Haris
Aku melajukan kendaraan di jalan raya menuju kawasan di salah satu kampus bergengsi di Jogja, aku baru tiba pukul setengah lima sore menggunakan mobil dinas bersama salah satu rekan kerja. Begitu sampai di rumah, aku langsung mengebut ke kawasan ini untuk menjemput gadis itu tanpa sepengetahuannya. Niatnya sih ingin memberi kejutan, tapi aku yakin sekali dia tidak akan terkejut menemukanku di teras kosnya, menunggu dan berharap dia akan muncul di balik pintu kos.
Rasa lelah tidak aku hiraukan karena ingin cepat-cepat bertemu dengannya. Aku tiba di teras kos yang sudah sering aku kunjungi dan duduk di kursi yang tersedia kemudian segera menelpon gadis itu.
“Halo” jawab gadis itu di ujung sana setelah panggilan yang ketiga, suaranya terdengar seperti orang bangun tidur.
“Apakah aku mengganggu?”
Aku mendengar suara kasur yang bergerak “Iya, kamu mengganggu tidur soreku.” gadis itu menguap keras, “Baru kali ini aku tidur senyenyak ini, biasanya kan jam segini aku sedang nge-gym.”
“Kamu masih punya hari libur sampai besok.” aku menatap jam tangan yang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, “Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan ke kebun buah mangunan?”
“Tunggu. Kamu sekarang di mana? Bukannya besok kamu masih di Jakarta?” tanya gadis itu bingung.
Aku memang berjanji akan pulang dua atau tiga hari lagi tapi pekerjaanku sudah selesai kemaren sore jadi aku dan rekanku sepakat kami pulang ke Jogja hari ini “Kamu turun sekarang, aku tunggu di bawah”
‘Tunggu. Jangan bilang kamu sekarang ada di depan kos?” teriaknya kaget.
“Kamu akan mengetahuinya setelah membukakan aku pintu.” aku mendengar suara kegaduhan di ujung sana lalu dia mematikan teleponnya. Aku tertawa geli mendengar responnya, sepertinya aku sukses membuatnya terkejut.
Sepuluh menit kemudian gadis itu membuka pintu kos dan bertolak pinggang di depanku “Kanapa kamu nggak bilang kalau sudah pulang?” kata gadis itu dengan jengkel.
“Aku sudah memberitahumu kan?” kataku tanpa merasa bersalah.
“Tapi kemaren kamu bilang dua atau tiga hari lagi baru bisa pulang.” katanya sarkas.
“Aku hanya ingin mengejutkanmu saja, jangan ngambek. Ayo ikut aku.” aku bangkit dari kursi dan bersiap mengenakan helm.
“Kemana?” tanyanya bingung.
Aku menatap menampilan Riana yang menggunakan setelan rumahan dengan atasan berwarna biru dan celana training selutut berwarna abu-abu serta rambutnya yang di cepol keatas, wajahnya pun tanpa polesan make up. “Aku ingin mengajakmu makan malam di rumahku.”
Aku melihat reaksi Riana yang melotot dengan mulut terbuka, apakah salah aku ingin mengajaknya makan malam di rumahku? Aku sudah membelikan soto betawi dan beberapa jajanan tradisional sesuai dengan pesanannya. Riana terlihat salah tingkah ketika mengetahui kemana aku akan membawanya dan reaksinya terlihat menggemaskan.
“Ada yang salah?” tanyaku penasaran dengan responnya, aku menggunakan helm di kepala.
“Apakah tidak apa-apa aku kerumahmu?” tanyanya tidak nyaman.
“Tidak apa-apa, aku tinggal sendiri kok, apa yang kamu takuti? Aku tidak akan melakukan apapun padamu, kita hanya makan di rumahku. Ayo sebentar lagi magrib.”
“Sebentar, aku ganti baju dulu.” Riana langsung meninggalkanku begitu saja di teras.
