Tiba lah saat nya Raka Senggani untuk kembali ke Desa Kenanga, walaupun ter nyata Demak tidak dapat membantu per masalah an di Kenanga, akan tetapi janji dari Tumenggung Bahu Reksa yg akan meminta Pajang mengirim kan prajurit nya ke Kenanga membuat hati dari Raka Senggani akan sedikit lega.
" Jadi hari ini angger Senggani akan kembali ke Kenanga,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa kepada Raka Senggani.
" Benar Paman Tumenggung, setelah hampir sepekan, rasa nya hati ini gelisah dengan keadaan di Kenanga, mudah mudahan tidak ter jadi apa -apa, disana,!" jawab Raka Senggani.
" Karena angger Senggani telah Ku angkat sebagai anak ku, maka terima lah ini sebuah lencana keprajuritan sandi Demak, yg apa bila nanti di perlu kan bisa menolong angger dalam masalah di keprajuritan Demak ini sekaligus, pengangkatan mu sebagai prajurit khusus sandi Demak yg tidak terikat kepada tata aturan yg resmi, mudah mudahan benda itu dapat menolong angger,!" jelas Tumenggung Bahu Reksa, lantas memberi kan sebuah lencana ber warna kuning keemasan.
" Terima kasih , Paman Tumenggung,!" ucap Raka Senggani dan menerima pemberian dari Tumenggung Bahu Reksa.
Sejenak kemudian datang lah Lintang Sandika dari arah belakang sambil menuntun seekor kuda yg mereka beli saat menginap sebelum tiba ke kotaraja Demak.
" Senggani, sesungguh nya pemberian ku ini tidak seberapa dengan besar nya pertolongan mu kepada ku, Lintang Sandika masih berhutang nyawa dengan mu Senggani,!" ucap pemuda itu seraya memeluk tubuh Raka Senggani, seakan kedua nya telah ber sahabat cukup lama.
Raka Senggani menerima tali kekang kuda itu, ia kemudian ber paling kepada Tumenggung Bahu Reksa.
" Jika keadaan desa mu dalam keadaan aman, tentu angger Senggani sudah Paman masuk kan sebagai prajurit Demak dan ikut melawat ke kulon, bersama armada besar Kanjeng Sultan, sayang keadaan Kenanga pun sedang terancam, Paman hanya bisa ber doa supaya angger dan Kakang Lamiran mampu mengatasi nya, dan ini surat buat kakang Lamiran,!" kata Tumenggung Bahu Reksa menyodor kan sebuah gulungan lontar kepada Raka Senggani.
Pemuda itu menyambut surat yg di beri kan oleh Tumenggung Bahu Reksa.
" Senggani pamit , Paman Tumenggung dan Kakang Sandika,!" ucap Raka Senggani.
" Tungguu, Kakang Senggani, ini ada makanan buat bekal di jalan nanti, dan semoga selamat kembali ke Kenanga,!" teriak Lintang Sriwedari memberi kan bungkusan makanan kepada Raka Senggani.
" Terima kasih , Sriwedari,!" ucap Raka Senggani dan meletak kan bungkusan makanan itu di sebelah pelana kuda nya.
" Sering -sering lah main kemari, Ngger,!" ucap Tumenggung Bahu Reksa.
" Iya Paman, nanti kalau ada waktu Senggani akan datang lagi kemari, mari Paman,!" kata Raka Senggani yg telah berada di punggung kuda nya.
" Silahkan, ngger, semoga selamat di jalan,!" ucap Tumenggung Bahu Reksa sambil melambai kan tangan nya kepada Raka Senggani yg telah menjalan kan kuda nya.
Raka Senggani pun membalas lambaian itu dengan melambai kan tangan kanan nya, hingga ia hilang di tikungan dari pandangan keluarga Tumenggung Bahu Reksa itu.
Setelah melalui pintu gerbang Kotaraja Demak, Raka Senggani langsung memacu kuda nya mengarah ke selatan balik ke desa Kenanga.
Ada rasa khawatir di dada pemuda itu mengingat Hajatan Juragan Tarya sudah sangat dekat waktu nya, apakah bencana telah terjadi di sana pikir nya lagi.
Seharian pemuda itu memacu kuda nya hanya ber istrahat jika ia menunai kan sholat.
Bahkan ketika malam telah menjelang, Raka Senggani terus memacu kuda nya hingga melintasi sebuah hutan.
Namun ia tidak memperduli kan , Senggani terus dan terus memacu kuda nya.
Setelah dua hari perjalanan sampai lah ia ke desa Kenanga, dengan wajah yg penuh debu, karena Senggani dalam perjalanan tidak sempat untuk mandi. Ia terus memikir kan keadaan desa itu.
Saat Mentari beranjak ke peraduan sampai lah ia di rumah Ki Lamiran.
Pande besi desa kenanga itu cukup ter kejut mendengar derap langkah kaki kuda yg memasuki halaman rumah nya.
" Ahh, kirain siapa, ternyata angger Senggani, baru tiba Ngger,?" tanya Ki Lamiran setelah yg datang di lihat nya adalah Raka Senggani.
" Iya Ki, Senggani baru saja sampai, !" jawab Raka Senggani.
" Kuda siapa Ngger, kelihatan nya Kuda yg bagus lagi mahal, ?" tanya Ki Lamiran lagi.
" Kuda Senggani, Ki, pemberian Lintang Sandika putra dari Tumenggung Bahu Reksa,!" jawab Raka Senggani.
Pemuda itu langsung menambat kan kuda nya dan terus ke pakiwan, serasa tubuh nya lengket semua.
