Setelah ada kesepakatan dengan Ki Bekel dan Ki Jagabaya akhirnya, Raka Senggani meminta para pemuda desa Kenanga untuk dibimbing hanya sekedar menggunakan untuk menggunakan senjata, memang waktu terasa sempit rasanya tidak ada guna nya untuk memberikan pelatihan kepada mereka.
Namun bagi Raka Senggani tidak ada yg mustahil selama kita mau berusaha.
Diantara teman sebayanya itu ia masih juga menyampaikan pesan,
" Jangan biarkan mereka menebas batang leher kita tanpa melakukan per lawanan, mungkin mereka lebih hebat dari kita semua yg ada di sini, akan tetapi ini adalah tempat kita, rumah kita, tidak patut bagi kita hanya berpangku tangan, kalau tidak sanggup sendiri -sendiri maka kita bersatu dalam kelompok -kelompok, darah yg tertumpah tidak akan sia -sia kalau untuk kebenaran, jadi semangat lah,!" kata Raka Senggani.
Ia memberikan beberapa bilah pedang kepada mereka hasil tempaan dirinya dan Ki Lamiran.
Ki Lamiran yg melihat pemuda itu giat membentuk para pemuda desa kenanga, berdecak kagum di buat nya.
" Ngger, sebenarnya kalau menurut aki tindakan angger ini sia -sia dan sangat terlambat akan tetapi jiwa dan pantang Menyerah itu yg aki kagumi,!" ucap Ki Lamiran.
" Selama hayat masih di kandung badan, selama itu pulalah kita berusaha, meski tampaknya sepele akan tetapi hasil nya tentu akan berbeda jika kita hanya menunggu dan berpangku tangan saja,!" jelas Raka Senggani.
" Itulah yg aki suka dari sosok seorang pemuda, semangat pantang Menyerah,!" tutur Ki Lamiran.
Memang waktu begitu cepat berlalu, jarak setengah purnama itu sangat teraaa singkat terutama bagi para pemuda desa kenanga yg baru saja di beri arahan untuk menggunakan senjata.
Dan Hajatan Juragan Tarya itu pun telah tiba.
Satu malam sebelum hajatan itu di ada kan, terlihat Raka Senggani sedang khusyuk melaksanakan ibadah sholat malamnya, ia bermunajat kepada yg Maha kuasa agar desa kenanga ter hindar dari marabahaya terutama dari perampok yg sedang mengincar harta kekayaan desa itu.
Di rumah Juragan Tarya pun telah ramai dengan dihiasi janur kuning, rumah itu di sulap laksana jadi sebuah keraton yg indah.
Tarub dan bleketepe telah di pasang, di depan pintu pun telah berdiri tuwuhan.
Janur kuning melengkung pun sudah menghiasi rumah yg megah tersebut.
Pintu gerbang nya di buka seluas -luas nya, banyak para pengawal dan tukang pukul dari Juragan Tarya itu yg berdiri di beberapa tempat termasuk di salah satu jalan masuk ke desa Kenanga itu.
Sementara tamu undangan pun mulai berdatangan terutama dari pihak besan, yaitu Demang dari kademangan Muncar.
Demang tambun dengan pakaian mewah dan parlente, maklum memang Demang termasuk demang yg sangat kaya di wilayah kadipaten Pajang.
Ia dan beberapa pengawal kademangan terlihat mengawal putra nya untuk mengadakan akad nikah pada hari itu dengan putri Juragan Tarya.
Sementara sang putra Demang Muncar itu penampilan nya sangat berbeda dengan sang ayah, calon suami Tara Rindayu itu terlihat bertubuh kecil kurus dan berkulit hitam dengan wajah jauh dari kategori tampan.
Namun karena penampilannya yg mewah terlihat lumayan juga.
Sesampai nya rombongan itu di rumah Juragan Tarya ketika hari masih agak pagi.
Di adakanlah prosesi ijab kabul. Terlihat calon pengantin pria yg bernama Bajang wunut itu berhadapan dengan salah seorang pemuka agama.