Tadi aku sempat merasakan keengganan Riana untuk ikut kerumahku, aku bisa mengerti. Itu merupakan langkah besar dalam hubungan kami, aku juga baru pertama kali mengajak seorang gadis kerumahku. Aku tahu Riana hanya menganggapku sebagai teman bagaimanapun aku menunjukkan kepadanya bahwa aku menyukainya, tapi bagiku itu sudah cukup selama dia tidak melarangku untuk bertandang ke kosnya.
Aku masih ingat bagaimana kami bertemu, saat itu aku menemukan kunci kosnya di depan pintu ruang ganti di fitness center, dia tidak sengaja menjatuhkannya di sana. Seminggu kemudian aku bertemu kembali dengannya saat berbelanja di hypermart, kemudian kami bertemu kembali saat aku berlatih dan itu memicu pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Riana muncul dengan menggunakan hoodie berwarna toska dan jins hitam kemudian mengikat rambutnya seperti ekor kuda. Dia juga menggunakan sepatu olahraga yang aku belikan, sepasang dengan sepatu yang ada di rumah.
“Oke aku sudah siap” dia menyampirkan tas yang aku belikan di pundak lalu duduk di jok belakang.
Aku melajukan motor ke jalan raya menuju rumahku, sepanjang perjalanan Riana tidak sekalipun mengajakku berbicara. Dari kaca spion aku melihatnya menguap lebar, terbersit rasa bersalah karena sudah memaksanya untuk mengikuti latihan-latihan yang aku lakukan, tapi hanya itu alasan yang aku punya untuk bertemu dengannya setiap hari.
Kami tiba di depan rumahku bertepatan dengan suara azan yang berkumandang, aku memarkir motor di bagasi dan membantu gadis itu turun dari motor.
“Halaman rumahmu luas banget, banyak pohon buah di sini.” Riana melepaskan helmnya kemudian menatap kesekeliling halaman yang di tumbuhi pohon buah-buahan.
Aku baru menempati rumah ini sekitar setahun yang lalu. Selain memiliki kamar yang banyak, halaman luas yang di penuhi dengan pohon buah-buahan merupakan alasanku untuk membeli rumah ini. Aku menggiring gadis itu memasuki ruang tamu yang sudah aku renovasi enam bulan yang lalu.
Riana meletakkan tasnya di meja “Seleramu bagus juga.” Riana berdecak kagum, menatap kesekeliling ruangan.
Aku tersenyum melihat responnya, yah bagaimanapun juga aku ingin membuat rumah yang minimalis sekaligus nyaman untuk di tinggali bersama istriku nanti. “Kamu membawa mukena kan? Kita salat dulu sebelum makan malam, mari aku tunjukkan kamar yang bisa kamu gunakan” aku membawa Riana ke kamar tamu yang ada di samping tangga kemudian membukakan pintu lalu meninggalkannya untuk bersiap-siap menghadap sang pencipta.
Aku juga perlu bebersih untuk menghilangkan bau keringat yang menempel, aku mencium bau tidak sedap dari tubuhku dan mengenyit jijik. Apa Riana mencium bau tidak sedap dari tubuhku? semoga tidak, aku saja yang menciumnya ingin muntah, aku bergegas ke lantai atas untuk membersihkan diri.
∞∞∞∞
Riana
Aku melipat mukena yang baru saja di gunakan dan memasukkannya kedalam tas. Ini kali pertama aku masuk ke rumah seorang laki-laki single seorang diri, entah apa yang aku pikirkan saat menerima ajakannya. Jujur saja aku sama sekali tidak pernah mengunjungi rumah seorang laki-laki, apa lagi dia tinggal sendiri di rumah ini. Bukannya aku khawatir, aku tahu Haris tidak akan melakukan apapun padaku, tapi ini sungguh langkah besar untuk pertemanan kami.
