Aku tidak tahu kenapa Nita tiba-tiba saja ngidam gudeg? Tapi di sinilah kami terdampar, menunggu makanan pesanan kami diantarkan. Baru saja aku menelpon Haris memberi tahu lokasi makan siang kami di Gudeg Bu Hj. Amad, kalau dia masih tertarik dengan tawaranku tadi untuk mentraktirnya makan. Katanya dia sudah di jalan menuju kesini. Benar saja, aku melihat Haris menatap kesekeliling ruangan mencari-cari keberadaan kami. Aku melambai-lambaikan tangan untuk menarik perhatiannya, Haris menghampiri kami lalu duduk di depanku.
“Maaf ya makan siang kami cuma nasi gudeg krecek, aku bisa saja mentraktirmu lain kali kalau kamu keberatan dengan menu makan siang kami” kataku saat Haris memesan makanannya.
“Aku nggak akan menolak kalau kamu mau mentraktirku lagi…” Haris menimpali sambil mengedipkan matanya “…tapi aku nggak keberatan kok makan nasi gudeg krecek” aku hanya mendengus dengan gurauannya.
“Oh ya kenalin, ini Nita. temanku dari Jakarta” aku menatap Haris lalu menoleh kearah Nita yang duduk di sampingku “Ta ini Haris, kenalan yang nggak sengaja ketemu karena dia ngejar-ngejar gue kayak penguntit” sindirku, Haris cuma tertawa mendengarnya.
Nita memukul lenganku “Laki-laki setampan ini lo bilang penguntit” aku meringis kesakitan tapi Nita tidak memperdulikan keluhanku, dia malah menatap Haris “Kamu sudah punya pacar?” tanya Nita blak-blakan.
Aku tersedak minumanku ketika Nita menanyakan itu, buru-buru aku mengambil tissue untuk membersihkan minuman yang tumpah lalu menatap ekspresi Haris yang tenang saat menghadapi temanku yang usil.
“Belum” jawab Haris sambil tertawa “Baru kali ini aku mendapat pertanyaan seperti itu di pertemuan pertama.”
“Abaikan saja dia,” jawabku sambil membersihkan sisa-sisa air yang tumpah.
“Umur Kamu berapa?” tanya Nita pantang mundur walaupun kupelototi karena sudah melanggar privasi orang.
“umurku 28 tahun” Aku ternganga mendengar jawaban Haris. Benarkah umurnya sudah 28 tahun? Di lihat dari penampilannya yang kasual dengan kaus warna abu-abu yang dilapisi kemeja berwarna biru yang tidak di kancing dan jins hitam beserta sneakers, jelas aku tidak percaya.
“Kamu tua ya” Aku menginjak kaki Nita di bawah meja begitu mendengar responnya “Apaan sih Yan, pake nginjak kaki gue segala” gerutu Nita.
“Nggak sopan lo ngomong begitu dengan orang yang baru dikenal” tegurku.
“Iya… iya gue diem nih” Nita mengatupkan bibirnya rapat-rapat “Mingkem nih, puas” emang dasar si Nita, nggak ada jaim-jaimnya sama sekali di depan Haris. Bagaimana bisa Rogi tahan dengan kelakuannya yang bin ajaib ini? Menjadi seorang guru nggak bisa mengubah kelakuannya yang blak-blakan itu.
Haris tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kami “Bertemu kalian berdua memang obat stress yang mujarab, aku senang sekali bisa makan siang bareng kalian.”
“Kamu stress karena apa?” tanya Nita penasaran.
“Biasa kerjaan”
Pada saat itu makanan pesanan kami datang, Nita langsung melupakan sesi introgasinya setelah bertemu makanan yang dia idam-idamkan.
“Ini nih salah satu alasan gue liburan ke sini. Gue pengen banget makan gudeg tiap hari” kata Nita sambil mengerang begitu gudek masuk kedalam mulutnya.
“Eh bukannya di Jakarta juga ada rumah makan yang menjual gudeg?” tanyaku.
“Iya emang ada tapi gue pengen ngerasain yang asli Jogja” jawab Nita.
“Kalo gitu kenapa lo nggak pindah kesini aja Ta? biar bisa makan gudeg tiap hari” kataku sambil menikmati Nasi gudeg.
“Kalo sampai berani pindah kesini, gue bisa di gorok Yan. Gue kan kerja di yayasan nyokap, lagian kalo gue nyari kerja di sekolah negeri gajinya kecil” ucap Nita setelah selesai mengunyah.
Haris mengangguk-anggukan kepala menyetujui pendapat Nita, dia terlihat menikmati makanannya.
“Masa sih?” aku menggigit daging ayam yang ada di piringku.
“Elo belum tahu aja Yan, gaji guru itu kecil kalo di sekolah Negeri. Untung banget gue kerja di yayasan nyokap”
“Apa pekerjaanmu?” Haris menatapku sambil menyuap makanannya.
“Dia?” tunjuk Nita kearahku dengan dagunya “Dia pengangguran” Jawab Nita yang mengangkat dirinya sendiri sebagai humasku.
“Ya aku emang pengangguran” aku mengakuinya dengan bangga.
“Kamu tahu nggak, dia ini sudah 10 kali di tolak saat melamar pekerjaan” Nita tertawa dengan ucapannya sendiri “Gue heran deh, lo niat cari kerjaan apa nggak sih sampe di tolak 10 kali?”
“Gue kan sudah berusaha, mau bagaimana lagi” aku mengedikkan bahu seolah-olah itu bukan masalah.
“Kalian baru lulus kuliah?” tanya Haris penasaran “Masih fresh graduate dong”
“Kami lulus hampir bersamaan, Nita kerja di yayasan orangtuanya sedangkan aku pindah kesini.”
“Sudah kuduga, ternyata kamu pendatang” kata Haris.
“Tahu dari mana?” tanyaku, apa dia punya indra keenam? Atau mata batin? Aku jadi penasaran.
“Dari penampilanmu aja sudah kelihatan kok” jawab Haris sambil menyingkirkan piring yang sudah kosong, aku hanya menggut-manggut sambil menghabiskan makanan di piringku.
“Kamu orang jawa ya?” tanyaku penasaran sambil menyerup es teh manis.
Nita malah mencubit tanganku “Lo nggak tahu? Dari cara bicaranya aja kelihatan dia orang jawa.”
“Nita sakit” keluhku sambil mengusap-usap lenganku yang kena sasaran.
Nita cuma nyengir saat ku pelototi lalu menatap Haris “Kayaknya kalo Aku manggil kamu dengan nama saja kurang sopan ya, kamu kan orang jawa dan umurmu lebih tua dari kami. Apa perlu aku manggil kamu mas Haris?”
“Nggak, nggak perlu” jawab Haris sambil menggeleng-gelengkan kepala “Aku senang kalian berbicara santai denganku, kamu juga bisa ber elo-gue sama aku”
“Oke mulut gue bisa keserimpet kalo terus-terusan menggunakan aku-kamu, berasa kayak lagi kerja” omel Nita lalu mulai menumpuk piring-piring kotor di depan kami.
“Sudah berapa lama kalian berteman?” tanya Haris penasaran.
Aku dan Nita saling pandang kemudian berkata secara bersamaan “kami sudah berteman sejak balita” memang begitu kan? Hanya Nita satu-satunya teman yang aku miliki.
“Nyokap kami bersahabat dari jaman SMA” lanjutku. Mama sangat protektif padaku, hanya Nita yang boleh berteman denganku. Teman-teman arisan mama yang lain juga punya anak seumuran denganku tapi mama nggak pernah mengizinkanku berteman dengan mereka.
“Dia sudah gue anggap saudara” Nita menimpali.
“Saudara sih saudara” ucapku sinis “Tapi kalo nyebelinnya kayak gini siapa juga yang mau punya saudara kayak lo” Haris tertawa mendengar gerutuanku.
“Gue mah masih mending, lha elo lebih parah dari gue. Siapa juga yang mau sama cewek yang galak dan sinis kayak lo, macan aja kalah galak. Untung abang lo penyabar dan nggak protes punya adik kayak gorilla.”
“Sialan. Lo jangan bawa-bawa abang ya, kalo nggak mau gue lempar pake sandal”
Selama aku dan Nita berdebat, Haris cuma memandangi kami seakan-akan kami ini hiburannya di hari minggu yang suram. Walaupun Nita menyebalkan, tapi aku bersyukur memiliki teman yang setia dan sering menjadi tempat berkeluh kesah tanpa takut rahasiaku bocor ke publik.
Setelah membayar makanan, kami berpisah dengan Haris di pinggir jalan. Dia menggunakan Honda CBR berwarna merah yang dulu di gunakannya untuk menguntitku. Haris membuka kaca helmnya “Makasih ya sudah di traktir, tapi kalau kamu masih mau mentraktir sih aku nggak keberatan”
“Riana bakalan menghubungi lo kalau mau mentraktir lagi atau lo bisa nyamperin dia di kosannya kalau mau ngajak jalan” ucap Nita masih berperan sebagai humasku “Lo sudah tahu dimana kos Riana kan?”
Haris mengangguk lalu menstarter motornya “Sampai jumpa lagi” dia mengendarai motornya sambil melambaikan satu tangan.
“Kenapa lo berbicara seakan-akan gue minta di ajak jalan?” protesku.
“Halah itu cuma basa basi doang, elo nggak perlu khawatir” Nita mengibaskan tangannya seakan-akan itu bukan masalah besar lalu memasang helm di kepalanya “Ayo balik, lo masih hutang penjelasan sama gue”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments