" Benar kah demikian, Sura Birono menyukai putri Ki Jagabaya itu,?" tanya Raka Senggani.
" Demikian lah kejadian nya, Ngger, sudah berulang kali Kepala pengawal desa kenanga itu , ter lihat berusaha mencari perhatian den Kemuning, tetapi tampak nya den Kemuning tidak ter lalu menyukai anak muda itu,!" jelas Ki Lamiran.
" Memang sulit ya Ki, jika hati telah ber bicara , orang yg tidak ada sangkut paut nya bisa jadi musuh,!" kata Raka Senggani.
" Tetapi memang angger Senggani patut di waspadai jika ingin mendekati putri Ki Jagabaya itu,!" seru Ki Lamiran.
" Mengapa begitu Ki, mengapa Senggani yg patut di waspadai,?" tanya Raka Senggani heran.
" Jelas lah Ngger, karena den Kemuning ter lihat sangat menyukai angger Senggani, !" jawab Ki Lamiran.
" Ahh, aki ada -ada saja, menyukai kan banyak arti nya, bisa karena sangat mengagumi atau menganggap sebagai teman atau sebagai saudara,!"kata Raka Senggani sambil merebah kan tubuh nya di atas dipan yg terbuat dari bambu.
" Tetapi yg jelas den Kemuning mengagumi angger Senggani, sudah lah, mari kita tidur, besok kan angger akan menghadap calon mertua,!" seloroh Ki Lamiran.
Kedua nya pun ter tawa, rumah Ki Lamiran sejak kedatangan Raka Senggani menjadi lebih hidup, seakan akan ada salah satu anggota rumah itu yg baru mudik alias pulang kampung.
Keesokan hari nya setelah menunai kan kewajiban selaku hamba kepada Sang Khalik, Raka Senggani masih menyempat kan diri untuk melatih ilmu silat nya hanya sekedar mengendur kan syaraf -syaraf nya baru setelah nya ia mem bersih kan tubuh di pakiwan.
Ketika Mentari beranjak naik, bertanya Raka Senggani kepada Ki Lamiran,
" Aki tidak ke pategalan,?"
" Seperti nya tidak Ngger, karena aki akan memperbaiki genteng yg rusak, lagi pun tubuh masih terasa penat setelah seharian bekerja di pasar kemaren,!" jawab Ki Lamiran.
" Bagaimana jika Senggani ikut memperbaiki genteng itu,Ki,?" pinta Raka Senggani.
" Tidak usah Ngger, sebaik nya segera lah ke rumah Ki Jagabaya itu, mungkin memang ada sesuatu yg penting yg ingin di bicara kan nya kepada mu Ngger,!" kata Ki Lamiran.
" Baik lah kalau begitu, Senggani pamit ke rumah Ki Jagabaya, Ki,!" ucap Raka Senggani.
" Ya, silah kan Ngger, jangan lupa pulang ,!" seru Ki Lamiran.
Nampak Raka Senggani menatap wajah Ki Lamiran dalam -dalam, ia ter senyum mendengar ucapan orang tua itu.
Selanjut nya Raka Senggani melangkah kan kaki nya menuju rumah Ki Jagabaya.
Selang tidak ter lalu lama sampai lah pemuda itu di rumah Ki Jagabaya.
Rumah yg cukup besar dengan pekarangan nya yg luas di kanan kiri nya ada pohon rambutan nya dengan di hiasi beraneka ragam burung, ter nyata Ki Jagabaya mempunyai kesukaan memelihara burung, ter lihat banyak sangkar burung yg ter gantung di depan rumah itu.
Dengan mantap Raka Senggani masuk ke dalam rumah itu.
Ketika melihat Raka Senggani berada di halaman rumah , Ki Jagabaya langsung memanggil dan menyuruh naik ke atas pendopo.
" Mari Ngger, silah kan masuk, sedari tadi sudah di tunggu,!" kata Ki Jagabaya.
" Terima kasih, Ki Jagabaya,!" kata Raka Senggani setelah duduk di atas pendopo rumah itu.
" Kemuning, bawakan, se cangkir minuman buat angger Senggani,!" kata Ki Jagabaya.
" Baik Romo,!" jawab Sari Kemuning dari dalam.
" Apakah Ki Jagabaya tidak ke sawah,?" tanya Raka Senggani.
" Tidak Ngger, Biar Witangsa saja , karena mungkin sebentar lagi panen pun akan tiba sekira dua pekan lagi,!" kata Ki Jagabaya.
" Sebenar nya ada hal apa Ki Jagabaya memanggil Senggani kemari, adakah itu sesuatu yg penting,?" tanya Raka Senggani.
" Begini Ngger, sebaik nya aki langsung saja pada pokok permasalahan nya , bagaimana sikap Angger terhadap Kakang Rakajang, yg masih paman dari angger Senggani itu,?" tanya Ki Jagabaya.
Raka Senggani langsung ter diam dan menunduk kan wajah nya, entah mengapa setelah mendengar nama itu, Raka Senggani berubah air muka nya dan perasaan nya pun ikut berubah, yg sedari tadi ceria tiba -tiba berubah jadi murung.
