“Beruntungnya wanita itu, aku juga pengen punya pacar? aku sudah lelah di desak mama,” gumamku lirih, malam ini kenapa aku jadi mellow sih? Apa karena terbawa suasana ya.
Haris duduk di sampingku. “Riana, kamu salah satu teman terbaikku. Kita sudah cukup lama saling mengenal, kalau punya masalah bisa kamu ceritakan padaku” ternyata dia bisa merasakan perubahan suasana hatiku.
“Bukan apa-apa kok, aku hanya sedikit stress aja.” aku berusaha tersenyum.
Tatapan Haris melembut dan aku berusaha untuk tidak terpengaruh dengan tatapannya. Ingat Riana, Haris sudah memiliki wanita yang di sukai nya, jangan sampai kamu tergoda untuk merebutnya. Aku benar-benar harus mencari pacar, apa aku harus menerima tawaran mbak Dian ya? Temannya mbak Dian boleh juga, abang jelas akan menyetujui jika yang di jodohkan denganku itu temannya mbak Dian.
“Riana, aku…”
Ucapan Haris terpotong dengan suara bel yang terdengar sampai ke dapur. Suaranya terus bersahut-sahutan tanpa henti.
Haris terlihat kesal dengan gangguan itu, aku tidak tahu apa yang ingin dia katakan tapi aku bersyukur atas gangguan itu. Aku tidak mau tergoda merebut Haris dari wanita itu, tapi kalau di pikir-pikir lagi, wanita itu kan tidak tahu kalau Haris menyukainya jadi ini kesempatanku untuk menarik perhatiannya.
Entah mengapa aku bisa berpikiran seperti itu, apa karena aku sudah putus asa mencari calon pacar atau… jangan-jangan aku mulai menyukainya? Alasan terakhir itu sangat tidak mungkin, aku hanya stress memikirkan ucapan Nita tadi pagi.
Tidak ada tanda-tanda Haris akan membukakan pintu jadi aku beranjak ke ruang tamu dan membuka pintu untuk tamu yang ada di baliknya.
“Cari siapa?” tiga pasang mata menatapku heran saat aku yang muncul di balik pintu.
“Selamat malam mbak, Haris nya ada?” sapa laki-laki yang menggunakan kacamata.
“Ada, sebentar saya panggilkan.” aku membuka lebar pintu tersebut dan mempersilahkan para tamu masuk.
“Siapa yan?” tanya Haris saat aku masuk ke ruang makan.
“Ada tamu, mungkin teman-temanmu” aku mengedikkan bahu.
Kening Haris berkerut lalu menghela nafas “Gangguan yang lain” gumamnya pelan kemudian beranjak ke ruang tamu. Aku mengikuti Haris dan tidak menjumpai teman-temannya di ruang tamu, kami mendengar keributan di ruangan lain dan ternyata mereka sudah nongkrong di depan layar TV dengan bungkusan snack berserakan di atas meja, teman-teman Haris membawa snack mereka sendiri.
“Yo bro, lama tak berjumpa” Sapa laki-laki berkacamata sambil memindah-mindahkan saluran TV.
Mereka bersalaman lalu laki-laki yang menggunakan kaus putih menepuk-nepuk bahu Haris. “Apa kabar? Aku kira kamu sudah mati karena sibuk bekerja” kata laki-laki yang menggunakan kaus putih dengan aksen jawa yang kental.
“Kita-kita juga sibuk, tapi masih sempat meluangkan waktu untuk nongkrong” ucap laki-laki berkacamata.
“Aku beneran sibuk guys.” Haris balas menepuk bahu laki-laki yang menggunakan kaus putih.
“Selamat atas promosinya bro, gua nggak nyangka lu bisa naik jabatan secepat ini” laki-laki yang menggunakan bandana juga menepuk-nepuk bahu Haris, mengapa Haris tidak pernah cerita kalau dia naik jabatan, sebenarnya dia menganggapku teman atau bukan sih?
“Aku juga nggak menyangka secepat ini, atasanku pensiun dan aku di tunjuk untuk menggantikannya” Haris tersenyum lalu dia menarikku berdiri di sampingnya “guys perkenalkan, ini Riana”
“Wanita ini toh yang selalu membuatmu sibuk” kata laki-laki yang menggunakan kaus putih. “Hai aku Ardi, senang bertemu dengan wanita yang sudah membuat Haris sibuk”
“Aku Nadhal, senang bertemu denganmu.” kata laki-laki yang menggunakan kacamata.
“Gua Rehan.” laki-laki yang menggunakan bandana juga ikut menyalamiku.
“Hai senang bertemu dengan kalian.” sapaku, Haris menarik tanganku untuk duduk di sampingnya, “Kenapa nggak bilang kamu sudah naik jabatan?” bisikku.
“Aku lupa memberitahumu.” Haris ikut berbisik, dia cuma ngengir ketika melihat tatapan tajamku.
“Kamu kenapa nggak bilang kemaren ke Jakarta? Aku melihatmu di restoran dekat kantor.” Ardi menyela pembicaraan kami.
“Sorry bro, aku terlalu sibuk hingga lupa mengabari kalian. Lagian kalaupun aku bilang, kalian mana sempat menemuiku karena terlalu sibuk dengan bisnis baru kalian.” Kata Haris.
“Bener juga sih, proyek kali ini lebih banyak menyita waktu dan tenaga.” keluh Ardi.
“Gua juga punya bisnis baru nih, lu mau beli saham di perusahaan gua?” tanya Rehan.
“Bisnis apa? Kamu tahu kan aku nggak bisa membantu di perusahaanmu, mengawasi fitness center aja sudah banyak menyita waktuku.” jelas Haris.
“Lu nggak perlu khawatir masalah itu gua bisa mengatasinya, gua perlu investor nih, apa lu tertarik?” Rehan mengambil kacang kulit yang ada di depannya kemudian memakannya.
“Kamu mau membangun Hotel lagi? kalau itu terlalu besar dana yang di perlukan, aku nggak mau ikutan lagi.” Keluh Haris.
“Bisniss skincare menjanjikan, sekarang banyak permintaan dari konsumen untuk mempercantik kulit mereka. gua sudah menghubungi beberapa orang dan sekarang sudah tahap pendaftaran BPOM dan sertifikat halal. Lu mau coba? Kalau lu mau gabung, gua nggak perlu lagi nyari investor keluar.” Jelas Rehan.
“Bolehlah.” Jawab Haris setelah berpikir cukup lama.
“Jangan ngomongin bisnis terus, aku capek.” Gerutu Ardi sambil memakan keripik singkong, “Lihat deh, Riana saja sampai bengong mendengar kalian bicara.”
“Riana, kamu tertarik dengan bisnis?” tanya Nadhal.
“Nggak tertarik, aku memilih menjadi dosen saja.” kataku sambil mengedikkan bahu. Aku bukannya bengong, hanya saja aku lumayan terkejut melihatnya membicarakan bisnisnya.
“Apakah kita pernah bertemu? Sepertinya aku pernah melihatmu di suatu tempat.” Nadhal menatapku dan berusaha mengingat.
“Kamu pernah bertemu dengan kadal ini?” tunjuk Haris dengan jempolnya kearah Nadhal.
Aku menatap Nadhal seksama, “Belum pernah” kataku bingung setelah berusaha mengingat.
“Aku yakin banget pernah melihatmu di suatu tempat dan wajahmu itu mirip dengan seseorang tapi aku lupa siapa.”
“Nggak usah di dengerin ucapan kadal ini, dia selalu sok kenal dan sok akrab saat bertemu dengan wanita cantik.” sahut Ardi sambil memutar bola mata.
Nadhal tertawa “Gila ya, punya teman yang tahu keburukanku itu sangat menakutkan, aku jadi susah kalau mau mendekati wanita menarik sepertimu.”
“Jangankan Riana, adek gua juga lu embat. Kalau saja lu nggak gua ancam, Ami bakalan makan hati karena di selingkuhi terus.” Rehan menimpali.
Aku tertawa mendengarnya, “Siapa juga yang mau sama playboy, walaupun tampan seperti Adam Levine kalau kelakuannya minus dan suka mempermainkan wanita, jelas akan aku tolak.”
“Sadis” seru mereka serempak, beberapa saat kemudian suara bel berbunyi tanpa henti, Haris segera berdiri untuk membukakan pintu.
“Kamu sudah berapa lama kenal dengannya?” Nadhal menunjuk Haris yang berlalu di hadapanku dengan dagu nya.
“Baru delapan bulan, kami berlatih di gym yang sama.” aku memakan kripik singkong, makanan ini sudah lama tidak menghiasi lemariku, “Kalian sudah berapa lama berteman?” tanyaku balik.
“Sejak SMP, kami bersekolah di tempat yang sama.” Nadhal mengunyah snack dengan berisik.
“Tapi kunyuk itu lebih memilih masuk IPDN dari pada kuliah di luar negeri dan meneruskan bisnis orangtuanya” gerutu Ardi.
“Jadi kalian kuliah di kampus yang berbeda?” tanyaku.
Ardi, Rehan dan Nadhal mengangguk secara bersamaan. Ini kesempatanku untuk mengorek-ngorek kehidupan Haris, aku benar-benar ingin mengenalnya sebagai teman.
“Gua masih nggak ngerti jalan pikirannya, orang tuanya memiliki beberapa hotel dan restoran yang di kelola ayahnya. Kakak-kakaknya memegang cabang perusahaan, tapi kenapa dia malah memilih kampus kedinasan dan menjadi pegawai negeri?” jelas Rehan.
“Aku malah bangga punya teman PNS. Jadi pegawai negeri itu susah bro, sekolah kedinasannya aja disiplin banget, namanya juga pelayan masyarakat.” Ardi menimpali.
“Dua minggu yang lalu dia naik jabatan kan, itu merupakan prestasi luar biasa. Umur masih muda, jabatan ada dan cerdas pula, apa lagi yang di perlukan? Dia juga tidak memikirkan uang karena sahamnya ada di mana-mana.” sahut Nadhal.
“Tapi dia kalah dalam hal wanita.” Ardi tertawa, Rehan dan Nadhal juga ikut menertawakan Haris.
“Memangnya kenapa dengan Haris? apa dia nggak pernah pacaran?” tanyaku bingung dengan reaksi teman-temannya.
“Bukannya Haris belum pernah pacaran, hanya saja dia baru saja di selingkuhi mantan pacarnya beberapa bulan yang lalu.” jelas Nadhal sambil tertawa.
“Haris juga yang salah, terlalu percaya dengan pacar hingga mudah di selingkuhi, terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga mudah di campakkan, terlalu royal hingga mudah di peras.” Rehan ikut menimpali.
“Aku bukan sapi yang mudah di peras” sahut Haris di depan pintu sambil menenteng beberapa box pizza, beberapa botol coca cola dan kantong kertas berisi humberger “Siapa yang mesan ini?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments