Suara erangan yg keluar itu ternyata dari mulut seorang perempuan.
" Ahhh, kakang Lorok, cepatlah, Kang ,!" kembali terdengar suara itu.
" Sabarlah nyai asih, kakang belum, masih nanggung,!" jawab seorang lelaki dengan suara serak.
Tiba-tiba Raka Senggani dikejutkan dengan suara langkah kaki yg mendekati tempat itu.
Setelah sampai di depan pintu dari gubuk yg paling ujung dari barak di tengah hutan itu, maka terdengarlah suara memanggil,
" Kakang Singo, kakang Singo cepatlah keluar , ada berita yg mesti kakang dengar,!" teriak orang itu.
" Ehh, siapa , berani menganggu kesenangan dari Singo Lorok,!" jawab dari dalam gubuk itu.
" Aku kakang, Liro wonoyo, !" jawab dari luar.
" Apa perlunya malam -malam begini mengangguku, apa tidak tahu, aku malam ini tidak ingin diganggu,!" jawab Singo lorok lagi.
" Bukan begitu kakang, persoalannya salah seorang anggota Ki Bawuk datang kemari , ingin bertemu dengan kakang,!" jelas Liro wonoyo.
" Geubrakkk,!"
Pintu gubuk itu terbuka lebar, rupanya saking geramnya Singo Lorok sampai menghempaskan kekesalannya itu pada pintu gubuknya.
" Eeehhh, ehh, tidak tahu lagi orang senang, kalau ada orang lain yg ingin melapor kalian kan bisa mendengarkan nya , mengapa mesti Aku, tidak tahu orang lagi senang, !" kata Singo lorok.
Kemudian kepala rampok asal gunung tidar itu berjalan melangkahkan kaki nya keluar dan menuju tengah barak yg ada di dalam hutan itu.
Sesampainya di tempat itu terlihat telah berkumpul banyak orang.
Ki Singo lorok kemudian berkata,
" Siapa yg ingin bertemu denganku, dan apa perlunya,?' tanyanya kepada orang -orang yg sedang menghadapi api unggun itu.
" Maaf ki, aku utusan kakang Bawuk ingin melaporkan sesuatu kepada Ki Singo Lorok,!" ucap orang itu.
" Apa yg ingin kau laporkan Kaliran,?" tsnya Singo Lorok.
Sambil mengambil sepotong daging ayam hutan dari panggangan maka Ki Singo lorok pun mendengarkan penuturan dari anak buahnya itu.
" Begini Ki Lurah, tampaknya tempat ini sudah diketahui oleh seseorang, dan menurut Ki Bawuk sebaiknya Ki Lurah segera pindah dari tempat ini, karena kemungkinan itu adalah prajurit sandi demak atau pun kadipaten Pajang,!" kata Ki kaliran.
" Pindah????" seru Ki Singo Lorok dengan berang.
" Hehhh, apa ki Bawuk itu tidak mikir, sebentar lagi aku akan mendapatkan se kuntum kembang yg wangi lagi cantik, dan di suruh Aku harus pergi, apa Ki Bawuk ingin memakan sendiri kembang desa itu,!" terdengar suara dari Singo Lorok dengan keras.
" Bukan begitu Ki Lurah, jika tempat ini telah di ketahui oleh prajurit sandi baik dari Demak atau pun Pajang tentu keberadaan kita akan terancam, mungkin juga keberadaan dari ki Lurah Singo Ireng pun akan terancam,!" jelas Ki Kaliran lagi.
" Katakan kepada Ki Bawuk, Aku tidak akan pindah sebelum mendapatkan kembang desa kenanga dan harta milik dari warganya yg lumayan banyak itu,!" kata Ki Singo Lorok.
" Baiklah Ki Lurah,!" jawab Ki Kaliran.
" Oh iya, seperti apa orangnya yg telah mengetahui tempat kita ini?" tanya Ki Singo Lorok kepada Kaliran.
" Orangnya masih muda dengan tubuh sedang dan berwajah tampan, serta berkulit putih bersih seperti seorang anak bangsawan,!" jelas Ki Kaliran.
" Di mana ia tinggalnya,?" tanya Ki Singo Lorok.
" Masih di desa kenanga tepatnya di rumah pande besi Ki Lamiran,!" jawab Ki Kaliran.
" Baik, kapan -kapan aku akan menemui nya,!" kata Singo Lorok lagi.
