Teman Ngobrol 1

Aku membawa tas belanjaan ke kamar dan meletakkannya di atas meja belajar kemudian berlalu kekamar mandi untuk mencuci muka dan berganti baju. Setelah selesai melakukan rutinitas sebelum tidur aku merebahkan diri di kasur yang empuk sambil memainkan ponsel. Iseng-iseng aku membuka kembali aplikasi itu dan melihat pesan terakhir Adi yang belum aku balas.

 

Riana                    : pengusaha tambang? Tambang apa? Emas, minyak, atau bijih besi.

 

Tiba-tiba saja panggilan masuk dari Haris, aku langsung duduk tegak dan berusaha untuk menormalkan detak jantungku. Ya Tuhan, kenapa setiap aku melihat nama Haris menghiasi layar ponsel detak jantungku langsung menggila? Aku benar-benar sudah tidak tertolong lagi.

“Halo” sapaku beberapa saat kemudian. Aku langsung memukul kepalaku karena mengeluarkan suara seperti cicitan tikus.

“Aku mengganggu ya?”

“Nggak kok, kamu nggak ganggu” ucapku sambil berdeham memulihkan suaraku yang serak.

“Coba kamu buka tas belanja yang tadi”

Tas belanja. Pandanganku langsung mengarah ke atas meja. “Kenapa aku harus membukanya? Tas itu kan punyamu?”

“Buka saja dulu, kamu akan tahu jawabannya setelah kamu membukanya”

Aku beranjak dari kasur dan meletakkan ponsel dalam mode speaker di atas meja. aku membuka tas belanja berwarna vanilla dan terkesiap ketika melihat isinya, sebuah bucket bag berwarna nude dengan bahan kulit asli berada di depanku.

aku keluarkan tas tersebut dan meletakkannya di atas meja. “Ini... Jangan bilang kamu membeli tas ini untukku?” aku tidak bisa menyembunyikan rasa kagetku.

“Aku membelinya memang untuk kamu”

“Tapi ini terlalu mahal” protesku.

“Kamu nggak suka ya? kupikir kamu menginginkan tas itu” kata Haris, dari suaranya aku menduga dia kecewa dengan responku.

“Bukan begitu Haris, Aku nggak bisa menerima ini karena kita baru saja kenal” jelasku.

“Kita sekarang berteman kan?”

“Iya kita berteman”

“Nah aku hanya ingin memberi hadiah untuk temanku. Apa nggak boleh?”

“Tapi… Ini terlalu mahal untuk sebuah hadiah, aku nggak bisa menerimanya” ucapku saat melihat harga dari tas tersebut.

“Aku nggak mungkin mengembalikan tas itu ke tokonya, jadi kamu terima saja tas itu dan gunakan saat kita bertemu”

“Tapi… ini terlalu mahal, Haris” aku menyampirkan tas tersebut di pundakku dan menatap pantulan diriku di cermin. Aku bisa membayangkan pakaian apa yang bisa kukenakan untuk melengkapi penampilanku. Tas itu sungguh luar biasa, aku wanita dan aku menyukai tas.

“Tak ada penolakan Yan, aku ingin kamu menggunakannya saat kita jalan-jalan”

“Oke akan aku pakai” aku mengalah dan memandangi tas tersebut dengan kagum. Aku pikir tas ini tidak akan aku miliki karena sudah terjual, tapi ternyata Haris membelikan ini untukku. Aku tidak bisa membendung senyumku yang lebar.

“Buka tas satunya” perintah Haris.

“Ada lagi” seruku kaget.

“Buka saja dulu”

Aku menuruti perintah Haris dan membuka tas berwarna tosca. Di dalamnya ada tas belanja kecil dan sebuah kotak, aku membuka tas kecil terlebih dahulu dan isinya dua buah jepit rambut. “Ini kan jepit rambut yang aku coba saat di mall” seruku kaget.

“Kamu suka? Aku sengaja membelinya karena jepit itu sangat cocok kamu kenakan. Aku suka rambut kamu jika kamu kenakan jepit itu”

Aku menjatuhkan jepit itu di atas meja. “Kalau begitu aku tidak akan menggunakannya jika bertemu denganmu” ucapku tajam. Seandainya Haris berada di depanku ingin sekali aku memukulnya dengan tongkat bisbol.

“Haha bercanda yan, rambut kamu mana enak di makan” samar-samar aku mendengar Haris tertawa. “Kamu jangan sensi dong, aku jadi pengen ketawa terus”

“Ya ledek aja terus, aku matiin teleponnya” Ancamku.

“Jangan ngambek dong yan, nanti cepat keriputan lho. Kamu nggak bisa banget di ajak bercanda” kata Haris di sela-sela tawanya.

Aku hanya mendengus mendengar candaannya yang sama sekali tidak lucu itu kemudian menyelipkan jepit rambut berbentuk pita itu di rambutku, lumayan. Aku bisa mengurai rambutku atau mencepolnya dan jepit ini sebagai hiasan, lalu aku membuka kotak terakhir dan isinya sebuah sepatu olahraga. Aku melirik harganya, benar-benar sangat mahal untuk sebuah hadiah.

 “Haris kenapa kau membelikanku sepatu olahraga?” ucapku bingung, bukannya aku tidak bisa membeli barang-barang ini tapi aku harus berhemat karena biaya kuliahku yang mahal.

“Aku sengaja membelinya supaya kamu semangat ikut latihan, besok temani aku latihan ya, aku jemput di kosmu”

“Kamu menyogokku ya supaya aku mau ikut latihan?” tanyaku curiga.

“Oww ketahuan deh” kekeh Haris, samar-samar aku mendengar beberapa orang sedang mengobrol di latar belakang.

“Kamu lagi dimana sekarang?” tanyaku penasaran, aku beranjak ke tempat tidur.

“Aku lagi nongkrong dengan teman”

“Haris, ngapain lu mojok sendirian di situ? Pake ketawa-ketawa segala, bikin orang takut aja” teriak seseorang di ujung sana.

“Rese kamu, nggak usah peduliin aku” Haris balik berteriak.

“Gimana sih? Dian jauh-jauh kemari buat ketemu kita, elu malah mojok disitu. Elu ngomong sama siapa sih?”

“Jangan-jangan dia sudah punya pacar tanpa sepengetahuan kita” sahut seorang cewek yang di sambut dengan teriakan beberapa cowok.

“Sepertinya aku mengganggu ya, lebih baik aku tutup telponnya” ucapku sambil menggigit bibir, apa kata temannya tadi? Pacar. Siapa yang pacaran sama Haris? yang jelas bukan aku ya, kami kan baru saja berteman.

“Eehhh tunggu! Jangan di tutup dulu, aku kan belum selesai ngomongnya” seru Haris.

“Tapi teman-teman kamu pada protes kamu bicara padaku.”

“Jangan dipedulikan, mereka cuma sirik melihat aku senang” suara-suara yang melatarbelakangi sekarang tidak ada lagi, aku menduga Haris menjauh dari kerumbunan teman-temannya. “Jadi gimana? Kamu suka hadiahnya?”

“Bohong kalau aku nggak suka, makasih ya tas dan sepatunya”

“Sama-sama Riana, terimakasih juga sudah mau menerima hadiahnya, aku kira perlu waktu lama untuk membujukmu mau menerimanya. Kalo aku bilang duluan tas belanja itu punya kamu, pasti kamu nabok aku pake sandal kamu”

“Nggaklah, aku cuma nabok pake tongkat bisbol”

“Seriusan?”

“Bercanda” sahutku sambil tertawa.

“Haris cepat kesini, kalo nggak oleh-olehnya kami makan sendiri” teriak seseorang di belakang sana.

“Rese kamu, ganggu orang aja. pergi sana.” usir Haris.

“Ya sudah jangan salahkan kami oleh-olehnya habis”

“Haris! sebaiknya kamu pergi sebelum temanmu teriak-teriak nggak jelas.”Aku tertawa tanpa suara ketika merasakan kejengkelan Haris kepada temannya.

“Baiklah, besok aku jemput di kos. Bye.” telponnya langsung di tutup Haris.

Beruntung sekali yang akan menjadi pacar Haris, temannya saja di beri hadiah mahal apalagi pacar, pasti pacarnya sudah di belikan rumah atau apartemen. Aku jadi penasaran seberapa banyak gaji yang di terimanya setiap bulan? Setahuku gaji PNS tidak terlalu besar.

Aku meletakkan tas dan sepatu di lemari dan berdiri di depan deretan tas yang sempat aku bawa. Seandainya aku bisa pulang kerumah, akan aku ambil beberapa koleksi tas yang masih tertinggal. Aku wanita dan aku mencintai tas dan sepatu.

Dulu aku bisa membeli tas apapun yang aku mau, Chanel, Gucci, Hermes selalu menghiasi walk in closet yang ada di kamarku. Belum lagi berbagai macam sepatu dan high heel dari berbagai merek.

Kalaupun aku membawa semua tas dan sepatu yang aku miliki, mau di letakkan dimana? Tidak ada tempat berlebih dikamarku yang sekarang. Bagaimanapun aku sudah memilih untuk meninggalkan kehidupanku yang dulu dan hanya membawa beberapa tas yang aku suka.

Aku menutup lemari dan mulai mempersiapkan keperluan fitness besok. aku yakin sekali, mulai besok Haris akan terus mengajakku ngegym bareng dan rutinitas olahragaku akan berubah tiga ratus enam puluh derajat dari awalnya tiga kali seminggu menjadi setiap hari.  

****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!