" Ahh, kau Senggani, sekarang kan kita telah besar , jadi kalau masalah mancing, sudah ku tinggal kan, kecuali jika pengen Pepes welut, baru aku akan mancing,!" jawab Jati Andara.
" Jadi sekarang kakang Andara sudah dewasa?" tanya Raka Senggani dengan nada ber kelakar.
" Begitu lah, kira -kira,!" jawab Jati Andara.
Ketika kedua anak muda tengah asyik mengobrol, tiba -tiba datang lah Sura Birono, kepala pengawal desa kenanga ke tempat kedua orang itu.
Dengan pandangan yg agak sinis, ber katalah pemuda itu kepada Raka Senggani,
" Jadi pemuda desa kenanga harus orang yg kuat dan ber nyali baja , agar bisa menjaga keamanan desa, oleh sebab itu, hehh, kau Senggani harus di coba dahulu kemampuanmu, sebelum menjadi penduduk desa kenanga,!" kata nya dengan ber tolak pinggang.
Sambil terus memandangi wajah Raka Senggani.
" Maksud mu apa, Sura,?" tanya Jati Andara.
Putra Bekel Kenanga itu tidak suka dengan sikap dari kepala pengawal itu, yg petantang petenteng seperti itu.
" Begini Den Andara, aku selaku kepala pengawal desa kenanga ingin menjajal kemampuan anak ini, apakah layak untuk tinggal di desa kenanga ini,!" seru Sura Birono.
" Tidak usah, buat apa engkau menjajal kemampuan dari Senggani, sedang kan dia baru malam ini ikut latihan silat bersama kita di sini, tentu saja dia tidak akan mampu melawan mu,!" jelas Jati Andara yg geram dengan tingkah Sura Birono itu.
" Biar saja Andara, hitung -hitung latihan buat Senggani,!" tukas Japra Witangsa anak Ki Jagabaya itu.
" Benar, sebelum mengikuti pelatihan Ki Jagabaya, sebaik nya aku yg akan memberi latihan kepada bocah ini,!" pungkas Sura Birono.
" Ahh, Senggani tidak pernah ber kelahi dan tidak memahami ilmu silat, !" ucap Raka Senggani dengan nada memelas.
" Jangan banyak omong , mumpung orang -orang belum pada pulang, biar semua melihat apakah kau layak untuk jadi penduduk kenanga ini,!" kata Sura Birono.
Sambil menarik baju bagian belakang Raka Senggani , kepala pengawal desa kenanga itu membawa Raka Senggani ke tengah,di tempat para pemuda desa kenanga latihan silat itu.
Dengan sigap Sura Birono kemudian berkata,
" Kau harus mampu menahan serangan ku, jika tidak jangan salah kan aku jika nanti tubuh mu akan babak belur,!" seru Sura Birono itu.
Rupa nya ada perasaan tidak senang dari Sura Birono kepada Raka Senggani yg ter lihat dekat dengan Sari Kemuning putri dari Ki Jagabaya itu.
Sementara agak di kejauhan dua pasang mata tengah melihat ke tempat dua pemuda itu ber diri.
Mereka adalah Ki Bawuk dan Ki Kaliran, kedua tengah memperhati kan apa yg akan terjadi dengan pemuda yg ber nama Raka Senggani itu.
" Bagaimana Kakang Bawuk, apakah kita akan tetap di sini melihat kepala pengawal desa kenanga itu memberi kan pelajaran kepada pemuda itu,?" tanya Ki Kaliran.
" Yah, kita akan menunggu apa yg akan terjadi, apakah pemuda itu akan jadi lawan kita kelak jika Ki Lurah akan merampok desa ini,!" jawab Ki Bawuk.
Kedua nya terus mem perhati kan apa yg akan terjadi pada Raka Senggani itu.
" Ki Bekel dan Ki Jagabaya izin kan lah aku untuk memberi sedikit latihan kepada anak ini,!" kata Sura Birono kepada Ki Bekel dan Ki Jagabaya.
" Sudah lah, lain kali saja di saat latihan pekan depan di ada kan, ini sudah ter lalu malam,!" jelas Ki Jagabaya.
" Hanya sebentar Ki, paling dua atau tiga kali pukulan saja,!" kata Sura Birono memaksa.
" Kalau begitu lakukan lah tetapi jangan sampai melukai, jika Raka Senggani telah jatuh , jangan kau lanjut kan Birono,!" kata Ki Jagabaya.
Hati Sura Birono amat senang mendengar pernyataan dari Ki Jagabaya itu, ia ingin mem permalu kan Raka Senggani di depan umum, karena ia yakin tiga kali pukulan pasti pemuda itu akan jatuh ter kapar.
" Heh, kau ber siap lah, tahan pukulan ku ini,!" seru Sura Birono yg bersiap dengan kuda -kuda nya.