" Baik lah Ki Lurah karena pesan Ki Bawuk telah kusampaikan maka aku harus kembali sebelum ayam jantan berkokok,!" ucap Kaliran.
" Silahkan, Ki, jika ada berita yg tidak terlalu penting jangan datang kemari,!" seru Singo Lorok yg terus asyik dengan ayam panggangnya.
Kemudian Kaliran beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, ia kembali ke desa Kenanga tepatnya ke rumah Juragan Tarya, karena Ki Kaliran adalah anggota dari Ki Bawuk pemimpin dari tukang pukul Juragan Tarya.
Sementara itu Raka Senggani tetap berada di tempat itu sambil terus menyadap pembicaraan dari para kawanan rampok gunung Tidar itu.
" Kakang Singo, bagaimana jika yg di katakan kakang Kaliran itu benar, ada prajurit sandi yg tengah mengamati keberadaan kita di sini, apakah tidak membahayakan kedudukan kita disini, sementara kita dan kakang Singo Ireng tengah di buru oleh para prajurit Demak dan Pajang,!" kata Liro wonoyo.
" Mengapa mesti takut, Liro, tempat ini cukup menyulitkan bagi para Prajurit untuk masuk, selain keadaannya cukup terjal serta jalan satu-satunya hanya Itu, jadi kita tidak perlu mengkhawatirkan akan serangan dari belakang, !" kata Singo Lorok.
" Memang benar kata Kakang, akan tetapi jika yg datang sepasukan prajurit yg lumayan tinggi ilmunya tentu kita akan kesulitan untuk menghadapinya, apa lagi mereka menggunakan anak panah, tentu kita yg justru yg akan terjepit,!" kata Liro wonoyo.
Raka Senggani merasa telah cukup mendengarkan pembicaraan dari para kawanan rampok itu, dan waktu tengah berada di puncak malam.
Maka Raka Senggani kemudian berjalan ke arah gubuk tempat Singo Lorok berada dan ia pun terus berjalan ke belakang, setelah cukup jauh dan di rasa aman , Raka Senggani pun mengetrapkan ilmu peringan tubuhnya, guna melewati jurang yg terjal itu untuk naik ke atas.
Rupanya ada juga dari kawanan rampok itu yg melihat kelebatan dari Raka Senggani ini.
" Apa itu kang, kok ada benda besar yg terbang,!" kata seorang dari kawanan rampok gunung Tidar itu.
" Heeei lehhh, paling -paling kalong atau kampret, sekarang kan lagi musim buah,!'' jawab temannya.itu.
" Nggak Kang, ini lebih besar bentuk nya, seperti manusia, bukan kalong atau kampret," jelas yg satu nya lagi.
" Sudah -sudah, mana mungkin ada orang yg bisa terbang, paling yo kalong,!" kata Singo Lorok.
Kepala begal asal gunung tidar itu bangkit dari tempat duduknya dan kembali ke gubuknya.
Sementara Raka Senggani telah berada di atas dari jurang yg cukup dalam itu, ia terus berjalan keluar hutan menggunakan peringan tubuhnya , ia masih sempat melihat Kaliran yg berjalan menuju rumah Juragan Tarya.
Sedangkan Raka Senggani terus pulang ke rumah Ki Lamiran.
Sesampai di rumah itu, tampak sudah sangat sepi, Raka Senggani masuk perlahan dari pintu belakang.
Meskipun Raka Senggani telah mengetrapkan ilmu penyerap bunyi supaya pemilik rumah tidak terjaga , ketika pintu bekalan itu di dorongnya, terdengarlah suara dari dalam,
" Siapa di situ,, engkau Angger Senggani,?" tanya dari orang yg berada di dalam yg tiada lain adalah Ki Lamiran.
" Benar, Ki, ini aku Raka Senggani," jawab Raka Senggani.
Pemuda kemudian berkata dalam hati,
" Ternyata Ki Lamiran bukan orang smbarangan, ia mampu mendengar kedatanganku,"
" Sudah kembali Ngger, bagaimana hasilnya,!" kata Ki Lamiran lantas membukakan pintu itu.
" Sudah Ki,mengapa Ki Lamiran belum tidur,?" balas Raka Senggani ber tanya.
" Ahh, aki merasa gerah , dan lagi merasa tidak tenang sebelum angger Senggani kembali, bagaimana hasilnya Ngger,?" tanya Ki Lamiran lagi.