Setelah selesai mandi Raka Senggani melaksana kan sholat maghrib dan kemudian duduk ber sama Ki Lamiran sambil ber santap malam.
" Bagaimana Ngger, apakah Tumenggung Bahu Reksa ber sedia membantu Kenanga,?" tanya Ki Lamiran kepada Raka Senggani setelah selesai makan malam.
" Tidak,Ki, karena Demak sudah akan berangkat ke kulon dalam usaha penyerangan ke dalam Sunda Kelapa dan melaka, jadi Paman Tumenggung tidak bisa mengirim kan prajurit nya itu untuk membantu kita di sini,!" jawab Raka Senggani.
" Jadi bagaimana nasib Kenanga ini, apakah kita akan sanggup untuk melawan mereka yg ber jumlah banyak itu,?" tanya Ki Lamiran.
" Mudah-mudahan prajurit dari Pajang akan bisa membantu kita di sini atas permintaan dari Paman Tumenggung,!" jelas Raka Senggani.
" Bagaimana dengan keadaan di sini apakah mereka sudah melakukan tindakan,?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lamiran.
" Belum Ngger, akan tetapi kegiatan di hutan dekat pategalan kita itu semakin meningkat , banyak ter lihat orang yg keluar masuk ke sana,!" jelas Ki Lamiran.
" Apakah mereka itu anak buah nya Singo Ireng dari Mentaok,?" tanya Raka Senggani seolah kepada diri nya sendiri.
" Entah lah Ngger, aki tidak tahu bisa jadi dugaan angger itu benar,!" kata Ki Lamiran lagi.
" O, iya Ki, ini ada surat dari Tumenggung Bahu Reksa untuk Ki Lamiran,!" kata Raka Senggani sambil menyerah kan sebuah gulungan lontar kepada Ki Lamiran.
Lelaki tua itu kemudian menerima dan membaca surat dari Tumenggung Bahu Reksa itu, sedikit perubahan terjadi tampak di raut wajah Pande besi desa kenanga itu.
" Apakah Angger Senggani sebelum nya telah membantu dari kedua anak Tumenggung Bahu Reksa itu,?" Tanya Ki Lamiran.
Raka Senggani hanya mengangguk mengiya kan, ia kemudian ber kata,
" Sesaat Senggani lagi sedang ber istrahat di sebuah hutan, terjadi lah kejadian itu, kedua anak dari Tumenggung Bahu Reksa di cegat dua orang perampok, dan Senggani kemudian menolong mereka ber dua, sehingga pertemuan tidak sengaja itu ber lanjut sampai ke rumah mereka,!" kata Raka Senggani.
" Pantas, !" ucap Ki Lamiran.
" Pantas apa nya Ki,?" tanya Raka Senggani.
" Pantas Tumenggung Bahu Reksa meyakini akan kemampuan dari Angger Senggani,!" jawab Ki Lamiran.
" Sudah lah Ki, kita tinggal kan dulu tentang pandangan Tumenggung Bahu Reksa ter hadap Senggani, sekarang bagaimana jika perampok dari Gunung Tidar itu menyerang, apa yg harus kita perbuat,Ki,?" tanya Raka Senggani.
" Apakah nanti Demang Muncar tidak akan membawa para pengawal,?" balik Ki Lamiran bertanya lagi
" Kalau pun membawa, paling dalam jumlah kecil, sementara gerombolan itu sangat banyak, apa kita bisa mengupaya kan warga desa Kenanga ini untuk turut membela, Ki,?" tanya Raka Senggani.
" Sebenar nya itu masih bisa di lakukan mengingat masih banyak kaum tua dari desa Kenanga ini bekas Prajurit Majapahit,!" jelas Ki Lamiran.
" Wah itu tentu akan sangat membantu, apakah ada sepuluh orang jumlah nya, Ki,?" kembali Raka Senggani ber tanya.
" Seperti nya ada, akan tetapi usia mereka sudah sepantaran aki, sudah cukup tua, !" jawab Ki Lamiran lagi.
." Tidak apa-apa, Ki, setidak nya mereka pernah mengguna kan senjata, dan kemungkinan mereka belum lupa,!" seru Raka Senggani.
" Baik lah, Ngger, besok aki akan menemui mereka dan meminta nya untuk mau menjaga keamanan desa ini,!" ujar Ki Lamiran.
" Mudah-mudahan mereka mau dan seharus nya mereka mau,!" jawab Raka Senggani.
" Jika besok aki akan menemui mereka, Senggani akan menemui Ki Jagabaya dan membicara kan masalah ini, semoga Ki Jagabaya dan Ki Bekel mendapat kan jalan keluar yg lebih baik,!" ungkap Raka Senggani.
Kedua orang itu segera mengistrahat kan tubuh mengingat Raka Senggani sudah melakukan perjalanan yg cukup jauh nyaris tanpa ber istrahat, terasa tubuh pemuda itu penat semua sehingga dengan mudah ia sudah ter lelap.
Keesokan hari nya, seperti yg telah di sepakati, kedua orang itu kemudian membagi tugas nya, Raka Senggani menuju rumah Ki Jagabaya sedang kan Ki Lamiran menemui teman -teman nya yg bekas Prajurit Majapahit itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
terlalu banyak ngebacotnyo thor kapan perangnya dan juga sekilas penggalan kisah tentang Mc kita.
2024-11-14
1
Yadi Mulyanto
ceritanya cuman ngobrol ma silaturahmin ya min..kurang seru
2023-08-22
3
Wak Jon
👌👌👌👌👌👌👌👌👌👌👌
2022-10-16
2