" Jadi kakang Senggani dimana tinggal nya sekarang ini,?" tanya Tara Rindayu setelah melepaskan pelukannya.
" Ehh, anu, aku tinggal di tempat mbok rondo,!'' jawab Raka Senggani tergagap karena lamunannya tadi.
" Hei, bukankah rumah mbok rondo sudah lama kosong, apakah kakang Senggani tidak takut tinggal di sana , banyak orang yg mengatakan tempat itu sekarang ini jadi wingit,!'' ucap Tara Rindayu yg menunjukkan mimik ketakutan.
" Ahh, semua tempat di dunia ini bisa jadi wingit jika kita mewingitkan, sekarang tergantung kepada kitanya sendiri, apakah akan tetap pada hal-hal yg tidak masuk akal atau tetap teguh kepada sang Maha pencipta,!" jelas Raka Senggani.
" Wah kakang Senggani sekarang seperti seorang sunan yg tinggi ilmu agamanya, hebat,!" kata Tara Rindayu .
" Ah tidak juga, karena demikianlah yg di ajarkan oleh guru ku,,!" jawab Raka Senggani.
" Nanti main ke rumah kakang Senggani, karena romo saat ini banyak membutuhkan tenaga untuk membantu nya,!" kata Tara Rindayu.
" Iya nanti jika ada kesempatan,!" jawab Raka Senggani.
" Mari kakang, ndayu harus segera pulang sebelum tengah hari,!" kata Tara Rindayu yg akan segera berlalu setelah menerima pesanan beberapa buah pisau dari Ki Lamiran.
" Banyak sekali den ayu pisau yg di beli , Apakah untuk acara hajatan juragan Tarya,?" tanya Ki Lamiran sambil menyerahkan beberapa buah pisau kepada Tara Rindayu.
" Mungkin ki, ini memang pesanan Romo, mari ki, kakang Senggani,!" kata Tara Rindayu sambil berlalu dari tempat itu.
" Mariii,!" jawab kedua orang itu.
Setelah kepergian Tara Rindayu dari tempat itu kembali Ki Lamiran bertanya kepada Raka Senggani.
" Benarkah angger Senggani tinggal di gubuk mbok rondo,?" tanya nya kepada Raka Senggani.
" Demikian lah ki, setelah sampai di sini aku langsung ke rumah mbok rondo, tetapi tidak ada orangnya,walaupun ku tunggu sampai malam namun beliau tetap tidak datang cuma perasaan Ku mengatakan bahwa beliau ada karena pategalan itu penuh dengan tanaman,!" jawab Raka Senggani.
" Kalau begitu ngger, nanti malam angger Senggani tinggal saja di tempat ku, karena saat ini pun aki tinggal sendiri tanpa seorang kawan, kalau angger ber sedia tentu banyak yg akan aki ceritakan kepadamu ngger,!" ucap Ki Lamiran.
" Baik lah nanti malam aku akan ke tempat Ki Lamiran,!" jawab Raka Senggani.
Kemudian Raka Senggani membantu ki Lamiran mengerjakan tempahan wesi untuk di berbagai macam perkakas, dari pacul, pisau, bahkan tombak.
Menjelang sore kedua nya kembali ke tempat tinggal ki Lamiran yg berada agak di tepi desa Kenanga.
Sehingga suasana di sana tampak sepi dan menenangkan
Ketika masuk maghrib, maka Raka Senggani segera melakukan sholat maghrib seperti yg biasa dilakukannya saat masih berguru.
Selepas menunaikan ibadah sholat kemudian Ki Lamiran mengajak Raka Senggani untuk bersantap malam.
Di sela sela itu keduanya terlibat perbincangan hangat,
" Sungguh ngger biasa nya gubukku sunyi, karena aki memang tinggal sendiri, begitu angger Senggani ada terasa hidup kembali, gubukku ini!" ujar ki Lamiran
" Apakah anak Ki Lamiran tidak ada yg mau tinggal di sini,?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lamiran.
" Tidak, tidak ada yg mau mereka semua ingin menetap di tempat yg ramai seperti kota, sedang di sini sunyi kata mereka,!" jawab Ki Lamiran,sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
" Ku lihat angger Senggani saat ini telah banyak berubah, selain dulu meninggal kan desa ini memang masih kecil, namun satu yg jadi pertanyaan aki, ....?" ucap Ki Lamiran sambil terus menyuapi mulutnya dengan makanan sehingga terputus kata-katanya.
" Apa yg ingin Ki Lamiran tanyakan,?" tanya Raka Senggani.
" Itu lho ngger, kelihatan nya angger saat ini taat beribadah yg bagi sebahagian besar orang di sini masih sangat jarang dilakukan karena masih terikat pada tradisi lama, peninggalan kerajaan Majapahit, yaitu tradisi ajaran hindu,!" ucap Ki Lamiran.
" Oh masalah itu, karena memang guru ku mengajarkan demikian Ki, bahwa Alam mayapada ini ada penciptanya termasuk juga kita, jadi sepantas nyalah kita mengucapkan syukurr serta tunduk kepada Sang Maha pencipta, Maha segala-galanya, tidak ada di antara kita ini yg lepas dari pengamatannya,!" jelas Raka Senggani.
" Ohh, begitu ya Ngger,!'' seru Ki Lamiran.
" Demikian lah guru Ku mengajarkan kepadaku, Ki!" tukas Raka Senggani
" Oh ya Ki Lamiran, jadi siapakah yg telah menanami pategalan mbok rondo itu sehingga banyak tanaman nya,?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lamiran
" Sebenarnya yg menanami pategalan mbok rondo adalah aki sendiri,!" jawab Ki Lamiran.
" Kok bisa, Ki Lamiran yg merawat tanaman itu,?" tanya Raka Senggani.
" Sebelum mbok rondo pergi di bawa anak nya, ia meminta kepada penduduk desa kenanga untuk menjaga rumah dan tanamannya, namun tidak ada yg ber sedia karena rata-rata mereka sibuk dengan sawah nya masing-masing, jadi mbok rondo menawarkan kepada Ku sambil berpesan untuk menyerahkan nya kepada mu jika kembali nantinya, oleh sebab itu ketika aki bertemu denganmu, aki amat senang sekali karena amanat mbok rondo berhasil aki penuhi,!" jelas Ki Lamiran.
" Begitukah pesan mbok rondo, bukankah aku hanya anak angkatnya, dan mengapa lahan pategalan yg cukup luas itu diserahkannya kepada ku,?'' tanya Raka Senggani yg heran dengan sikap dari ibu angkatnya itu.
" Wah kalau masalah itu aki tidak tahu, sementara anaknya pun mengiyakan dan tidak ber keinginan kembali kemari,!" jawab Ki Lamiran.
" Anehh,!" desis Raka Senggani.
" Ya mungkin tidak aneh mengingat mbok rondo teramat sayang kepada Angger Senggani bahkan yg jadi dukun beranaknya ibu dari angger Senggani adalah mbok rondo,!" jelas Ki Lamiran lagi.
" Senggani tahu akan hal itu tetapi apakah dengan memberikan hartanya kepada Senggani , itu yg masih sulit untuk di mengerti,?" ucap Raka Senggani.
Lama kedua nya terdiam, larut dalam lamunannya masing-masing.
Adalah Ki Lamiran yg kemudian bertanya lagi,
" Apakah angger Senggani tidak melihat bahwa den ayu suka kepada angger,?" tanya Ki Lamiran.
" Hehh, bagaimana mungkin ia suka kepada ku, Ki,?" kata Raka Senggani balik ber tanya.
" Karena dari dulu, den ayu sering bertanya kepada aki tentang keberadaan angger Senggani , namun karena memang aki tidak tahu, ya , aki jawab tidak tahu, tetapi dari pertanyaan nya itu mengandung kerinduan terhadap angger Senggani,!" jawab Ki Lamiran.
" Rindu belum tentu suka sebagai lawan jenis, mungkin ia rindu kepada lku karena dianggapnya sebagai teman saja tidak lebih dari itu,!" ungkap Raka Senggani.
" Tidak Ngger, aki kan sudah tua tentu sudah paham jika seseorang itu suka sebagai sahabat atau suka sebagai pacar,!" jelas Ki Lamiran lagi.
" Ahh, Ki Lamiran jangan mengada-ada, buktinya Tara Rindayu sebentar lagi akan menikah,!" kata Raka Senggani.
" Pernikahan den ayu kan karena perjodohan , selain usia den ayu sudah lebih dari cukup untuk menikah adalah putra demang muncar yg kesengsem setelah melihat putri Juragan Tarya itu ketika mereka ber kunjung kemari,!" jelas Ki Lamiran.
" Jadi calon suami dari Tara Rindayu itu anak demang muncar, Ki,?" tanya Raka Senggani.
" Iya , nama nya Bajang wunut, mungkin sesuai namanya, tubuhnya agak kecil,!" jawab Ki Lamiran.
" Oh ya Ki, kapan di langsung kan pernikahan mereka,,?" tanya Raka Senggani.
" Sehabis panen tahu ini, nampaknya juragan Tarya akan menghelatnya dengan besar-besaran, karena selain tanggap an nya Wayang semalam suntuk, ia juga akan memotong tiga ekor sapi dan seekor kerbau,!" kata Ki Lamiran.
" Pesta besar itu, Ki,!"seru Raka Senggani
" Ya memang besar, mungkin kalau untuk satu desa kenanga ini, satu ekor sapi pun sudah cukup, teta sampai tiga ekor di tambah lagi kerbau tentu itu suatu hajatan yg besar,!" Ki Lamiran ber kata
" Angger Senggani apakah akan menetap kembali di sini,?" tanya Ki Lamiran mengalih kan pembicaraan.
" Senggani belum tahu Ki, mungkin iya, mungkin juga tidak, namun yg jelas Senggani harus menemukan pembunuh kedua orang tua Senggani itu,!'' ucap Raka Senggani dengan suara bergetar.
Ki Lamiran agak ter kejut mendengar ucapan dari Raka Senggani itu dan ia pun menyesal telah mempertanyakan hal yg telah membangkitkan luka lama di hati Raka Senggani itu.
Raka Senggani membayangkan kejadian yg hampir sepuluh tahun berlalu, serasa masih baru terjadi nya.
Wajah tampan pemuda itu berubah mendung ketika mengenang kembali kejadian yg sudah lama berlalu itu.
" Maaf Ngger, bukan maksud a,...!" ucap Ki Lamiran lagi.
Belum habis ucapan itu , Raka Senggani langsung memotong nya,
" Tidak apa -apa , Ki, mudah mudahan Romo dan biyung tenang di alamnya sana," kata Raka Senggani kepada Ki Lamiran.
" Syukurlah Ngger, mudah mudahan demikianlah keadaannya," ungkap Ki Lamiran itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ceritanya sudah bagus 👍👍
2025-02-25
0
Rikko Nur Bakti
awal cerita yang bagus...
2024-08-02
1
Ajna dillah
semangat
2024-03-29
1