" Ehhh, jangan , tunggu, Senggani tidak ingin ber kelahi, Senggani ingin pulang,!" kata Raka Senggani dan segera membalik kan tubuh nya ingin meninggal kan tempat itu.
" Hiyyah,!"
Ter dengar teriak kan dari Sura Birono, kepala pengawal desa kenanga itu melompat dan memberi kan tendangan yg mengarah ke kepala dari Raka Senggani.
Namun tiba -tiba, Raka Senggani ber jongkok memperbaiki alas kaki nya sehingga tubuh dari Sura Birono lewat di atas kepala nya dan jatuh ter sungkur di depan Raka Senggani.
" *******, kau jangan lari,!" ucap Sura Birono.
Ia dengan cepat bangkit dan langsung melayang kan tamparan ke wajah Raka Senggani.
" Weessshh,!"
Tamparan itu meleset, karena Raka Senggani menunduk kan kepala nya.
" Hehh, bocah kau berani main -main dengan Sura Birono, terima ini,!" teriak Sura Birono.
Kepala pengawal desa kenanga itu memberi kan sapuan dengan kaki nya dengan niat menjatuh kan tubuh Raka Senggani, namun lagi-lagi, serangan itu luput, karena Raka Senggani mengangkat sebelah kaki nya ke atas.
Akhir nya, Sura Birono kalap karena tidak satu pun serangan nya yg ber hasil mengenai tubuh Raka Senggani segera menyerang pemuda itu dengan membabi buta.
Akan tetapi Raka Senggani tidak melayani nya ia hanya ber gerak mundur dan menghindar.
" Sudah cukuuuup,!" teriak Ki Jagabaya.
Orang tua itu menilai bahwa permainan malam itu sudah cukup sampai di situ, karena telah banyak pukulan dan tendangan yg di lakukan oleh Sura Birono tidak satu pun berhasil mengenai Raka Senggani.
" Angger Senggani, kemari,!" ter dengar panggilan dari Ki Jagabaya.
Raka Senggani segera ber gegas mendatangi Ki Jagabaya.
" Dan kau Sura Birono, segera nganglang ini saat nya telah tengah malam, lihat seluruh pos perondan apakah mereka masih berjaga atau malah sudah tidur semua,!" perintah Ki Jagabaya kepada Sura Birono.
Sebenar nya di hati Sura Birono amat mendongkol karena niat nya untuk memper malukan Raka Senggani tidak kesampaian.
Ia kemudian ber gegas meninggalkan tempat itu sambil mencuri pandang ke arah Sari Kemuning, namun gadis itu tidak melihat ke arah nya malah mendekati tempat Ki Jagabaya dan Raka Senggani.
" Angger Senggani, sudah lama di sini,?" tanya Ki Jagabaya kepada Raka Senggani.
" Telah sepekan, Ki, !" jawab Raka Senggani.
" Kelihatan nya Angger Senggani memiliki ilmu silat yg cukup lumayan,!" kata Ki Jagabaya.
Karena Ki Jagabaya tentu paham akan se seorang yg memiliki kemampuan bela diri dengan yg tidak. Ia melihat gerakan Raka Senggani itu dalam menghindar memilki tata gerak meski sepintas hanya kebetulan belaka, memang itu lah kelebihan dari Senggani , ia mampu menyamar kan gerakan nya seperti hanya kebetulan saja bukan karena kemampuan dari dasar ilmu silat akan tetapi menurut pandangan Ki Jagabaya bahwa beliau memang sudah cukup mapan dalam ilmu bela diri.
" Ahh, tidak Ki, Senggani tidak bisa silat,!" jawab Raka Senggani.
" Tetapi tadi Kakang Senggani , hebat sekali,!" ucap Sari Kemuning menimpali.
" Hebat apanya, Kemuning,?" tanya Raka Senggani.
" Ya hebat, tidak satu pukulan pun dari Kakang Birono yg ber hasil menyentuh tubuh kakang,!" jelas Sari Kemuning lagi.
" Itu kebetulan saja , Kemuning, Senggani tidak mengerti dengan yg nama nya ilmu silat, melihat nya pun baru di sini,!" ujar Raka Senggani ber bohong.
Ia merasa lebih baik ber bohong, karena ia sadar sedari tadi ada dua pasang mata yg terus memperhati kan nya.
" Angger tinggal di mana,?" tanya Ki Jagabaya kepada Raka Senggani.
" Senggani tinggal di rumah Ki Lamiran, Ki,!" jawab Raka Senggani.
" Besok Angger Senggani datang ke rumah ada yg aki bicara kan kepada angger Senggani, penting,!" ujar Ki Jagabaya lagi.
" Soal apa, Ki, apa tidak bisa di jelas kan sekarang,?" tanya Raka Senggani heran.
" Tidak, besok saja, datang lah ke rumah sebelum tengah hari,!" ucap Ki Jagabaya lagi.
" Baik lah , Ki,!" jawab Raka Senggani.
Kemudian Jati Andara dan Japra Witangsa mendekati Raka Senggani, ketika Jagabaya dan Ki Bekel meninggal kan tempat itu, kedua pemuda itu pun ber tanya kepada Raka Senggani,
" Senggani, sangat jarang ada orang yg mampu menghindari serangan dari Sura Birono, karena anak itu telah ber guru di padepokan Gagak ireng yg berada di lereng Wilis,!" ucap Jati Andara.
" Dan lagi kabar nya, Sura Birono telah tuntas menimba ilmu nya itu, tetapi ketika ber hadapan dengan mu malah tidak ada satu pukulan pun yg berhasil menyentuh tubuh mu,!" kata Japra Witangsa.
" Senggani, di mana belajar ilmu silat nya,?" tanya Jati Andara lagi.
" Ahh, kakang Andara, Senggani tidak pernah belajar, mungkin cuma kebetulan saja,!" jawab Raka Senggani.
" Tetapi besok jangan lupa datang ke Rumah ku, tentu Kemuning akan sangat senang sekali, sudah sehari ini, ia terus membicara kan tentang mu,!" kata Japra Witangsa.
" Mudah -mudahan besok Senggani tidak lupa kakang Witangsa,!" jawab Raka Senggani.
" Baik lah mari kita pulang,!" kata Jati Andara.
Ketiga pemuda itu pun kembali menuju rumah nya masing-masing.
Setelah Raka Senggani ber jalan sendiri, karena rumah Ki Bekel dan Ki Jagabaya agak ber dekatan, maka pemuda itu pun mempercepat jalan nya, ia merasa ada yg mengikuti nya.
Setelah meyakini bahwa memang ada orang yg mengikuti nya, Raka Senggani segera merapal ajian peringan tubuh nya sehingga ia dengan cepat melesat dari tempat itu dan ber jalan ke arah belakang dari dua orang penguntit nya itu.
" Kemana pergi nya bocah itu , kakang,?" tanya Ki Kaliran kepada Ki Bawuk.
" Entah lah, seperti nya kita kehilangan jejak,!" jawab Ki Bawuk.
" Apa tidak sebaik nya kita kembali ke rumah Juragan Tarya,?" tanya Ki Kaliran.
" Sebaik nya demikian, besok kita akan melihat apa yg akan di bicara kan bocah itu dengan Ki Jagabaya,!" ujar Ki Bawuk kepada Kaliran.
" Nampak nya bocah itu tidak memiliki ilmu silat ya, kan, Kang,!" kata Ki Kaliran.
" Ya, kelihatan nya ia bukan ancaman buat kita, jadi Ki Lurah tidak harus menghindar seperti pesan nya itu,!" jawab Ki Bawuk.
Kedua tukang pukul Juragan Tarya itu kemudian pergi meninggal kan tempat itu setelah kehilangan jejak dari Raka Senggani.
Sementara yg mereka kuntit tengah duduk di secabang batang pohon tidak jauh dari kedua orang itu, sehingga Raka Senggani masih dapat mencuri dengar pembicaraan kedua nya.
Setelah yakin orang dari kelompok Singo Lorok itu pergi maka Raka Senggani pun kembali pulang ke rumah Ki Lamiran.
Se sampai nya di sana Raka Senggani masuk dari pintu depan karena yakin Ki Lamiran masih belum tidur, dan benar saja memang Ki Lamiran belum tidur, begitu mendengar suara langkah kaki Raka Senggani, orang tua itu pun langsung ber tanya,
" Engkau kah itu, angger Senggani,?"
" Benar Ki, ini Aku Senggani,!" jawab Raka Senggani.
Kemudian Ki Lamiran membuka kan pintu itu.
" Bagaimana ngger, apakah sambutan yg di terima dari penduduk desa kenanga ini baik terhadap angger Senggani baik,?" tanya nya kepada Raka Senggani.
" Baik Ki, hanya Sura Birono saja yg tampak nya kurang senang dengan kehadiran Senggani,!" ujar Raka Senggani.
" Tahu kenapa, Ngger,?" tanya Ki Lamiran.
" Tidak , Ki,!" jawab Raka Senggani.
" Karena kepala pengawal desa kenanga itu menyukai Sari Kemuning anak Ki Jagabaya, dengan kehadiran angger Senggani di sini, berarti ia akan mendapat kan saingan yg berat, karena ia tahu Sari Kemuning amat menyukai angger Senggani,!" jelas Ki Lamiran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Citra Kirana
klepone mak nyuss
2024-05-15
1
Sulaiman Jazuli
klu lupa nanti ku tlpon 😅
2024-03-21
0
Eko Subagyo
tetap semangat Thor update nya jangan kasih kendorr 👍❤️💪
2022-07-07
4