Setelah mengantarkan Sari Kemuning pulang, Raka Senggani menyempatkan untuk singgah di rumah Bekel Kenanga.
Disana ia masih bertemu dengan Ki Lamiran yg tengah asyik mengobrol dengan Ki Bekel.
" Mari silahkan masuk, Angger Senggani, ada yg ingin Aku tanyakan kepadamu, Ngger,!" ucap Bekel Kenanga tersebut.
" Apa itu, Ki Bekel?" tanya Raka Senggani.
" Begini, menurut kakang Lamiran , angger Senggani telah melihat ada gerombolan rampok yg tengah mengintai desa kita ini, benarkah demikian Ngger,?" tanya Ki Bekel.
" Sepertinya demikian, Ki , akan tetapi menurut Senggani kita tidak usah terlalu terburu -buru untuk mengatasi nya, karena justru akan menyulitkan kita sendiri,!" jawab Raka Senggani.
" Mengapa demikian, Ngger, lebih cepat kan lebih baik, sehingga mereka belum sempat menyusun rencana dengan baik, kita telah mendahului mereka,!" kata Ki Bekel làgi.
Raka Senggani memutar otaknya agar bisa menjelaskan duduk permasalahan nya, dan supaya Ki Bekel bisa memahami dengan rencananya.
" Begini Ki, berhubung mereka telah berbaur di desa kenanga ini, jadi kita tentu agak sulit menentukan mana kawan dan mana lawan, sehingga jika kita berusaha menyerang mereka di khawatirkan, mereka malah menusuk kita dari belakang, karena kita tidak tahu siapa saja mereka,!" jelas Raka Senggani kepada Bekel Kenanga.
" Maksud Angger Senggani bagaimana, Aku spertinya kurang faham,?" tanya Ki Bekel kepada Raka Senggani.
" Maksud Senggani, bahwa sebagian besar anggota mereka telah ada di antara kita, jika kita melakukan penyergapan atas kelompok mereka yg ada di hutan sana, sementara sebagian mereka yg ikut ke sana menikam kita dari belakang, jadi kita tentu akan mengalami kesulitan untuk menghadapi nya, lebih baik kita tunggu mereka yg keluar dan menyerang masuk kemari baru kita jelas mana kawan dan mana lawan, karena banyak di antara mereka berada di rumah Juragan Tarya, entah seluruh pengawal Juragan Tarya itu anggota mereka semua atau sebahagian kecil saja, kita tidak tahu pasti,!" jelas Raka Senggani.
" Untuk itu, besok Senggani akan melapor ke kotaraja Demak, mudah mudahan kita akan dapat bantuan dari sana, meskipun rasa -rasanya itu sulit,!" kata putra Raka Jaya itu.
" Memang sebaiknya kita berusaha adi Bekel, karena apa pun itu ada yg telah menggariskannya, tugas kita cuma berusaha dan berdoa,!" kata Ki Lamiran.
" Oh, iya Ki, berapa kekuatan dari pengawal desa kenanga ini,?" tanya Raka Senggani kepada Ki Bekel.
" Mungkin kurang dari dua puluh orang yg benar -benar bisa diandalkan karena kemampuannya, selebihnya hanya untuk diperbantukan saja,!" jawab Bekel Kenanga itu.
" Termasuk juga dengan Sura Birono,?" tanya Raka Senggani.
" Yah, Sura Bironolah yg paling diandalkan di Kenanga ini, oleh sebab itu ia kami angkat sebagai kepala pengawal desa kenanga ini, mengapa Ngger, ada yg salah dengan anak muda itu,?" tanya Ki Bekel kepada Raka Senggani.
" Tidak Ki, tidak ada yg salah dengan Sura Birono, Senggani bertanya demikian supaya dapat menentukan cara apa agar desa kenanga ini mampu menahan serangan dari para perampok itu yg tampaknya cukup lumayan ilmu nya selain keganasannya!" jawab Raka Senggani.
" Baiklah Ki Bekel, setelah kembali dari Kotaraja, kita akan membahas ini lagi, izinkanlah kami untuk pulang karena hari pun telah sore,!" kata Raka Senggani.
" Ya, silahkan Ngger dan kakang Lamiran, kita berdoa semoga desa kenanga ini tetap dalam keadaan aman,!" kata Ki Bekel.
" Mudah -mudahan,!" jawab kedua orang itu.
Selanjutnya Raka Senggani dan Ki Lamiran kembali ke rumahnya.
Suasana di desa Kenanga terlihat mulai gelap dengan cahaya semburat berwarna jingga dari ufuk barat yg semakin meredup, jalan -jalan di desa kenanga itu pun terlihat mulai sepi dari lalu lalang orang, mereka sudah berada di rumahnya masing -masing.
Setelah sampai di rumah Ki Lamiran, Raka Senggani langsung menyalakan lampu yg tergantung itu dengan minyak jarak.
Setelah membersihkan tubuhnya di pakiwan, Raka Senggani langsung melaksanakan sholat, baru setelahnya kedua orang itu bersantap , makan malam.
" Yang akan angger temui itu bernama Tumenggung Bahu Reksa, ia merupakan salah seorang perwira Demak yg cukup di segani, ini surat langsung serahkan ketangannya,!" kata Ki Lamiran sambil menyerahkan sebuah gulungan lontar kepada Raka Senggani.
" Jadi setelah dari rumah Tumenggung Bahu Reksa, Senggani langsung pulang,?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lamiran.
" Itu terserah angger Senggani, namun jika ingin menyambangi rumah anak dari Mbok rondo, angger pun bisa langsung menuju ke desa pucatan di tenggaranya Kota Raja, tidak terlalu jauh dari sana,!" kata Ki Lamiran.
" Baiklah, setelah dari rumah Tumenggung Bahu Reksa , Senggani akan mampir di rumah Mbok rondo, mudah mudahan masih bisa bertemu dengannya,!" ujar Raka Senggani.
" Mudah -mudahan,!" kata Ki Lamiran.
Setelah sholat isya, Raka Senggani langsung berusaha untuk istrahat karena besok pagi pagi sekali ia harus berangkat ke kotaraja Demak di utara desa kenanga itu.
Keesokan harinya setelah selesai sholat subuh, maka Raka Senggani pun berjalan meninggalkan desa Kenanga itu menuju ke Kotaraja Demak.
Ia hanya berjalan kaki tanpa mempegunakan Kuda, karena memang hewan tunggangan itu tidak ada di rumah dari Ki Lamiran, hanya beberapa orang saja yg memilikinya di desa Kenanga itu.
Jarak yg di tempuh mungkin membutuhkan waktu dua hari dengan berjalan kaki.
Namun buat Raka Senggani itu bukan persoalan, karena ia telah terbiasa melakukannya.
Setelah seharian berjalan sampailah Raka Senggani di sebuah hutan yg lumayan lebat.
Ia pun segera mencari tempat untuk beristrahat sambil membuka bekal yg di bawanya dari rumah.
Sementara mentaripun telah beranjak keperaduanya. Raka Senggani mencari tempat berteduh di sebuah cabang pohon dekat dengan jalan, sehingga ia akan dengan mudah melihat orang yg akan lewat.
Selain merasa lebih aman, di tempat itu juga Raka Senggani akan dapat melihat dengan jelas siapa saja yg akan lewat dari tempat itu.
Ketika malam mulai beranjak, tiba -tiba telinga Raka Senggani mendengar suara derap langkah kaki kuda yg menuju ketempatnya, dari atas pohon tampaklah dua orang penunggang kuda, memacu kudanya dengan sangat cepat seperti ingin cepat sampai pada suatu tempat.
Dan setelah melewati pohon yg di tumpangi oleh Raka Senggani itu, jalan kaki -kaki Kuda tetap dipacu, padahal telah memasuki ke dalam hutan yg cukup gelap.
Tidak terlalu lama, tiba -tiba, terdengar suara,
" Hehh, berhenti kalian berdua, cepat serahkan kuda -kuda kalian serta barang bawaan,!" terdengar suara lantang ber kata.
" Minggirlah dari jalan kami, kami tidak punya urusan dengan kalian, jangan sampai pedang-pedang kami yg akan bicara,!" jawab penunggang kuda itu.
" Hehh, kalian belum kenal dengan kami, ini adalah alas kekuasaan kami, siapa yg lewat dari sini harus membayar upeti, tidak terkecuali kalian berdua,!" kata orang yg menghadang itu.
" Memangnya kalian siapa, apakah hak kalian atas hutan ini, karena ini masih kekuasaan Demak, jadi jangan sembarangan mengatakan ini adalah kekuasaan kalian,!'' jawab penunggang kuda tersebut.
" Sudahlah adi Sumolangu, cepat habisi saja kedua orang itu, tidak usah beri ampun,!" kata salah seorang yg menghadang itu kepada temannya.
" Baik Kakang Sumolewu, memang kedua orang ini sudah sepatutnya di beri pelajaran biar tahu unggah ungguh kalau mau lewat dari sini,!" jawab yg satunya lagi yg bernama Sumolangu.
" Cepatlah , keburu ada orang yg datang, kulihat salah seorang dari mereka memiliki keris yg bagus dengan di balut berlian pada gagangnya demikian pula timangnya, jadi segera habisi kedua orang itu,!" terdengar perintah dari temannya yg bernama Sumolewu itu.
" Baik, Heyyaahh,!" teriak salah seorang penghadang itu yg bernama Sumolangu.
Orang tersebut segera menerjang salah seorang penunggang kuda itu dengan goloknya.
" Hati -hati kakang , spertinya mereka bukan perampok sembarangan,!" ucap salah seorang penunggang kuda itu yg ternyata seorang perempuan.
" Benar adi, tampaknya mereka memang bukan perampok sembarangan, huufhh, Hiyyat,!" teriak salah seorang penunggang kuda yg lelaki , menghindari serangan-serangan dari perampok Sumolangu tersebut.
Keduanya segera terlibat pertarungan di hutan tersebut, dengan di terangi cahaya bulan yg temaram, nampaklah tandang perampok yg bernama Sumolangu amat ganas.
" Heyaah, Heyyaahh, heyyaahh,!" teriak nya,
Segera saja deru golok di tangan Sumolangu itu berputar dengan cepat menyambar tubuh dari penunggang kuda itu.
Sementara sang penunggang kuda itu pun rupanya memiliki cukup bekal untuk mengatasi serangan -serangan dari rampok yg bernama Sumolangu itu.
" Hahh, terlalu lama engkau adi Sumolangu, hanya untuk menghabisi seekor cecurut, serahkan kepada ku,!" teriak salah seorang perampok yg menghadang itu.
Kemudian perampok yg bernama Sumolewu itu segera ikut menyerang pemuda yg menunggang kuda tersebut.
Alhasil pemuda itu terdesak dengan hebat akibat dari serangan dari orang yg bernama Sumolewu itu.
" Curang kalian curang , terima ini,!'' teriak penunggang kuda yg ternyata seorang perempuan itu.
Perempuan itu melemparkan tiga buah pisau kecil untuk meredam serangan dari kedua perampok itu.
" Tak, tak, tak," terdengar suara dari pisau - pisau berjatuhan.
Golok dari rampok Sumolewu itu berhasil memukul jatuh semua pisau -pisau ke tanah.
Melihat serangannya tidak berhasil menemui sasarannya ,kemudian selanjutnya perempuan itu pun turun membantu temannya, sehingga pertarungan terjadi di dua kalangan.
Pertama, perampok yg bernama Sumolangu berhadapan dengan perempuan penunggang kuda , dan temannya yg bernama Sumolewu berhadapan dengan yg lelaki dari penunggang kuda itu.
Pijaran kembang api mewarnai setiap senjata itu beradu.
" Hemmh, ternyata tenaga dalam ini masih diatasku,!" kata penunggang kuda yg lelaki itu dalam hati.
" Ternyata ilmu bocah ini boleh juga,!" kata Sumolewu dalam hati.
Kembali kelebatan-kelebatan golok dari Sumolewu mengurung penunggang kuda itu.
" Kalau terus -terusan begini, aku bisa kalah ,!" kata si penunggang kuda itu dalam hati.
Dalam satu lompatan yg panjang ia berhasil mendekati temannya yg perempuan sambil berbisik ia berkata,
" Adi wedari kita harus bertempur berpasangan, ilmu kedua rampok ini cukup tinggi, !''
" Baik Kakang Sandika, !" jawab yg perempuan.
Keduanya kembali bertarung namun kali ini mereka saling is mengisi, satu dengan yg lainnya sehingga serangan dari dua rampok itu masih dapat dimentahkan.
" Adi Sumolangu, segera pisahkan mereka,!" teriak Sumolewu kepada adiknya itu .
" Baik Kakang,!" jawab Sumolangu.
Sumolangu yg faham dengan maksud dari Sunolewu itu , segera melibat penunggang kuda yg perempuan bernama Wedari itu, terlihat perempuan itu beberpa kali harus melompat menjauh untuk menghindari serangan lawan nya, membuat pertahanan yg mereka bangun bersama temannya yg bernama Sandika itu pecah.
Kembali kedua rampok itu berhasil mendesak keduanya setelah terjadi pertarungan satu lawan satu.
Hingga suatu ketika,
" Aaakkhh,!" teriak penunggang kuda yg bernama Sandika itu.
Telihat pundak pemuda itu mengucurkan darah,dan ternyata golok Sumolewu berhasil merobek pundak pemuda itu.
Ia berusaha melompat menjauh menghindari serangan lanjutan, akan tetapi Sumolewu tidak menyia - nyiakan kesempatan, ia terus berusaha mengurung pemuda itu yg terlihat sudah kelelahan akibat banyaknya darah keluar.
Sebuah tendangan mengarah perut pemuda itu tidak dapat dihindarkannya lagi,
" Dieeggkh,"
Pemuda yg bernama Sandika itu jatuh tertelungkup.dan mencium tanah.
Melihat lawannya sudah terjatuh , Sumolewu segera melesat hendak mengahabisi pemuda itu.
" Hiyyaaaat,!" teriak Sumolewu.
Goloknya segera mengarah ke leher pemuda yg sedang jatuh ter elungkup, dan sesaat kemudian,
" Takkk,!"
Sebuah ranting kecil menghalangi golok Sumolewu yg ingin memenggal leher pemuda yg bernama Sandika itu.
Golok Sumolewu sampai patah ujung nya.
" Hehh, siapa orangnya yg ingin bermain -main dengan Sumolewu , cepat keluar ,!" teriak Sumolewu dengan geramnya.
Ia menyadari bahwa ada orang lain yg turut campur dengan urusannya.
Teriakan Sumolewu itu sampai menghentikan pertarungan antara Sumolangu dan Wedari.
" Ada apa kakang Sumolewu,?' tanya Sumolangu.
" Ada orang yg sudah bosan hidup, ia turut campur dengan urusan Sumolewu,!" jawab Sumolewu
" Cepat keluar, atau Kubakar seluruh hutan ini,!" teriak Sumolewu lagi.
Setelah terdengar teriakan dari Sumolewu, tidak terlalu lama kemudian melesatlah sesosok tubuh dari sebuah batang pohon yg cukup tinggi , mendarat tepat di depan Sumolewu.
" Aku sangat tidak suka melihat ada orang yg akan membunuh lawannya ketika tidak berdaya,!" ucap orang itu yg tiada lain adalah Raka Senggani.
" Apa urusanmu, jika aku ingin membunuh orang yg lagi pingsan, bukankah itu sah dalam sebuah pertarungan,!" jawab Sumolewu.
" Sah, tetapi bukan tindakan seorang ksatria, itu adalah tindakan seorang pengecut dan hanya pantas di sandang oleh seorang pecundang,!" balas Raka Senggani.
" ******, kau berani menghinaku, ini Sumolewu bukan seorang pecundang, bersiaplah menyusulnya, hiyyah,!" sehabis ucapannya itu Sumolewu langsung menyerang Raka Senggani.
Golok Sumolewu kembali berputar cepat Laksana gasingan.
Perampok itu tersengat hatinya karena disebut pecundang oleh Raka Senggani.
Maka serangan-serangannya pun langsung pada titik-titik yg mematikan.
Namun dengan mudahnya semua serangan itu di mentahkan oleh Raka Senggani dengan senjata serulingnya.
Pertarungan kedua orang itu menyedot perhatian Sumolangu, karena dalam pandanganya, kakaknya itu di bawah dari lawannya tersebut.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Lintang sri Wedari untuk menolong kakaknya sedang pingsan tersebut.
Ia membalikkan tubuh Lintang Sandika dan menggesernya dari tempat itu.
Ia membersihkan wajah Lintang Sandika kakaknya itu yg penuh dengan debu yg menutupi wajahnya.
Lintang Sri Wedari pun membersihkan luka yg ada di pundak dari kakaknya itu.
Serta membalut luka itu dengan sebuah kain bersih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
mc kalu bertarung sama begal gk perlu sopan hajar sampai habis.
2024-11-14
0
Dani Mardani
seru nih lanjuttt
2023-08-10
3
Carles Wijayanto
up
2023-02-26
2