RESTORAN JEPANG

Aku menyerah dan memutuskan melarikan diri dari Haris si seksi yang menawan, kalau aku nekat meneruskan untuk berlatih, bisa-bisa aku memiliki sindrom Halovers atau bisa juga di sebut Haris lovers yang sering berteriak-teriak nggak jelas saat bertemu dengan idola yang sedang berolahraga.

Sungguh konyol.

Aku. Riana Rahardja berperilaku layaknya remaja labil ketika bertemu dengan laki-laki yang baru saja aku anggap sebagai teman, mau di taruh di mana wajah ini kalau sampai Haris tahu aku terpesona saat dia berolahraga? Itu sangat memalukan. Aku segera mandi dan berganti pakaian, kemudian memutuskan bersembunyi di ruang loker sampai Haris selesai berlatih.

Aku membuka aplikasi yang kugunakan tadi malam untuk membuang waktu sampai Haris siap untuk pergi makan dan menemukan seseorang menyapaku. Di lihat dari fotonya cakep juga, pekerjaannya juga lumayan. Aku tidak tahu apakah dia beneran pengusaha atau bukan tapi bisa di coba, siapa tahu aku bisa bekerja di perusahaannya.

 

Adi                        : Halo.

Riana                    : Halo juga.

Adi                        : Boleh kenalan.

Riana                    : Iya boleh, nggak ada yang melarang kok.

Adi                        : Kamu tinggalnya di mana?

Riana                    : Di Jogja. Kamu?

Adi                        : Di Samarinda.

Riana                    : Apa pekerjaanmu?

Adi                        : Pengusaha

Riana : Pengusaha apa? Pengusaha kan banyak, pengusaha restoran,     pengusaha property.

Adi                        : Pengusaha tambang.

 

Wow pengusaha tambang, aku tidak tahu dia beneran pengusaha tapi kelihatannya dia tajir melintir di lihat dari latar belakang fotonya yang menampilkan sebuah rumah mewah, tidak kalah dengan abang yang pengusaha konstruksi. Bukannya aku mata duitan, tapi kalau calon suami memiliki pekerjaan yang mantap aku tidak perlu lagi susah-susah kerja.

Pada saat itu Haris menelpon dan memberitahuku dia sudah menunggu di meja resepsionis. Aku segera menutup aplikasi itu lalu mengambil tas di loker. Saat aku tiba di meja resepsionis, Haris sedang asik berbicara dengan mbak-mbak yang jaga, mungkin dia sedang memeriksa jumlah pengunjung yang datang hari ini atau sedang bergosip, aku tidak peduli.

Aku berdiri di depan Haris yang masih berbicara dengan mbak resepsionis, kelihatan sekali mbak resepsionis tertarik dengan Haris dari gesture tubuhnya yang mepet-mepet terus ke Haris. Aku memutar bola mata, sungguh! ternyata bukan aku satu-satunya yang terpesona dengan wajah Haris yang tampan itu.

“Sudah nunggu lama?” sapa Haris begitu melihatku.

“Baru juga nyampe” sahutku malas, apa lagi ketika melihat tampang bete mbak resepsionis ketika melihatku, aku tambah malas menjawab.

“Ayo bentar lagi waktu magrib habis, kita salat dulu baru makan. Kamu sudah lapar kan?”

Aku menjajari langkah Haris yang panjang, jalannya cepat sekali sampai aku harus sedikit berlari untuk menyamakan langkah, kami tiba di prayer room di lantai tiga. Aku menuju tempat khusus cewek dan mulai menjalankan kewajibanku sebagai umat muslim.

Sepuluh menit kemudian aku sudah berdiri di depan prayer room menunggu Haris. Mall ini sungguh keren, aku tidak tahu ada tempat ibadah di sini, sangat berguna sekali ketika seseorang terjebak saat berbelanja di mall ini dan tiba-tiba saja waktu salat tiba jadi dia hanya perlu berjalan ke lantai tiga untuk menunaikan kewajibannya.

Aku sedang melihat-lihat aksesoris ketika Haris keluar dari prayer room, dia mendekat dan berdiri di sampingku ikut mengamati jepit rambut yang aku pegang.

“Kamu cocok menggunakan ini” Haris mengambil jepit di tanganku dan meletakkannya di rambutku.

“Ini terlalu kekanakan” aku melepas jepit tersebut dari rambutku lalu meletakkan jepit berbentuk pita itu di tempatnya semula.

“Siapa bilang kekanakan, kamu terlihat cantik mengunakannya”

Aku hanya menatap Haris bosan dan berlalu darinya, aku masuk ke sebuah toko tidak jauh dari toko aksesoris tadi dan memilih-milih dompet. Karena aku sudah berada di sini, kenapa tidak sekalian berbelanja? Sudah lama sekali aku ingin mengganti dompetku yang kumal.

Aku memilih sebuah dompet bifold wallet berwarna peach, sangat simpel dan mudah di bawa kemana-mana. Setelah membayar di kasir, aku menghampiri Haris yang sedang mengamati sebuat tas berwarna hitam, dia meminta izin ke mbak SPG yang bertugas untuk mencoba tas tersebut.

“Menurut kamu gimana?” Haris menyampirkan tas tersebut di punggung.

“Nggak ada warna lain? Warna hitam terlihat membosankan” ucapku sambil menilai penampilannya. Haris sangat cocok menggunakan tas berwarna coklat, terlihat lebih cool dan keren.

“Kamu merekomendasikan warna apa?” Haris membuka ritsleting tas tersebut dan memeriksa kantong-kantong yang ada. Di dalamnya tersedia tempat untuk laptop, sangat cocok untuk pekerja kantoran seperti Haris.

“Warna coklat” jawabku sekenanya, aku melihat-lihat tas yang ada di toko tersebut sementara Haris bertransaksi dengan mbak SPG, aku melihat sebuah bucket bag berwarna nude  yang cocok di bawa untuk jalan. Aku melirik harganya, lumayan mahal. Aku meletakkan kembali ketempatnya dan bertekat akan kembali bulan depan untuk mendapatkannya. Aku mengelus tas itu “Semoga kamu berjodoh denganku ya” ucapku lirih.

“Kamu nggak jadi membeli tas itu?” tanya Haris ketika melihatku mengembalikan tas tersebut ketempatnya semula.

Aku hanya tersenyum menanggapinya lalu berjalan keluar dari toko. “Kamu sudah selesai? Ayo kita makan aku sudah laper” ucapku langsung melewatinya, kemudian Haris ikut keluar dari toko dengan membawa tas belanjaaan.

“Kamu mau makan apa?”

“Aku pengen makan sushi, sudah lama aku tidak makan sushi. kamu nggak keberatankan?” aku menatap Haris yang berdiri di sampingku.

“Nggak masalah selama makanan itu halal” jawab Haris.

“Oke” kami mencari restoran jepang dilantai ini tapi yang kami temukan hanya toko pakaian, sepatu, aksesoris dan toko tas yang baru saja kami kunjungi. Kami turun ke lantai dua dan menemukan restoran jepang tidak jauh dari fitness center tempat kami berlatih. aku tersenyum lebar dan bergegas masuk lalu duduk di meja paling belakang karena hanya meja itu yang kosong.

Haris mengikutiku kemudian duduk di depanku “Kamu sering makan makanan jepang?”

“Nggak terlalu sering sih, saat pengen aja” ucapku sambil membuka-buka buku menu. “Kamu mau makan apa?”

“Terserah kamu saja, aku nggak terlalu tahu makanan jepang” Haris melihat-lihat buku menu yang telah di sediakan, karena tidak tahu dengan makanan jepang dia menutup kembali buku itu dan meletakkannya di atas meja. “Pesankan aku menu yang sama dengan kamu. Aku keluar sebentar, ada yang mau aku beli.”

Aku hanya mengangguk sambil melihat-lihat buku menu. Aku memesan teriyaki chiken katsudon dan ayam karage untuk Haris --semoga dia suka dengan pilihanku dan sesuai dengan lidah indonesianya-- sedangkan aku memesan sushi dan tempura udon, untuk makanan penutup aku memilih takoyaki. Haris datang dengan dua tas belanjaan bertepatan dengan pesanan kami yang diantarkan.

“Kelihatannya enak, aku sudah lapar sekali” Haris melihat makanan yang ada di hadapannya. “Kenapa makananku berbeda dengan punyamu?”

“Kamu nggak bakalan suka dengan ikan mentah jadi aku pesankan teriyaki chiken katsudon dan ayam karage saja, semoga kamu suka” jawabku sambil memegang sumpit lalu mengambil sushi. Haris memperhatikanku mencelupkan sushi ke soy sauce dan memasukan sushi itu ke mulutku.

“Hmmm enak sekali” erangku.

“Melihat ekspresimu aku juga pengen makan sushi” lalu Haris mencomot sushi yang ada di piringku dengan sumpitnya kemudian mencelupkan ke soy sauce dan memakannya. “Not bad” ucapnya setelah mengunyah makanan itu dan mengambil sushi kedua dari piringku.

“Jangan ambil sushiku, kamu kan sudah punya makanan sendiri” aku mengamankan sushi terakhirku dari jangkauan Haris.

“Salah sendiri, kenapa kamu pesankan makanan yang berbeda dengan punyamu? Aku jadi pengen ikut memakannya” ucap Haris sambil menyumpit tempura dari mangkuk yang ada di depanku dan memakannya.

Aku hanya bisa memandangi Haris yang sedang mengunyah tempura yang berhasil diambilnya “Kalau begitu kita tukaran saja” aku segera menukar mangkuk udon punyaku dengan teriyaki chiken katsudon dan meletakannya di depan Haris. Begitu aku memakan chiken katsudon, Haris juga ikut mengambil chiken katsudon yang ada di depanku “Jangan ambil makananku” ucapku masam sambil menjauhkan mangkuk chiken katsudon dari jangkauan tangan Haris yang panjang.

Haris hanya tertawa dan masih berusaha mengambil chiken katsu dari mangkuk yang berusaha aku jauhkan dari jangkauannya“wajahmu jelek banget kalau cemberut, aku jadi pengen ikut menghabiskan chiken katsudon nya”

Dari pada tarik-tarikan seperti ini dan kesannya malah seperti anak kecil yang sedang berebut mainan, aku mengalah dan menukar kembali mangkuk chiken katsudon dengan mangkuk udon punyaku kemudian mulai memakannya. Aku berusaha mengagalkan usaha Haris yang ingin mengambil tempura terakhirku dan cepat-cepat memasukkan tempura itu kedalam mulutku sambil menatapnya tajam.

“Ya ampun Yan, jangan menatapku seperti itu. Aku bukan pencuri! Aku hanya ingin mencicipi makanan yang kamu makan”

“Mencicipi itu cuma sekali, kalau dua kali namanya doyan” jawabku ketus setelah menghabiskan makanan yang ada di mulutku.

“Gitu aja marah, kalau kamu masih laper tinggal pesan lagi. Nanti aku yang akan bantuin kamu menghabiskannya kalau kamu nggak sanggup” sahut Haris kalem sambil menyuap nasi kemulutnya.

Aku hanya mendengus menanggapi perkataannya, kami sama-sama diam dan menikmati makanan. Sesekali sumpit Haris mendarat di mangkukku untuk mengambil udon dan memakannya. Aku memesan salmon sushi lagi dan kali ini langsung aku habiskan sekaligus.

Haris tertawa melihat pipiku yang menggembung karena aku terus menjejalkan sushi itu ke mulutku. “Pelan-pelan makannya yan, nggak ada yang minta kok”

Lha terus  yang dilakukannya tadi apa dong kalau bukan minta, ini orang gimana sih. Aku hanya mendengus dan terus melahap sushi terakhir tanpa peduli dengan tatapan Haris kemudian meletakkan piring kosong itu di meja, beberapa saat kemudian takoyaki pesananku tiba.

“Kamu masih belum kenyang?” tanya Haris takjub.

“Makan di restoran Jepang itu nggak lengkap kalau belum mencicipi takoyaki” ucapku sambil memandangi takoyaki yang diselimuti dengan saus, mayonaise dan serbuk katsuobushi yang terlihat lezat. “Kamu mau? enak loh” aku  mengambil takoyaki dengan sumpit dan mennyodorkannya ke Haris.

Haris menatapku heran, tapi dia segera membuka mulut dan memakannya. Aku tertawa melihat ekspresi Haris ketika mengunyah. “Yang baru saja kumakan itu isinya apa sih?” Haris mengernyit ketika mengunyah.

“Aku pesan yang isian gurita, nggak enak ya?”

“Enak kok cuma agak keras aja”

“Ingatkan aku untuk tidak memesan takoyaki dengan isian gurita jika lain kali kita berkunjung kesini” ucapku sambil memasukkan takoyaki ke mulut.

Setelah semua makanan yang ada dimeja lenyap tak tersisa, Haris segera membayar semua makanan kami dan segera meninggalkan restoran dengan perut penuh. Seumur hidup aku belum pernah merasa sekenyang ini, beberapa kali dia menawariku ice cream sebagai pencuci mulut dan segera aku tolak. Haris benar-benar teman yang loyal terhadap makanan, aku tidak akan kelaparan kalau jalan dengannya.

Tepat jam sepuluh malam Haris mengantarku pulang, dia membawa banyak tas belanjaan sehingga aku membantunya membawakan tas belanjanya karena dia tidak bisa membawanya sendiri saat berkendara.

Aku turun dari motor sambil berpegangan dengan bahunya “Makasih ya sudah di traktir, kapan-kapan aku yang akan mentraktirmu” aku menyerahkan tas belanjaan yang aku pegang ke Haris.

Haris menatap tas belanjaan yang masih berada di tanganku “Aku boleh minta tolong?” ucapnya saat melihat tanganku melayang di udara.

“Minta tolong apa?” tanyaku heran.

“Simpan tas belanjaan ini untukku, aku tidak bisa membawanya malam ini” Haris hanya mengambil dua tas belanjaan yang berwarna coklat.

“Kenapa tidak bisa? Bukannya kamu juga membawa tas belanjaan itu?” tunjukku kearah tas belanjaan yang dipegang Haris.

“Tas belanjaan itu terlalu berat untuk di bawa, simpan saja di tempatmu” ucap Haris sambil mengenakan helmnya sedangkan tas belanjaan itu tergantung di stang motor.

  “Oke” Jawabku singkat, aku tidak tahu lagi harus berkata apa jadi aku diam saja saat Haris membenarkan letak belanjaannya.

“Besok temani aku latihan lagi ya?” Haris menatapku di balik helmnya.

OH NOOO

Aku tidak mau lagi melihat Haris latihan, itu berbahaya untuk kesehatan jantungku. Cukup sekali aku bertingkah layaknya perempuan yang sedang kasmaran, tidak ada dua kali. Aku juga tidak mau tiba-tiba pingsan ketika melihat Haris sedang mengangkat beban, itu sungguh memalukan.

“Aku nggak bisa” jawabku akhirnya.

“Lho kenapa nggak bisa? Kalau kamu nggak mau latihan, kamu bisa hanya berjalan di treadmill atau bisa juga cuma nungguin aku latihan”

Justru itu yang aku hindari, bisa-bisa jantungku mengajukan pensiun dini. “Nggak makasih. Aku mau bobo cantik aja di rumah, capek kalau latihan tiap hari”

Haris cuma menatapku di balik helmnya. “Oke kalau berubah pikiran telpon aku ya, aku pulang dulu” Haris menstarter motor kerennya dan berlalu dari hadapanku.  

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!