" Angger Senggani jangan terlalu dibawa perasaan balas dendam nanti, karena setiap kejahatan pasti akan ada balasan nya, !" ucap Ki Lamiran dengan sareh.
" Benar ucapanmu itu Ki, oleh sebab itu Senggani terus berusaha mendekatkan kepada Sang pencipta apabila perasaan itu datang, hanya kepadanyalah Senggani bisa mengadukan semua masalah, termasuk disaat perasaan ini harus menemukan orang yg telah membunuh kedua orangtuaku itu,!" jelas Raka Senggani.
" Syukur lah kalau angger bisa mengerti, seperti yg angger ucapkan tadi bahwa kita ini adalah makhluk ciptaan dari Sang maha pencipta, jadi segala sesuatunya telah digariskan olehnya,?" nasehat dari Ki Lamiran.
Raka Senggani mengangguk-anggukkan kepalanya, ia memang terkadang tidak mampu menahan kesabarannya jika mengenang nasib yg telah menimpa kedua orangtuanya itu, meski gurunya telah berulangkali mengingatkannya.
Mungkin karena darah mudanya yg masih meledak-ledak ditambah kesengsaraan yg telah menimpanya.
Terkadang ia berkata sendiri apakah salah dan dosanya sehingga nasibnya seburuk itu , namun ketika ia mengingat ucapan yg sering di dengarnya dari gurunya itu seperti yg baru diucapkan oleh Ki Lamiran, bahwa nasib seseorang itu telah digariskan oleh yg Maha kuasa, maka hatinya kembali luluh.
Malam itu sampai jauh malam Raka Senggani berbicara dengan Ki Lamiran, sang pande besi dari desa kenanga itu teramat senang atas kehadiran dari Raka Senggani. Karena walaupun masih berusia muda Senggani enak untuk di ajak bicara dalam semua hal termasuk masalah Kerajaan Demak yg masih berusia muda.
Dan ketika ayam jantan berkokok di pagi harinya kedua orang itu pun terjaga meski mereka baru saja memicing kan matanya.
Seperti biasa Raka Senggani segera melaksanakan sholat subuh, dan setelah terang tanah keduanya berjalan ke pategalan milik mbok rondo itu.
Di sana mereka membersihkan rerumputan yg banyak menjadi gulma di kebun singkong dan ketela rambat itu.
Karena hari itu tidak hari pasaran, sehingga Ki Lamiran tidak berdagang jualan dan tidak pula menerima pesanan orang, sehingga ia bebas berada di pategalan itu.
" Ki sejak kapan aki menjadi pemilik pategalan ini,?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lamiran.
" Wah sudah cukup lama ngger, mungkin tidak lama ketika angger Senggani meninggalkan kampung ini,!" jawab Ki Lamiran sambil mengayunkan paculnya.
" Sudah cukup lama ya, Ki,!" seru Raka Senggani.
" Demikianlah ngger, berkat pategalan ini aki sangat terbantu meski tidak memiliki sawah sebelumnya, sebab hasilnya cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari bahkan terkadang lebih, sehingga sedikit demi sedikit dari kelebihan hasil pategalan ini akhirnya aki dapat membeli sepetak sawah meski tidak luas,!" jelas Ki Lamiran.
" Jadi siapa yg mengerjai sawah aki itu,?" tanya Raka Senggani.
" Sawah itu aki serahkan pengerjaan kepada adik aki, dan hasilnya terserah dia, kalau hasilnya lumayan, aki di baginya dan kalau sedikit, ya untuk dia maklum ia masih memiliki anak-anak yg masih kecil.,!" jelas Ki Lamiran lagi.
Sampai tengah hari keduanya sibuk membersihkan tanaman dari rerumputan liar itu.
Dan ketika saatnya untuk shalat zuhur, Raka Senggani pamit kepada Ki Lamiran untuk sekedar membersihkan diri di sebuah sendang di ujung pategalan itu dan berbatas langsung dengan sebuah hutan.
Sementara Ki Lamiran segera beristrahat di gubuk mbok rondo itu.
Raka Senggani dengan cepat mencapai sendang yg dahulu sering di kunjungi nya ketika masih bersama mbok rondo.
Dan ia pun sangat hafal jalannya meski hampir sepuluh tahun ditinggalkan nya.
Ketika sampai di tempat itu ia segera mandi dan membersihkan tubuhnya.
Akan tetapi ketika ia akan selesai mandi didengarnya dua orang yg sedang bercakap-cakap sedang menuju ke tempat itu.
Pangraita Raka Senggani segera bekerja, siapakah kedua orang itu yg tampaknya baru keluar dari hutan..
Dengan sigap Raka Senggani segera bergegas dari tempat itu dan mencari tempat persembunyian. Untuk melihat siapakah kedua orang itu.
Setelah mendapatkan tempat yg baik, akhirnya Raka Senggani mendengarkan pembicaraan kedua orang tersebut.
" Kang , tampaknya Ki lurah menginginkan puteri dari Juragan Tarya Itu,!" kata seorang yg bertubuh agak kurus dan berkepala agak botak.
" Ahh, yg benar, masak Ki Lurah menginginkan kembang desa kenanga itu,?" tanya seorang yg berbadan besar dan gemuk dengan kumis melintang.
Keduanya asyik mengobrol sambil buang hajat.
Raka Senggani yg memperhatikan dari sebuah cabang pohon yg rimbun , cukup terkejut mendengarnya.
" Tetapi sebentar lagi kembang desa kenanga itu akan menikah,!" seru Orang yg berbadan besar dengan kumis melintang itu.
" Iya, memang kembang desa kenanga itu telah bertunangan dengan anak demang muncar yg bernama Bajang wunut,!" kata si kurus itu.
" Kira-kira apa yg akan di lakukan Ki lurah untuk mendapatkan kembang desa itu,?" tanya yg berbadan gemuk.
" Kata Ki Lurah, ia akan menculik kembang desa itu pas saat pernikahan nya,!" jawab si kurus lagi.
" Hehh, bukankah itu sebentar lagi,!" seru yg berbadan gemuk sambil membersihkan kotorannya.
" Ya kang, berarti kita akan mendapatkan tugas yg cukup berat, yaitu menculik anak juragan Tarya itu,?" ujar si kurus.
" Ya mau dikata apa, sedangkan Ki Lurah memang doyan daun muda dan lagi pun ilmu Ki Lurah cukup tinggi mana berani kita menentang perintah nya,!" jelas si badan gemuk.
" Kasihan juga anak juragan Tarya itu, ya kang,,!" kata si kurus.
" Kenapa kasihan, ?" tanya temannya itu.
" Ya kasihan toh Kang, nanti di malam pengantinnya akan bertemu dengan ki Lurah, apa tidak mati ketakutan ketika melihat tampang Ki lurah itu,!" jelas si kurus.
" Ahh, bukan urusan kita, yg penting Ki Lurah tetap mau membagi hasil,!" ungkap yg berbadan gemuk.
" Membagi anak juragan Tarya maksud kakang,?" tanya yg kurus
" Ahh, kau ini terlalu lugu atau terlalu dungu, ya membagi hasil rampok kan,lah, bukan membagi kembang desa kenanga itu,!" jawab yg gemuk.
Keduanya segera naik ke atas dan pergi dari tempat itu masuk lagi ke dalam hutan.
" Hemmph, nampaknya mereka adalah para perampok, dan kali ini akan merampok rumah juragan SuTarya itu, dan pemimpinnya berkeinginan juga untuk mengambil Tara Rindayu,!" pikir Raka Senggani.
Ia kemudian meninggalkan tempat itu menuju ke gubuk mbok rondo.
Setibanya disana, Raka Senggani melihat Ki Lamiran telah meneruskan kerjanya lagi.Sedangkan Raka Senggani menunaikan ibadah, baru setelahnya ikut membantu Ki Lamiran.
Mereka berdua kemudian kembali ke rumah Ki Lamiran sesaat mentari beranjak keperaduannya.
Setelah melakukan rutinitas, Raka Senggani menemani Ki Lamiran untuk makan malam.
" Ki ,apakah desa kenanga ini dalam keadaan aman,?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lamiran.
" Hehh , kenapa angger menanyakan hal itu,?" Ki Lamiran malah balik bertanya.
" Begini Ki, tadi saat di sendang tanpa sengaja, Senggani menjumpai dua orang yg sepertinya bukan dari desa kenanga ini,!" jelas Raka Senggani.
" Bagaimana tampang mereka,?" tanya Ki Lamiran.
" Yg satu agak kurus dengan rambut hampir botak, sedang yg satunya lagi besar ,gemuk dengan kumis melintang,!" jawab Raka Senggani.
" Wah , mereka itu begal dari Gunung Tidar dengan pemimpinnya bernama Singo lorok,!" jelas Ki Lamiran.
" Darimana aki tahu, ?" tanya Raka Senggani.
" Karena menurut ciri-ciri yg Angger sebutkan tadi adalah dua orang pembantu Singo lorok, yg kurus bernama Oyot metu, dan satunya lagi, Lembu ijo,!" jawab Ki Lamiran.
" Apa kepentingan mereka atas desa kenanga ini, Ki,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Yang jelas, mereka mengincar harta dari orang-orang kaya ditempat ini ditambah lagi , Singo lorok menyenangi gadis-gadis muda yg cantik akan dijadikan sebagai gendhak nya,!" kata Ki Lamiran lagi
" Berarti ada ke mungkinan rumah juragan Tarya akan mereka satroni, Ki,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Benar kata mu ngger, kalau mereka mengincar rumah juragan Tarya tentu mereka akan mendapatkan dua hal sekaligus,!" seru Ki Lamiran.
" Sepertinya memang begitu Ki, dari percakapan yg Senggani dengar bahwa Singo lorok itu memang menginginkan Tara Rindayu,!" ucap Raka Senggani lagi.
" Angger Senggani harus memberitahukan den ayu tentang hal ini, supaya mereka bisa berjaga-jaga,!" ujar Ki Lamiran.
Ketika ki Lamiran menyebutkan hal itu kepada Raka Senggani, pemuda langsung terdiam, ia terbayang masa-masa yg lalu disaat ia masih berteman dengan Tara Rindayu kecil, ada sesuatu yg menggores hatinya kepada kedua orangtua dari Tara Rindayu itu.
" Ngger, jangan terlalu memendam dendam di dada nanti dunia ini jadi sempit, saran aki, segeralah ke rumah den ayu dan beritahukanlah, bahwa ada bahaya yg sedang mengancam mereka,!" tukas Ki Lamiran dengan nada menasehati.
" Ahh, entahlah Ki, rasanya kejadian baru kemarin terjadinya, dan rasanya sakit, Ki , !'' ucap Raka Senggani lirih.
" Ngger, ksatria sejati sesungguhnya adalah bagi mereka yg mampu mengekang hawa nafsunya bukan karena tinggi ilmu kanuragan atau silat nya, karena jika mereka memilki ilmu yg tinggi tetapi tidak mampu mengekang hawa nafsunya, kejadiannya seperti pemimpin perampok asal gunung tidar itu,!" kata Ki Lamiran dengan sareh.
" Lagipun, mungkin Juragan Tarya tidak akan mengenal angger Senggani,!" kata Ki Lamiran.
" Bukan begitu Ki, ketika Senggani melihatnya nanti rasa sakit di hati ini tentu akan kembali keluar, !" ungkap Raka Senggani.
" Wah bagaimana kalau angger Senggani berJodoh dengan den ayu, tentu angger harus berhadapan dengan juragan Tarya sebagai mertua yg akan menikahkan anaknya itu,!" seloroh Ki Lamiran sambil tersenyum.
" Ahh, Tara Rindayu bukan jodoh Senggani melainkan Jodoh anak demang muncar,!" jawab Raka Senggani.
" Semisalnya den ayu tidak jadi menikah dengan Bajang wunut dan menikah dengan angger, bagaimana coba,!" seru Ki Lamiran lagi.
" Itu tidak mungkin , Ki,!" sergah Raka Senggani agak keras.
Ki Lamiran terdiam, ia tidak berani lagi berseloroh tentang Tara Rindayu kepada Raka Senggani.
Lama keduanya larut dengan lamunan nya masing-masing.
Memang sulit bagi Raka Senggani untuk memaafkan sikap juragan Tarya waktu itu, meski kejadiannya telah lama ber lalu.
Sementara gurunya berpesan seperti yg di ucapkan oleh Ki Lamiran, jangan menyimpan dendam terlalu lama. Nanti dunia menjadi sempit.
Sedangkan bagi Ki Lamiran sendiri, berita bahwa Rampok asal Gunung Tidar itu akan menjadikan rumah juragan Tarya sebagai sasarannya, hal itu mesti di cegah. Dengan memberita kan secepatnya berita itu kepada Juragan Tarya.
Malam terasa cepat berlalu tidak terasa pagi hari telah menjelang.
Seperti biasa kedua nya berjalan menuju Pategalan lagi.
Namun kali ini Raka Senggani berniat menyusuri hutan yg ada di ujung desa kenanga itu.
Setelah matahari naik, Raka Senggani pun berjalan ke arah sendang, ketika sampai di tempat itu, ia terus melanjutkan langkah nya masuk ke dalam hutan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Ajna dillah
beri pelajaran para perampok
2024-03-29
0
Darien Gap
aku subsctibe gan....nice/Good//Good/
2024-03-27
0
Styaningsih Danik
mampiir thor...semangaat💪💪👍
2023-01-19
3