Dengan diawali kata -kata sambutan dari pemuka agama itu, maka selanjut nya Bajang wunut pun di ambil janji lnya dalam acara ijab kabul.
Agak lumayan lama juga ternyata pelaksanaan nya hingga mentari telah lewat dari atas kepala baru acara itu selesai, resmilah Bajang wunut memper istri Tara Rindayu kembang desa kenanga itu. Terlihat senyum bahagia dari Pemuda Muncar itu.
Sementara itu di tengah kemeriahan Hajatan Juragan Tarya itu, hampir seluruh warga desa Kenanga terlihat sibuk terutama dari kalangan lelaki nya.
Mereka tengah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan para perampok dari Gunung Tidar yg diperkirakan terjadi nanti malam saat pagelaran wayang di mulai.
Di antara lalu lalang orang -orang yg datang dan pergi dari rumah Juragan Tarya itu, terlihat pulalah beberapa orang yg ber wajah sangar dan kasar ikut didalamnya.
Setelah acara Panggih di mulai, dari acara Balangan gantal, yaitu melempar kan daun sirih yg diikat benang putih, oleh Bajang Wunut manten lelaki di lemparkan ke arah dada Tara Rindayu sebagai pengantin wanitanya, kemudian sebaliknya Tara Rindayu melemparkan ke arah lutut dari Bajang Wunut.
Dilanjutkan dengan acara nginjak endhog dan Wijikan atau Ranupada, kemudian kedua pengantin itu di arak ke atas pelaminan dengan sebuah kain sindur dan dinamakan acara sinduran.
Setelah nya dilakukan bobot timbang oleh orang tua perempuan dalam hal ini Juragan, selesai acara bobot timbang dilanjutkan lagi, dengan acara minum air degan, kemudian acara kacar kucur , lanjut lagi acara dulangan kedua pengantin saling menyuapi makanan dan diakhiri dengan Bubak kawah, seorang yg membawa pikulan berisi perkakas dapur dan diarak kepada para tamu undangan, lantas para tamu undangan pun berebutan mengambil nya, selesai acara hari pun telah menjelang gelap. Sementara di rumah Juragan Tarya, lampu-lampu telah mulai dinyalakan, bahkan obor di pasang di sepanjang jalan menuju dan di dalam rumah Juragan itu.
Tidak jauh dari sana , tepatnya di rumah Bekel desa Kenanga, para pemimpin dari desa Kenanga itu tengah membicarakan tentang keadaan yg akan berlaku atas desa tersebut.
Kemudian Sang Bekel membagi tugas kepada para pemuda dan pengawal desa kenanga itu.
Adalah Sura Birono dan para pengawal desa kenanga yg ber tugas mengawasi rumah Juragan Tarya, sedang kan Ki Jagabaya dan Ki Lamiran bertugas mengawasi jalan keluar dari desa Kenanga itu.
Buat Raka Senggani dan teman -teman, ditugaskan nganglang untuk mengawasi tempat -tempat yg dikhawatirkan akan di rampok lebih dahulu.
Sementara di pos Ronda jalan masuk ke desa Kenanga itu terlihat lima orang lelaki tua yg merupakan bekas prajurit majapahit teman dari Ki lamiran.
Malam kian merambat naik ketika acara Wayang telah mulai di buka , tiba -tiba dari ujung desa kenanga itu terdengar kentongan dengan nada titir, sontak saja Raka Senggani dan Sepuluh orang temannya mendatangi tempat itu.
" Ada apa, Ki,?" tanya Raka Senggani kepada seorang tua yg lagi memegang kentongan.
" Itu, itu, itu rumah Ki Rono telah kerampokan,!" jawab nya.
" Mari kita ke sana, !" ajak Raka Senggani kepada para pemuda desa kenanga itu.
Segera mereka mendatangi rumah yg di tunjukkan itu.
