Bahaya Telah Lewat 1

“Abang sakitt” keluhku, abang menarikku ke mobilnya yang di parkir tidak jauh dari tempat Haris memarkir motornya. Haris meringis melihatku di seret-seret oleh abangku sendiri.

“Masuk!” Abang melemparku masuk kemobil seperti melempar barang yang tidak terpakai kemudian membanting pintu mobil dan beranjak ke sisi pengemudi.

Aku membuka kaca jendela “Maaf ya aku nggak bisa ikut jalan-jalan besok.” teriakku, abang sudah berada di sampingku dan membanting pintu mobil dengan ganas lalu segera menggas mobil dengan kecepatan tinggi. Aku hanya bisa melambaikan tangan ke Haris dari jendela mobil.

Sepanjang perjalanan abang hanya diam, aku tidak tahu abang membawaku kemana tapi sepertinya ini arah kerumah mbak Dian. Kami tiba di depan sebuah rumah yang bangunannya masih terbuat dari kayu, dugaanku benar ini rumahnya mbak Dian karena orangnya muncul menyambut kami di teras. Mbak Dian tinggal di Jogja sebelum keluarganya hijrah ke Jakarta lima tahun yang lalu, aku memilih Jogja sebagai tempat pelarian atas usul mbak Dian yang memang sudah mengenal kota ini sejak kecil.

“Riana Long time no see.”

“Jangan sok bule mbak, kita tinggal di Jogja.” aku mencium pipi mbak Dian.

“Jangan sok tahu kamu, aku yang lebih lama tinggal di sini.” mbak Dian balas mencium pipiku. “Kenapa malam banget datangnya? aku sudah nungguin dari tadi.”

“Anak ini baru pulang diantar pacarnya.” abang menoyor kepalaku.

“Abaangg.” protesku saat tangannya menoyor kepalaku.

“Kamu sudah punya pacar yan!” seru mbak Dian kegirangan.

“Bukan pacar mbak, dia cuma temanku”

“Teman tapi pulangnya tengah malam, ngapain gelap-gelapan di depan pagar?” abang melotot sambil bertolak pinggang.

“Di depan pagar emang gelap abang, nggak ada lampunya” 

“Ngeles aja nih anak, kamu dari mana jadi pulangnya jam segini? Sekarang waktunya untuk tidur bukannya keluyuran nggak jelas”

“Keluyurannya jelas kok bang, ke mall. Aku nggak berbuat yang aneh-aneh kok”

“Ini anak di nasehati malah menjawab” abang menjewer telingaku lagi.

“Sakit abaangg” teriakku.

“Sudah… sudah ayo masuk, bertengkarnya di dalam saja.” mbak Dian melerai.

Abang menyeretku keruang tamu sambil menjewer telingaku “Malam-malam nggak baik keluyuran buat cewek, Adek. Abang kan sudah bilang kalau mau jalan-jalan batasnya sampai jam sepuluh bukannya tengah malam begini baru pulang.” omel abang.

“Abangg lepasin, sakitt.” aku meringis kesakitan.

Abang mendudukkanku ke sofa “Abang ke kos kamu tadi sore kamunya sudah pergi, di telepon nggak diangkat, ditungguin pulangnya tengah malam. kamu dari mana sih?”

“Tadi sore aku nge-gym di mall sama teman, abang. Terus belanja. Setelah itu teman aku ngajakin nonton, mana aku tahu abang ke kos?” aku mengelus-elus telingaku yang nyut-nyutan.

“Kamu sering pergi sama laki-laki itu?” abang berdiri di depanku dengan bertolak pinggang.

“Iya, dia tiap hari jemput aku di kos untuk nge-gym.” Percuma juga bohong, abang pasti akan menyewa orang untuk menyelidiki apa yang aku lakukan.

“Dia pacarmu kan?”

“Bukan dia cuma teman” jawabku.

“Teman kamu bilang, teman yang baik nggak ada yang ngajak jalan tiap hari sampai tengah malam. Mulai sekarang kamu nggak boleh berteman dengannya lagi.” Perintah abang.

“Abang nggak berhak mengatur aku, terserah aku dong ingin berteman dengan siapa.” balasku ketus.