Aku membuka pintu kamar dan mencari-cari keberadaan Haris di rumah ini. Aku menatap kesekeliling ruangan, rumah ini terlalu besar untuk di tinggali oleh laki-laki single seperti Haris, terasa kosong dan dingin. Interiornya bagus, minimalis dan modern, tipikal rumah yang di desain untuk sebuah keluarga.
Aku mengintip ke ruangan sebelah, ternyata sebuah ruang keluarga yang di lengkapi dengan televisi 42 inchi yang menempel ke dinding, sofa multifungsi serta sebuah karpet berwarna toska terhampar di depanku. Aku suka ruang keluarganya, sangat minimalis dan cocok untuk menghilangkan rasa penat setelah seharian beraktivitas.
Dimana Haris? aku sama sekali tidak melihatnya, aku kembali keruang tengah dan menemukan sebuah ruangan lagi yang ternyata dapur merangkap ruang makan. Di sanalah Haris duduk di salah satu kursi di meja makan bersama seorang wanita paruh baya yang sedang memanaskan makanan.
“Yan, kenapa berdiri di situ, ayo duduk di sini.” Haris memanggilku dan mengajak duduk di sampingnya “Kamu laper?”
“Laper banget.” aku duduk di sampingnya.
“Tunggu sebentar, mbok Nari sedang memanaskan soto betawinya.”
Mataku langsung berbinar-binar, “Sungguh! Kamu membelikan soto betawi untukku.”
“Aku kan sudah janji.”
“Kamu memang harus menepati janji karena sudah membuatku mengharapkan makanan itu.”
Mbok Nari menyiapkan peralatan makan lalu meletakkan sepiring nasi dan semangkuk soto betawi di depanku, “Silahkan di nikmati non, mumpung masih panas.”
“Terima kasih mbok.” aku menyendok kuah soto ke piring.
“Baca doa dulu.” Haris juga melakukan hal yang sama dengan nasi yang ada di hadapannya.
Aku beterima kasih kepada sang pencipta sudah memberikan rezeki senikmat ini, kemudian mulai menyantap makanan. Aku mengerang, rasanya tetap sama, “Ini enak banget.”
“Iya, enak.” Haris mengangguk menyetujui, dia menyantap jeroan dengan lahap.
Kami makan dalam diam, sesekali aku meliriknya yang sedang asik menyuap sesendok daging. Aku betul-betul kelaparan sampai bisa menghabiskan dua piring nasi. Tadi siang aku hanya makan biscuit dan segelas coklat panas karena terlalu sibuk menyelesaikan dua bab terakhir naskah dan harus mengirimkannya besok. buku ke tujuh sudah selesai di tulis dan aku berencana untuk menunda membuat naskah baru karena kesibukkanku sekarang.
“Mau nambah lagi, atau mau di bawa pulang sotonya? Tadi aku beli empat porsi”
“Beneran boleh di bawa pulang?”
“Aku membeli soto betawi buat kamu, aku tahu kamu pasti kangen berat dengan makanan ini.”
“Makasih ya, sudah mau membawakan makanan kesukaanku. Pasti repot banget membawanya.”
“Nggak repot kok, aku senang bisa melakukannya.” ucap Haris sambil tersenyum.
Aku segera menumpuk piring dan mangkuk kotor lalu membawanya ke bak cuci piring, melihat senyuman Haris membuatku salah tingkah.
“Biar mbok Nari saja yang mencucinya.” dia ikut membantu membawakan gelas kotor.
“Aku saja yang mencucinya, ini tidak terlalu banyak.” aku melipat lengan hoodie hingga ke siku kemudian mulai membersihkan piring kotor dengan air dan menggosoknya dengan spons yang tersedia.
“Menurutmu, bagaimana dengan rumahku?” Haris berdiri di sampingku sambil bersedekap. Mengamatiku yang sedang mencuci piring.
“Rumahmu bagus, hanya saja terlalu kosong dan sepi. Rumah ini terlalu besar untuk di tinggali sendirian.” aku mulai membilas piring dan gelas yang berlumuran sabun.
