Tidak membutuhkan waktu lama, ambulan yang membawa Laras tiba di Rumah Sakit. Para pekerja medis yang bertugas segera membantu Laras ke luar dari ambulan dengan tetap berada di atas bet stretcher. Wangi pun ikut mendampinginya. Seorang dokter jaga yang sedang bertugas pada waktu itu langsung menyambut kedatangan Laras selaku pasien darurat. Dan ternyata dokter tersebut adalah Riko.
"Bagaimana keadaan pasien? Lho... Wangi?" Riko setengah terkejut ternyata ada Wangi bersama pasien darurat itu.
"Pasien sedang hamil dan mengalami pendarahan, mengenai alat vital dalam keadaan stabil, aku kebetulan ada di temapat kejadian." Jawab Wangi singkat, padat dan jelas tanpa bertele-tele.
"Baiklah, aku periksa dulu." Kata Riko setelah mendengarkan diaknosa sementara Wangi dan dia sebagai dokter spesialis Obgyn langsung mengambil alih pemeriksaan.
"Okey, aku serahkan padamu." Jawab Wangi seraya mengangguk.
Setelah itu Wangi langsung menghempaskan bokongnya di atas kursi tunggu yang ada di sana, sungguh ini hari yang melelahkan untuknya.
"Wangi..." Suara Galih mengalihkan pandangannya ke arah lelaki tegap itu.
"Ahh... Galih, maaf sepertinya kita akan agak lama di sini." Ucap Wangi dengan suara lelahnya.
"Tidak apa, saya sudah melapor pada komandan tentang kejadian saat ini." Pungkas Galih.
"Terimakasih." Ucap Wangi sungguh-sungguh. Galih pun menganggukkan kepalanya dan kemudian ikut duduk di kursi sebelah Wangi.
Setelah menunggu kurang lebih dua jam, terlihat Riko keluar dari ruang UGD.
"Gimana Ko keadaan Laras?" Wangi langsung berdiri dan langsung menanyakan perihal keadaan Laras.
"Bayi dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan, namun ibunya tidak apa-apa hanya perlu perawatan untuk pemulihan tubuhnya." Jawab Riko dengan raut muka sedih.
"Ahh... Sayang sekali, ini pasti sangat menyakitkan untuk Laras." Ujar Wangi yang ikut merasa sedih.
"Wang, tadi itu aku baru sadar jika pasien barusan adalah Laras teman kita sekolah dulu, awalnya aku tidak mengira dan menduga-duga saja, ternyata memang dia setelah melihatnya dengan jelas." Kata Riko dan Wangi pun mengangguk.
"Iya, memang benar itu dia, aku tidak sengaja menemukannya diantara kerumunan orang-orang di depan minimarket ketika hendak pulang ke rumah. Ohh, sekarang dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan kan? Aku harus memeberi kabar keluarganya." Ungkap Wangi yang diangguki oleh Riko.
"Sebentar, aku akan mencari kontak telphon keluarganya di phonselnya." Lanjut Wangi yang langsung mencari phonsel Laras di dalam tas yang kebetulan dibawa Wangi. Dia pun segera mencari kontak dengan urutan nomor satu dan menemukan kontak bertuliskan nama 'My Husband'. Wangi langsung menghubungi nomor tersebut karena dia berpikir itu adalah nomor kontak suami Laras.
"Hallo yang... Kamu kemana saja, aku telphon dari tadi kenapa gak diangkat?" Suara di seberang sana langsung memberondong setelah tersambungkan.
"Maaf, apa benar ini dengan suami saudari Laras?" Tanya Wangi langsung.
"Benar, ini siapa ya? Kenapa phonsel Laras ada pada anda?" Jawab lelaki di seberang sana yang diduga sebagai suami Laras.
"Kami dari pihak Rumah Sakit Universitas memberitahukan bahwa saudari Laras mengalami pendarahan hebat dan terpaksa dilarikan di Rumah Sakit." Jawab Wangi.
"Bagaimana bisa?!" Seru lelaki tersebut dalam telphonnya.
"Untuk lebih jelasnya, mohon anda untuk segera datang bapak." Jawab Wangi lagi.
"Baik, terimakasih." Jawab lelaki di seberang sana dan langsung memutuskan sambungan telphonnya.
"Bagaimana?" Tanya Riko.
"Suaminya akan datang." Jawab Wangi.
"Ahh syukurlah..." Riko menghela napas lega namun matanya kemudian melirik ke arah belakang Wangi di mana Galih berdiri.
"Wang, itu di belakang kamu siapa? Seperti pernah lihat?" Tanya Riko setengah berbisik.
"Oh iya hampir lupa, kenalkan ini Galih dan Galih ini Dokter Riko teman sekaligus sahabat saya dari kecil, kalian berdua pernah bertemu sekali kok di warungnya bu Win." Kata Wangi memperkenalkan Galih pada Riko.
"Ahh... Sekarang aku baru ingat!" Kata Riko setengah berseru seraya matanya melirik ke arah Wangi dengan tersenyum smirk.
"Hallo salam kenal, kalau tanpa seragam gini saya jadi pangling dengan mas Galih. Ohh ya, bu Win itu ibu saya." Ucap Riko sambil mengajak Galih berjabat tangan.
"Saya tahu, karena sering makan di warungnya bu Win, senang juga berkenalan dengan Dokter Riko." Balas Galih dengan senyum tipisnya.
"Btw... Saya mau melihat Laras dulu, kamu mau ikut atau tunggu di sini saja?" Tawar Wangi pada Galih.
"Saya menunggu di sini saja." Jawab Galih.
"Baiklah." Wangi mengangguk sebentar lalu berlalu pergi bersama Riko meninggalkan Galih di ruang tunggu.
Ketika Wangi hendak membuka pintu kamar perawatan pasien dimana Laras berada, tiba-tiba tangan Riko mencegahnya.
"Ada apa Ko? Aku mau masuk kenapa kamu cegah?" Wangi merasa bingung dengan sikap Riko.
"Sebelumnya ada yang mau aku katakan padamu tentang Laras." Kata Riko dengan raut wajah yang serius.
"Laras? Ada apa dengan dia?" Tanya Wangi tak mengerti.
"Tadi dia sempat memohon agar kita tidak menghubungi orang tua maupun adiknya." Kata Riko.
"Kenapa?" Tanya Wangi heran.
"Karena tidak ada satu orangpun dari keluarganya yang mengetahui jika dirinya sedang hamil." Penjelasan Riko yang menurutnya sedikit ambigu membuat dahi dokter cantik itu berkerut.
"Maksudnya ini gimana? Meski orang tua atau adiknya tidak tahu paling tidak suaminya harus tahu kan? Tadi kamu lihat sendiri aku sudah terlanjur menghubungi suaminya." Ujar Wangi yang masih tidak habis pikir dengan keadaan yang terjadi pada saat ini.
"Yang kamu hubungi itu bukan suaminya melainkan kekasihnya, Laras belum pernah menikah sama sekali." Perkataan Riko itu langsung membuat Wangi terperangah tidak percaya.
"Jadi maksud kamu..." Ucapan Wangi tertahan dan langsung diperjelas oleh Riko.
"Ya, lelaki yang kamu telphon itu adalah ayah biologis dari anak yang dikandung Laras." Penjelasan Riko membuat Wangi tidak bisa lagi menahan keterkejutannya seraya membungkam sendiri mulutnya dengan tangannya agar suara pekikannya tidak keluar begitu saja.
"Lalu bagaimana? Aku terlanjur menghubungi lelaki itu." Tanya Wangi setelah pikirannya kembali jernih.
"Tidak apa-apa, memang itu yang diinginkan Laras. Dia hanya menginginkan kita menjaga rahasianya saja." Wangi mengangguk mengerti.
"Ya sudah sebaiknya kamu masuk sekarang." Ujar Riko dan Wangi pun langsung membuka pintu di hadapannya.
Ketika Wangi dan Riko memasuki ruangan tersebut, di sana terlihat Laras berbaring dengan air mata mengalir tanpa suara.
"Laras..." Suara Wangi terdengar lembut menyapa wanita lemah di atas ranjang Rumah Sakit itu.
Laras meresponnya, dia memandang Wangi yang datang menghampiri berdiri di samping ranjangnya. Tangisan tanpa suara itu perlahan terdengar dan semakin keras. Wangi langsung meraih tubuh lemah temannya itu dalam pelukannya, membiarkan Laras menangis sejadi-jadinya. Mungkin itu lebih baik daripada memendam sendiri kesedihannya dalam hati.
"Wang... A aku.. hiks..." Ucap Laras terbata-bata dalam tangisnya.
"Sstt... Tenang, tidak apa-apa... Riko sudah cerita semuanya padaku, kamu bisa percaya dengan kami berdua dan aku sudah menghubungi dia, mungkin sebentar lagi akan datang." Laras hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata apapun, hanya air matanya yang masih terus mengalir dari sudut matanya.
Tiba-tiba pintu ruang perawatan Laras terbuka dengan sedikit kasar.
"Laras! Sayang..."
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Wiwit Wilowati
lanjut thor
2022-07-15
0