Ter nyata di sana telah berdiri lima orang dari kawanan rampok, dengan membawa si tuan rumah keluar sambil mengancam lehernya dengan golok.
" Cepat serahkan uang serta perhiasan mu,!" terdengar teriakan dari perampok itu.
" Kami tidak memiliki apa -apa, tuan,!" jawab Ki Rono.
" Bohong, kau berbohong kemarin kami melihat istrimu dengan badan penuh perhiasan ,!" teriak orang itu.
" Saya tidak berbohong tuan,!" jawab Ki Rono lagi.
" Sudah kakang Liro, habisi saja supaya kerja kita cepat selesai,!" kata salah seorang perampok itu.
" Jangan, jangan, jangan bunuh aku, bbbb bbaik, aku akan menyerahkan nya,!" ucap Ki Rono.
" Tapi, Kang,..." ucap Nyi Rono yg tidak ingin perhiasan nya diserahkan kepada para perampok itu.
" Sudahlah nyi, nanti kita bisa ganti, jika nyawa kita ,kemana kita akan menggantinya ,?" tanya Ki Rono kepada istrinya.
" Cepatlah, serahkan perhiasan serta uangmu itu,!" teriak Liro wonoyo itu.
Kemudian Ki Rono bangkit akan masuk ke dalam rumah mengambil barang -barang perhiasan istrinya itu.
Akan tetapi tiba -tiba dari luar pagar rumah itu terdengar teriakan,
" Jangan berikan permintaan mereka itu , Ki Rono,!"
Setelah hilang suara nya terlihatlah Raka Senggani telah berada di depan pendopo rumah Ki Rono tersebut.
Saking terkejutnya Liro wonoyo, sampai -sampai melepaskan Ki Rono.
" Siapa kau berani menentang kehendak kami ,!" tanya Liro wonoyo sambil turun dari rumah Ki Rono itu.
" Siapa aku itu tidak penting, sekarang segera tinggalkan tempat ini, atau,..!" kata Raka Senggani.
" Puihh, atau kau mau membunuh kami, he,!" teriak Liro wonoyo.
" Baiklah kalau kalian memang tidak bisa di kasih hati,!" kata Raka Senggani yg telah mempersiapkan serangan kepada rampok asal Tidar itu.
Namun sebelum Raka Senggani menyerang terdengar teriakan dari Liro wonoyo.
" Bunuh bocah itu jangan di beri ampun,!" teriaknya kepada teman -temannya.
Empat orang langsung mengurung Raka Senggani.
Begitu isyarat diberikan oleh Liro wonoyo maka serentak ke empat orang itu menyerang Raka Senggani.
" Hhiyya,!" teriak Raka Senggani melompat ke atas beberap kali.
Putra Raka jaya itu menghindari serangan golok dari ke empat Rampok asal Gunung Tidar itu.
Setelah lepas dari kurungan ke empat nya Raka Senggani langsung mencabut pedangnya.
" Hiyyah,!"
Terlihat pedang Raka Senggani ber putar cepat mengarah keleher Liro wonoyo yg masih berdiri di depan rumah itu.
Liro wonoyo tidak menyangka Raka Senggani menyerangnya, kadung sebat, ia tidak dapat menghindar lagi dari serangan itu maka orang kepercayaan dari Singo Lorok itu memalangkan goloknya di depan dada menangkis sabetan pedang Raka Senggani.
" Trannng,!" bunyi kedua senjata beradu.
Dan anehnya golok dari Liro wonoyo patah jadi dua.
" Hahh, !" teriak Liro wonoyo tercengang.
" Cepat habisi bocah ini,!" teriak Liro wonoyo memerintahkan teman-teman nya untuk menyerang Raka Senggani.
Karena tampaknya kawanan rampok itu terpaku dengan kejadian yg begitu cepat terjadi.
Bagai kan tersadar dari mimpi, kembali ke empat orang itu menyerang Raka Senggani, selamatlah Liro wonoyo.
