Nita si Biang Kerok

Keesokan harinya aku memutuskan untuk menelpon Nita untuk meminta pertanggung jawaban atas rekomendasinya dengan aplikasi sinting itu, aplikasi yang sudah membuatku bertemu dengan orang gila yang tidak mengakui orientasi seksualnya. beberapa kali panggilanku tidak di angkat oleh yang bersangkutan, setelah percobaan yang ke empat barulah telponku di angkat oleh si pembuat masalah.

“Gara-gara elo nyaranin make aplikasi itu, gue malah ketemu cowok gila yang bikin ilfil” teriakku begitu Nita mengangkat teleponnya.

“Apaan sih yan, pagi-pagi sudah marah-marah. Emang gue salah apa sama lo?”  tanya Nita bingung, dia menguap keras sampai terdengar olehku.

“Kamu baru bangun tidur?” tanyaku heran. Padahal diantara kami berdua, Nita yang lebih sering bangun pagi, dia juga yang lebih memperhatikan kesehatan jasmani dan mental.

“Kemarin gue pusing dan demam yan, kayaknya kecapekan deh”, keluh Nita yang membuatku tidak tega untuk memarahinya.

“Kamu sudah periksa ke dokter?” tanyaku khawatir, jarang-jarang kan Nita sakit.

“Nggak perlu, dengan tidur lebih awal dan bangun agak siangan badan gue sudah sehat lagi” suara Nita tiba-tiba hilang dan di gantikan dengan suara orang yang sedang minum “Btw kenapa lo nelpon gue?” lanjutnya.

“Gara-gara lo nyaranin aplikasi itu, sekarang gue malah berhadapan dengan orang gila yang nggak mengakui orientasi seksualnya sendiri” gerutuku masam, kesal dengan apa yang baru saja terjadi padaku.

“Gue nggak ngerti maksud lo, coba jelasin satu-satu supaya gue paham permasalahannya” ucap Nita bingung.

Kemudian aku menceritakan bagaimana aku bisa berkenalan dengan Adi sang pengusaha batu bara dari Samarinda, mulai dari percakapan kami beberapa bulan ini sampai dengan saat Adi memintaku mengirimkan dress merah itu, kemudian saat dia memintaku untuk menggunakan dress couple beserta make up, dan juga saat Adi memintaku untuk memanggilnya ukhty bukannya akhi.

“Itu lebih mengerikan dari bayanganku, yan. Aku tidak tahu kamu berurusan dengan maniak!” Seru Nita terkejut setelah aku selesai bercerita.

“Maniak? Apa maksud lo? Jangan nakut-nakutin gue ah,” kataku dengan kengerian yang tidak bisa di tutupi.

“Gue juga nggak tahu apa motif si Adi ini sampai meminta lo untuk mengirimkan sebuah dress, tapi bisa di pastikan dia bukan cowok normal.” Jelas Nita.

“Gue juga berpikiran seperti itu, Nit. Gue pikir dia cuma bercanda saat meminta gue untuk mengirimkan sebuah rok, kemudian dia malah mengirimi gue alamat tempatnya bekerja dan meminta gue untuk mengirimkannya kesana.”

“Jangan bilang lo mengirimkan dress yang sudah pernah lo gunakan?” tuduh Nita.

“Gila lo! Mana mungkin gue melakukannya!” seruku spontan, “Gue mengirimkan dress merah yang gue beli dengan Haris.”

“Sial.” maki Nita, “Lo bego atau bodoh sih, beli dress untuk laki-laki lain dengan calon pacar.” Nita menyumpahiku yang sudah bertindak bodoh.

“Memangnya kenapa sih? Nggak ada yang salah kan kalo gue minta bantuan Haris dengan meminjam tubuhnya sebagai model busana yang akan gue pilih!” seruku tak terima di salahkan Nita, “Lagi pula Haris bukan pacar gue.”

“Calon, Riana. Lagi pula laki-laki normal manapun nggak akan ada yang mau menggunakan pakaian perempuan, biarpun lo membayarnya. Otak lo ada di mana sih?” omel Nita. Kenapa dia yang marah sih, seharusnya aku yang marah karena sudah membuatku berkenalan dengan laki-laki sinting itu.