" Maaf kan sebelum nya Ngger, bukan maksud aki mengungkit luka lama angger Senggani, tetapi sebagai makhluk dari yg Maha pencipta, selayak nya lah kita bisa memaaaf kan kesalahan orang, apa lagi itu saudara kita sendiri,!" jelas Ki Jagabaya.
Raka Senggani nampak diam saja, sampai air minum yg di bawa kan oleh Sari Kemuning tiba.
Dengan cekatan gadis itu memberi kan minuman kepada Raka Senggani, kemudian ia duduk di dekat ayah nya Ki Jagabaya sambil memangku nampan nya.
Gadis cantik putri Ki Jagabaya itu memandangi wajah Raka Senggani yg tengah menatap lantai pendopo.
" Kakang sedang sedih,?" tanya Sari Kemuning kepada Raka Senggani.
Per lahan pemuda itu mengangkat wajah nya, nampak lah senyum manis dari Sari Kemuning.
" Ahh, tidak Kemuning , kakang ter ingat almarhum kedua orangtua, sungguh senang engkau Kemuning masih memiliki lengkap kedua orang tua, beda dengan Senggani,!" kata Raka Senggani lirih, terasa sembilu menyayat hati jika mengenang kejadian hampir sepuluh tahun yg lalu itu.
" Ngger kita boleh ber sedih dan mendendam, akan tetapi tidak lah selama nya, karena kita pun bukan manusia sempurna, tentu kita pun memiliki kesalahan selaku manusia biasa,!" ter dengar nasehat keluar dari bibir Ki Jagabaya itu dengan sareh.
" Akan tetapi untuk saat ini Senggani belum bisa untuk memaaf kan nya, Ki,!"jawab Raka Senggani.
" Sekarang paman itu sedang sakit -sakitan dan tinggal di sebuah gubuk milik Juragan Tarya yg berada di tepi kali,!" kata Ki Jagabaya lagi.
" Sungguh kasihan hidup nya sekarang, seluruh harta nya habis di meja judi, anak dan istri nya telah pergi meninggal kan nya,!" kata Ki Jagabaya lagi.
" Bagaimana dengan sawah yg telah di rampok nya itu,?" tanya Raka Senggani dengan sinis.
" Itu pun telah habis ber pindah tangan kepada Juragan Tarya,!" jawab Ki Jagabaya.
" Memang Tuhan itu Maha Adil, jika sesuatu yg bukan milik kita tentu itu tidak akan jadi milik kita sekuat apa pun untuk memiliki nya,!" gumam Raka Senggani.
" Benar kata mu itu Ngger, akan tetapi sast ini saudara nya yg ada di desa ini cuma tinggal diri mu Ngger, sudah sepantas nya angger menjenguk nya!" saran Ki Jagabaya lagi.
Raka Senggani tidak menjawab per kataan dari Ki Jagabaya itu.
Akhir nya Ki Jagabaya mengalih kan pembicaraan nya karena melihat Raka Senggani kurang mapan dengan pembicaraan itu.
" Saat ini Angger Senggani sangat tinggi ilmu silat nya!" kata Ki Jagabaya.
" Ahh, Ki Jagabaya ini bisa saja, Senggani tidak memiliki ilmu apa pun itu,!" Jelas Raka Senggani.
" Mungkin kalau orang awam bisa angger kibulin, tetapi mata tua ini masih mampu membeda kan mana orang yg ber ilmu dengan yg bukan,!'' ungkap Ki Jagabaya lagi.
" Jika Angger Senggani mau,....!" ucapan dari Ki Jagabaya itu ter putus ketika jari telunjuk Raka Senggani memalang di bibir nya.
" Sssssttt,!".
" Ada apa Ngger,?" tanya Ki Jagabaya itu heran.
" Ada orang yg menguping pembicaraan kita, Ki,!" kata Raka Senggani dengan pelan.
" Heeehhhhh,!" Ki Jagabaya ter kejut, demikian pula Sari Kemuning.
" Ya, Ki, di balik pagar sebelah timur itu ada dua orang yg tengah mendengar kan pembicaraan kita,!" kata Raka Senggani lagi.
" Dari mana angger tahu,?" tanya Ki Jagabaya.
" Tadi malam, setelah dari sini Senggani di ikuti oleh dua orang dan mereka ingin mendengar kan pembicaraan kita pada hari ini, ter bukti memang mereka melakukan nya,!" jelas Raka Senggani.
" Jadi mereka ber dua berada di sini, tadi,?" tanya Ki Jagabaya.
Sambil mengangguk kan kepala nya Raka Senggani kemudian ber kata,
" Akan tetapi mereka telah pergi,!"
" Siapa mereka itu, Ngger,?" tanya Ki Jagabaya.
" Ki Jagabaya mengenal para pengawal Juragan Tarya,?" tanya Raka Senggani.
Gantian kali ini Ki Jagabaya yg mengangguk kan kepala nya.
" Memang nya kenapa dengan para pengawal Juragan Tarya itu,?" tanya Ki Jagabaya penasaran.