" Ternyata Ki, orang -orang Juragan Tarya adalah kawanan dari rampok itu, bahkan tadi sda salah seorang tukang pukul dari juragan Tarya itu yg melaporkan keberadaan Senggani di sini kepada pemimpinnya itu!" jelas Raka Senggani.
" Apa tanggapan dari Lurahnya itu,?' tanya Ki Lamiran lagi.
" Kehadiran Senggani di sini bukan ancaman buat mereka, Singo Lorok sang pemimpin dari kawanan rampok gunung Tidar itu tetap pada niatnya akan mengambil Tara Rindayu, ketika pesta pernikahan itu berlangsung,!" jelas Raka Senggani.
" Ngger, masih ada waktu kita masih dapat menyampaikan berita ini ke kotaraja Demak atau ke kadipaten Pajang, agar para prajurit Demak atau pun Pajang bisa dikirim kemari untuk menangkap mereka,!'' kata Ki Lamiran.
" Akan tetapi Senggani tidak memiliki teman di dalam keprajuritan baik Demak mau pun Pajang, kepada siapa Senggani akan melaporkannya,?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lamiran.
" Tenang , Angger Senggani tenang saja nanti aki yg akan menuliskan sepucuk surat dan berikan kepada salah seorang Tumenggung yg ada di Kotaraja,!" jelas Ki Lamiran.
" Dan besok karena hari pasaran, aki akan tetap berjualan seperti biasa, apakah angger akan ikut atau tetap ke pategalan,?" tanya Ki Lamiran.
" Senggani akan ikut Ki Lamiran berjualan,karena hari pasaran hanya sekali dalam sepekan, sayang kalau dilewatkan,!" kata Raka Senggani.
" Sayang melewatkan untuk melihat den ayu, ya Ngger,!" celetuk Ki Lamiran.
" Ahh, aki ada -ada saja, Rindayu kan sebenar lagi jadi milik orang,!" kata Raka Senggani dengan mimik cemberut.
" Apa punya orang tidak boleh di lihat,?" tanya Ki Lamiran lagi.
" Bukan begitu Ki, nantinya ditakutkan menjadi satu kesalahan karena melihat punya orang lain, mending melihat yg aman yg tidak ada pemiliknya,!" jelas Raka Senggani.
" Ada ngger, meskipun tidak secantik den ayu, tetapi yg satu ini memiliki tubuh yg sangat indah dan belum ada yg punya,!'' ungkap Ki Lamiran serius.
" Ahh, Ki Lamiran ada -ada saja,!" ucap Raka Senggani, walaupun sebenarnya pemuda itu mengerti siapa yg di maksud oleh Ki Lamiran itu.
" Yahhh, Sari Kemuning, putri dari Ki Jagabaya itu memang masih kalah cantik dengan den Ayu, akan tetapi kalau bentuk tubuhnya idaman para lelaki, dengan tubuh tinggi berisi dan leher yg jenjang, banyak pemuda Kenanga ini yg akan melotot kalau melihat dia lewat,!" jelas Ki Lamiran.
" Sari Kemuning anak Ki Jagabaya yg ceking itu, Ki,?': seru Raka Senggani tidak percaya.
" Kan itu dahulu Ngger, memang dulu, den Sari terlihat kuyu dengan rambut keriting , badan kurus menjulang di tambah lagi kulitnya yg agak kehitam hitaman, memang jeleklah, tapi sekarang, besok angger Senggani buktikan sendiri,!" ujar Ki Lamiran lagi.
Setelah tiba waktu subuh , maka seperti biasa Raka Senggani pun melaksanakan perintah yg Maha kuasa dengan melakukan sholat.
Setelahnya ia dan Ki Lamiran berkemas membawa barang dagangan.
Kedua nya kemudian melangkahkan kakinya ke pasar desa kenanga itu.
Pasar yg berada di tengah desa dekat dengan Banjar desa.
Setelah Mentari pagi telah memancarkan cahaya maka kedua orang itu pun tiba di pasar.
Pasar telah ramai meski waktu masih pagi, terutama para pedagang sayur.
Karena jualan Ki Lamiran adalah alat alat keperluan seperti pisau , pacul , maka mereka datang agak siangan dari pedagang yg lain.
Ketika mentari telah menggatalkan kulit , datanglah Tara Rindayu ke tempat Ki Lamiran itu.
