Aku berdiri di depan lemari makanan, menatap tumpukan bungkus mie instan dan bermacam-macam snack. Apa yang harus kulakukan dengan makanan-makanan ini? Kalau sampai Nita melihat pemandangan ini, habislah aku. Bisa-bisa Nita ngamuk dan dia bakalan menstok wortel sebagai cemilanku selama sebulan. Yup, besok Nita akan berkunjung ke kosanku seperti janjinya tempo hari dan aku harus menyingkirkan barang haram ini dari TKP. SEGERA.
Aku mengambil bungkusan mie favoritku, tanggal kadaluarsanya masih lama sekitar 6 bulan lagi, tapi kalo dibuang kan sayang. Snack ini juga tanggal kadaluarsanya masih lama. Aku membuka kulkas dan meneliti isinya. Ada berbagai macam minuman soda berbagai merek dengan kemasan 1500 ml.
Sebuah ide terlintas di kepalaku. Segera kuambil beberapa kardus dari samping lemari dan menyusun makanan dan minuman itu ke dalam kardus. tiga buah kardus tidak cukup untuk menampung makanan dan minuman itu. Aku mengambil spidol dan kertas dari lemari dan menuliskan SILAHKAN AMBIL SEPERLUNYA. GRATIS dengan huruf besar. Aku bawa kardus-kardus itu ke dapur umum dan meletakkannya di atas meja makan, siapa tahu ada yang mengalami sindrom ‘kanker’ dan makanan ini masih bisa berguna. Maklum anak kos kan emang begitu, makanan tanggal tua ya mie instan.
Karena penghuni kulkas yang lama sudah aku singkirkan, sekarang waktunya mengisi dengan penghuni baru yang lebih sehat. Aku langsung mengganti Hotpant dengan celana jins dan melapisi baju kaus yang kukenakan dengan cardigan berwarna nude.
Sudah sekitar satu jam aku mengelilingi hypermart sambil mendorong troli. Aku menatap catatan yang sudah penuh dengan coretan. Yakult sudah, yogurt sudah, C1000 sudah, buavita mangga sudah, selada, paprika, sawi putih juga sudah, yang belum hanya buah-buahan. Aku segera berjalan ketempat buah-buahan berada. ketika sedang memilih buah melon, aku merasa bahuku di tepuk dari belakang. Aku menoleh dan hampir saja menjatuhkan melon yang aku pegang. Dibelakangku berdiri seorang pria yang juga membawa troli berisi sayuran hijau dan buah, dia mengenakan kemeja yang sudah dilipat hingga ke siku dan celana jins warna hitam.
“Hai,” Haris melongokkan kepalanya ke troliku, menatap belanjaanku yang saking banyaknya bisa memberi makan warga satu kota.
Aku mengelus dadaku “Kamu suka banget ya bikin orang jantungan,” omelku.
Haris cuma nyengir “Maaf deh, dari tadi aku panggil-panggil kamu nggak dengar juga.” Haris berdiri di sampingku dan memilih-milih buah melon kemudian meletakkan buah melon itu di trolinya “Kamu apa kabar?”
Aku memasukkan buah melon yang sudah kupilih ke troli, “Aku baik-baik saja.” Aku mengamati Haris yang lagi memilih buah mangga “Yang waktu itu… makasih ya,” kalo di pikir-pikir lagi tingkahku waktu itu menyebalkan sekali.
“Makasih buat…?” Haris berbalik dan menatapku.
“Sudah mengembalikan kunci kamarku.”
““Sama-sama.” Haris tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, “Senang bertemu denganmu di sini,” kemudian dia berlalu menjauhiku sambil mendorong trolinya. Aku hanya menatap punggung Haris yang menjauhiku. Ya sudahlah….
Aku mengambil buah strawberry lalu memasukkannya ke troli kemudian membayar belanjaanku di kasir. Sesampainya di rumah, aku segera membongkar belanjaanku kemudian menempatkannya di kulkas dan sebagian lagi aku letakkan di lemari. Sayup-sayup aku mendengar getaran ponsel yang ada di dalam tas.
Aku menatap nomor tak dikenal yang beberapa hari ini selalu menghubungiku. Nomor yang sama juga mengirimiku pesan whatsApp beberapa minggu yang lalu. Orang ini tidak akan pernah berhenti menghubungiku kalau tidak diangkat.
“Halo” jawabku setelah si dia bernyanyi-nyanyi sepuas hati.
“Halo sayang”
SAYANG! Aku menatap layar ponsel dengan keheranan. Baru kali ini aku dipanggil ‘sayang’ dengan orang yang tidak kukenal.
“Ini siapa ya?” tanyaku penasaran.
“Aku Rudi! Masa sudah lupa sih dengan tunangan sendiri” ucapnya dengan nada sok akrab.