Namun kali ini Raka Senggani tidak mau bermain -main lagi mengingat jumlah kawanan rampok itu cukup banyak maka segera tandang pemuda itu semakin garang.
" Hiyyya, hiyaaah, hyaaah,hyahh,!"
Ia melesat seperti burung alap-alap dan memberikan sabetan pedangnya kepada ke empat orang perampok itu,
" Trank, trank, traank, trank,!"
Dan kembali ke empat orang itu di buat tercengang karena goloknya telah putus jadi dua.
Di tengah keheranan dari kawanan rampok itu tiba -tiba terdengar teriakan,
" Rumah Ki Jagabaya di serang, rumah Ki Jagabaya di serang,!".
" Hehh, bagaimana nasib Kemuning,!" pikir Raka Senggani.
Tanpa pikir panjang lagi, dengan satu lompatan yg panjang ia segera melumpuhkan ke empat rampok itu.
Keempatnya berhasil di totok oleh Raka Senggani, dan jatuh terduduk.
Melihat teman -temannya telah berhasil dilumpuhkan Liro wonoyo berniat hendak kabur, karena ia sudah tidak memiliki senjata lagi.
Akan tetapi Raka Senggani tidak membiarkan hal itu, ia segera melancar kan pukulan jarak jauhnya,
" Hiyyah,!"
Selarik cahaya putih menerjang tubuh Liro wonoyo, rampok gunung Tidar itu jatuh tersungkur.
" Cepat ikat mereka, dan yg lain ikut aku ke rumah Ki Jagabaya,!" teriak Raka Senggani.
Setelah kelima kawanan rampok itu di ikat, Raka Senggani berpesan kepada kedua teman nya yg bertugas menjaga mereka,
" Jika mereka berusaha melarikan diri , bunuh saja,!" ucapnya.
" Hehh, kami mana berani Senggani,!" kata temannya yg bernama Wanang.
" Pejamkan matamu lalu tebaskan pedang mu ke leher mereka, jangan tunjukkan kepada mereka kalian takut, !'' bisik Raka Senggani.
Kemudian Raka Senggani dan delapan temannya bergegas ke rumah Ki Jagabaya.
Sementara di rumah Ki Jagabaya sendiri , penghuni rumah itu semua segera melakukan perlawanan yg sengit karena yg menyatroni mereka adalah kawanan rampok asal Mantaok yg lebih ganas dan kasar.
" Sudah lah Ki Jagabaya, menyerahlah tidak ada gunanya kalian melawan kami, hanya akan mengotori golok -golok kami ini saja,!" kata salah seorang perampok itu.
." Hehh, pantang bagiku menyerah dengan perampok sperti kalian, ayo bunuhlah kami jika kalian mampu,!" teriak Ki Jagabaya itu.
Ki Jagabaya , Japra Witangsa dan Sari Kemuning di bantu beberapa pengawal desa kenanga memang telah melakukan perlawanan yg sangat berarti, sehingga tidak mudah untuk menundukkan Jagabaya itu.
" Ayo segera bunuh Jagabaya itu,!" teriak pemimpin Rampok asal Alas Mentaok itu.
Kembali lima orang lelaki kasar dan bengis menyerang Ki Jagabaya beserta keluarganya.
Jumlah Ki Jagabaya lebih banyak dibandingkan kawanan rampok itu, akan tetapi justru mereka yg terdesak.
" Aaakkhh,!" teriak Japra Witangsa,
Terlihat tangan pemuda itu telah mengucurkan darah, ia pun segera jatuh terduduk, akibat serangan dari salah seorang perampok itu.
Pemuda itu beringsut dari tempatnya dan berusaha menjauhi tempat pertarungan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Izhar Assakar
bukanya di bunuh malah hanya du totok,,,mc goblog,,,ntar dteng temannya si rampok trus di bebaskan,tambah kgi lawan nya,,,kgk ngotak
2023-12-02
1
Yuki tanzeela
mC gatel
2023-07-19
2
Carles Wijayanto
up
2023-02-26
2