" Ahh, kakang Senggani ternyata sekarang ini telah berubah, berubah jadi sombong tidak seperti dahulu, !'' ucap Tara Rindayu sambil memilih pisau.
" Sombong apa nya, apa yg mesti Senggani sombongkan kepadamu, Ndayu,?" tanya Raka Senggani.
" Buktinya kakang tidak perrnah mau datang ke rumah Rindayu,!'' kata Tara Rindayu agak ketus.
" Memangnya urusan apa Senggani harus datang ke rumah Rindayu, apa lagi sekarang Rindayu akan segera menikah , pamali rasanya mendatangi tunanagan orang , dan sebaiknya Rindayu di dalam rumah saja, di pingit,!' kata Raka Senggani.
" Ahh kakang Senggani masih berpikir terlalu kuno, memang Rindayu minta untuk tidak dipingit, dan bebas berhubungan dengan siapa saja selama itu masih dalam hal yg wajar,!" jelas Tara Rindayu.
Ketika dua muda -mudi sedang asyik nya mengobrol datanglah dua orang gadis ke tempat itu,
" Ehhh Rindayu, mau beli apa,?" sapa seorang gadis yg bertubuh indah dan memiliki leher yg jenjang, ya dialah Sari Kemuning putri dari Ki Jagabaya.
Sementara disebelahnya ada Putri Ki Bekel dari desa kenanga yg ber nama Dewi Dwarani.
Meskipun Putri Bekel Kenanga itu kalah pamor dari dua Kembang desa kenanga itu, akan tetapi Putri Bekel Kenanga ini memiliki sifat yg sangat baik, sangat suka menolong orang lain bahkan ia tidak sombong meski pun terlihat pendiam.
" Kang pisau ini berapa ,?" tanya Putri Bekel Kenanga itu.
" Berapa Ki, ahh, Ki Lamiran saja yg berjualan , biar Senggani saja yg membakar besi itu,!" kata Raka Senggani kepada Ki Lamiran.
" Ehh, jadi kakang ini , kakang Raka Senggani, yg dahulu pergi dari desa Kenanga ini,?" tanya Sari Kemuning.
Memang dahulu Sari Kemuning amat menyukai Raka Senggani ketika mereka masih kecil, namun Raka Senggani amat tidak menyukai Sari Kemuning yg sangat dekil dan jelek itu, sehingga Raka Senggani amat dekat dengan Tara Rindayu dan kurang mengenal putri Bekel Kenanga, Dewi Dwarani.
" Kakang Senggani kok sangat berubah,?" ucap Sari Kemuning.
Gadis itu sampai memegangi tangan dari Raka Senggani.
" Apanya yg berubah Kemuning,?" tanya Raka Senggani.
" Semuanya,...!" seru Sari Kemuning.
" Semua apanya,?" tanya Raka Senggani yg nampak agak kikuk ditatap dari dekat oleh Sari Kemuning.
" Kakang Senggani layaknya putra bangsawan keraton, teramat tampan, nampaknya ada yg akan memutuskan tali pertunangannya ini!" ucap Sari Kemuning sambil menatap wajah Tara Rindayu.
Yg ditatap malah membuang muka memandangi orang -orang sedang berbelanja.
Kemudian Raka Senggani yg berkata,
" Justru Kakang Senggani yg pangling denganmu, Kemuning, !" seru Raka Senggani.
" Mengapa Pangling Kang,?" ganti Sari Kemuning yg bertanya.
" Ahhh, kamu yg dahulu,...,!" Raka Senggani tidak melanjutkan kata-kata nya,
" Jelek,!' tukas Sari Kemuning.
Raka Senggani hanya mengangguk.
" Jadi kalau sekarang bagaimana,Kang,?" tanya Sari Kemuning .
" Kalau sekarang teramat, ...., ahh sudah lah,!'' kata Senggani kemudian berlalu dari tempat itu dan mengambil alih tugas Ki Lamiran.
Ia amat terkejut atas perubahan dari putri Jagabaya desa Kenanga itu, menjadi sangat cantik ketika tumbuh dewasa berbeda dengan sepuluh tahun yg lalu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Ajna dillah
sikat
2024-03-30
0
Roni Sakroni
ha...ha...ha.....kepincut
2024-02-13
0
Suci fitri
nah ini juga tuh novel kurang bermutu.baru diawal aja mc sdh di buat guoblok dan tolol tuh sama yg buat.HAPUS GK USAH DI TERUSIN TUH
2023-04-18
3