Bahaya Telah Lewat 2

Dering telepon mengganggu tidurku, aku berusaha menjangkau ponsel yang aku letakkan di nakas dengan mata tertutup.

“Halo” jawabku lirih setelah berhasil mengambil ponsel.

“Kamu masih tidur?” sapa seseorang di ujung sana.

“Siapa ini?” tanyaku lirih, aku tidak sadar kalo letak ponselku terbalik.

“Bangun Riana, sekarang sudah pagi.”

Aku membuka mata sedikit lalu mematikan telpon dan kembali tidur. Beberapa saat kemudian ponselku kembali berdering, deringnya sampai membangunkan mbak Dian yang tidur di sampingku.

“Riana angkat telponmu.” mbak dia melemparku dengan guling kemudian menutup telinganya dengan bantal. Aku dan mbak Dian baru tidur pukul tiga pagi karena terlalu asik bercerita hingga tak menyadari waktu sudah beranjak pagi.

“Siapa sih yang nelpon pagi-pagi begini.” omelku. aku beranjak dari kasur dan membuka pintu samping lalu duduk di teras “Halo” jawabku lirih sambil mengucek mata, berusaha membuka mataku lebar-lebar.

“Riana bangun, ini sudah pagi.” sapa Haris.

“Baru juga jam enam, masih gelap.” aku menatap pemandangan taman di samping rumah yang bisa di akses melalui kamar mbak Dian.

“Ini sudah terang Riana! Coba kamu keluar, matahari sudah muncul dari tadi.”

“Munculnya dirumah kamu saja, disini masih gelap.” ucapku sambil menguap.

“Kamu tidur jam berapa sih tadi malam, jadi susah banget di bangunin?” omel Haris.

“Aku tidur jam tiga, Haris. Aku sudah bangun kok, ini lagi duduk di teras.” aku sedang menikmati suara burung berkicau.

“Kamu sekarang dimana?”

“Aku sekarang di rumah tunangan abang.” aku menikmati suasana pagi yang indah, udara masih dingin sekali.

“Mau aku jemput? Sekalian aku ingin berkenalan dengan abangmu.”

“Jangan!” teriakku panik. “Aku nggak mau kamu bertemu dengan abang sekarang.”

“Kenapa kamu melarangku bertemu dengan abangmu?”

“Jangan sekarang Haris, tolong jangan sekarang. Aku nggak mau kehilangan teman sepertimu karena ulah abang.” pintaku dengan memelas.

“Baiklah aku akan mengikuti keinginanmu” Haris terdiam sesaat, “Riana, kamu tidak perlu menghawatirkanku jika abangmu ingin membunuhku, aku bisa menjaga diri sendiri.”

 “Iya aku tahu, tapi tetap saja aku hawatir karena kamu teman pertama yang aku miliki setelah pindah kesini.” aku berdiri dan menatap matahari yang mulai mengintip di balik awan, “ Haris maaf ya, tadi malam abang sudah bersikap kasar denganmu.”

“Bisa di mengerti. Kalau aku punya adik, aku juga akan bersikap seperti itu, malah lebih parah dari abangmu.”

“Abang memang seperti itu jika bertemu dengan temanku, banyak dari teman-temanku tidak mau lagi berteman denganku karena mama dan abang mendatangi mereka. Tapi tenang saja, Abang tidak akan mendatangimu karena aku sudah berbicara dengannya.”

“Sudah aku bilang, kamu tidak perlu menghawatirkan aku, kita tetap akan berteman walau abangmu mengancamku.”

“Aku senang bisa berteman denganmu, Haris. kamu teman yang baik.” Aku mendengar seseorang berteriak dari dalam kamar “Tunggu sebentar, sepertinya ada yang memanggilku.” Aku masuk ke dalam kamar dan mendengar abang memanggil-manggilku dari balik pintu kamar. “Aku harus pergi Haris, abang sudah memanggilku.”

“Baiklah, kalau kamu sudah pulang ke kos telepon aku ya.”

“Oke, bye.” Aku menutup telepon kemudian segera membuka pintu. Abang sudah berdiri di depan kamar dengan handuk di leher, sepertinya abang baru selesai mandi.

Abang melirik tanganku yang menyembunyikan ponsel “Dian mana?”

“Mbak Dian masih tidur bang.” Kenapa mbak Dian tahan punya tunangan seperti ini? sudah galak suka ikut campur urusan orang lagi.

“Cepat mandi, abang tunggu di meja makan.” Perintah abang kemudian berlalu kekamarnya.

Aku segera membersihkan diri dan mengganti baju tidurku dengan dress yang aku beli kemarin. Aku menatap penampilanku di cermin, dress ini pas sekali dengan lekuk tubuhku, roknya mengembang hingga sedengkul. Aku mengeringkan rambut yang masih basah dan memutuskan untuk mengurainya saja, aku meminjam Hair Dryer  mbak Dian untuk mengeringkan rambutku.

Sayang sekali aku tidak membawa sepatu yang cocok untuk dipasangkan dengan dress ini, aku segera membereskan barang-barangku dan meletakkan pakaian kotor di keranjang yang terletak di kamar mandi.

“Kamu mau kemana, yan? pagi-pagi sudah rapi.” mbak Dian mengucek matanya, selimut masih melilit tubuhnya.

“Mau sarapan, abang sudah nunggu di meja makan.” Aku menuju whalk in closet dan membuka lemari yang menyimpan berbagai macam sendal dan sepatu koleksi mbak Dian. Aku memilih flatshoes berwarna hitam yang sesuai dengan dress yang aku kenakan.

“Mbak, aku minjem flatshoes ya” teriakku.

“Iya gunakan aja, nggak dibalikin juga nggak apa-apa.” Sahut mbak Dian.

Calon kakak iparku memang baik sekali, aku keluar dari kamar dengan menenteng tas fitness, tas belanja dan Helm kemudian aku letakkannya di ruang tamu. Abang sudah rapi dengan jins dan kaus ketika aku tiba di meja makan, aku duduk di samping abang yang sedang menyantap nasi goreng.

“Ingin sarapan apa Non?” tanya mbok Surti, pembantu sekaligus yang merawat rumah ini.

“Roti dan telur orak arik ,mbok.”

“Aku juga mbok, sama dengan Riana.” Mbak Dian duduk di depan abang, “Hari ini rencananya mau kemana yan?”

“Ngerjakan tugas mbak, kalau abang nggak keberatan aku mau di antar setelah sarapan saja.”

“Padahal aku pengen minta ditemani ke mall.” Keluh mbak Dian.  

“Nggak bisa mbak, lusa tugasnya harus dikumpul.”

“Ya sudah, aku telpon Tama saja siapa tahu dia mau menemaniku ke mall.”

“Kenapa nggak sama abang?” aku melirik abang yang sedang menyantap nasi gorengnya.

“Setelah mengantarmu abang harus ke Surabaya, ada proyek yang harus di tinjau ulang.” kata abang sambil meminum jus jeruknya.

“Abang nggak cemburu kalau mbak Dian jalan sama cowok lain?” tanyaku penasaran.

Abang menatap mbak Dian sejenak lalu kembali menyantap nasi gorengnya. “Nggak kalau jalan sama temannya.”

“Abang nggak takut kalo mbak Dian pacaran sama temannya karena abang terlalu sibuk kerja?” tanyaku penasaran. Aku tahu abang sangat sibuk untuk ukuran seorang pengusaha makanya aku penasaran, bagaimana kalau mbak Dian yang selingkuh?

“Siapa yang berani merebut tunanganku? Sini biar aku matiin orangnya” ancam abang.

“Bagaimana kalau mbak Dian yang selingkuh?” aku menatap mbak Dian dan abang bergantian, itu bisa saja terjadi kan.

“Dian nggak mungkin selingkuh karena dia cinta mati sama abang.” jawab abang sambil meminum jus jeruknya. Mbak Dian meniupkan ciuman jauh ke abang dan memberikan kedipan mata kearahku, Aku langsung pura-pura muntah di depan mbak Dian.

Abang hanya melirikku tanpa memperdulikan reaksiku “Abang nggak akan mencari tahu temanmu itu selama kamu bisa menjaga diri, Dek. Ingat pesan abang. Jangan. Pulang. Tengah.  Malam.”

“Iya abang.” aku melanjutkan menyuap sesendok telur.

“Jangan pergi ke diskotik dan jangan pernah coba-coba menggunakan narkoba.”

“Iya abang. Aku akan ingat pesan abang”

“Kartu yang abang kasih kenapa nggak kamu gunakan?” tanya abang.

Kartu yang mana? Memangnya abang sudah memberiku sebuah kartu? Aku menatap abang “Abang nggak pernah memberiku kartu debit?”

“Periksa dompetmu, abang sudah kasih kartu debit yang bisa kamu gunakan untuk membayar uang kuliah, membeli mobil, berbelanja bahkan membeli rumah pun kamu bisa menggunakannya.”

Aku terus mengingat-ingat dimana kartu itu aku letakkan. Seingatku, aku hanya punya dua buku tabungan dan dua kartu, di mana kartu dan buku tabungan yang memiliki saldo yang nominalnya bisa untuk membeli sebuah rumah mewah itu sudah aku selipkan di sebuah buku dan aku letakkan di rak buku. Aku bergegas mengambil dompet baruku dan memeriksanya “Kartu yang ini ya” aku menunjukkan kartu hitam di depan abang.

Abang menatapnya sekilas “Iya, kenapa nggak kamu gunakan?”

“Aku kira kartu ini buat pajangan doang.” aku kembali duduk di samping abang dan meletakkan dompetku di atas meja.

“Abang tahu kamu tidak pernah menggunakannya, abang selalu memeriksa saldo di rekeningmu. Kartu itu milikmu, kamu bebas untuk membeli apapun yang kamu mau, kamu bisa pindah dari kos yang sekarang dan mencari tempat baru yang lebih luas.” Abang mengusap kepalaku, “Riana tolong gunakan kartu itu, abang tahu kamu sudah memiliki penghasilan sendiri. Simpan saja penghasilanmu itu dan gunakan kartu debit untuk keperluanmu.”

“Saldonya kebanyakan abang.” protesku.

“Kamu adalah salah satu pemegang saham di Rahardja Group. Papa memberikan hadiah kelulusan wisuda berupa sepuluh persen saham perusahaan, jadi uang itu adalah milikmu. Sedangkan surat rapat pemegang saham tahunan punyamu tersimpan di barangkas meja kerja papa.”

Mulutku hanya menganga ketika mendengar penjelasan abang, jadi apa yang aku lakukan selama ini sia-sia? Sedari awal semuanya memang sudah direncanakan. “Jadi abang kesini mau menjemputku pulang?” tanyaku lirih.

“Adek, abang kesini ingin bertemu denganmu. Kalau memang kamu tidak mau bergabung di perusahaan, abang tidak keberatan, toh perusahaan tetap jalan tanpa kehadiranmu.  Papa juga tidak akan memaksamu pulang jika kamu betah tinggal di sini, cuma mama saja yang bersikap berlebihan sampai ingin menjodohkanmu dengan kodok sialan itu karena kamu tidak mau pulang.”

“Abangg, tapi mama tetap memaksaku untuk mencari pacar” keluhku.

“Itu resikomu. Temanmu itu bisa tuh di jadiin pacar” sahut abang yang di sambut dengan anggukan mbak Dian.

 “Abang ihh rese.” teriakku di telinga abang.

Abang menutup telinganya dengan kedua tangan saat aku berteriak, mbak Dian hanya tertawa melihatnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!