“Ini anak dibilangin juga…”

“Kakak dan adik sama saja, sama-sama keras kepala.” mbak Dian berdiri di samping abang “Reno, jangan terlalu keras dengan adikmu. Dia makin berontak kalau kamu larang. Biarkan Riana mengekspresikan kebebasannya, biarkan Riana berteman dengan siapa pun yang dia mau selama dia tidak melanggar batas-batasnya.”

“Tapi D..”

“Selama ini kamu terus membatasi pergaulan Riana, kamu dengan mamamu sama saja. Kasihan Riana nggak punya teman, kamu mau adik kamu itu depresi lalu bunuh diri lagi?” Potong mbak Dian.

“Oke, baik. Aku nggak akan melarang Adek berteman dengan siapapun.” abang mengangkat tangannya ke udara seakan menyerah menghadapiku yang keras kepala ini lalu duduk di sofa tunggal “Kasih tahu abang namanya siapa.”

“Aku nggak mau.” jawabku ketus.

“Kenapa?” tanya abang nyureng.

“Nanti abang akan menyewa detective dan mencarinya.”

Abang menghela nafas. “Kalau begitu kasih tahu abang apa pekerjaannya? Jangan bilang dia pengangguran.”

“Dia PNS.”

“Di mana?”

“Di sini.”

“Di mana Adek?”

“Aku nggak mau kasih tahu tempatnya dimana, nanti abang akan mendatanginya dan mengancamnya untuk tidak berteman denganku lagi.”

“Baiklah kalau kamu nggak mau ngasih tahu, berapa umurnya?”

“28 tahun.”

“Dia terlalu tua untuk berteman denganmu  dek.” Abang melotot.

“Tuh kan belum apa-apa abang sudah menilai apakah dia pantas atau tidak berteman denganku.” keluhku.

“Oke, abang nggak akan mencari tahu temanmu itu selama kamu bisa menjaga diri, ngerti kamu.” Abang akhirnya menyerah.

“Ngerti abang.” jawabku.

“Ya sudah kamu tidur, ini sudah malam.” abang beranjak dari sofa menuju kamarnya.

Baru juga abang yang bertanya sudah seperti ini situasinya, apa lagi mama. Aku tidak bisa membayangkan kalau mama tadi yang datang, bisa-bisa aku langsung di seret pulang.

“Ayo yan kita kekamar, kamu pasti capek.” Ajak mbak Dian. Aku mengikuti mbak Dian kekamarnya, “Kamu bawa baju ganti?”

“Boro-boro bawa baju ganti mbak, masuk kos aja belum sudah di seret-seret abang.” aku meletakkan tas fitness, tas belanja dan helm di lantai.

“Kamu kurusan yan, apa nggak capek nge-gym tiap hari?”

“Capek mbak, apa lagi sekarang perkuliahan sedang berlangsung, aku harus bisa membagi waktu. Dia terus menjemputku di kos, kadang-kadang malah aku cuma ngeliatin dia berlatih.”

“Kamu ketemu temanmu dimana?” mbak Dian menyerahkan baju tidur untuk aku gunakan.

“Di Fetness Center, nggak sengaja juga sih mbak.” Aku masuk ke kamar mandi untuk berganti dengan baju tidur. Saat aku keluar dari kamar mandi, mbak Dian sudah mengganti bajunya “Mbak, aku mau cerita nih.”

“Cerita apa yan?” mbak Dian menyila kakinya di atas tempat tidur.

“Mbak ingat kan dulu pernah di titipin kalung sama mama” aku duduk di samping mbak Dian.

“Waktu di caffe ya, aku masih ingat. Memangnya kenapa dengan kalung itu?”

“Itu pemberian Rudi, mbak. Mama berniat menjodohkanku dengan Rudi”

“Rudi siapa?”

“Rudi Santoso mbak, patner kerjanya abang”

“Sungguh! jangan bilang kamu menerima perjodohan itu” seru mbak Dian.

“Ya nggaklah, mana mau aku di jodohin dengan buaya kadal macam Rudi, bisa makan hati, mbak. Aku nggak tahu deh apa yang dipikirkan mama sehingga mau menjodohkan anaknya dengan laki-laki buaya darat”

“Mungkin tante pengen kamu menikah.”

“Tapikan sudah ada abang sama mbak yang mau nikah tahun depan, masa aku juga harus nikah!” keluhku.

“Mana aku tahu, yan. Kamu protesnya jangan sama aku dong.” ucap mbak Dian.