" Apakah Ki Jagabaya mengenal dekat dengan mereka,?" tanya Raka Senggani kepada Ki Jagabaya lagi.
Kali kepala Jagabaya itu menggeleng.
" Mereka itu adalah orang -orang Juragan Tarya,!' kata Raka Senggani.
" Apa maksud mereka membuntuti Angger Senggani,?" tanya Ki Jagabaya lagi.
" Sebenar nya ini adalah rahasia, tetapi karena Ki Jagabaya adalah penanggung jawab keamanan desa kenanga ini , biar lah serba sedikit akan Senggani cerita kan sedikit tentang adanya kawanan rampok yg ber sarang di hutan sebelah utara desa kenanga ini,!" kata Raka Senggani.
" Hahh, kawanan rampok yg ber sarang di sini,?" tanya Ki Jagabaya agak keras.
" Benar, Ki,!" jawab Raka Senggani.
" Bagaimana itu bisa terjadi, kami yg ada di sini tidak tahu,!" kata Ki Jagabaya yg merasa kecolongan.
" Itu lah hebat nya mereka Ki, mereka menyamar sebagai tukang pukul dan pengawal bagi para juragan -juragan yg memiliki kekayaan nya yg banyak seperti Juragan Tarya itu, akan tetapi , Ki dan kau Kemuning, cukup kita ber tiga yg tahu hal ini, karena jika berita ini menyebar tentu mereka akan pindah atau akan memper cepat penyerbuan nya kemari, karena mereka merasa terancam,!" jelas Raka Senggani.
" Maksud Angger Senggani bagaimana,?" tanya Ki Jagabaya kepada Raka Senggani.
Kemudian pemuda itu mencerita kan tentang niatan dari Kawanan rampok gunung Tidar itu yg akan merampok rumah Juragan Tarya pas tepat hajatan besar dari orang kaya itu di lakasana kan.
Jadi desa kenanga masih punya waktu untuk mempersiap kan segala sesuatu nya sampai hari itu tiba,ber beda jika para Kawanan rampok itu sudah terancam dan telah di ketahui oleh orang banyak tentu mereka akan segera melaku kan tindakan segera, dan membuat desa kenanga belum siap tentu akan banyak korban yg jatuh dari keganasan para begal itu.
Ki Jagabaya dan Putri nya pun mengerti dengan penjelasan dari Raka Senggani itu.
Akhir nya mereka sepakat tutup mulut, namun terus mengkindisi kan para pengawal dan pemuda desa kenanga untuk menhadapi hajatan besar dari Juragan Tarya itu.
Setelah cukup lama Raka Senggani di rumah Ki Jagabaya, kemudian pemuda itu pun pamit pulang,kali ini ia melalui jalan memutar melewati per sawahan.
Selepas melewati persawahan yg cukup luas milik desa Kenanga itu, tanpa sengaja Raka Senggani ber papasan dengan Sura Birono dan dua orang teman nya.
Pemuda yg merupa kan kepala pengawal desa kenanga itu seperti mendapat kan durian runtuh setelah melihat Raka Senggani ber jalan sendirian.
" Hehhh, bocah tengik, kali engkau tak kan lolos dari tangan ku,!" ucap nya sambil mengepal kan tangan nya.
" Kailan ber dua jadi saksi, bahwa Sura Birono akan menghajar pemuda itu,!'' kata Sura Birono kepada kedua teman nya itu.
Sementara kedua orang teman dari Sura Birono itu amat senang akan di suguhi sebuah tontonan yg sangat menarik, melihat Raka Senggani yg akan babak belur di pukuli oleh Lurah mereka itu.
" Senggani, kemari kau,!" teriak Sura Birono dengan pongah nya.
Per lahan pemuda itu mendekati Sura Birono.
" Engkau harus di beri pelajaran bocah tengik,!" ucap Sura Birono setelah Raka Senggani dekat.
" Terima ini, !" ucap Sura Birono seraya melayang kan kepalan tangan nya mengarah perut dari Raka Senggani.
Pemuda itu nampak tidak menghindar.
" Dheeekk,!'' ter dengar bunyi suara dari kepalan tangan Sura Birono ketika ber hasil menyentuh perut Raka Senggani.
Ter lihat kedua teman Sura Birono itu ter tawa, dan ter senyum karena mereka akan melihat Raka Senggani muntah dan masuk ke dalam sawah itu.
Akan tetapi per kiraan kedua orang itu meleset, tiba -tiba ter dengar suara,
" Aduhhh, aduhhh, aduhhh,!" dari mulut Sura Birono.
Ia ter lihat memegangi tangan kanan nya itu, karena kesakitan.
Kepala pengawal desa kenanga itu sampai ber putar-putar menahan sakit.
Tangan nya memerah dan mulai membengkak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Roni Sakroni
mujur banget sipengawal itu tangannya bengkak
2024-02-13
1
Izhar Assakar
msi bego dn tolol jga mc nya klo soal rasa hati,,,
2023-12-02
1
Dani Mardani
gas polll
2023-08-10
2