“Begitu ya, tapi kamu suka kan dengan rumahku?”
Aku berpaling kearah Haris. “Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Aku hanya ingin mendengar pendapatmu saja.” katanya sambil mengedikkan bahunya.
“Rumah ini bagus, aku suka ruang keluarganya, halamannya juga luas dan banyak pohon buah. Kalau musim buah pasti seru memanen buah mangga atau rambutan atau bisa juga duduk di kursi gantung sambil membaca buku dan menikmati angin sepoi-sepoi di bawah pohon.” ucapku sambil berhayal, bagaimana rasanya ya. aku ingin sekali melakukan kegiatan seperti itu.
“Begitu ya.” Haris bersandar di kulkas dan gesturnya berubah rileks, seakan-akan dia tegang menunggu jawabanku.
“Kamu sudah pernah mengajak pacarmu kesini?” tanyaku penasaran sambil mengeringkan tangan dengan serbet.
“Riana, aku ini masih single. Aku belum pernah membawa wanita ke sini.” Haris mengambil gelas bersih lalu membuka kulkas dan memenuhi gelas itu dengan jus jeruk lalu meminumnya.
“Kenapa nggak cari pacar saja lalu kamu kenalin ke aku?” aku duduk di kursi dan mengamati Haris mencuci gelas yang di gunakannya.
Haris terdiam cukup lama, lalu berbalik menghadapku “Ada wanita yang aku sukai.”
“Benarkah, bagus dong. Kenapa nggak kamu kenalin ke aku?” tanyaku bersemangat, aku jadi penasaran wanita seperti apa yang sudah membuat Haris jatuh hati.
“Dia tidak menyadari kalau aku menyukainya.” sahut Haris murung.
“Lho kok bisa?” aku tidak bisa menutupi kekagetanku hingga memancing tawanya.
“Karena dia tidak peka, berbagai cara sudah aku gunakan untuk membuatnya sadar bahwa aku menyukainya tapi dia tetap saja tidak menyadarinya.” ucapnya sambil tersenyum.
“Kamu kurang agresif kali, siapa tahu dia perlu di pancing dulu supaya sadar kalau ada laki-laki di sekitarnya yang suka padanya. Saranku nih, kamu harus lebih berani menunjukkan perasaanmu padanya.” Bisa-bisanya aku memberikan saran seperti itu, aku saja tidak punya pacar. Rasanya aku ingin merobek mulutku sendiri karena berusaha sok bijak.
‘Kamu benar juga, mungkin dia nggak peka karena aku tidak pernah menunjukkan perasaanku” Haris mengangguk menyutujui.
“Siapa wanita beruntung itu? teman kerjamu ya.”
Haris
Aku menghela nafas berlahan. Riana memang tidak peka, aku sudah memberitahunya kalau aku menyukai wanta itu dan wanita yang aku sebut adalah dirinya sendiri. Rasanya aku ingin menjedukkan kepalaku ke tombok karena prustasi dengan sikap Riana yang tidak peka itu.
Riana benar. Aku baru menyadari itu sekarang dan itu salahku sendiri karena tidak pernah menunjukkan kepadanya kalau aku menyukainya hingga dia tidak pernah menyadarinya.
“Siapa wanita beruntung itu? teman kerjamu ya”
Aku hanya tersenyum masam melihat responnya “Dia bukan rekan kerjaku, dia salah satu teman baikku, suatu hari nanti kamu akan tahu siapa dia.”
“Wahh aku tidak sabar lagi ingin berkenalan dengan wanita yang sudah membuatmu jatuh hati. Pasti wanita itu cantik?” katanya penuh semangat.
“Dia cantik, sangat cantik. Dia salah satu wanita paling cantik yang pernah aku kenal.”
“Beruntungnya wanita itu, aku juga pengen punya pacar? aku sudah lelah di desak mama” gumamnya berlahan, dan aku mendengar dengan jelas apa yang baru saja dia katakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments