Hari terus berganti demikian pula di desa Kenanga, masa panen pun tiba.
Seluruh warga penduduk desa Kenanga ber suka cita menyambut panen kali ini yg kelihatan nya cukup melimpah dari biasa nya.
Hampir seluruh penduduk desa Kenanga turun ke sawah ketika acara wiwitan di adakan, dengan di pimpin oleh seorang pemuka agama di desa ter sebut di adakan lah acara pemotongan beberapa bagian padi setelah sebelum nya melakukan do'a.
Setelah Sang pemuka agama telah memotong beberapa padi maka dengan itu panen di sawah telah siap untuk di lakukan.
Namun sebelum nya para warga melakukan makan ber sama untuk menandai panen tahun ini.
Makanan yg ter saji cukup banyak, dari Nasi gurih, ayam Kampung, Teri, tahu, Tempe, sayur nangka, rempeyek, thontho, telur, bahkan sampai jajan pasar .
Saat itu di desa Kenanga ter lihat lain dari biasa nya. Lebih ramai.
Raka Senggani pun ikut dalam acara itu, ia sengaja di undang oleh Jati Andara, putra sang Bekel desa Kenanga.
Bersama dengan Dewi Dwarani dan Jati Andara, Raka Senggani ter lihat ikut membantu perhelatan itu.
Pada acara makan-makan menjelang saat panen itu, Sari Kemuning, putri Ki Jagabaya pun segera memanggil Raka Senggani.
" Kang, kang, kakang Senggani mari , makan bareng dengan kami,!" ter dengar panggilan Sari Kemuning.
" Biar di sini saja , Kemuning, karena tadi pun kami berangkat nya telah ber sama,!" jawab Dewi Dwarani.
" Ahh, kalau soal berangkat tidak apa -apa , Ran, yg penting makan nya bareng kami,!" balas Sari Kemuning.
" Sudah lah Kemuning, Senggani makan ber sama Kakang Jati Andara dan Dewi Dwarani saja,!" jawab Raka Senggani.
" Kakang Senggani, ini ada masakan khusus untuk mu,!" kata Sari Kemuning.
Kemudian gadis itu mendatangi Raka Senggani yg tengah makan ber sama keluarga Bekel Kenanga itu.
Sari Kemuning kemudian menyerah kan sebuah bungkusan dari daun pisang, setelah dibuka, Raka Senggani cukup ter kejut dengan pemberian dari Sari Kemuning itu.
" Wah , Kemuning, engkau sangat tahu kegemaran Ku, rempela ati ayam, yg masih segar dan ber bau harum,!" ucap Pemuda itu.
Segera Raka Senggani menyantap pemberian dari Sari Kemuning itu, sementera Jati Andara, Dewi Dwarani serta Sari Kemuning, seakan ter bengong melihat tingkah dari Raka Senggani itu.
Mereka tidak menyangka bahwa pemuda itu sampai melupa kan mereka, sampai akhir nya Jati Andara yg ber kata,
" Walaupun sangat enak, kita -kita jangan di lupa kan, mbok yo di ajak,!'' seru putra Ki Bekel itu.
Kepala Raka Senggani mendongak, ia melihat orang -orang di sekeliling nya yg sedang menatap nya,
" Aduhh, maaf Kang Andara, dan Dewi Dwarani, Senggani sampai lupa sama kalian ber dua, ini ayo kita makan lauk pemberian dari Kemuning, ini, !'' kata Raka Senggani.
Pemuda itu kemudian menyodor kan bungkusan daun pisang ke depan Jati Andara dan Dewi Dwarani, kedua nya kemudian segera mengambil nya.
" Bagaimana Kang, enak kan masakan Ku,?" tanya Sari Kemuning kepada Raka Senggani.
" Masakan mu memang maknyus, mantap,!" ucap Raka Senggani sambil mengacung kan jari jempol nya.
Ke empat muda mudi itu kemudian melakukan makan bersama, di tepi per sawahan itu.
Setelah selesai acara makan, sebahagian besar makanan itu di tinggalkan, sebagai pemberian kepada dewa bumi dan dewi padi.
Maka seluruh warga desa Kenanga kembali ke tempat nya masing-masing.
Adalah Ki Lamiran dan Raka Senggani yg di ajak ke rumah Ki Bekel .
Namun kemudian Raka Senggani berkata,
" Ki Bekel, Senggani ingin sebentar melihat -lihat tanah per sawahan ini, sekedar mengingat dulu kami masih memilki beberapa petak sawah di sini,!"
" Oh, silah kan Ngger, biar nanti Kakang Lamiran yg akan mennemani kami pulang,!" jawab Ki Bekel.
Kemudian Raka Senggani ber jalan di atas pematang sawah mengenang semasa kecil sering ia lakukan.
" Ehh, Kakang Senggani, Kemuning ikut, ya,!" seru gadis itu setelah melihat pujaan hati nya sedang ber jalan sendirian.
Tanpa menghirau kan permintaan dari Sari Kemuning, Raka Senggani ber jalan menuju ke tengah per sawahan.
Sementara Sari Kemuning berusaha menyusul nya, setelah ber hasil dan berada di sisi dari Raka Senggani, berkata lah Sari Kemuning,
" Kang, saat ini sawah keluarga milik Kakang Senggani telah jadi milik keluarga Tara Rindayu,!" ucap gadis itu.
" Kakang tahu Kemuning, bukan kah dahulu di sini lah letak gubuk kami, dan engkau sering datang kemari,!'' ucap Raka Senggani.
Sari Kemuning ter sipu malu, mendengar per kataan dari Raka Senggani itu.
" Kemuning Kemungkinan besok Senggani akan ke kotaraja Demak, ada yg ingin Senggani temui di sana,!" ucap Raka Senggani.
" Siapa Kang, laki atau perempuan,?" tanya Sari Kemuning.
" Perempuan,!" jawab Raka Senggani.
" Tua atau muda, Kang ?" tanya Sari Kemuning lagi dengan wajah yg serius.
" Kasih tahu tidak , Ya, !" ujar Raka Senggani dengan nada menggoda.
" Yeahh, tidak kasih tahu juga tidak apa -apa, asal kan Kakang Senggani segera kembali kemari, hati Kemuning pasti akan senang sekali,!" ucap Gadis itu.
Setelah diam sesaat, Raka Senggani kemudian bangkit dan berjalan lagi sambil mengucap kan,
" Senggani ingin ber temu Mbok rondo, mudah mudahan ia masih hidup, ia lah pengganti orang tua ku sejak Senggani tinggal sendiri di sini waktu itu,!"
Lama Raka Senggani menatap padi -padi yg telah menguning itu, ia teringat masa -masa yg indah kala ber sama biyung nya turun ke sawah.
Ia dapat mandi dan mencari welut di tepi parit -parit sawah itu sampai wajah dan tubuh nya lecek semua, sperti kerbau yg lagi ber kubang.
" Kang, memang saat-saat kita masih kecil terasa indah untuk di kenang, ya kan, Kang,!" kata Sari Kemuning membuyar kan lamunan Raka Senggani.
" Benar Kemuning, sayang semua itu terasa cepat ber lalu, dan sekarang kita telah besar dan dewasa dengan segudang per masalah an,!" jawab Raka Senggani.
" Banyak amat sih Kang, per masalah an Kakang itu sampai segudang, kalau masalah Kemuning cuma satu,!" ucap putri Jagabaya itu.
" Apa masalah mu , Kemuning,?" tanya Raka Senggani.
Sambil ter senyum manis putri Jagabaya itu ber kata,
" Kapan Kemuning akan menyusul Rindayu untuk naik pelaminan,!"
" Tinggal sebut saja sama Sura Birono pasti beres,!" jawab Raka Senggani dengan ter kekeh, menahan ter tawa.
" Ahh, kakang Senggani, kalau Sura Birono, orang nya suka berangasan, Kemuning jadi ngeri jika melihat nya,!" jelas Sari Kemuning.
" Akan tetapi ia menyukai mu Kemuning, !" kata Raka Senggani lagi.
" Iya, Kemuning tahu akan hal itu, tetapi Kemuning tidak memiliki perasaan apa pun ter hadap nya,!" jawab Sari Kemuning.
" Apakah Rindayu seperti mu juga Kemuning, tidak memiliki perasaan apa -apa ter hadap calon suami nya,?" tanya Raka Senggani kepada Sari Kemuning.
" Kalau itu kemuning juga tidak tahu, yg Kemuning tahu ,calon suami Tara Rindayu adalah putra seorang Demang yg cukup kaya di Muncar,!'' jawab Sari Kemuning.
" Tetapi yg Senggani dengar calon suami dari Rindayu itu kecil dan jelek, apakah juga Rindayu tidak memilki perasaan apa -apa ter hadap lelaki itu,!" jelas Raka Senggani.
" Ahh, Kakang Senggani kok malah nglantur ngomongin orang lain, bukan malah mencerita kan tentang masa depan sendiri, kalau Rindayu biar lah ia,untuk apa kita mengurusi nya,!" kata Sari Kemuning.
" Kan tadi, Kemuning sendiri yg mengata kan senang nya jadi Tara Rindayu karena sebentar lagi naik pelaminan, ini katanya ngomongin orang, yg ngomongin orang itu Senggani atau Kemuning,?" tanya Raka Senggani.
Pemuda itu teringat saat ber sama dengan Rindayu se waktu masih kecil dan sering di ganggu oleh Sari Kemuning si gadis ceking dan hitam itu.
Namun sesaat di pandangi nya gadis yg duduk di sebelah nya itu, Raka Senggani sampai membanding kan nya dengan waktu dulu, ter nyata Sari Kemuning jauh berubah, menjadi gadis yg sangat cantik yg sebenar nya tidak kalah dengan Tara Rindayu, kembang desa kenanga itu.
Apa lagi kemahiran putri Jagabaya itu dalam memasak sungguh patut di acungi jempol, perut Raka Senggani terasa ke kenyangan .
Tanpa di sadari kedua orang itu , dari kejauhan ada sepasang mata indah tengah memperhati kan mereka berdua.
" Dahulu kami ber dua yg sering menghabis kan waktu ber sama seperti itu,!" kata perempuan itu yg tiada lain adalah Tara Rindayu.
Memang saat acara wiwitan tadi , putri Juragan Tarya itu menyempat kan diri untuk menghadiri nya, hanya sekedar ingin ber temu dengan Raka Senggani.
Akan tetapi setelah melihat pemuda itu dekat dengan seorang gadis lain yg tiada lain adalah teman nya sendiri, hati Tara Rindayu terasa teriris sembilu.
Meski pun sebenar nya Tara Rindayu maklum, karena diri nya telah ber tunangan dengan lelaki lain. Dan pesta pernikahan nya tinggal menghitung hari.
Dengan hati yg sedih Tara Rindayu meninggal kan tempat itu. Ia kembali pulang ke rumah nya.
Sementara di rumah Bekel Desa kenanga, Ki Lamiran tengah ber bincang dengan sang Bekel.
" Ki Bekel, sebenar nya ada yg ingin aku sampai kan kepada Ki Bekel,!" ucap Ki Lamiran.
" Tentang masalah apa , Kakang Lamiran, apakah itu masalah penting,?" tanya sang Bekel.
" Sebenar nya ini masalah penting Ki Bekel, yaitu soal keamanan dari desa Kenanga ini yg mulai hari ini telah melakukan hasil panen, dan kelihatan nya hasil tahun ini akan ber limpah ,!" ucap Ki Lamiran.
" Maksud kakang bagaimana, ada apa dengan keamanan dari desa ini, bukan kah aman -aman saja,!" kata Ki Bekel lagi.
" Begini Ki Bekel, angger Senggani telah melihat beberapa orang yg tengah memperhati kan desa ini dalam waktu yg cukup lama, dan yg jelas mereka tidak ber maksud baik, Ki,!" jelas Ki Lamiran lagi dengan suara pelan setengah ber bisik takut ada orang yg akan mendenagr nya.
" Hehh, mengapa angger Senggani tidak langsung membicara kan ini kepada ku, kakang,?" tanya Bekel Kenanga.
" Angger Senggani takut ter jadi kepanikan dan menyebab kan desa Kenanga ini akan segera di serang oleh orang -orang tidak ber tanggung jawab itu, sehingga ia hanya mencerita kan kepada Adi Jagabaya saja,!" jelas Ki Lamiran.
" Dan besok angger Senggani akan ke kotaraja Demak untuk meminta bantuan dari sana mengatasi masalah yg akan terjadi di Kenanga ini, karena kekuatan mereka cukup banyak ,Ki Bekel,!'' kata Ki Lamiran lagi.
" Jadi apa yg harus kita lakukan untuk mengatasi persoalan ini jika Kotaraja tidak akan mengirim kan prajurit nya kemari, karena Demak tengah ber siap ber perang dengan bangsa asing di ujung kulon pulau ini tepat nya di Sunda Kelapa,!" kata Ki Bekel dengan agak gusar.
" Terpaksa lah kita melawan dengan kemampuan kita sendiri demi keselamatan jiwa dan harta kita sendiri, dan mudah mudahan Angger Senggani dapat di harap kan mampu mengatasi salah seorang pemimpin rampok itu yg sebenar nya berasal dari Tidar itu,!" jelas Ki Lamiran.
" Hahh, rampok asal Gunung Tidar, bukan kah itu gerombolan rampok yg sangat di takuti di kawasan kadipaten Pajang dan Kotaraja Demak ini,!" ucap Ki Bekel dengan sangat ter kejut.
" Memang demikian lah kenyataan Ki, mereka itu cukup di takuti untuk kawasan ini, dan kita ber doa semoga bantuan dari Kotaraja Demak akan datang pada saat nya,!" tukas Ki Lamiran.
Kedua orang tua itu terus membicara kan tentang keadaan desa Kenanga yg di satu sisi tengah ber gembira dengan kedatangan musim panen yg pada tahun ini kelihatan nya cukup baik, namun di sisi lain mereka sedang di hadap kan dengan gerombolan rampok yg tengah mengincar harta kekayaan desa Kenanga ter sebut.
Sementara itu, Raka Senggani dengan di temani oleh Sari Kemuning ber jalan pulang setelah puas dengan melihat pemandangan yg ter hampar di daerah per sawahan itu sambil mengenang masa -masa kecil nya dahulu.
" Kang, akan berapa lama pergi nya,?" Tanya Sari Kemuning kepada Raka Senggani.
" Tidak lebih dari se pekan, mudah-mudahan tidak ada aral yg melintang, secepat nya akan kembali, mengingat hajatan besar dari Juragan Tarya pun sudah sangat dekat,!" jawab Raka Senggani.
" Benar Kang, jangan ter lalu lama pergi nya, kasihan Ki Lamiran tidak ada yg menolong nya,!" kata Sari Kemuning.
" Kasihan pada Ki Lamiran atau ada orang lain yg perlu dengan bantuan dari Senggani,?" tanya Raka Senggani.
" Siapa sih yg butuh bantuan dari kakang Senggani kalau bukan Ki Lamiran, supaya dapat memukul besi nya dan membersih kan pategalan nya,!' ' ucap Sari Kemuning.
Kedua orang itu terus ber jalan meski Raka Senggani menyadari ada dua orang yg tengah membuntuti mereka.
Akan tetapi Raka Senggani tidak ambil pusing ia terus melangkah menuju rumah Ki Jagabaya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Ajna dillah
kok gk di hajar aja orang yang selalu mengikuti
2024-03-30
0
Jatayu 89
menarik untuk di tunggu, siasat apakah yang akan di gunakan untuk menghadapi para perampok selain mencari bantuan dari demak, mengingat kekuatan yang tidak berimbang, absen hadir
2023-09-13
2
Dani Mardani
lanjut
2023-08-10
2