Si DIA 1

Nita sudah siap dengan celana yoga dan sport branya yang dilapisi dengan Hoodie parasut berwarna biru dongker, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. sedangkan aku tidak seberani itu, aku hanya mengenakan tank top dan melapisinya dengan Hoodie. Aku berniat tidak akan melepaskannya walaupun aku kepanasan dan keringatku membanjiri seluruh tubuhku.

Aku menatap Nita yang sudah melepaskan Hoodienya di sampingku, dia menampilkan perut rata hasil olahraganya yang membuatku minder. Aku sudah berlari selama 15 menit dan mulai kepayahan, aku mulai memperlambat kecepatan untuk berjalan selama lima menit. Sedangkan Nita masih terus berlari di atas treadmillnya sambil mendengarkan musik.

Kami terdampar di gym ini dari pukul 7 pagi. Pagi-pagi sekali Nita membangunkanku untuk beribadah lalu menyeretku untuk berolahraga, sesuatu yang jarang kulakukan, biasanya aku berolahraga diatas pukul 9. Ketika mengetahui itu Nita mulai menancapkan kukunya, dia mulai menasehatiku pentingnya bangun pagi dan beribadah. Apa katanya tadi? Bangun pagi bisa menjaga kesehatan fisik dan mental. Emangnya aku memiliki gangguan jiwa apa? Aku emang ingin sehat tapi aku nggak gila, ketika aku berkata begitu Nita malah marah-marah, bukannya aku gila tapi katanya aku kurang bahagia karena tekanan hidup. Ya memang benar sih, aku memang kurang bahagia dan kurang menikmati hidup, tapi kan sekarang aku berusaha untuk bersantai dan tidak memikirkan problema hidupku.

Aku duduk di lantai kemudian meluruskan kakiku agar tidak kram, sesuatu yang harus kulakukan setelah berlari. Aku minum dari botolku dan mulai memijat-mijat betisku sebelum ke sesi selanjutnya. Aku merasakan bahuku di tepuk dari belakang kemudian orang yang menepuk bahuku itu ikut berselonjor disampingku.

“Tumben kesini pagi-pagi? biasanya kan diatas jam 9?” tanya Haris.

Aku menatap Haris curiga, kenapa orang yang baru kukenal tahu kapan aku nge-gym? Itu sungguh mengerikan.

“Aku bukan penguntit ya” katanya saat melihat tatapanku yang penuh dengan kecurigaan sambil mengangkat kedua tangan seperti seseorang yang menyerah dalam peperangan “Tapi mau bagaimana lagi, pertama kali datang kesini kamu terlihat seperti orang yang salah tempat yang tidak tahu apa yang harus dilakukan, kelihatan banget nggak pernah nge-gym. Baru beberapa hari kemudian kamu bisa menggunakan alat-alat itu dan kamu selalu datang diatas jam 9 setiap kali aku latihan”

“Kamu memperhatikanku?”                  

Haris cuma nyengir saat mendengar nada suaraku yang menggerutu “Maaf deh, kedatanganmu selalu menarik perhatian ketika aku latihan.” 

“Memangnya kamu latihan berapa kali dalam seminggu?” tanyaku penasaran.

“Setiap hari setelah hari kerja kecuali di akhir pekan” jawabnya santai sambil minum air dari botolnya.

“Sebanyak itu?” seruku tidak percaya. Aku tidak tahu orang sekurus ini bisa olahraga setiap hari setelah mengamatinya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, dilihat dari bentuk tubuhnya yang tidak ada lemak sedikitpun –yang isinya mungkin otot semua—bisa saja terjadi.

Haris tertawa melihat reaksiku yang berlebihan “Kenapa kamu terkejut? Aku sudah melakukan rutinitas ini bertahun-tahun jadi sudah terbiasa, aku duga kamu latihan cuma dua kali seminggu di akhir pekan”

“Tiga kali dengan hari senin” jawabku sambil berdiri, Haris juga ikut berdiri “By the way aku hutang terima kasih sama kamu, kalau kamu nggak keberatan aku ingin mentraktirmu makan siang”

“Hutang yang mana?”

“Yang waktu itu, saat kamu menemukan kunci kosku”

“Oohh yang itu, nggak usah dipikirkan aku cuma menolong saja” kata Haris sambil mengibaskan tangannya seakan-akan itu tidak penting.

“Tapi aku juga hutang permintaan maaf sudah menuduhmu penguntit” wajah Haris seketika berubah cerah mendengar ucapanku.

“Nah kalau itu lain cerita, kamu memang harus mentraktirku untuk itu” ucap Haris sambil mengedipkan matanya.

Aku hanya mendengus saat mendengar ucapannya dan pada saat itu aku melihat Nita turun dari treadmill “Oke aku harus kembali latihan  lagi sebelum orang itu menyeret dan memaksaku melakukan angkat beban yang bisa membuat tulang-tulangku patah” Haris mengikuti arah pandanganku.

“Memangnya bisa?” tanya Haris keheranan.

“Dia bisa melakukan apapun yang dia mau” aku mengambil ponsel di balik hoodie “berapa nomor teleponmu?” tanyaku.

Haris menatapku sebelum  menyebutkan nomor teleponnya “Bagaimana kalau hari ini saja? Kebetulan aku nggak punya acara setelah latihan”

Aku menatap Nita sejenak sebelum berkata ”Oke nanti aku telpon dimana tempatnya” aku melihat Nita melotot menatapku. Kacau.

“See you, aku tunggu traktirannya” setelah Haris menghilang di balik alat Leg Press Machine, Nita langsung menyeretku keruang ganti cewek.

“Siapa laki-laki yang  bersama lo tadi?” semprot Nita begitu kami sampai di ruang ganti.

Nah kan, kacau. Aku tidak bisa mengaku tidak kenal dengan Haris atau pura-pura lupa ingatan, aku juga tidak bisa melarikan diri dari pandangan Nita yang menusuk seakan-akan dia ingin melahapku jika aku tidak mengaku.

“Ohh si Haris” aku tertawa dengan gugup “Kemarin dia menemukan kunci kamar gue yang hilang”

Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi tiba-tiba saja Nita mengguncang-guncang badanku “Riana! Kenapa lo nggak bilang kenal dengan laki-laki setampan itu?” seru Nita sambil tertawa “Lo nggak perlu lagi susah-susah nyari laki-laki yang bisa di ajak ngedate” Aku sangat bingung dengan reaksi Nita, barusan dia memelototiku tapi sedetik kemudian dia malah tertawa terbahak-bahak seperti orang gila sampai menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar kami.

“Lo gila ya, gue baru kenal sama dia” bisikku lalu menyeretnya kepojok loker supaya tidak menimbulkan keributan.

“Lalu?” Nita menaikkan alisnya.

“Gue baru ketemu dia dua kali, itu pun nggak sengaja. Masa lo nyuruh gue ngedate sama dia? Gue nggak mau, gue bukan elo ya yang berani ngajak ngedate duluan” gerutuku.

“Ya sudah kalo lo nggak mau” kata Nita lalu mendorongku kembali keluar dari ruang ganti “Balik latihan, lo harus mengeluarkan keringat hari ini sebelum kita makan gudeg”

Aku menatap Nita yang mendorong bahuku dari belakang “Tadi gue ngajak Haris makan siang bareng karena gue hutang permintaan maaf sama dia, lo nggak keberatan kan?” Seketika itu juga aku merasakan pukulan Nita mendarat di punggungku dengan keras.

∞∞∞

 

Setelah menggunakan static bicyle selama 15 menit, aku mulai kehabisan nafas. Hari ini Nita benar-benar memaksaku mengeluarkan keringat, aku mulai kepayahan dan mengibarkan bendera putih tinggi-tinggi. Beberapa kali aku melihat Haris yang ingin menghampiriku tapi batal di detik-detik terakhir dan hanya bisa menatapku kasihan dari tempatnya berlatih.

“Ta… gue… sudah… nggak sanggup… lagi” ucapku di sela-sela nafas yang berkejaran, hoodieku  sudah terlepas dan kuikat di pinggulku.

