Teman Ngobrol 2

Sejak kapan aku menanggapi usulan Nita untuk menggunakan aplikasi gila ini? Sungguh. Aku saja tidak mengerti kenapa aku melakukannya, apa lagi menanggapi celetukan gila laki-laki yang aku kenal melalui aplikasi jodoh daring.

Semua itu bermula ketika aku mulai membalas semua pesan Adi, tapi aku tidak benar-benar mempercayai bahwa Adi seorang pengusaha Batu bara. Semua orang bisa menjadi apa saja di media sosial bukan? Sampai suatu ketika aku mengetahui persis dimana tempat dia bekerja. Kenapa aku bisa tahu? karena dia sendiri yang mengirimkan alamatnya.

Itu berawal dari Adi menanyakan sesuatu yang membuatku mempertanyakan jenis kelaminnya. Apakah dia benar-benar laki-laki tulen atau seorang transgender? Aku sampai bingung ingin menjawab apa.     

 

Adi                        : Kamu punya rok?

 

Tuh kan, pertanyaan macam apa itu. Aku wanita, jelas aku  sering menggunakan rok.

 

Riana                    : Punya. Memangnya kenapa?

Adi                        : Boleh pinjam?

 

Mulutku menganga ketika Adi menanyakan itu.

 

Riana                    : Maksudnya??

Adi                        : Apa boleh aku memimjam rokmu?

Riana                    :  Untuk apa?

 

Untuk meyakinkanku bahwa Adi benar-benar laki-laki tulen bukan seorang transgender, aku membuka foto profilnya. Ini benar-benar Adi kan? Di lihat dari penampilannya,  tidak ada indikasi yang menyatakan bahwa dia seorang transgender. Adi memiliki penampilan yang tinggi besar dan tumbuh kumis yang menghiasi wajahnya yang menandakan bahwa dia laki-laki tulen atau… fotonya palsu?

 

Adi                        : Aku mau coba menggunakan rok.

 

HEEEEH Gila nih cowok, dia ingin menggunakan rok punyaku?

 

Riana                    : Untuk apa?

Adi : Aku ingin mencoba menggunakan rok, apa aku cocok menggunakannya?

Riana                    : Mana aku tahu. kenapa kamu nggak beli aja untuk mencobanya.

Adi : Aku nggak punya waktu untuk membelinya sendiri, kenapa nggak kamu saja yang mengirimi aku rok? Kamu punya banyak kan?

 

Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan selama ini sehingga kau kirimkan laki-laki model begini. aku tidak membalas pesan terakhirnya.

 

Adi                        : Jl. Pamungkas no. 58 samarinda

Riana                    : Hmm

Adi                        : Kirim rok punyamu ke alamat itu, nanti aku pake.

Riana                    : Kamu serius ingin menggunakan rok?

Adi                        : Serius. Aku nggak bercanda.

Riana                    : Bagaimana aku tahu kamu menggunakannya?

Adi                        : Nanti aku foto saat menggunakannya.

Riana                    : Beneran

Adi                        : Iya

Riana                    : Deal

Adi                        : Deal

Riana                    : Nanti aku kirim roknya ke alamatmu.

 

Aku memang sudah gila menerima tawarannya. Ini ide yang paling konyol yang pernah aku lakukan.

Keesokan harinya aku menyeret Haris ke toko pakaian setelah menemaninya latihan dan makan malam. Tidak mungkin aku mengirimkan Adi pakaianku, nanti malah aku di santet saat mengirimkan pakaian yang sudah pernah di pakai.

“Kamu mau membeli pakaian?” tanya Haris bingung saat aku memilih-milih dress, aku hanya diam saja, tidak menanggapi pertanyaan Haris.

“Haris, sini” panggilku saat dia memilih kaus, Haris mendekat dan berdiri di sampingku. Aku merentangkan Dress yang panjangnya semata kaki ke badan Haris, di lihat dari foto Adi, tinggi badannya sebelas dua belas dengan Haris, bedanya Adi agak gempal sedangkan Haris kurus dengan badan penuh otot hasil latihannya.

Aku pernah melihat Haris melepaskan bajunya yang menampakkan eight pack, bukan six pack lagi tapi eight pack yang bisa membuat para laki-laki buncit menangis melihat tubuhnya dan para wanita berteriak-teriak memujanya.

“Kamu ingin aku memakainya?” Seru Haris kaget. “Aku kira kamu membeli pakaian untuk dirimu sendiri?”

Reaksi yang wajar, semua laki-laki akan bereaksi seperti Haris ketika di sodorkan pakaian wanita tapi berbeda dengan Adi, dia malah menawarkan diri untuk menggunakannya.

“Nggaklah aku cuma mengira-ngira aja” sepertinya dress tanpa lengan berwarna merah ini cocok di kenakan Adi.

“Kamu beneran ingin membeli pakaian itu? aku pikir pakaian itu terlalu besar untuk ukuranmu, kamu cocoknya yang model begini” Haris sibuk memilih dress yang ada di depannya dan menemukan sebuah dress tanpa lengan berwarna biru dongker dengan model mengembang hingga dengkul.

“Coba kamu ganti dengan ini, aku pengen lihat” Haris menyerahkan dress yang ada di tangannya.

Aku menghadap kaca dan melihat pantulanku di cermin, apa aku cocok menggunakannya? Aku membawa dress itu keruang ganti dan mencobanya. Aku mengurai rambutku dan merapikannya dengan tangan, setelah kurasa rapi aku keluar dan mata Haris langsung meneliti baju yang aku kenakan.

 Haris tersenyum ketika melihatku.”Bella”

“Siapa Bella?” tanyaku bingung.

“Bukan siapa-siapa, kamu hanya terlihat…wow” Haris masih meneliti penampilanku.

“Apa aku terlihat aneh?” aku menatap cermin, meneliti penampilanku dari segala sisi. “Not bad”

“Tidak ada yang aneh dari penampilanmu Bella”

“Kamu memanggilku apa?” aku berbalik menghadap Haris.

“Kamu hanya terlihat seperti Bella di film twilight”

“Aku pernah menontonnya tapi warna kulitku terlihat pucat menggunakan dress ini” aku berbalik menuju ruang ganti.

“Kulitmu terlihat indah saat menggunakannya” kata Haris saat aku menutup pintu ruang ganti.

Haris mengerutkan dahi ketika melihatku membayar dress merah yang menurutnya sangat tidak cocok dengan ukuranku. “Kamu membeli dress merah itu untuk siapa? Ukurannya sangat besar untuk ukuranmu” kata Haris setelah aku membayar belanjaan.

“Aku ingin memberi hadiah untuk temanku, badannya tinggi besar jadi aku pikir dress merah itu cocok untuknya” aku tidak sepenuhnya berbohong, aku memang membeli pakaian ini untuk Adi walaupun aku tidak menyebutkan bahwa yang aku belikan pakaian itu adalah seorang laki-laki yang orientasi seksualnya di pertanyakan.

 Haris hanya mengangguk-angguk mengerti. “Kamu mau langsung pulang?” tanyanya sambil menjajari langkahku.

“Memangnya mau kemana lagi?”

“Nonton yuk?”

 “Ini sudah malam, Haris. Aku mau tidur, capek.” sekarang sudah jam 9 dan kami masih berputar-putar di mall.

“Ini malam minggu Bella, masa cuma tidur aja di kos apa asiknya. Temani aku nonton ya” bujuk Haris.

“Jangan panggil aku Bella, aku jadi merasa seperti vampire penghisap darah yang berkulit pucat. Lagi pula aku capek kamu suruh latihan terus, lama-lama badanku akan berubah menjadi hulk” gerutuku masam. Sekarang saja aku sudah merasa otot tanganku membesar karena mengikuti porsi latihan Haris. Aku jadi malu saat menggunakan blus tanpa lengan, otot tanganku bertonjolan akibat menggunakan bumbell dan angkat beban. Belum lagi kakiku, aku merasa seperti pemain sepakbola karena tungkaiku terasa sangat kencang dan tidak memiliki lemak sedikitpun.

“Hulk yang seksi” cengir Haris.

“Hulk yang seksi” cibirku. “Gara-gara kamu aku jadi nggak bisa menggunakan blusku lagi”

“Kenapa jadi nyalahin aku?” tanya Haris bingung.

“Karena aku ngeri melihat lenganku yang mirip Ade Ray” teriakku sambil menghentakkan kaki, aku tak perduli orang-orang melihatku yang sedang merajuk.

“Mana? Aku mau lihat” Haris memegang kedua lenganku.

“Apaan sih, pegang-pegang tangan cewek” Aku menepis tangan Haris yang menekan-nekan lenganku.

“Lengan kamu nggak mirip Ade Ray kok, masih wajar”

“Pokoknya aku nggak mau lagi ikut latihan” rengutku sebal. 4 bulan aku latihan bareng Haris badanku jadi seperti Ade Ray, bagaimana kalau setahun? Bisa-bisa berubah bentuk menjadi Hulk.

“Oke oke aku nggak akan maksa kamu latihan, kamu cuma menemaniku berlatih” kata Haris kalem sambil menggeretku kearah bioskop.

“Tapi nanti kamu bakalan membujukku lagi untuk ikut berlatih, aku sudah hapal dengan bujuk rayumu itu” gerutuku.

“Tahu aja kamu” senyum Haris sambil mengedipkan matanya.

 Aku hanya mendengus menanggapinya, kami tiba di depan bioskop. “Ngapain kita kesini?”

“Mau nonton masa nge-gym”

Tuhkan, mulai lagi ulahnya. “Aku capek Haris, mau tidur. kakiku rasanya mau copot dibawa jalan”

“Mau aku gendong?” Haris menekuk lututnya dan berbalik membelakangiku.

Aku memukul kepalanya dengan tas belanja. “Nggak usah di gendong, aku bisa jalan sendiri. Aku mau pulang.” Aku berbalik dan siap pergi tapi Haris memegangi tanganku hingga aku tidak bisa bergerak.

“Kamu pulangnya kan sama aku. Please jangan pulang dulu, temani aku yang kesepian ini nonton ya?” bujuk Haris dengan wajah memelas.

“Ajak dong pacarmu nonton.”

“Aku nggak punya pacar yan, jadi temani laki-laki kesepian ini nonton ya.” Haris memohon.

“Makanya cari pacar, jangan sibuk kerja. Gimana mau dapat pacar kalo jalannya sama aku terus, jomblo kok di pelihara” sahutku sarkas.

“Kamu sendiri sudah punya pacar?” tanya Haris penasaran, tatapannya langsung menyerupai detective yang sedang mengintrogasi penjahat.

Otw batinku, ini juga lagi usaha. Adi sudah di coret dari daftar calon pacar potensial, aku akan mencari yang lain. Aku hanya penasaran dengan apa yang akan dilakukan Adi dengan dress itu. Kalau usaha cari  calon pacar melalui daring gagal karena tidak bisa di pertanggungjawabkan, aku akan mengikuti saran Nita yang ingin menjadi makcomblangku. Duh Gusti, begitu susahnya kah mencari calon pacar?

“Jawab dong jangan diam aja, kamu sudah punya pacar?” desak Haris.

“Lagi usaha” jawabku ketus sambil merengut.

“Makanya sesama jomblo jangan saling menggurui. Aku juga lagi usaha makanya aku ngajak kamu nonton, ayo nanti pulangnya kemalaman lho kalo kamu berdiri di sini terus” Aku hanya bisa merengut sambil menghentakkan kaki lalu mengikuti Haris masuk ke bioskop yang penuh dengan pasangan yang sedang bermalam minggu. Nasib… nasib, jadi jones sejati memang tidak enak.

 

 

Dua jam kemudian Haris mengantarkanku kembali ke kos. Sekarang sudah jam dua belas teng dan jam malam sudah lama lewat, aku hanya perlu mengendap-endap masuk supaya tidak ketahuan pulang selarut ini oleh ibu kos.

“Besok jalan-jalan yuk?” Haris memarkir motornya di depan pagar.

“Nggak bisa, aku mau ngerjakan tugas” aku turun dari motor Haris sambil berpegangan di bahunya. Aku pernah protes ke Haris karena motornya terlalu susah aku naiki, dia hanya tertawa dan tidak keberatan bahunya aku jadikan pegangan ketika aku turun dari motornya.

“Mau aku temani?” Haris melepas helmnya lalu merapikan rambutnya yang tertiup angin.

“Nggak perlu, kalo kamu temani malah nggak selesai-selesai tugasnya.”

“Kali aja aku bisa membantumu mengerjakan tugas.”

 “Nggak usah aku bisa mengerjakannya sendiri, kamu cepat pulang ini sudah larut malam.”

“Kamu masuk dulu baru aku pulang, aku lihatin dari sini.”

“Baiklah” belum aku beranjak dari tempatku berdiri tiba-tiba saja seseorang menjewer telingaku dengan kencang.

“Ohh begini kelakuan kamu semenjak kos ya, bukannya belajar malah pacaran. Di telpon nggak di angkat, aku tanya dengan temanmu katanya pergi, tahunya malah pacaran di sini. Kalau sampai mama tahu, kamu bakalan di seret pulang ke Jakarta.”

Aku mengenali suara ini dalam kegelapan, tangannya menjewerku dengan kencang. Aku berteriak kesakitan tanpa perduli penghuni kos akan terbangun “ABANGG SAKITTT.”

Waduh gawat kuadrat, abang datang untuk menjemputku pulang. Aku nggak mau pulang abaangg.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!