PERJODOHAN 2

Nita tersentak “RIANA APA YANG LO LAKUKAN?” teriaknya dan berusaha menjewerku. Aku berkelit dan menjauhinya sambil tertawa tetapi dia malah melempariku dengan paprika dan bawang bombay yang diambilnya dari kulkas.

 

∞∞∞

 

Sepiring spaghetti sudah tersaji di depanku ketika aku duduk lesehan di samping tempat tidur. kamarku memang tidak memiliki meja makan dan sofa seperti kamarku yang ada di Jakarta. Kamarku sekarang sangat sederhana. Semua aktivitas aku lakukan di dalam kamar baik makan, mandi, tidur maupun kerja. Semua kegiatan kecuali memasak dan mencuci. Fasilitasnya pun cukup lengkap, di sini sudah di sediakan dapur umum yang bisa di gunakan siapa saja dan hanya membayar iuran untuk membayar gas yang kami gunakan. Kos ini juga menyediakan ruangan mencuci jadi tidak perlu khawatir dengan dana untuk deterjen karena sudah di sediakan kecuali kalau ingin menggunakan pewangi pakaian, jadi harus membawa sendiri. Ini sangat menguntungkanku jadi aku tidak perlu memikirkan laundry, selain itu aku juga memiliki kulkas sendiri karena tidak ingin berebut tempat dengan penghuni lain, walaupun kulkas juga termasuk fasilitas yang di sediakan.

Aku menatap Nita yang duduk di depanku sambil menyantap spaghetti buatannya sendiri. aku memilin spaghetti dengan garpu dan mulai menyuap. Aku harus cerita mulai dari mana ya, aku jadi bingung sendiri.

“Gue dijodohkan” kataku setelah berpikir sejenak sambil memilin spaghetti dengan garpu.

“Uhuk… Uhuk… Uhuk…” Nita tersedak dan memukul-mukul dadanya ketika mendengar itu. Aku buru-buru menyodorkan air dan dia langsung meminumnya. “Sebaiknya kita habiskan dulu makanan ini baru lo cerita” ucapnya setelah batuknya berhenti, aku hanya mengangguk sambil menyuap kembali.

Aku tidak bisa menikmati makanan ini, bukan karena masakan Nita tidak enak tapi karena pikiranku yang kemana-mana. Tadi malam setelah aku mematikan telepon secara sepihak mama menelponku balik. Aku masih ingat dengan jelas kata-kata mama tadi malam.

 

“Mama jangan macam-macam ya! kalo mama masih nekat mau menjodohkanku dengan orang itu, mama akan mendapatiku mati gantung diri di kamar kos” ancamku dan langsung menutup telpon itu dengan ganas.

Aku rebahan di kasur sambil memijit keningku. Walaupun aku sudah keluar dari rumah, mama masih saja memaksakan kehendaknya. Aku sampai tidak bisa berkata-kata, mengapa mama melakukan itu? beberapa saat kemudian HPku bernyanyi-nyanyi kembali, nama MAMA muncul di layar.

Aku berusaha mengatur nafasku yang memburu lalu menggeser warna hijau pada layar “ADEK. Tidak sopan menutup telpon dari orang tua! Kamu mau jadi anak durhaka?” teriak mama di ujung sana.

“Apa lagi ma?”

“Pokoknya mama nggak mau tahu, kamu harus nikah sama Rudi TITIK. Mama nggak mau mendengar alasanmu lagi” kemudian mama memutuskan sambungan telpon. Aku menatap layar HP dengan panik. Bagaimana ini? Aku nggak mau nikah muda, masih banyak yang ingin aku capai, masih banyak yang ingin aku raih. Aku bangkit dari kasur dan berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Ayo berpikir Riana! Kamu harus mencari jawabannya!

Dan tiba-tiba saja aku teringat dengan abang. Bukannya abang kenal dengan bajingan itu? Abang kan patner bisnisnya? Aku segera mengambil ponsel yang ada diatas kasur lalu menghubungi Nomor abang. Mudah-mudahan abang belum tidur. Aku lebih tahan mendengar omelan abang dari pada mama.

“Halo” suara abang terdengar bagaikan malaikat, hanya abang yang bisa menolongku sekarang.

“Halo Bang, lagi di mana?”

“Abang lagi di Surabaya, ada apa Dek?” syukurlah abang lagi nggak dirumah.

“Abang aku mau cerita,” suaraku terdengar manja sekali.

“Iya ada apa?”

“Aku nggak ganggu waktu abang kan?” aku meringkuk di atas kasur sambil memeluk lutut.

“Nggak kok kamu nggak ganggu, abang juga lagi di kamar. Kenapa? Kamu perlu uang?” Tiba-tiba saja air mataku mengalir di pipi, “Lho kenapa nangis. Kamu kenapa Dek? Kamu sakit ya,” tanya abang ketika mendengarku terisak.

“Abang aku nggak mau dijodohin, aku nggak mau nikah sekarang,” ucapku di sela-sela tangis.

“Siapa yang mau menjodohkan kamu?” kata abang setelah terdiam cukup lama.

“Mama”

“Sama siapa?”

“Rudi anaknya tante Wida,” aku mendengar abang menyumpah. Jelas abang juga nggak setuju, dia tahu belangnya Rudi yang suka gonta ganti pacar kayak berganti underwear dan si oknum yang bersangkutan juga suka meniduri pacarnya.

“Berhenti nangisnya dong, nanti abang yang akan membujuk mama, kamu tenang saja.”

“Beneran Bang, janji.” Aku lalu duduk dan membersihkan air mata dengan tangan.

“Janji”

“Abang nggak bohong kan?”

“Iya, jangan nangis lagi masa gitu aja kamu nangis sih. Dasar CENGENG,” tuh kan keluar deh mode nyebelinnya.

“Aku nggak cengeng ya, dasar om-om,” gerutuku sambil membersihkan air mata.

“Gitu dong, Adek yang aku kenal itu suka banget marah-marah dan cemberutan. Kalo nangis dan mellow begini bukan Adek sekali,” abang tertawa.

“Abang, si brengsek itu ngirimin aku kalung. Kalungnya di apain nih, dibuang aja ya” lanjutku.

“Kalung yang tempo hari kamu tanyain itu?”

“Iya Kalung yang itu”

“Kirim ke kantor abang saja. Biar abang yang mengembalikan ke yang punya. Abang juga nggak sudi punya adik ipar kayak Rudi yang suka tidur dengan wanita manapun yang ditemuinya”

“Oke Bang”

“Ya sudah kamu tidur gih tadi habis nangis kan, pasti capek”

“ABANG” aku masih mendengar tawanya ketika abang menutup telpon.  

  Aku meletakkan ponsel di nakas samping tempat tidur kemudian berlalu ke kamar mandi, ketika menatap cermin aku melihat mataku yang memerah. Aku memang jarang sekali menangis, sifatku yang meledak-ledak membuatku jarang menangis. Aku segera mencuci muka dan menggosok gigi, aku sengaja berlama-lama di kamar mandi ketika mendengar ponselku bernyanyi-nyanyi ria. Aku sedang mengeringkan wajah dengan handuk bersih ketika ponselku bernyanyi kembali.

“Ada apa lagi ma?” jawabku setelah 3 panggilan tak terjawab dari mama.

“Tadi Reno nelpon, katanya Rudi itu playboy dan dia nggak sudi punya adik ipar buaya” kata mama masam. Ketahuan banget dari suara mama yang menggerutu, pasti abangku yang paling ganteng itu habis marah-marah sama mama.

YES ucapku tanpa suara.

“Kamu jangan senang dulu dek, walaupun besok pertunangan itu mama batalkan kamu tetap harus menikah”

“Tapi ma bukannya abang juga mau nikah sama mbak Dian. Kenapa aku juga harus nikah?” protesku.

“Kamu memang harus nikah, Dek. Biar kamu bisa bersikap dewasa, tidak egois dan memikirkan dirimu sendiri saja”

“MAMA” teriakku histeris “Aku nggak mau nikah sekarang”

“Nggak sekarang Dek, mama akan membiarkanmu mencari calon sendiri. Tapi ingat! Kalau dalam setahun ini belum juga memperkenalkan calonmu sama mama dan papa, mama yang akan menyeretmu pulang ke Jakarta dan menikahkan kamu dengan pilihan mama. Kamu mengerti!” mama langsung menutup telpon tanpa mendengar protesku.

Sekarang aku bisa menduga, pasti ini akal-akalan mama supaya aku balik ke Jakarta lagi. Dasar nenek sihir.

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!