Ketiganya segera memacu kudanya dengan kencang, karena Lintang Sandika telah pulih kesehatannya.
Seharian mereka memacu kudanya, hanya berhenti jika ingin memberi makan kuda, serta Raka Senggani menjalankan ibadahnya.
Sehingga menjelang tengah malam sampailah ketiga orang itu di pintu gerbang Kotaraja Demak.
Di depan pos jaga pintu gerbang itu, Lintang Sandika langsung melapor kepada prajurit jaga.
Setelahnya kemudian mereka memasuki Kotaraja Demak yg terlihat masih dalam keadaan ramai meski keadaan telah malam.
Banyak surau -surau yg masih terlihat orang belajar mengaji, segera ketiga orang itu menuju rumah Tumenggung Bahu Reksa orang tua dari Lintang Sandika dan Lintang Sri wedari tersebut.
Selang tidak terlalu lama tibalah mereka di rumah Tumenggung Bahu Reksa itu. Sedangkan dari kejauhan terdengar suara kentongan dengan nada dara muluk pertanda hari telah mencapai tengah malam.
Di depan kediaman dari Tumenggung Bahu Reksa itu, prajurit penjaga segera melihat siapa yg datang,
" Siapa,?' tanya prajurit itu.
" Aku Lintang Sandika,!" jawab Lintang Sandika.
" Ohh, raden Lintang Sandika, silahkan den, raden telah lama di tunggu Kanjeng Tumenggung,!" jawab prajurit itu.
Segeralah, mereka masuk ke dalam rumah Tumenggung Bahu Reksa itu.
Di dalam rumah kediaman dari Tumenggung Bahu Reksa itu, lampu minyak jarak masih menyala, pertanda orang yg di dalam masih terjaga.
Setelah menempatkan kuda -kuda mereka di kandang, Lintang Sandika, Lintang Sriwedari dan Raka Senggani masuk ke dalam rumah.
" Assalamualaikum,!" ucap Lintang Sandika.
" Wa'alaikumsalam,!" terdengar jawaban dari dalam.
Kemudian daun pintu itu terbuka,
" Anakku Lintang Sandika dan Lintang Sriwedari, Romo sangat cemas menunggu kalian berdua, karena menurut perhitungan Romo, seharus nya kalian berdua telah sampai,!" ucap seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal melintang di atas bibirnya.
Lelaki itu terlihat gagah dan berwibawa meski usianya sudah tidak muda lagi.
" Bagaimana kabar kalian berdua, oh ya, siapa teman kalian ini,!" tanya Tumenggung Bahu Reksa setelah ketiga orang itu duduk di dalam rumah.
" Ampun Kanjeng Romo, perkenalkan, teman kami ini bernama Raka Senggani berasal dari Desa kenanga, berkat dirinyalah kami bisa selamat sampai di rumah,!" jelas Lintang Sandika.
" Hehh, bagaimana ceritanya,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa ter kejut mendengar penuturan puteranya itu.
Kemudian Lintang Sandika mencerita kan peristiwa yg terjadi ketika mereka dalam perjalanan kembali dari Lereng Lawu itu. Tanpa mengurangi bahkan oleh Lintang Sriwedari ditambahkan lagi bahwa kedua perampok yg menghadang mereka itu dilepaskan begitu saja oleh Raka Senggani.
" Jadi tujuan angger Senggani datang kemari memang berniat bertemu dengan ku,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.
" Demikianlah kira nya Kanjeng Tumenggung, saya selaku utusan dari desa Kenanga sangat berharap bantuan dari Kanjeng Tumenggung, dan ini ada titipan surat dari Ki Lamiran untuk Kanjeng Tumenggung,!" ucap Raka Senggani seraya menyodorkan segulungan daun lontar.
" Jangan panggil Kanjeng Tumenggung, panggil saja Paman atau Romo, karena angger Senggani telah menyelamatkan kedua anakku, mulai hari ini Kuangkat anak,!" ujar Tumenggung Bahu Reksa sambil membuka gulungan lontar tersebut.
" Jadi angger Senggani tinggal dengan kakang Lamiran di desa Kenanga,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.
" Benar ..., benar Paman, !" jawab Raka Senggani.
" Dan saat ini desa Kenanga tengah terancam dengan kedatangan para perampok dari Gunung Tidar,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.
" Benar, demikianlah keadaannya, dan kemungkinan tidak berapa lama lagi mereka akan menjarah desa Kenanga itu, Paman,!" kata Raka Senggani.
" Jadi Kenanga memerlukan bantuan prajurit dari Demak ini, begitu Senggani,!" tanya Tumenggung Bahu Reksa.
" Begitulah keadaannya Paman Tumenggung, jumlah mereka cukup banyak, mungkin lebih lima puluh orang belum lagi yg akan datang dari alas mentaok,!" jelas Raka Senggani lagi.
" Suatu permintaan yg sulit untuk dikabulkan, mengingat Kanjeng Sultan Demak segera memberangkatkan pasukan menuju Sunda Kelapa dalam waktu dekat ini, jadi suatu yg mustahil mengirimkan prajurit ke desa Kenanga, Angger Senggani,!" kata Tumenggung Bahu Reksa.
Setelah cukup lama berpikir akhirnya Tumenggung Bahu Reksa dapat jalan keluarnya,
" Begini saja , nanti Paman akan kirim seorang prajurit Demak , guna menyampaikan perintah kepada Kanjeng Adipati Pajang untuk segera mengirimkan pasukan ke desa Kenanga, karena wilayah itu masih masuk dalam Kadipaten Pajang, kapan kiranya mereka akan melakukan perampokan itu,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.
" Mungkin kurang satu purnama lagi,!" jawab Raka Senggani.
" Masih ada kesempatan,!" ujar Tumenggung Bahu Reksa.
Kemudian Tumenggung Bahu Reksa beralih kepada kedua orang putra putri nya itu.
" Bagaimana dengan padepokan Lereng Lawu apakah Panembahan Wira disasra mau mengirimkan murid -murid nya untuk membantu Demak,?'' tanya Tumenggung Bahu Reksa.
" Maaf Romo, Kanjeng Guru, Panembahan Wira disasra tidak mengizinkan murid -murid nya untuk ber gabung dengan prajurit Demak,!" jawab Lintang Sandika.
" Memang sudah di duga dari sebelum nya, bahwa Panembahan Lawu tidak akan bersedia membantu Kotaraja Demak,!" seru Tumenggung Bahu Reksa.
" Mengapa demikian Romo,?' tanya Lintang Sriwedari heran.
" Karena Panembahan Lawu lebih suka trah Pengging yg jadi penguasa di tanah jawa ini bukan dari Demak, mereka cenderung membenci dan mendendam kepada Demak ini, disebabkan oleh hadirnya Demak, Kerajaan Majapahit jadi runtuh,!" jelas Tumenggung Bahu Reksa.
" Memang kekuasaan itu dapat merubah sesuatu yg baik menjadi tidak baik, jika awalnya bersaudara dan berkerabat, gegara kekuasaan hilang tali persaudaraan dan kekerabatan, yg ada adalah musuh,!" ungkap Tumenggung Bahu Reksa sambil menarik nafas panjang.
" Sudahlah, kalian bertiga istrahatlah hari telah menjelang subuh,!" terdengar perintah dari Tumenggung Bahu Reksa kepada anak -anaknya itu.
Lintang Sandika dan Lintang Sriwedari segera menuju biliknya masing-masing, akan tetapi Raka Senggani tidak mengikuti mereka.
" Angger Senggani tidak ingin beristrahat,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.
" Tidak Paman Tumenggung, mumpung lagi di Kotaraja, Senggani ingin menunaikan sholat subuh di masjid Agung Demak itu,!'' ucap Raka Senggani.
" Kalau begitu silahkan angger membersihkan tubuh di pakiwan karena waktu subuh sebentar lagi tiba,!" ucap Tumenggung Bahu Reksa.
Kemudian Raka Senggani berangkat ke pakiwan untuk membersihkan tubuh nya yg seharian tidak mandi karena terus melakukan perjalanan.
Setelahnya kedua orang itu berangkat ke masjid Agung Demak yg tepat berada di pusat Kotaraja Demak itu, sesaat azan berkumandang dari dalam masjid Agung Demak itu.
Kemudian Tumenggung Bahu Reksa dan Raka Senggani sudah pun tiba di masjid itu.
Sholat subuh di masjid Agung Demak itu di imami oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.
Setelah selesai, Raka Senggani dan Tumenggung Bahu Reksa kembali pulang.
Sampai di kediaman Tumenggung Bahu Reksa hari sudah terang.
" Apakah angger Senggani tidak beristrahat barang sebentar,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa kepada Raka Senggani.
" Tidak Paman Tumenggung, hari pun telah siang lebih baik berjalan-jalan saja untuk melihat keadaan Kotaraja Demak ini, !" kata Raka Senggani.
" Silahkan Ngger, akan tetapi paman akan beristrahat sebentar,!" kata Tumenggung Bahu Reksa.
Raka Senggani Kemudian berjalan sendirian , ia menuju ke arah tenggara Kotaraja Demak itu.
Ia beberapa kali bertanya dimana letak desa Pucatan.
Setelah hari mulai menggatalkan kulit sampailah ia di desa Pucatan itu.
Kemudian ia menuju ke sebuah rumah yg berada tepat di pojokan dari sebuah tikungan.
Setelah itu Raka Senggani pun masuk kedalam pekarangan dari rumah tersebut.
" Assalamualaikum,!" ucap Raka Senggani ketika tiba di depan pendopo rumah itu.
" Wa 'alaikum salam,!" jawab seseorang dari dalam.
Terlihatlah keluar perempuan setengah baya dari dalam rumah.
" Mencari siapa Ngger,?" tanya perempuan itu.
" Apakah rumah ini milik Paman Kicak,?" tanya Raka Senggani.
" Benar, anak ini siapa ya,?" tanya perempuan itu lagi.
" Aku Raka Senggani, dari desa kenanga ingin bertemu dengan paman Kicak dan Mbok rondo,!" kata Raka Senggani lagi.
" Angger ini angger Senggani,?" tanya perempuan itu lagi.
" Benar Bi, aku Senggani dari desa kenanga,!" kata Raka Senggani lagi.
" Kang, kang , ini ada angger Senggani,!" teriak perempuan itu.
" Mari Ngger, mari silahkan masuk,!" ajak perempuan itu.
Raka Senggani pun naik ke atas pendopo rumah itu, dan tidak terlalu lama muncullah seorang lelaki paruh baya dari dalam.
" Siapa nyi, ?" tanya lelaki itu sambil menatap wajah Raka Senggani.
" Ini aku paman, Senggani, Raka Senggani,!" kata Raka Senggani.
" Hehh, kamu Raka Senggani,!" teriak orang itu seraya memeluk tubuh Raka Senggani.
" Sekarang dirimu sudah besar Senggani, gagah lagi,!" kata Lelaki itu sambil menepuk-nepuk pundak Raka Senggani.
" Terima kasih Paman, dimana Mbok rondo,?'' tanya Raka Senggani.
Lelaki yg bernama Kicak itu terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan dari Raka Senggani.
Sambil menghela nafasnya beberapa kali, barulah ia berkata,
" Si mbok telah meninggal dunia beberapa waktu yg lalu, ia juga pernah berkata masih berharap untuk bertemu denganmu, angger Senggani ," ucap Lelaki yg bernama Kicak.
" Si mbok telah meninggal dunia, inna lillahi wa inna ilaihi roji'un, kapan tepat nya Paman,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Mungkin sudah ada dua purnama,!" jawab Kicak.
" Bisa paman tunjukkan letak kuburan nya ,?" kata Raka Senggani.
" Bisa, bisa, nyi kami pergi dulu angger Senggani ingin pergi berziarah ke kuburannya si mbok,!" kata Paman Kicak.
" Iya Kang, jangan terlalu lama nanti makanan keburu dingin,!" jawab Nyi Kicak dari dalam.
" Mari Ngger,!" ajak Paman Kicak kepada Raka Senggani.
Kemudian kedua orang itu menuju tanah pekuburan yg ada di desa Pucatan. Tidak terlalu lama sampailah mereka di sebuah perkuburan yg berada di desa Pucatan tersebut.
" Itulah Ngger , makam si mbok,!' tunjuk Paman Kicak.
Raka Senggani kemudian mendekati kuburan itu, kemudian berjongkok di depan kuburan itu, sesaat kemudian mulutnya komat-kamit membacakan doa.
Terlihat dari sudut matanya mengambang bulir -bulir air mata.
Kemudian keduanya kembali lagi ke rumah Paman Kicak.
Di rumah paman Kicak telah tersedia makanan, yg telah disediakan oleh istri Paman Kicak. Keduanya beserta istri paman Kicak, segera menyantap hidangan itu.
" Ngger selama ini Si mbok teringat terus kepadamu, bahkan sebelum ajalnya menjelang, ia masih menyebut -nyebut namamu, Ngger ," kata Paman Kicak lagi.
" Sama Paman, Senggani pun demikian, setibanya di desa Kenanga, Senggani langsung menuju kerumahnya si mbok yg ada di pategalan itu akan tetapi yg Senggani jumpai disana sudah tidak ada orangnya,!" kata Raka Senggani.
" Setelah Senggani tanya kepada Ki lamiran ternyata SI mbok rondo ikut dengan Paman Kicak di sini,!" lanjut Raka Senggani.
" Memang SI mbok telah lama kami bawa kemari, karena di Kenanga ia tidak memiliki saudara, dan pategalan itu kami serahkan pengerjaannya kepada Kakang Lamiran,!" kata Paman Kicak.
" Oh iya, si mbok ada menitipkan surat untuk Angger Senggani, tunggu sebentar paman ambilkan,!" kata Paman Kicak.
Lelaki itu masuk kedalam dan membawa segulungan daun lontar dan menyerahkannya kepada Raka Senggani.
" Dan lagi SI mbok berpesan tanah Pategalan itu adalah milik Angger Senggani, dan kakang Lamiran pun sudah tahu akan hal ini,!" ucap Paman Kicak.
" Begitu besarnya perhatian si mbok kepada Senggani,!" ucap Raka Senggani.
" Terima kasih paman Kicak, pemberian ini sungguh sangat banyak, dan Senggani tidak bisa membalasnya,!" kata Raka Senggani.
" Tidak apa -apa Ngger, memang dalam hidup ini kita harus saling tolong menolong,!" ungkap Paman Kicak.
" Selama ini angger Senggani berada dimana,?" tanya istri paman Kicak.
" Cukup jauh ,Bi , ada di ujung timur,!" jawab Raka Senggani.
" Cukup lama juga Angger Senggani perginya,!" kata istri Paman Kicak.
" Hampir sepuluh tahun , Bi,,!" jawab Raka Senggani.
Ketiganya asyik mengobrol tentang masa lalu saat -saat Mbok rondo masih hidup dan masih tinggal di desa kenanga, banyak kenangan yg tertinggal di desa itu buat kedua suami istri, Ki Kicak dan istrinya, meski mereka tidak terlalu lama berada disana karena setelah menikah Ki Kicak pindah ke desa Pucatan tempat tinggal dari keluarga istrinya tersebut, sehingga tinggallah Si Mbok rondo di desa Kenanga sendirian.
Hampir satu harian Raka Senggani berada di desa Pucatan, ketika matahari telah condong ke barat, maka Raka Senggani pamit kepada Paman Kicak untuk kembali ke rumah Tumenggung Bahu Reksa, karena ia merasa telah terlalu lama perginya.
Dengan hati haru Paman Kicak dan istri nya melepas kepergian Raka Senggani yg sudah di anggapnya sebagai anaknya sendiri.
Ketika waktu menjelang malam sampai lah Raka Senggani di rumah Tumenggung Bahu Reksa itu.
" Waduh, paman pikir angger Senggani nyasar, dan tidak tahu jalan pulang,!" terdengar kelakar dari Tumenggung Bahu Reksa setelah melihat Raka Senggani kembali.
" Sebenarnya selain kemari, Senggani ingin bertemu dengan seseorang yg berada di desa Pucatan dan kebetulan orangnya sedang berada di rumah jadi ngobrolnya keterusan , Paman,!" jelas Raka Senggani.
" Kalau begitu silahkan angger Senggani mandi setelahnya kita bersantap malam bersama,!" kata Tumenggung Bahu Reksa.
" Baik, Paman Tumenggung,!" jawab Raka Senggani dan langsung menuju ke pakiwan untuk mandi .
Kemudian keluarga Tumenggung Bahu Reksa itu menjamu Raka Senggani.
Kembali malam itu mereka menghabiskan malam dengan mengobrol panjang lebar tentang keadaan kerajaan Demak itu.
Namun kali ini setelah masuk tengah malam mereka langsung tidur untuk beristrahat karena hampir sehari semalam mereka tidak tidur terutama bagi Raka Senggani.
Keesokan harinya, Raka Senggani sebenarnya ingin pamitan dari rumah Tumenggung Bahu Reksa tersebut namun masih di cegah oleh sang Tumenggung, ia meminta kepada Raka Senggani untuk bermalam satu malam lagi dirumahnya, dan permintaan itu di turuti oleh Raka Senggani.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Vhie Chuevie
mntap
2023-09-02
4
Wak Jon
✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌
2022-10-16
2
Wira Yoga
😥😥😥
2022-09-27
2