Rencana Masa Depan

Nita memeluk pinggangku dengan erat, dia masih takut saat berboncengan denganku. Takut jatuh katanya. Apa lagi di saat aku ngebut seperti ini, dia semakin menempel di punggungku. Aku mulai menambah kecepatan dan menyelip di antara mobil-mobil yang ada di depanku. Aku mengurangi kecepatan dan berbelok ke jalan kecil lalu menyusuri jalan ini sampai menemukan bangunan berwarna charcoal. Aku memarkir si merah kesayanganku di bagasi lalu melepas helm.

Nita turun dari motor kemudian melepaskan helmnya “Elo nggak takut mengendarai motor Yan?”

“Takut apaan?” tanyaku sambil mengunci stang motor.

“Takut jatuh gitu atau kecelakaan”  

Aku membuka pintu depan dan Nita mengikutiku, kami menaiki tangga menuju kamarku yang ada di lantai dua “Naik motor menyenangkan kok ta, asal berhati-hati dan selalu waspada, nggak bakalan kecelakaanlah”

“Elo nggak takut ketahuan nyokap lo?”

“Asal lo nggak ngadu aja ta, nggak bakalan ketahuan kok” Aku membuka pintu kamar lalu meletakkan sandal di rak sepatu, helm di lantai dan tas selempang di atas meja kemudian merebahkan diri di kasur yang empuk.

“Lo nggak ada kegiatan siang ini?” Nita keluar dari kamar mandi, dia sudah berganti pakaian dengan baju rumahan.

“Gue kan pengangguran ta, kerjaan gue emang begini” aku mengambil remote diatas nakas dan mencari program TV yang menarik minatku dan kuputuskan untuk menonton Si Otan yang ada di Trans 7.

“Naskah lo gimana?” Nita mengambil remote AC diatas nakas dan menghidupkannya lalu duduk di sampingku ikut menikmati acara televisi.

“Masih tahap pengerjaan elo nggak usah hawatir, oh ya kurang lebih dua bulan lagi gue akan kembali menyandang status mahasiswa” ucapku santai sambil menatap Alshad Ahmad sedang memberi makan seekor gajah dengan buah durian.

“Beneran Yan! lo nggak bercanda kan?” seru Nita tidak percaya.

“Iya gue nggak bohong, kalo nggak percaya lo bisa menemani gue untuk tes masuk Universitas bulan depan”

“Rencana lo kedepannya gimana?” Nita ikut menonton bersamaku.

“Gue pengen kuliah lagi, kalo gue beruntung gue bisa menjadi dosen”

“Woww elo beneran mengambil langkah yang berseberangan dengan jejak orang tua lo? Elo beneran nggak akan menyesal kan? Kalo ingin hidup mewah lo bisa Yan, tanpa perlu bekerja keras pula”

“Gue sudah memikirkannya berulang kali ta, ini pilihan gue. Gue nggak mau hidup mewah tapi nggak bahagia”

“Bahagia itu sederhana kok Yan, dengan berada di dekat orang-orang yang menyayangi lo sudah membuat lo bahagia”

“Tapi kalo semua tindak tanduk gue diatur mana bisa gue bahagia. Gue merasa seperti terpenjara di dalam rumah gue sendiri” gerutuku. 

“Lo sudah kasih tahu nyokap lo kalau mau kuliah lagi?”

“Sudah saat wawancara gue yang terakhir, nyokap keberatan dengan pilihan gue tapi akhirnya ngasih izin” mataku masih tertuju ke layar TV yang super besar.

Nita mengerutkan keningnya ketika mendengar penjelasanku “Kenapa nyokap lo tiba-tiba melunak? Gue jadi curiga”

“Gue juga nggak tahu ta dan gue nggak kepingin tahu, yang penting nyokap sudah ngasih izin” aku menatap Nita yang duduk di sampingku “Nyokap juga mentransfer uang ke rekening gue”

“Serius lo?” seru Nita kaget.

“Iya, saldo gue jadi sepuluh kali lipat lebih banyak sekarang, untung gue punya dua rekening jadi gue nggak perlu make uang nyokap”

“Yan kalo gue jadi elo, gue nggak perlu susah-susah kabur sampe ke sini, gue lebih milih mengikuti apa yang nyokap mau. Posisi lo di perusahaan sudah disediakan, lo nggak perlu mencari pekerjaan lagi”

“Gue tahu ta, tapi gue merasa kosong, gue nggak punya hasrat untuk maju karena itu bukan apa yang gue mau. Sejak awal nyokap maksa gue untuk mengikuti semua keinginannya, gue merasa nggak punya jati diri lagi”

“Jati diri itu bisa di temukan Yan, lo hanya perlu menjalaninya”

“Nita, gue sudah bertahun-tahun mengikuti apa yang nyokap inginkan dan yang gue dapatkan hanya rasa tersiksa, semua rencana gue lenyap tak tersisa” aku duduk bersila di depan Nita “Sekarang gue yang tanya deh, planning untuk masa depan lo apa?”

Nita berpikir sejenak sebelum menjawab “Planning terbesar gue… gue ingin membangun sekolah gue sendiri, gue ingin membuat yayasan sendiri supaya bisa menampung anak-anak yang kurang mampu agar tidak putus sekolah. Gue juga ingin membangun panti asuhan untuk anak-anak jalanan yang tidak memiliki rumah”

“Gimana dengan nyokap lo?”

“Mami dan papi mendukung dengan rencana gue, makanya gue masuk ke yayasan mereka untuk mempelajari sistem yang ada di sana. Gue juga membuat brand kosmetik bersama teman-teman gue”

“Nah lo aja punya planning ta, apa lagi gue. Tapi semuanya gagal total karena nyokap nggak kasih izin. Gue ingin kuliah di prancis, nyokap nggak kasih izin. Gue ingin ngambil jurusan sastra jepang, nyokap nggak mau. Planning gue yang sekarang gue ingin menjadi penulis terkenal dan apa yang gue peroleh? Nyokap malah menyuruh gue masuk ke perusahaan”

“Bentar dulu” Nita terlihat berpikir keras “Kenapa setiap lo punya planning, selalu lo konsultasikan sama nyokap lo?”

Aku menatap Nita seakan-akan tumbuh tanduk di kepalanya “Jelaslah gue harus izin sama nyonya besar, gue nggak mau ya jadi anak durhaka” sahutku sambil menoyor kepalanya “Pertanyaan lo nggak mutu banget, hal begitu lo tanyakan” Nita hanya tertawa. Kadang-kadang aku merasa seperti berbicara dengan anak kecil saat berhadapan dengan Nita.

“Gue akan selalu mendukung apapun keputusan lo, Yan. gue yakin lo akan berhasil dengan apapun yang menjadi pilihan lo karena lo pekerja keras” kemudian Nita melirik ke rak buku “Itu sebabnya lo mengoleksi buku-buku yang bisa meramalkan masa depan?”

aku tertawa mendengar ucapan sahabatku yang sinting ini “Apaan sih ta, mana ada buku yang bisa meramal”

“Kalo nggak bisa meramal, apa coba?” Nita mencoba menerawang layaknya paranormal “Tips menjadi kaya, cara memperoleh sejuta dolar dalam sekejap, ubahlah mindset mu maka kau akan sukses”

“Gue nggak membaca yang kayak gitu ya” ucapku sambil tertawa “Gue membaca buku pengembangan diri. Gue perlu motivasi, girl”

“Bukannya itu juga buku pengembangan diri?”

“Bener juga sih” ucapku sambil mengangguk-angguk.

“Gue kasih saran nih, dari pada lo membaca bacaan berat yang bikin kepala pusing tujuh keliling lebih baik lo membeli buku  ‘tips mencari pacar’ atau ‘cara bersosialisasi di masyarakat supaya tidak gagu’”

“Mana ada buku kayak gitu ta” aku tertawa terbahak-bahak.

“Ada Yan, gue yang bikin khusus buat lo” sahut Nita tidak mau kalah. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Nita. Jangan-jangan teman-teman yang sering diceritakannya itu setipe dengannya? Lama kelamaan aku juga bisa ketularan gilanya si Nita.

Kami mengobrol hingga larut malam, Nita memasak capcay untuk makan malam kami karena hanya bahan-bahan untuk membuat capcay yang ada di dalam kulkasku. Nita bercerita tentang lingkungan kerjanya, hari pertama dia mengajar, rekan kerja yang banyak membantunya serta berbagai macam karakter siswa yang ditemuinya. Nita banyak belajar dari seniornya bagaimana cara mengatasi siswa SMA yang bandel, sering bolos, merokok dan berbagai macam tingkah remaja nakal.

 

 

Selama kunjungan Nita, kami lebih banyak menghabiskan waktu diluar. Kami mengunjungi candi Prambanan karena Nita sangat ingin berkunjung ke bangunan sejarah yang merupakan Situs Warisan Dunia UNISCO, candi Hindu terbesar di Indonesia sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Karena letak candi Prambanan lumayan jauh sekitar 40 menit dari rumahku, jadi kami memesan grab untuk mengantarkan kami kesana. Seandainya Nita memiliki libur yang panjang aku ingin sekali mengajaknya ke candi Borobudur yang ada di Magelang, Jawa Tengah. Sayangnya, Nita hanya memiliki lima hari untuknya berlibur kemudian buru-buru pulang ke Jakarta karena ada rapat pengurus Yayasan.

Aku mengantarkan Nita ke YIA pada hari rabu, sekitar jam sebelas kami sudah berada di bandara untuk penerbangan jam satu. Nita membeli koper berukuran 20 inch untuk menampung oleh-oleh yang dibelinya. Sehari sebelumnya kami berburu souvenir di pasar Malioboro, mulai dari berbagai macam bentuk gantungan kunci, replika sepeda onthel, becak, candi prambanan, sampai dengan tas rotan dan dompet kulit. Dia juga membeli blangkon dan baju batik untuk Rogi dan teman-temannya.

Tidak cukup dengan souvenir, Nita juga memborong berbagai macam makanan seperti bakpia pathok, geplak, cokelat monggo, jogja scrummy dan karena Nita doyan makan gudeg, dia juga membeli beberapa kaleng gudeg yang siap dinikmati.

 Aku sampai binggung ketika ikut mempacking, seharusnya Nita membeli koper berukuran 24 inch, koper 20 inch terlalu kecil untuk menampung semua oleh-oleh yang dia beli. Dengan terpaksa sebagian baju batik dia jejalkan di tas menginapnya.

“Gue senang lo bisa berkunjung ke sini ta” aku memeluk Nita.

“Iya gue juga Yan, tapi nggak usah pake pelukan segala kali nanti di kira orang elo pacar gue” canda Nita sambil tertawa ketika balas memelukku.

“Kampret”

“Selama disini lo harus dapat pacar Yan” ucap Nita bersemangat “ Gue setuju banget kalo lo jadian sama Haris supaya gue nggak dibilang selingkuhan lo dan Rogi nggak meragukan orientasi seksual gue” candanya.

“Asem” sahutku masam.

“Beneran lho Yan, gue mendukung kalau lo jadian dengan Haris” seru Nita.

“Haris cuma sebatas kenalan aja ta, lo jangan sembarangan ngomong” tegurku.

“Gue kan cuma memberikan pendapat atau lo bisa mencari pacar lewat daring. Aplikasinya sudah gue pasang di ponsel lo”

“Nanti gue coba ta, gue juga penasaran sehebat apa sih aplikasi yang lo banggain itu?”

“Kalo lo masih nggak percaya tanya sendiri ke Rogi sehebat apa aplikasi itu sampai dia bisa jadi tunangan gue”

“Nggak perlu, cukup melihat tampang lo yang mesem itu gue sudah tahu” Nita emang terlihat berbeda sekarang, dia terlihat bahagia dan banyak tersenyum, aku jadi iri.

“Pokoknya saat lo balik ke Jakarta, lo harus memperkenalkan seseorang ke gue.  Kalau lo belum punya pacar juga, gue dan Rogi yang akan mencarikan lo pacar sebelum nyokap lo bertindak sebagai makcomblang lagi. Rogi bisa memperkenalkan lo ke teman-temannya yang sudah lulus seleksi dari gue” Aku cuma mengangguk saat Nita menyuarakan pikirannya “Saat gue nikah lo harus kudu wajib membawa pasangan. Gue nggak mau melihat lo masih jomlo merana nggak jelas”

“Lama kelamaan lo jadi mirip nyokap gue” gerutuku.

Tiba-tiba terdengar suara pengumuman yang meminta semua penumpang pesawat yang Nita tumpangi untuk masuk ke ruang tunggu, membuatku mengurungkan niat untuk membantah Nita yang sekarang mengambil alih peran mama sebagai makcomblang. Aku tidak tahu ini berdampak baik atau buruk untukku, tapi mempunyai dua orang yang rese dan suka ikut campur dengan kehidupanku membuatku bete.

“Lo masuk sekarang deh, nanti ketinggalan pesawat” aku jadi menyesal sudah curhat habis-habisan sama Nita.

“Ingat pesan gue Yan, lo harus punya pacar” teriak Nita lalu menghilang dari pandanganku. Kelar sudah hidup gue.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!