali lagi, aki mohon maaf,,!" kata Ki Lamiran.
" Bagus, sekali ini kami maafkan tetapi lain kali, kami tidak bisa bersabar, jika ada orang yg memberikan keterangan yg tidak jelas dan kembali menyusah kan kami, kami tidak segan -segan menghajarnya,!" seru orang itu sambil memukulkan gagang goloknya hingga berbunyi.
Ki Lamiran sampai kaget dibuatnya.
Kemudian para tukang pukul Juragan Tarya itu pun berlalu dari tempat itu.
Ki Lamiran melihat terus kepergian orang-orang tersebut, sampai ia dikagetkan dengan tepukan di pundaknya.
" Siapa mereka itu, Ki,?"
" Ehh, kamu Ngger, membuat jantung aki mau copot saja, ehh, mereka tukang pukulnya Juragan Tarya,!" jawab Ki Lamiran.
" Mau apa mereka datang kemari, Ki,?" tanya Raka Senggani.
" Kata nya mereka telah memeriksa hutan itu dan tidak ada siapa -siapa di dalam, dan mereka juga mengatakan kepada aki jangan memberikan laporan kepada juragan Tarya jika belum pasti duduk perkaranya,!" jelas Ki Lamiran.
" Hehh , mereka mengancam Ki Lamiran, begitu,?" tanya Raka Senggani.
" Iya, bahkan mereka mencarimu juga,!" kata Ki Lamiran lagi.
" Untuk apa mereka mencari Senggani,?" tanya Raka Senggani heran.
" Karena sewaktu di rumah Juragan Tarya, aki menyebut nama angger Senggani yg melihat keberadaan orang -orang itu,!" ungkap Ki Lamiran.
" Bagus Ki, kalau memang tidak percaya, atau jangan-jangan,...!" kata Raka Senggani yg tidak melanjutkan kata-kata nya itu.
" Jangan-jangan kenapa Ngger,?" tanya Ki Lamiran.
" Jangan -jangan mereka bagian dari gerombolan rampok itu,!" jelas Raka Senggani.
" Hahh, boleh jadi Ngger,!" seru Ki Lamiran.
" Untuk pastinya nanti malam, Senggani akan menyelediki ke dalam hutan itu,!" ucap Raka Senggani.
" Hati -hatilah Ngger, mungkin memang tengah menyiapkan sesuatu untuk merampok desa ini,!" ujar Ki Lamiran.
" Sebaiknya kita pulang saja Ngger,!" ajak Ki Lamiran kepada Senggani.
" Baiklah Ki, memang sebaiknya kita kembali saja,!" kata Raka Senggani.
Keduanya langsung berkemas dan pulang ke tempat kediaman dari Ki Lamiran.
Siang sampai sore , terlihat Raka Senggani mempersiapkan segala sesuatu untuk masuk ke dalam hutan.
Setelah selesai sholat maghrib, Raka Senggani ber pamitan kepada Ki Lamiran,ia pun segera keluar dari rumah Ki Lamiran setelah agak jauh dari rumah itu kemudian Raka Senggani,
" Bismillah, Hufhh,!"
Sebentar kemudian tubuh pemuda itu berjalan cepat makin lama makin cepat seperti terbang.
Itulah ilmu peringan tubuh yg dimiliki oleh Raka Senggani, guru nya menyebut aji saifi angin.
Sebentar kemudian pemuda itu telah sampai di hutan di ujung desa itu.
" Setelah sampai di dekat hutan itu, Raka Senggani kemudian berhenti sejenak dan memperhatikan sekeliling nya.
Setelah di rasa aman akhirnya Raka Senggani kembali mengetrapkan ilmu peringan tubuhnya dan kali ini melompat dari pohon ke pohon dengan ringannya.
Dan ketika sampai di tempatnya waktu pertama kali ia ke dalam hutan itu, kembali Raka Senggani berhenti, ia melihat ada cahaya api dan asap yg ada di bawah sana sepertinya mereka tengah memanggang sesuatu.
Lama Raka Senggani memperhatikan tempat itu dari kejauhan, ia berpikir bagaimana sebaiknya cara mencapai tempat itu tanpa di ketahui penghuni nya.
Agak lama Raka Senggani menentukan akhir nya ia mengambil keputusan untuk masuk dari jalan arah belakang, yg terdapat jurang yg dalam.
Setelah Raka Senggani merapal ajian nya, tampaklah melesat dengan cepat tubuh itu menuju tempat para gerombolan rampok itu bersarang.
Dengan mengetrapkan ajiannya, Raka Senggani sampai ke tempat itu dengan selamat,
" Cukup lebar juga ternyata, jurang itu,!" pikir Raka Senggani setelah berada di belakang dari barak gerombolan rampok itu.
Ia kemudian mengetrapkan aji penyerap suara untuk mengetahui keberadaan orang dan untuk supaya dia tidak di ketahui gerombolan rampok itu.
Perlahan ia mendekati barak-barak itu yg jumlah lima buah.
Yg di dekatinya adalah barak yg paling ujung dan paling besar.
" Mungkin barak ini milik dari si Singo Lorok itu,!" berkata dalam hati Raka Senggani.
Ia terus merapat ke tempat itu dan mendengar suara erangan yg halus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
sebenarnya kisah Silat Nusantara cukup bagus untuk diangkat dlm cerita ...smg kedepanya AuThor banyk menulis crita nusantara..
2024-11-13
0
muyono muzaeni
pembukaan yg bagus
2024-10-13
0
asep harja
iklan nya membingungkan
2024-01-15
2