Nita menatap jam yang ada di pergelangan tangannya “Cukup untuk hari ini” dia meregangkan badannya setelah menggunakan Leg Press Machine dan dumbbell.

Aku duduk di atas matras sambil memijat betisku yang sudah menjerit-jerit kesakitan karena dipaksa untuk mengayuh terus-menerus tanpa berhenti. Nita juga ikut duduk dan meluruskan kakinya, dia melakukan peregangan dengan cara menyentuh jari-jari kaki dengan tangan. aku juga mulai melakukan pendinginan untuk menormalkan suhu tubuhku.

“Yan gue laper nih, enaknya makan apa ya? gue pengen banget makan gudeg” kata Nita.

“Ini baru jam sembilan Ta, belum waktunya makan siang”

“Tapi gue laper” ucap Nita dengan wajah memelas.

“Nanti beli cemilan aja di jalan” aku menguap “Ayo pulang, gue pengen tidur dulu, tulang-tulang gue rasanya mau copot semua.” Aku berdiri sambil meregangkan badanku sambil mencari-cari keberadaan Haris yang entah berada di mana.

“Heran deh yang ada di pikiran lo pasti tidur siang, pantesan lo jadi makhluk nokturnal yang kerjaannya selalu melek di malam hari,” gerutu Nita.

“Mendingan gue, lha elo pikirannya makanan terus,” sahutku nggak mau kalah.

Kami berjalan bersisihan sambil mendiskusikan menu makan siang kami. Nita ingin makan gudeg, jadi kami putuskan untuk makan di Gudeg Bu Hj. Amad saja. Mudah-mudahan Haris tidak keberatan makan di Gudeg Bu Hj. Amad, kalau dia keberatan aku bisa mentraktirnya di lain waktu. Tanpa sengaja aku melihat Haris sedang menggunakan cable machine tidak jauh dari tempatku sekarang. Aku terdiam di tempatku berdiri dan tidak mendengarkan ucapan Nita karena terkesima dengan apa yang barusan aku lihat. Wow aku tidak tahu laki-laki yang sedang berolahraga bisa terlihat seksi?

“Tutup mulut, Yan. Lo terlihat seperti ingin menangkap lalat dengan mulut lo” kata Nita begitu tahu penyebabku berhenti melangkah, dia tertawa melihat reaksiku dan ikut memandangi Haris yang sedang latihan.

Aku langsung mengatupkan bibirku rapat-rapat, berusaha mengabaikan Nita yang menggodaku habis-habisan. Ketika Haris menatapku, aku hanya melambai dan bergegas ke ruang ganti.

Nita menyusulku “Gilaa cakep banget temen lo, seandainya gue belum tunangan sama Rogi, sudah gue ajak kenalan”

“Bentar lagi elo juga kenalan sama dia” ucapku santai sambil membuka pintu loker kemudian mengambil baju ganti dan peralatan mandi.

“Iya gue lupa, elo kan ngajak dia makan siang bareng” Nita juga mengambil baju ganti dan peralatan mandinya lalu menutup pintu loker “By the way, apa dia sudah punya pacar?”

Aku mengedikkan bahu “Mana gue tahu” Nita hanya menyeringai, aku bisa melihat roda berputar di kepalanya.

Setengah jam kemudian kami meluncur di jalan raya menuju kosku. Nita masih terheran-heran aku bisa mengendarai si merah kesayanganku, dia terus saja mengomentari caraku mengendarai motor. Maklumlah Nita kan cuma bisa menyetir mobil.

Sesampainya di kos aku benar-benar melaksanakan niatku untuk tidur siang. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Nita, paling-paling dia sedang mengobrak-abrik isi kulkasku untuk mencari cemilan yang lupa kubeli karena terlalu mengantuk. Aku memeluk gulingku yang empuk dan memejamkan mata menuju alam mimpi yang pelan-pelan mulai menerbangkanku semakin tinggi… semakin tinggi… tinggi… dan senyap. 

 

∞∞∞

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!