“Masalahnya mbak, mama akan menjodohkanku lagi kalau dalam satu tahun aku belum memperkenalkan seseorang sebagai pacarku!” seruku.

“Itu bukan masalah yan, kamu saja yang membesar-besarkannya.”

“Itu masalah bagiku mbak karena aku sekarang nggak punya pacar.” jelasku.

“Teman kamu itu bisa tuh dijadiin pacar.”

“Nggak mungkinlah, dia kan cuma teman.”

“Riana, laki-laki kalau mendekatimu pasti ada maunya. Mbak nggak percaya temanmu itu hanya ingin menjadi teman, teman macam apa coba yang sering ngajak nge-gym bareng sampai tengah malam kalo nggak punya maksud lain selain berteman.” Mbak Dian menghela nafas “Kamu itu polos banget sih yan, pantesan Reno selalu menjagamu. Saran aku nih kalau temanmu berbuat yang aneh-aneh dari kebiasaannya, tinggalkan dia. Kamu jangan mau dirusak sama dia.”

Aku juga tahu aku harus jaga diri, tapi selama ini Haris tidak pernah berbuat yang aneh-aneh, malahan dia sering menjagaku kalau ada laki-laki yang menatapku genit atau menggodaku, Haris teman yang baik aku tahu itu. Sekarang tidak ada lagi niat untuk menceritakan rencanaku dalam mencari calon pacar ke mbak Dian, kalau sampai mbak Dian tahu aku mengikuti saran Nita, habislah aku. Abang akan marah besar karena mbak Dian akan mengadukan ulahku. “Sekarang aku harus bagaimana mbak?”

“Kamu mau aku jodohkan dengan temanku, kebetulan temanku masih ada yang jomblo?”

“Kasihan banget ya mbak, kayak aku nggak bisa cari pacar sendiri, nggak bisa menentukan karir sendiri.” Aku menghela nafas.

“Kamu memang nggak bisa melakukannya” Mbak Dian memegang tanganku, “Riana. kamu itu salah satu pewaris Rahardja Group, posisimu memang sudah di siapkan di perusahaan. Wajar sekali tante menginginkan masa depan yang terbaik untuk anak perempuan satu-satunya.”

“Tapi aku juga menginginkan masa depanku sendiri, mbak. Mama terlalu mengatur kehidupanku, aku tidak bisa bebas berkeliaran sendirian tanpa pengawal, tidak boleh berteman dengan siapapun tanpa persetujuan mama dan abang. Bahkan sekarang mama mendesakku untuk memiliki pacar, gimana mau punya pacar kalo teman saja nggak punya,” keluhku.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya mbak Dian.

“Baik-baik saja semenjak aku bertemu dengannya, dia membuatku menyalurkan rasa prustasiku dengan berolahraga.”

“Bagus itu, berarti temanmu itu memang teman yang baik. Begini aja deh, kalau memang temanmu itu cuma menganggapmu sebagai teman, telpon aku. nanti aku jodohin kamu dengan Tama teman masa kecilku.”

“Bisa mbak, selama calonnya bisa di terima abang.”

“Asal kamu nggak keberatan punya pacar yang lebih tua darimu.”

“Memangnya umurnya berapa?”

“Seumuran denganku, 28 tahun.”

Umur Tama sama dengan umur Haris, cuma beda lima tahun dariku. “Bisa di coba mbak.”

“Aku jamin deh kamu akan menyukainya. Orangnya humoris, kamu akan tertawa terus saat mendengar candaannya. walaupun akhir-akhir ini dia sering bertingkah aneh.”

“Aneh bagaimana?” tanyaku bingung.

“Ya aneh gitu, terakhir kali aku bertemu dengan Tama, dia asik sendiri di pojokan sambil ketawa-ketawa sendiri, aku dan temanku yang lain sampai bingung, apa yang sedang di tertawakannya? Dia terlihat senang akan sesuatu.”

“Siapa tahu Tama sedang menelpon pacarnya.” sahutku.

“Tama. Punya pacar? nggak mungkin.” mbak Dian tertawa, “Dia masih patah hati karena ditinggal mantan pacarnya selingkuh.” Jelas mbak Dian, “Nanti aku kenalin, siapa tahu Tama juga tertarik sama kamu.”

 

∞∞∞∞

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!