Dress Merah 1

Tadi pagi aku sudah mengirimkan paket sesuai dengan pesanan Adi dan mengirimkannya ke alamat tempatnya bekerja. Aku tidak tahu apakah dress itu sudah sesuai dengan seleranya? Aku jadi geli sendiri memikirkan Adi memakainya.

Aku duduk di taman kampus, menunggu Haris menjemputku untuk makan siang bareng. Aku agak kesal karena Haris baru saja mengirimkan pesan bahwa dia akan terlambat menjemputku di sebabkan mettingnya baru selesai pukul setengah satu. Aku harus menunggunya sekitar tiga puluh lima menit lagi dan aku mulai bosan karena tidak melakukan apa-apa. Beberapa kali teman-teman kuliahku menyapa dan ingin mengajakku makan siang bareng, dengan terpaksa aku menolak mereka karena sudah ada janji dengan Haris.

Aku sudah merasa seperti besi karatan dan memutuskan untuk makan siang sendiri jika Haris belum muncul juga. Mungkin hari ini dia sangat sibuk membanting tulang di tempat kerja hingga tidak bisa menepati janjinya.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat lima puluh menit dan aku sudah kelaparan hingga bisa menelan seekor paus tapi masih tidak ada tanda-tanda kemunculannya. Haris sialan. Jika aku tahu dia akan telat lima puluh menit dari janjinya, lebih baik bertemu di rumah makan saja jadi aku bisa makan duluan.

Baru sepuluh meter aku berjalan kearah gerbang kampus, seseorang dengan seragam dinas harian memberhentikan motornya di sampingku. Dia melepas helmnya dan merapihkan rambutnya yang berantakan. Haris terlihat tampan saat mengenakan seragamnya yang berwarna coklat, seragam itu sangat cocok membungkus tubuhnya yang atletis.

“Maaf, aku baru bisa menjemputmu sekarang” Haris menyerahkan Helm bergambar hello kitty.

Aku menerima helm dan memegangnya dengan risi “Apa tidak ada lagi helm selain ini? Gambarnya agak memalukan.”

“Kamu nggak suka hello kitty ya? Tadi aku buru-buru membelinya karena tahu kamu nggak bawa helm.”

“Aku benci hello kitty.” Aku segera memasang helm di kepala dan duduk di jok belakang motor.

“Kamu marah? Aku sungguh minta maaf sudah terlambat menjemputmu.” Haris menatapku dari kaca spion.

“Nggak” jawabku ketus, Haris hanya tersenyum melihat responku dan segera menjalankan motornya menuju bistro di kawasan Candrakirana.

Sesampainya di sana aku langsung memesan nasi sop buntut dan ice lemon tea lalu untuk dessert aku memilih chocolate truffle. Sedangkan Haris memesan ikan kakap saus asam manis, kangkung terasi dan ice lemon tea, untuk dessert dia memilih klepon cake.

“Kamu masih marah?” Haris duduk di depanku. Dia bersedekap, menilai reaksiku yang kurang bersahabat.    

Bagaimana aku bisa marah kalau di tanya begitu, aku menghembuskan nafas berlahan “Kamu sudah terlambat menjemputku lima puluh menit dan aku sudah kelaparan setengah mati, apakah aku masih bisa marah? Yang aku perlukan sekarang hanya sepiring nasi beserta lauknya dan segera menyantapnya”

“Oke aku bisa maklum, ternyata kamu pemarah saat kelaparan.”

Moodku akan terjun bebas saat kelaparan dan aku bisa memakan apa saja yang memancing emosiku. Jadi jangan coba-coba membuat masalah saat aku sedang lapar kalau tidak mau aku telan bulat-bulat.

Begitu semua hidangan sudah tersaji di meja, tanpa membuang waktu lagi aku segera menyantapnya tanpa memperdulikan tatapan Haris, siapa yang perduli dengan sopan santun saat perut lapar? Sop buntut ini benar-benar enak, aku sampai nambah nasi dua kali untuk mengisi perutku yang meronta-ronta. Haris juga makan dengan lahap, dia makan hanya menggunakan tangannya dan sangat menikmati ikan kakap yang memiliki kepala terbesar yang pernah aku lihat.

“Heran deh, kamu makan sebanyak ini tapi nggak gemuk-gemuk juga” ucap Haris di sela-sela kunyahannya.

“Kamu nggak pernah di kasih tahu kalo makan nggak boleh sambil bicara. Pamali” aku menyeruput kuah sop. Kami tidak berbicara lagi sampai makanan di atas meja benar-benar habis tak tersisa.

Aku bersandar di kursi lalu mengelus perutku yang agak menyembul. “Alhamdulillah”.

“Masih sanggup makan dessert?” Haris mengeringkan tangannya dengan tissue setelah mencuci tangan di wastafel.

“Aku bawa pulang saja.” Kataku sambil menepuk-nepuk perut, “Sudah kenyang.”

“Kemana semua makanan yang kamu makan? Perasaan waktu pertama kali ketemu, badanmu nggak sekurus ini?”

“Ini kan gara-gara kamu juga, lemak di badanku luntur semua karena nge-gym tiap hari” kataku sarkas.

“Kamu bisa istirahat sementara waktu karena sore nanti aku akan keluar kota.”

“Sungguh! berapa hari?” seruku kegirangan.

“Senang banget sih mendengarnya, aku jadi sedih” kata Haris muram.

“Masa sih, aku juga sedih banget nggak akan melihatmu lagi” aku pura-pura bersedih padahal dalam hati aku loncat-loncat kegirangan. “Berapa hari kamu keluar kota?”

“Mungkin seminggu.”

“Sebulan juga nggak apa-apa” aku tidak bisa menutupi rasa senangku lagi.

Haris sampai menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat responku. “Senang banget ya nggak ada lagi yang merecokimu untuk latihan, setelah aku balik dari Jakarta kamu bakalan membayarnya.”

“Membayar apa? Memangnya aku punya hutang sama kamu?”

“Membayar waktu yang tidak kamu gunakan untuk latihan” kata Haris santai.

“Aku jadi pusing punya personal trainer yang cerewet kayak kamu, kapan aku bisa bebas merdeka tanpa latihan? Kalau begini terus lama-lama badanku akan berubah menjadi hulk.” gerutuku masam.

“Hulk yang seksi.” kata Haris sambil mengedipkan matanya.

Sialan.

∞∞∞∞

 

Haris sedang keluar kota selama beberapa hari dan sekarang aku bisa bermalas-malasan sambil menikmati matahari terbenam dari balkon kamar. Biasanya jam segini aku bersimbah keringat, lari di treatmill bersebelahan dengan Haris di iringi dengan lagu kesukaanku.

Banyak yang mengatakan sekarang badanku terlihat ramping, ini efek dari latihan yang aku lakukan setiap hari. Bahkan aku juga memiliki perut kencang tanpa lemak karena semua makanan yang aku makan akan terbakar menjadi tenaga.

Berteman dengan Haris memiliki keuntungan dan kekurangan. Keuntungannya yaitu aku menjadi sehat dan semua makanan yang aku makan bukan makanan sampah seperti mie instan dan pizza, karena setelah latihan Haris akan mengajakku makan makanan yang sarat akan gizi untuk memenuhi kebutuhan tubuh, kadang-kadang kami makan steak lezat di restoran favoritnya.

Kami juga sering berburu kuliner lezat di sekitar kampus, makanan yang paling sering kami makan dan menjadi favoritnya yaitu gudeg. Kami sering sekali mampir di Gudeg Bu Hj. Amad setelah latihan, saking seringnya yang punya rumah makan sampai hafal dengan menu yang kami pesan.

Sedangkan kekurangan berteman dengan Haris yaitu porsi latihan yang gila-gilaan, kadang-kadang aku hanya bisa lari di treatmill selama 40 menit dan langsung tewas karena tidak sanggup lagi bergerak setelah beraktivitas seharian di kampus, dan saat itu aku hanya bisa memandangi Haris yang sedang menggerakkan otot-ototnya.

Sekarang aku sudah kebal dengan pesonanya, bahkan aku pernah melihat Haris bertelanjang dada dan aku biasa-biasa saja melihatnya, tidak seperti waktu pertama kali latihan, saat itu aku berubah histeris seperti remaja labil saat menatap Haris menggerakkan otot-ototnya.

Ponselku berbunyi yang menandakan ada pesan masuk. Aku membuka WhatsApp dan melihat pesan dari Adi yang memberitahuku paketnya sudah dia terima, aku hanya membalas semoga dressnya sesuai dengan seleranya dan meletakkan kembali ponsel keatas meja.

Aku masuk ke dalam kamar meninggalkan ponsel di atas meja dan mengambil segelas jus jeruk untuk diriku sendiri dan sebuah novel yang baru saja aku beli di gramedia. Sudah lama aku ingin membaca buku ini tapi tidak ada waktu untuk mampir ke gramedia. Kemarin aku baru sempat mampir untuk membeli beberapa buku penunjang untuk mengerjakan tugas sekaligus membeli beberapa novel yang sejak lama aku idamkan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!