TUNANGAN. Gila nih orang! Punya tunangan aja nggak, ngaku-ngaku sebagai tunanganku. “Maaf ya kayaknya salah sambung” ketika aku ingin mematikan telpon itu, tiba-tiba orang itu berseru.
“Ini nomornya Riana kan? Anaknya pak Anwar Rahardja!” Dari mana dia tahu namaku?
“Iya dengan saya sendiri” aku duduk di atas kasur sambil bersedekap.
“Berarti nggak salah sambung dong. Gimana sayang suka kalungnya?”
“Bentar dulu, perasaan saya nggak pernah tunangan tuh, sejak kapan saya punya tunangan?” seruku jengkel.
“Sejak mama kamu menjodohkan kita”
OH MY GOD! Apa yang sudah mama lakukan? Berusaha menjodohkanku dengan si kampret ini? Dengan orang yang tidak kukenal pula? Mama sudah gila.
“Maaf ya pak! saya tidak kenal dengan yang namanya Rudi” Hardikku “Dan jangan hubungi saya lagi” aku langsung memutuskan sambungan telepon dan memblock nomor tersebut.
“GILAAAAAA” teriakku prustasi sambil meninju-ninju bantal yang ada di sampingku.
Bahkan untuk masalah jodoh pun mama sudah mengaturnya. Aku bukan boneka yang bisa seenaknya diatur. Mama benar-benar keterlaluan. Aku segera menghubungi mama dan diangkat pada dering kelima.
“Halo Dek”
“Apa yang sudah mama lakukan?” teriakku prustasi.
“Emang apa yang sudah mama lakukan sampai kamu marah-marah?” tanya mama bingung.
“Mama menjodohkanku dengan laki-laki yang bernama Rudi itu!”
“Ooohh Rudi sudah menghubungimu ya” suara mama terdengar senang “Rudi itu sungguh menantu idaman, Dek. Orangnya baik, punya pekerjaan, tampan pula. Apa lagi yang kamu cari? Mama setuju banget kamu nikah sama dia”
“Ma aku nggak kenal dengan orang itu” teriakku prustasi.
“Adek! Rudi itu anaknya tante Wida, kamu sudah pernah ketemu sama dia”
WHAAAT
Rudi… Rudi yang itu… si brengsek yang banyak pacarnya itu… mama emang sudah gila mau menyerahkan anaknya ke siluman buaya.
“Mama jangan macam-macam ya! kalo mama masih nekat mau menjodohkanku dengan orang itu, mama akan mendapatiku mati gantung diri di kamar kos” ancamku dan langsung menutup telpon itu dengan ganas.
...****...
Bunyi ringtone membangunkanku dari tidur lelap. Aku mencari-cari ponsel yang ternyata berada di bawah bantal. Siapa yang berani menelponku pagi-pagi begini? Aku menekan warna hijau pada layar dan membiarkan si penelpon berbicara sendiri sesuka hatinya.
“RIANA BUKAIN PINTU GUE DI BAWAH,” teriak si penelpon yang tak tahu diri itu.
Aku baru menempelkan HP ke telinga saat orang itu berteriak-teriak gak jelas dan menjawab dengan suara lirih “Halo.”
“Bangun tukang tidur. Ini sudah jam berapa hah?”
“Ini siapa?” bisikku dengan mata terpejam dan kesadaran yang masih di awang-awang.
“Yaelah WOI BANGUNNN. KEBO BANGET SIH,” teriak si penelpon di telingaku “GUE DIBAWAH! BANGUN SEKARANG JUGA KALO GAK MAU GUE RUSUH DI KOSAN LO!” Aku menatap layar ponsel dengan sebelah mata dan langsung terduduk begitu melihat Nita yang menelpon.
“Tunggu bentar,” jawabku panik. Saking paniknya, aku sampai terjatuh dari tempat tidur lalu buru-buru kekamar mandi untuk gosok gigi dan mencuci muka. Tidak sampai lima menit aku keluar dari kamar mandi dan buru-buru mengganti hotpantku dengan celana training kemudian menyambar gantungan kunci yang ada di atas meja dan setengah berlari menuruni tangga dengan terpincang-pincang karena kakiku baru saja mencium kaki meja. Sampai di depan pintu aku disambut dengan plototan mata Nita, aku cuma nyengir saat melihat sobatku ini bertolak pinggang sambil menenteng tas menginapnya.
“Jam segini lo baru bangun, nanti rezeki lo di patok ayam baru tahu rasa.”
“Yaelah Ta sebelum ayam itu matok rezeki gue, gue kali yang makan ayam itu duluan.”
“Pinter banget lo ngeles,” Nita menatap wajah bangun tidurku jijik “Iiuuhhh iler lo masih nempel!”
Aku mengusap sudut bibirku pura-pura mengelap inner beautyku dan mengusapkannya ke lengan Nita.
“Hiiiii Jijik hii… hii…” Nita menggosok-gosok lengannya yang baru saja ku sentuh “Hoeek Pengen muntah gue.”
“Hahaha,” aku tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut. Tingkah Nita lucu sekali. tampangnya itu loh sungguh tak tertahankan.
Nita berjalan menaiki tangga sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. aku tertawa dan menyusulnya “Gue cuma bercanda, lo tenang aja tangan gue sudah steril kok, sudah cuci muka dan gosok gigi juga, mandi aja yang belum,” aku merangkul bahunya.
“Jangan rangkul-rangkul jijik tahu, terakhir gue nelpon tingkah lo kayak pasangan lesbi gue,” Nita menepis tanganku.
Kami sampai di depan pintu kamarku dan aku membuka pintu kamar “Gue masih normal kali Ta, jangan menyebalkan deh,” untung keadaan lorong kamar sepi jadi aku bisa menggoda Nita sedikit. “Dalam rangka apa nih elo mampir ke kos gue yang sederhana ini?” aku masuk ke kamar dan menutup pintu ketika Nita sudah ikut masuk dan duduk di kasur.
“Kan sudah gue bilang pengen ketemu lo.”
“Iya gue tahu tapikan elo kerja Ta, jangan bilang elo bolos kerja karena gak tahan dengan keluh kesah gue?” aku mengambil dua gelas di rak piring kemudian meletakkannya di meja belajar lalu mengambil jus di dalam kulkas dan menuangkannya ke gelas untuk kami berdua.
“Geer banget sih, gue kan perlu refresing juga dari rutinitas yang melelahkan itu, kebetulan banget anak-anak libur semester genap,” Nita menerima gelas yang aku berikan dan meminumnya.
“Oooohh kirain elo bolos kerja” aku duduk di samping Nita dan ikut meminum jus yang aku tuang tadi.
“Kamar lo bagus juga” Nita menatap ke sekeliling kamar “Pinter lo milih kos, kirain lo nggak bisa ngapa-ngapain.”
“Lo ngeremehin gue ya,” aku menatap Nita nyureng.
“Santai sis bukannya gue ngeremehin, gue kira lo nggak berani keluar dari rumah nyokap lo.”
“Kalo gue nggak berani, gue nggak bakalan ada disini say,” aku meletakkan gelas di nakas samping tempat tidur, Nita tersenyum dengan perubahan nada suaraku.
“Gue salut sama lo berani mengambil keputusan besar dan memulai semuanya dari awal lagi. Terus gimana nasib naskah lo?” Nita berdiri dan berjalan kearah lemari buku yang ada di samping meja belajar.
“Semuanya lancar beberapa naskah gue sudah terbit dan sekarang gue lagi menyusun naskah baru.”
“Bangga gue, lo sukses bisa membuktikan sama tante bahwa lo bisa mandiri dan mempunyai duit sendiri,” Nita menghadap ke lemari buku dan menelusuri buku-buku koleksiku “Mana buku-buku lo gue pengen… ASTAGA!” teriak Nita sambil membekap tangannya yang tidak memegang gelas “Sejak kapan lo membaca buku…?” buru-buru Nita meletakkan gelas di meja belajar “Tunggu… buku apa ini?” Nita mengambil salah satu buku yang ada di lemari dan menelitinya.
“Ohh itu buku pengembangan diri,” aku menjawab dengan santai.
“Setahu gue, lo demennya dengan buku-buku novel. Kenapa tiba-tiba pindah haluan?” Nita menatapku sambil mengacungkan buku berjudul 21 wasiat Steve Jobs di depan wajahku.
“Coba lo duduk di sini dulu,” aku menarik tangannya agar Nita duduk kembali di sampingku “Gue belum cerita ya rencana gue kedepan ya?”
“Yap elo hutang penjelasan sama gue.”
“tapi sebelum gue cerita, kita makan dulu yuk gue laper banget nih,” aku memegang perutku yang berbunyi.
Nita tertawa ketika melihat wajahku yang memelas “Yaelah, dikirain apa, mau gue masakin sesuatu?”
Aku mengangguk antusias “Gimana kalo spaghetti? Gue punya bahannya.”
“Okey gue perlu pembuktian?” Nita bangkit dari kasur dan berjalan kearah kulkas yang ngomong-ngomong isinya sudah aku isi ulang. Tapi tiba-tiba saja Nita berbalik menghadapku sambil bertolak pinggang dan melotot “Mandi sekarang juga kalo nggak mau jatah spaghetti lo gue habisin!” perintahnya.
Aku cuma nyengir kuda menatap Nita si tukang perintah kemudian mengambil handuk bersih dari lemari. Tetapi sebelum ke kamar mandi aku mendekati Nita dari belakang dan memeluknya.
Nita tersentak “RIANA APA YANG LO LAKUKAN?” teriaknya dan berusaha menjewerku. Aku berkelit dan menjauhinya sambil tertawa tetapi dia malah melempariku dengan paprika dan bawang bombay yang diambilnya dari kulkas.
∞∞∞
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments