Waktu berlalu setelah makan malam tidak terduga itu. Seperti pagi sebelumnya, pagi ini Wangi diantar oleh Galih, tapi kali ini tidak ke kampus melainkan langsung ke Rumah Sakit.
"Terimakasih sudah mengantar." Ucap Wangi pada Galih ketika mereka sudah tiba di pelataran Rumah Sakit.
"Sama-sama." Balas Galih.
"Ohh ya, mungkin nanti saya pulang agak telat karena hari ini akan ada jadwal operasi, saya akan hubungi kamu setelah semuanya selesai." Kata Wangi sebelum dirinya membuka pintu mobil.
"Baiklah, hubungi saya kalau sudah akan pulang." Ujar Galih, Wangi pun mengangguk dan setelah itu keluar dari dalam mobil.
Setelah memastikan Wangi benar-benar masuk ke dalam Rumah Sakit, Galih langsung menancapkan gas mobilnya dan melaju pergi dari sana. Namun tidak terduga dari kejahuan Elias melihatnya dari tempat parikir ketika dirinya baru keluar dari dalam mobilnya.
"Siapa orang yang mengantar Wangi itu ya? Meski terlihat samar-samar itu adalah lelaki. Apa ayahnya atau saudaranya ya? Mobil yang digunakan yang aku tahu itu adalah mobil Wangi." Gumam Elias menduga-duga.
"Ahh... Paling juga saudaranya." Kembali Elias mencoba menepis prasangka-prasangka di dalam otak cerdasnya itu.
Dilain hal, Wangi tidak langsung menuju ruangan dokter tempat dirinya bekerja. Melainkan dia mampir dulu untuk melihat keadaan Laras dengan sebuah keranjang buah di tangannya yang ia beli ketika perjalanan menuju Rumah Sakit. Dia mengetuk pintu ruang inap Laras sebelum masuk ke dalam dan membuka pintu itu pelan. Wangi mengintip perlahan sebelum benar-benar masuk.
"Pagi... Aku masuk ya?" Kata Wangi memberi salam dengan mengembangkan senyumnya ketika pandangan Laras melihat ke arahnya.
"Tentu saja, masuklah." Jawab Laras.
Kemudian Wangi masuk dan menghampiri Laras yang masih berbaring di atas tempat tidur dengan posisi setengah duduk.
"Hai... Bagaimana keadaanmu? Oh iya, ini aku bawakan buah untukmu, aku taruh di sini ya?" Sapa Wangi pada Laras seraya meletakkan keranjang buah yang ia bawa di atas meja yang ada di sana.
"Terimakasih, sudah agak mendingan." Jawab Laras yang memaksakan senyuman di bibirnya, tentu saja rasa sedih itu tidak akan hilang dalam waktu semalam kan...
"Syukurlah..." Wangi merasa sedikit lega, paling tidak Laras tidak sehisteris tadi malam. Tentu saja itu adalah reaksi yang wajar ketika mengetahui apa yang selama ini dia rawat dan jaga dengan penuh kasih sayang hilang dalam sekejap mata. Wangi sangat memaklumi itu.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari arah kamar mandi yang ada di sana. Seorang perempuan berwajah mirip dengan Laras namun terlihat lebih muda darinya keluar dari kamar mandi. Wajahnya basah karena air, kelihatannya dia baru saja membasuh wajahnya. Perempuan muda itu terlihat bingung ketika melihat Wangi yang duduk di sebelah tempat tidur Laras. Reaksi yang sama juga terlihat dari wajah Wangi ketika melihat gadis itu.
"Ahh perkenalkan, dia adik perempuanku satu-satunya namanya Ineke." Ucap Laras segera setelah melihat kebingungan yang terpancar dari raut Wangi dan adiknya.
"Ohh... Hai saya Wangi teman kakakmu SMA dulu." Ucap Wangi memperkenalkan diri dan menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Ineke.
"Salam kenal, saya Ineke adiknya mbak Laras." Kata gadis manis itu sembari menyambut tangan Wangi dengan senyum di bibirnya.
"Wangi ini dokter lho... Dia yang menolong mbak tadi malam." Ungkap Laras pada adiknya.
"Ya ampun... Terimakasih Dokter Wangi sudah mau menolong mbak saya tadi malam dan membawanya ke sini." Ucap Ineke tulus.
"Ya ellah... Gak usah sungkan gitu napa? Panggil saja kakak kalau sedang santai seperti ini dan menolong orang sudah kewajiban saya apalagi orang yang sudah saya kenal." Ujar Wangi dengan senyum lembutnya.
"Iya kak, makasih sekali lagi." Balas Ineke seraya tersenyum.
Setelah mengobrol basa basi sebentar, Ineke masuk lagi ke kamar mandi untuk mencuci buah apel yang di bawa Wangi di wastafel yang ada di sana.
"Ras, sorry mau nanya... Adikmu ngerti kejadian sebenarnya?" Tanya Wangi seraya berbisik ke telinga Laras dan Laras pun mengangguk.
"Terus?? Reaksi dia gimana? Terus kamu sendiri gak apa-apa?" Tanya Wangi memberondong merasa sedikit khawatir.
"Tentu saja dia sangat terkejut, dia sempat marah padaku dan menghujat Josep habis-habisan, kami pun sempat bertengkar tadi malam. Namun setelahnya dia menangis hebat dan memelukku. Bagaimanapun Ineke adalah saudaraku satu-satunya, dia pun tidak bisa marah terlalu lama padaku dengan keadaanku yang seperti ini." Ungkap Laras dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lalu orang tuamu?" Tanya Wangi kemudian.
Laras menggeleng pelan.
"Mereka belum tahu dan mungkin tidak akan pernah tahu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya mereka padaku jika tahu kebenarannya. Lagian Ineke sudah sepakat untuk merahasiakan ini semua." Kata Laras dengan perasaan menyesal yang begitu dalam.
"Aku tidak akan menanyakan apapun padamu tentang Josep, karena itu masalah kalian berdua. Namun aku siap mendengar apapun ceritamu jika kamu ingin cerita kapanpun padaku, tapi tidak sekarang karena hari ini aku sedang sibuk sekali. Maaf aku tidak bisa lama dan harus bekerja." Kata Wangi seraya melihat waktu di jam tangannya.
"Tidak apa-apa, terimakasih sudah meluangkan waktu sibukmu untuk menjengukku." Ucap Laras tulus.
"Heey... Kita kan teman, aku pergi dulu ya... Cepat sembuh ya beb..." Kata Wangi sambil melangkah pergi namun sebelum dia membuka pintu dan keluar suara Laras menahannya.
"Wangi..." Wangi menengok sejenak.
"Suatu saat aku akan cerita kepadamu." Ucap Laras dengan pandangan mengarah pada Wangi. Wangi pun hanya tersenyum dan mengacungkan jempol tangannya lalu menghilang dari balik pintu.
Setelah dari kamar inap Laras, Wangi sudah disibukkan dengan persiapan operasai Ridwan satu jam kemudian.
"Sudah siap semuanya Dokter Wangi?" Tanya Elias.
"Sudah dok, ini baru dapat kabar kalau ruang operasi sudah siap." Jawab Wangi.
"Ya sudah kita langsung ke ruang operasi, para dokter juga sedang mempersiapkan diri, kita selaku dokter residen harus ada di ruang operasi terlebih dahulu." Ujar Elias mengingatkan.
"Baik dok." Jawab Wangi yang langsung mengikuti langkah Elias begitu melihat seniornya itu keluar dari ruangan kerja mereka.
Wangi, Elias dan beberapa tim dokter sudah siap di meja operasi, sementara Ratna istri Ridwan sedang menunggu di luar pintu ruang operasi, disana dia ditemani Rendra dan Rina papa mamanya Wangi. Rendra hari ini sengaja mengambil ijin dari tugasnya demi menemani sahabatnya menjalankan operasi.
"Mbak yu... Mbak yu yang tenang ya, banyak-banyak berdo'a, insya'allah semuanya lancar." Rina menggenggam tangan Ratna agar perempuan yang lebih tua setahun darinya itu lebih tenang menunggu suaminya yang sedang dioperasi di dalam sana.
"Terimakasih ya Rin, untung ada kamu dan mas Rendra saat ini, jadi aku sedikit merasa tenang. Andai Galih juga ada di sini...." Ucapan Ratna terhenti, dia sebenarnya ingin mengatakan pada anak semata wayangnya itu jika papanya sedang sakit parah. Namun suaminya itu sungguhlah keras kepala untuk kekeh tidak mengatakan pada anaknya jika dia sedang sakit.
"Ya... Begitulah Ridwan, dari dulu tidak ada yang bisa menandingi kekeras kepalaannya." Seloroh Rendra yang mendengar keluh kesah istri sahabatnya itu.
"Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah berdo'a untuk diberikan kelancaran dan keselamatan bagi Ridwan yang sedang berjuang hidup di dalam sana." Lanjut Rendra.
"Iya mbak yu, nanti urusan Galih bisa kita bicarakan setelah ini." Ucap Rina membenarkan kata suaminya dan Ratna pun mengangguk. Perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik itupun memanjatkan segala do'a di dalam hatinya demi kesembuhan sang suami.
Sudah sekitar enam jam berlalu ketika lampu indikator di depan pintu ruang operasi menyala, akhirnya lampu itupun redup menandakan operasi telah usai. Ratna, Rina dan Rendra pun langsung berdiri dari tempat duduknya. Pintu operasi terbuka. Terlihat Dokter Slamet keluar dari ruang operasi tersebut bersama Dokter Zidan dan Dokter Anne.
"Bagaimana keadaan suami saya dokter? Apakah operasinya lancar?" Tanya Ratna bertubi-tubi dengan perasaan yang campur aduk.
Dokter Slamet tersenyum, demekian juga dengan Dokter Zidan dan Dokter Anne.
"Alhamdulillah operasi bapak Ridwan sukses dan sekarang sudah dipindahkan di ruang rawat." Terucap syukur dari Ratna dan kedua orang tua Wangi setelah mendengar jawaban Dokter Slamet.
"Alhamdulillah...."
"Terimakasih Ya Tuhan... Terimakasih banyak dok, apa kami bisa melihatnya sekarang dok?" Tanya Ratna lagi.
"Ibu beserta keluarga lainnya bisa melihat beliau namun sementara yang masuk dibatasi untuk satu orang dulu dan harus memakai pakaian steril, anda sekalian bisa masuk secara bergantian." Terang Dokter Zidan memberi penjelasan.
"Baik dok, terimakasih." Ucap Ratna dengan wajah yang terlihat lebih tenang, ada perasaan lega di sana. Kemudian ketiga dokter utama itupun pamit undur diri dan Ratna yang ditemani oleh Rina juga Rendra segera menuju ke ruang rawat Ridwan.
Di ruang rawat dimana Ridwan telah dipindahkan pasca operasi, Ratna sebagai istrinya masuk ke dalam ruangan terlebih dahulu setelah mengenakan baju steril yang disediakan oleh Rumah Sakit. Ternyata di dalam sudah ada Wangi dan juga Elias sebagai dokter yang memantau keadaan pasca Ridwan dioperasi.
"Sore tante, silahkan duduk di sini." Sapa Wangi sambil mempersilahkan Ratna untuk duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Ridwan.
"Terimakasih Dokter Wangi, bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Ratna seraya matanya beralih memandang ke arah suaminya yang tengah berbaring dengan selang infus dan selang oksigen di tangan dan hidungnya.
"Semuanya baik, alat vitalnya semuanya normal, cuma sekarang masih belum sadarkan diri karena masih dalam pengaruh obat bius." Terang Wangi dibarengi senyum yang mengembang.
"Terimakasih Dokter Wangi telah menjaga suami saya, terimakasih juga Dokter..." Ratna sedikit lupa dengan nama Elias.
"Saya Dokter Elias." Kata Elias memberi tahukan namanya.
"Ahh iya Dokter Elias, maaf saya lupa, maklum belakangan ini saya banyak pikiran." Kata Ratna apa adanya.
"Iya, saya mengerti ibu... Kalau begitu kami berdua permisi dulu." Pamit Elias dan Wangi sebelum mereka keluar dari ruangan tersebut. Kini tinggalah Ratna di ruangan tersebut melihat keadaan suaminya.
Saat Wangi sudah berada di luar ruangan rawat, dia melihat kedua orang tuanya sedang duduk menunggu di depan kamar rawat tersebut.
"Ma, pa..." Panggil Wangi setelah melihat keduanya.
"Wangi..." Sahut mamanya.
"Mama papa ada di sini juga? Sejak kapan?" Tanya Wangi.
"Papa gak kerja? Papa bolos ya...." Ujar Wangi selanjutnya yang terus memberondong pertanyaan yang belum sempat dijawab mereka.
"Kamu itu tanya mbok ya satu satu jangan kaya rem sepeda yang sudah los dol gitu." Tegur papa Rendra.
"Pfftt..." Elias terdengar sedang menahan tawanya dan sontak itu membuat Wangi melirik tajam ke arahnya. Namun dengan santainya Elias pura-pura tidak melihatnya.
"Papa sengaja ijin hanya buat hari ini saja untuk menemani istrinya om Ridwan, tante Ratna sendiri tanpa keluarga, jadi papa sama mama sengaja untuk menemani dan memberi dukungan moril untuknya." Terang papa Rendra.
"Oh begitu, kalau gitu Wangi mau pamit lanjutin kerja ya ma pa, om Ridwan nya masih belum sadar karena pengaruh obat bius, nanti kalau beliau sudah sadar panggil saja dokter yang bertugas." Terang Wangi sekaligus pamit untuk kembali kerja.
"Ya sudah, lagian mama dan papa bentar lagi juga balik setelah pamit sama tante Ratna, kasihan Dino sendirian di rumah. Kamu hati-hati kerjanya. Titip anak saya ya Dokter Elias." Ucap mama Ratna pada Wangi dan juga Elias.
"Ihh mama, Wangi kan bukan barang, pakai acara dititipkan segala." Gerutu Wangi dengan bibir yang manyun ke depan.
"Kamu itu sudah besar masih saja suka ngambek, malu sama gelar doktermu, sudah sana balik kerja." Tuh kan si papa malah nambah-nambahin malunya Wangi di hadapan Elias.
"Ini juga sudah mau balik." Kata Wangi sambil merajuk dan melangkah pergi dari hadapan mama papanya.
"Pfftt... Ehm... Permisi om, tante..." Pamit Elias menunduk sopan.
"Iya, selamat bertugas Dokter Elias." Balas mama Rina. Dan Elias pun melangkah pergi mengikuti langkah Wangi dari belakang.
"Ckck... Anak gadismu itu kapan dewasanya? Kalau gini Galih harus banyak-banyak sabar." Ujar Rendra pada istrinya.
"Itupun kalau Galih mau pa... Syukur alhamdulillah." Ujar Rina yang menimpali ucapan suaminya. Ternyata ia pun masih meragukan kedewasaan putri sulungnya itu. Sedangkan Rendra hanya bisa tepok jidat.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments