Tamu Tak di Undang 2

“Aku bukan sapi yang mudah di peras” sahut Haris di depan pintu sambil menenteng beberapa box pizza, beberapa botol coca cola dan kantong kertas berisi humberger “Siapa yang mesan ini?”

“Gua. Buat temen nonton bola, makasih ya sudah di traktir” Rehan nyengir kuda.

“Jarang-jarangkan kami ke sini, lagian anggap aja itu pajak karena kamu sudah di promosikan” Ardi mengambil sepotong pizza yang diletakkan Haris di atas meja.

Haris tersenyum masam lalu duduk di sampingku dengan membawa dua potong pizza “Aku ingin mengajakmu nonton film tapi malah begini jadinya, kita malah terjebak di antara perusuh.” gerutunya lalu memberikan sepotong pizza kepadaku.

“Memangnya kamu ingin mengajakku kemana?” aku menerima pizza lalu memakannya. Ini pertama kalinya aku memakan fast food setelah sekian lama menghindarinya.

“Ke bioskop, sekarang kan malam minggu. Ngenes banget malah terdampar di sini bareng mereka, seruan nonton kemudian jalan-jalan di mall” bisik Haris supaya tidak terdengar oleh teman-temannya, aku hanya tertawa menanggapinya. 

Aku membersihkan tangan dengan tissue dari sisa-sisa saus yang menempel di tangan, terlalu banyak informasi yang baru saja aku dengar dari teman-temannya malah membuatku kelelahan dan mengantuk, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang saja dari pada ke bioskop. “Lebih baik kamu antar aku pulang sekarang dari pada ke bioskop, aku terlalu mengantuk hingga bisa tertidur kapan saja.” aku tidak bisa lagi menahan kuap.

“Bukannya tadi sore kamu sudah tidur?” tanya Haris.

“Nggak tahu juga, mungkin efek kekenyangan.” aku berusaha menahan kuap dengan tangan.

Haris melirik jam yang ada di atas TV “Aku tidak tahu sekarang sudah jam setengah sepuluh, bagaimana kalau kamu nginap di rumah ini saja? lagi pula di sini banyak kamar kosong” teman-teman Haris saling pandang ketika mendengar itu dan pura-pura tidak mendengar perkataannya.

Aku sedikit tidak focus jadi entah apa yang sudah merasuki kepalaku hingga aku  mengangguk begitu saja, aku mengikuti Haris ke ruang tengah dan membimbingku ke kamar tamu yang terletak di samping tangga. Aku masuk ke kamar setelah Haris dan dia mengambilkan sebuah jubah mandi yang bisa aku gunakan untuk tidur, diam-diam Haris meninggalkanku untuk beristirahat.

Setelah mencuci muka dan mengenakan jubah, aku merangkak ke tempat tidur dan langsung terlelap begitu menyentuh bantal. 

 

Haris

“Kamu menyukainya kan?” tanya Ardi begitu aku muncul dari balik pintu.

“Apakah terlihat sejelas itu?” aku bergabung dengan mereka, mengelilingi meja yang di penuhi dengan makanan cepat saji.

“Orang buta juga bisa melihatnya, bahkan jika di lihat dari atas monas menggunakan sedotan pun akan kelihatan kalau lu menyukainya” Rehan menimpali.

Aku menghela nafas prustasi, “menurut kalian begitu, tapi buktinya dia nggak menyadari kalau aku menyukainya.”

“Yang perlu kamu lakukan hanya mengungkapkan perasaanmu, bro.” Nadhal mengambil burger lalu memakannya.

“Apa perlu gua ajari bagaimana cara menaklukkan hati wanita?” sahut Rehan, matanya focus kearah TV.

“Nggak perlu, aku bisa mengurusnya sendiri.” ponselku bergetar, wajah Dian yang menjulurkan lidahnya ke arahku menghiasi layar ponsel. “Halo, Raden Ajeng Dian Sastro Widioningrat, apa kabar?” sapaku, aku mengarahkan kamera ke teman-teman yang ada di belakangku.

“Hai guys, kalian lagi ngapain di rumah Tama?” sapa Dian.

“Hai D, lu ganggu kita-kita nonton bola, syuhh…syuhh” usir Rehan dengan tangan lalu kembali focus dengan tayangan yang ada di depannya.

“Siapa juga yang mau bicara dengan kalian.” Omel Dian lalu menampilkan wajah cemberut ke arahku “Nggak kalian, nggak Reno semua sama, nonton bola dan gue di kacangin. Bikin bete.”

“Jadi kamu video call cuma mau marah-marah sama aku?” aku keluar dari ruang keluarga karena teriakan mereka bisa mengalahkan teriakan supporter bola di stadion GBK.

“Nggak sih, cuma mau nanyain kabar lo aja.”

Aku ke dapur kemudian membuka kulkas lalu menuangkan jus jeruk ke gelas yang sudah aku letakkan di atas meja “Gimana kabar tunanganmu?”

“Dia baik-baik saja, masih sibuk kerja”

“Kapan nikahnya nih, tunangan sudah lama tapi belum nikah juga.” aku menarik kursi lalu duduk di depan meja makan.

“Reno ngajak nikah tahun depan, lo sendiri kapan nikah?”

“Nantilah, aku masih nyari yang klop di hati.” sayup-sayup terdengar suara sorak-sorai di ruang keluarga, rumah jadi berisik kalau ada mereka.

“Memangnya lo sudah punya calon? Kalau belum, gue bisa ngenalin lo ke adek gue, siapa tahu cocok.”

 “Nggak usah D, aku sudah punya wanita yang aku sukai.”

Dian tertawa, “Cepat juga move on nya, gue kira lo masih patah hati karena di selingkuhi Aretha.”

“Patah hati nggak usah lama-lama. Kalaupun aku menikah dengan Aretha, aku nggak bisa menjamin akan berhasil.” aku ikut tertawa.

“Iya sih, mengingat betapa Bucinnya lo saat pacaran dengannya sampai percaya dengan semua perkataannya dan rela di selingkuhi. Gue yakin banget hubungan seperti itu nggak akan bertahan.”

“Nggak usah di bahas lagi, semua itu sudah masa lalu. Sekarang aku sudah punya wanita yang aku sukai.”

“Gue ikut senang mendengarnya, semoga yang ini bertahan ya. Kalau lo putus lagi langsung kabari gue, nanti gue kenalin sama adek gue, siapa tahu cocok.”

“Baru juga pendekatan sudah di doakan yang nggak baik, kamu niat nggak sih ngasih selamat?” tanyaku masam.

“Lo tahu kan gue care dengan hubungan yang berusaha lo bangun, di antara kita berlima cuma lo yang masih jomblo. Gue nggak perduli dengan Nadhal yang suka gonta-ganti cewek atau Ardi yang suka keluar-masuk clubbing, itu urusan mereka. Gue cuma care sama lo dan pengen lo bahagia, jadi hubungi gue kalau hubungan lo yang ini juga nggak berhasil, nanti gue kenalin dengan adek gue.” jelas Dian.

“Aku yakin yang ini bertahan D, kamu nggak perlu khawatir.” Samar-samar terdengar teriakan gol dari arah ruang keluarga. Aku tidak khawatir dengan penolakan Riana saat aku menyatakan perasaanku, justru yang paling aku khawatirkan sekarang adalah Riana terganggu dengan kehebohan para perusuh itu karena ruang keluarga bersebelahan dengan kamar tamu yang sekarang di tempatinya.

“Yah malah bengong, dari tadi gue ngomong nggak di dengerin.” gerutu Dian.

“Kamu bicara apa tadi?” tanyaku balik, aku resah dengan keributan itu hingga pikiranku berceceran kemana-mana.

“Gue tunggu pajak jadiannya, lo harus traktir gue yang mahal-mahal.” ulang Dian.

“Aduh D, kamu salah orang kalau ingin morotin cowok.” keluhku.

“Gue nggak mau tahu, besok gue ke Jogja dan lo harus mentraktir gue yang mahal-mahal.” kata Dian nggak mau kalah.

“Oke Raden Ajeng Dian Sastro Widioningrat, nanti aku traktir.” sahutku masam.

“Sudah ya gue mau tidur, besok pagi-pagi sekali gue harus ke bandara.” Dian menguap lebar.

“Jangan terlalu sibuk D, apa gunanya punya tunangan kalau nggak bisa di manfaatin buat nyari uang.”

“Reno kan statusnya masih tunangan. Kalau dia sudah naik pangkat jadi suami, baru gue akan mengurangi kerjaan di kantor.” Dian tertawa dengan leluconnya sendiri, “Sudah dulu ya, bye.” wajah Dian kemudian menghilang dari layar ponselku.

 Aku terdiam cukup lama di meja makan kemudian mengambil selimut cadangan dan bantal di kamar untuk teman-temanku yang akan menginap. Aku membawa Riana ke sini niatnya untuk makan malam bareng dan mengajaknya nonton di bioskop mumpung sekarang lagi malam minggu, sialnya aku malah terjebak di antara para perusuh. Nasib… nasib.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!