“Tapi buktinya ada yang mau dan bersedia, Nit.” Ucapku nggak mau kalah, “Malahan dia juga meminta gue untuk meriasnya menggunakan make up.”

“Itu tandanya dia bukan laki-laki normal, dodol. Lo harus berhenti berhubungan dengan cowok yang nggak normal seperti itu”

“Nggak usah di bilangin juga gue sudah ilfil sama dia.” aku menggidik mengingat pesan-pesan yang di kirimkan Adi. Apa lagi saat dia minta di panggil ukhty, ya ampun apa aku benar-benar sudah berkenalan dengan maniak?

“Gimana pertemanan lo dengan Haris, apakah ada perkembangan?” tanya Nita penasaran.

“Gitu deh, setiap hari dia menjemput gue untuk nge-gym dan makan malam bareng. Sesekali dia ngajak gue nonton.” Jelasku saat mengingat Haris membawaku nonton di bioskop tempo hari, dia juga pernah membawaku kulineran di sekitar kantornya yang murah dan lumayan enak untuk ukuran seorang mahasiswa.

“Bagus itu, usaha Haris untuk mendekatimu ternyata sudah maksimal.” Suara Nita terdengar senang.

“Maksimal apanya, yang ada badan gue pegal-pegal karena porsi latihannya yang gila-gilaan. Lo pasti akan kaget melihat badan gue yang sekarang.” gerutuku.

“Lo emang nggak peka dengan semua usaha Haris untuk mendekati lo ya.” Nita berdecak sebal, “Sudah dulu ya gue mau mandi, ngomong sama lo kayak ngomong sama tembok. Gue harus siap-siap dulu, nanti siang Rogi mau kerumah.”

“Ngapain Rogi kerumah lo?” tanyaku penasaran.

“Mau nentuin tanggal nikah, dia dateng bareng orangtuanya”

“Ohh memangnya kapan kamu menikah?”

“Secepatnya, kami juga sudah lumayan lama bertunangan, Yan. Oh ya gue lupa,  lo harus menjadi pengiring pengantin di pernikahan gue nanti.”

“Harus ya, gue pengennya jadi tamu undangan aja.”

“Lo nggak boleh hanya sebagai undangan, gue akan marah kalau sampai itu terjadi.” sahut Nita.

“Baiklah, gue akan menjadi pengiring pengantin lo.” ucapku pasrah dengan keinginan Nita yang susah untuk di bantah.

“Jangan lupa ajak Haris, dia juga salah satu pengiring pengantin yang akan mendampingi Rogi di pernikahan gue nanti beserta kakak lo.”

“Oh my god, gue belum siap Haris bertemu dengan abang. Lagi pula dia bukan calon pacar yang akan gue perkenalkan dengan keluarga.” protesku tidak terima dengan apa yang di usulkan Nita.

“Itu urusan lo dan gue nggak peduli, yang penting lo datang bareng Haris di hari pernikahan gue. Sudah dulu ya, bye.” telepon langsung di tutup Nita.

Sialan.

Nita menutup telponku tanpa memperdulikan pendapatku sama sekali, aku benar-benar belum siap memperkenalkan Haris dengan abang dan mama akan hadir di pernikahan Nita karena tante Susan --mamanya Nita-- adalah Sahabat mama. Habislah aku sekarang. Nita brengsek. Tega-teganya dia melakukan ini padaku, setelah apa yang sudah di sarankannya untuk mencari calon pacar potensial.

Belum lagi Haris yang memperlakukanku seperti kekasihnya padahal kami hanya berteman. Ini benar-benar membuatku pusing, tekanan ini membuatku stress.

Oh pacar potensial kapankah engkau datang? Selamatkan aku dari semua orang yang menginginkanku segera menikah, ratapku dalam hati.

Oh Haris kapan kah engkau memperlakukanku layaknya seorang teman dan hanya seorang teman untuk hangout? Keluhku dengan tindakan Haris.

Tenang Riana, tenangkan dirimu. Aku mensugesti diriku sendiri untuk tidak panik, aku masih punya beberapa bulan untuk mencari alasan yang tepat untuk tidak membawa Haris ke pernikahan Nita nanti. Ya, pasti ada jalan keluarnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!