Aku masuk ke dalam kamar meninggalkan ponsel di atas meja dan mengambil segelas jus jeruk untuk diriku sendiri dan sebuah novel yang baru saja aku beli di gramedia. Sudah lama aku ingin membaca buku ini tapi tidak ada waktu untuk mampir ke gramedia. Kemarin aku baru sempat mampir untuk membeli beberapa buku penunjang untuk mengerjakan tugas sekaligus membeli beberapa novel yang sejak lama aku idamkan.
Baru saja aku membaca beberapa halaman, suara notifikasi dari ponselku bersenandung. Ada pesan WhatsApp dari Haris yang mengatakan dia baru saja sampai di hotel tempatnya menginap.
Alisku naik sampai ke rambut ketika membaca pesan dari Haris, untuk apa dia melaporkan semua kegiatannya selama dinas luar? Aku kan hanya sekedar teman hangout, bukan teman kencan. Kadang-kadang aku bingung sendiri menghadapi perhatiannya, seakan-akan aku ini pacarnya padahal kami hanya berteman.
Beberapa menit kemudian Adi juga mengirimkan sebuah foto. Aku membuka pesan itu dan langsung menyemburkan air yang aku minum. Sungguh, aku tidak menyangka Adi benar-benar melakukannya.
Foto itu menampilkan Adi yang menggunakan dress berwarna merah, sepertinya dia mengambil gambar dirinya sendiri di depan cermin. Tubuh kekarnya jelas tergambar dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, dia melengkapi penampilannya dengan high heels berwarna hitam dan wajahnya tertutup ponsel yang digunakan. Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajahnya, sepertinya dia sengaja menutupi wajahnya dengan ponsel.
Penampilan Adi benar-benar menggoda, aku benar-benar shock dengan apa yang dilakukannya. Jika Haris aku suruh menggunakan pakaian cewek, apakah dia mau?
Riana : Wow.
Tak ada kata-kata yang mampu keluar dari mulutku selain itu, ini sungguh di luar dugaanku.
Adi : Bagaimana? Aku cocokkan menggunakan dress? Pilihanmu memang yang terbaik.
Riana : Cocok banget, dress itu juga pas sekali di tubuhmu yang seksi.
Adi : Benarkah? Kapan-kapan kita couple an yuk.
Riana : Couple an? Maksudnya?
Adi : iya, couple an. Aku pengen banget menggunakan dress yang sama denganmu.
Riana : Serius?
Aku luar biasa terkejut dengan kata-kata Adi, sungguh kah dia ingin melakukannya atau itu cuma bualannya saja?
Adi : Iya aku serius, aku benar-benar ingin merasakan seharian penuh menjadi cewek lengkap dengan make up.
Riana : Kamu cewek ya?
Wajar banget aku menanyakan dia cewek apa bukan, kelakuannya kayak cewek gini.
Adi : Bukan. Aku cowok kok, sudah jelas dan itu tidak perlu di pertanyakan lagi.
Riana : Lha, situ yang pengen pake make up, gimana sih? Mana ada cowok pake make up.
Adi : Ada. Kamu aja yang nggak tahu.
Aku jadi pusing sendiri menghadapi kelakuan Adi yang menyimpang. Seandainya aku tahu seperti ini jadinya, aku tidak perlu repot-repot membelikan dia dress merah, ini malah memperumit keadaan. Tapi aku tidak mau kalah begitu saja dalam permainan ini, kalau memang dia menantangku untuk menggunakan dress couple serta mendandaninya layaknya seorang cewek. Ayo, aku terima tantangannya.
Riana : Kalau memang itu maumu akan kuturuti, memangnya kapan kamu minta di make up? Aku siap kapan pun kamu mau.
Adi :Nanti, aku akan berkunjung ke kotamu. Saat itu kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau dengan penampilanku.
Riana : Kamu janji?
Adi : Janji.
Riana : Oke aku tunggu kedatanganmu.
Adi : Siap ukhty.
Riana : di tunggu ya akhi.
Adi : Jangan panggil akhi dong, panggil aku ukhty juga.
Mataku melotot membaca pesannya, apa katanya tadi? Adi ingin aku memanggilnya ukhty padahal dia seorang laki-laki, dasar laki-laki sinting.
Riana : Bukannya kamu cowok? Kenapa minta di panggil ukhty?
Adi : Aku kan sudah bilang pengen merasakan menjadi cewek, dan itu dimulai dengan kamu memanggilku ukhty bukan akhi.
“Terserah kamu saja deh” gumamku sambil membalas pesan Adi. Setelah ini aku tidak mau lagi berkenalan dengan orang gila melalui daring. Aku akan mengajukan protes ke Nita karena sudah menyarankan aku menggunakan aplikasi sinting ini, bukannya ketemu calon pacar potensial, aku malah ketemu dengan orang gila yang tidak mengakui orientasi seksualnya sendiri.
“Ini orang juga, kenapa menelponku? Bukannya dia sedang sibuk mengurusi pekerjaannya?” gerutuku saat layar ponselku menampilkan nama Haris. “Ada apa?” emosiku masih campur aduk karena membalas pesan Adi, akibatnya suaraku terkesan seperti sedang marah.
“Aku salah apa sampai kamu membentakku?” tanya Haris bingung.
Aku menghirup udara dan menghembuskannya secara berlahan beberapa kali, cara itu terbukti membuatku tenang. Gara-gara orang gila itu, aku malah melampiaskan rasa kesalku ke orang yang salah. “Maaf deh, aku hanya agak… kesal”
“Kamu kesal padaku?”
“Lupakan saja.” mungkin aku yang terlalu sensitive dan labil hari ini sehingga ketika ada yang membuatku kesal, aku langsung meledak. “Kenapa menelponku?”
“Kenapa jawabannya begitu sih? Emang salah ya aku pengen menelponmu” sahut Haris masam, dari suaranya bisa terdengar kalau dia juga agak kesal ketika mendengar responku.
“Ya sudah kalo nggak penting-penting banget, aku tutup.” Suasana hatiku sedang kacau sekarang, jadi aku tidak mood meladeni Haris berbicara.
“Tunggu! Jangan di tutup dulu” cegah Haris.
“Apa lagi!” seruku tak sabaran.
“Mungkin dua atau tiga hari lagi aku baru bisa balik”
“Terus?”
“Kamu mau oleh-oleh apa?”
“Kamu nawarin nih?”
“Iya, siapa tahu kamu rindu makanan tertentu, mumpung lagi di Jakarta aku bisa membelikannya untukmu”
Mataku langsung berbinar-binar, tak kusangka Haris mau berbaik hati membelikanku oleh-oleh walaupun sudah aku bentak. Ada satu makanan yang paling kurindukan, sudah berbulan-bulan aku tidak mencicipinya dan aku rindu dengan rasanya. “Kamu janji akan membelikanku makanan itu?”
“Janji”
“Awas kalo sampai ingkar janji, aku tidak akan pernah memaafkanmu,” ancamku.
“Iya, sebut saja makanan apa nanti aku belikan.”
“Aku pengen makan soto betawi di restoran dekat rumah orangtuaku.”
“Soto Betawi?”
“Iya, sudah berbulan-bulan aku tidak mencicipinya. Aku sering mampir di restoran itu sepulang kuliah” ucapku bersemangat.
“Kasih tahu aku nama dan alamat restoran itu, nanti aku belikan”
Aku menyebutkan alamat salah satu restoran favoritku yang ada di dekat rumah orang tuaku “Jeroan dan dagingnya yang banyak ya, jangan lupa minta di pisahkan antara kuah dan isinya. Bilang saja itu pesanan Riana, pemiliknya pasti tahu karena aku sering mampir di sana setelah kuliah”
“Padahal di Jogja juga ada restoran yang menjual soto Betawi”
“Iya, tapi nggak seenak soto Betawi di restoran favoritku”
“Ternyata gampang banget memperbaiki suasana hatimu” gumam Haris tak jelas tapi masih bisa aku dengar“Apa lagi makanan yang pengen kamu makan?”
“Aku pengen dodol Betawi, bir pletok, kue kembang goyang terus…” aku berusaha mengingat-ingat jajanan yang sering di sediakan mpok salmah untukku saat di Jakarta.
“Itu saja kan pesananmu?”
Sebenarnya masih banyak jajanan yang aku inginkan, mengingat Haris yang akan membeli semua itu aku jadi tidak tega memesan banyak makanan “Iya itu saja, jangan lupa soto betawinya ya”
“Iya bawel, aku tidak akan lupa dengan pesananmu. Sudah dulu ya sampai ketemu dua hari lagi”
“Oke, Bye”
“Wassalamualaikum”
“Waalaikumsalam” aku meletakkan ponsel di meja, baru kali ini aku merasa senang saat akan berjumpa dengan Haris. Senyum tak lepas dari bibirku menanti-nanti kepulangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments