"Ini sungguh kamu Lih?" Tanya pak Sastro pada Galih seakan lelaki setengah baya itu tidak percaya jika pemuda yang berdiri di hadapannya adalah dia.
"Ini benar-benar saya pak, Galih Admaja." Jawab Galih sambil menyodorkan tangannya untuk meraih dan mencium tangan calon mertuanya itu.
"Ya Tuhan... Ini benar-benar kamu Lih... Ohh ya, ayo masuk nak, masuk!" Titah pak Sastro menggiring Galih untuk masuk ke dalam rumahnya dan menyuruhnya untuk duduk. Mereka bertiga berbincang-bincang saling bercerita dan pada akhirnya Galih menanyakan bagaimana kabar Sinar. Dia bertanya kenapa dari tadi dia tidak melihat keberadaan Sinar di dalam rumah itu? Seketika itu juga bapak serta ibu Sinar terdiam dan saling berpandangan. Kemudian bu Rukmini berkata...
"Oh ya nak, kamu kan baru saja sampai dan langsung datang kemari pasti sangat capek. Ini sudah hampir gelap dan sebentar lagi akan magrib, sebaiknya kamu mandi dulu biar segar." Kata bu Rukmini seraya tersenyum.
"Kita sholat magrib bersama ya? Setelah itu kita makan malam, kebetulan ibu masak sayur asem, tempe mendoan dan sambal terasi kesukaan kamu." Lanjut bu Rukmini yang masih tersenyum pada Galih.
"Baiklah kalau begitu." Sembari membalas senyuman bu Rukmini, Galih pun menuruti kata-kata calon mertuanya itu. Walaupun dia sendiri tidak tahu pasti arti dari senyuman itu. Yang ia tahu dia merasa aneh dengan sikap bapak dan ibu Sinar, seperti ada yang mereka sembunyikan darinya awal ia datang. Apalagi saat ia bertanya soal Sinar raut wajah keduanya tiba-tiba berubah menjadi kaku. Tapi Galih langsung membuang jauh-jauh prasangka itu.
"Mungkin perasaanku saja." Kata Galih dalam hati, kemudian dia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah mandi dan sholat magrib, Galih pun makan malam bersama bapak dan ibunya Sinar, dia merasa ada yang kurang.
"Ohh ya pak, rumah ini kok jadi sepi ya? Dik Wita kemana? Dari tadi saya tidak melihatnya." Akhirnya Galih memberanikan diri untuk bertanya, walau sebenarnya bukan hanya itu yang ingin dia tanyakan, tetapi juga tentang Sinar kekasihnya.
"Ealaahh Wita to? Kalau Wita sih memang gak pernah ada di rumah, dia sekarang kuliah di Surabaya. Pulang-pulang cuma satu bulan sekali, itupun paling cuma dua hari setelahnya balik lagi ke Surabaya." Jawab pak Sastro.
"Iya nak Galih, jadi setiap hari cuma kami berdua saja di rumah." Tambah bu Rukmini.
"Lalu Sinar kemana pak?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Galih, dia sudah tidak bisa menahannya lagi untuk menanyakan hal itu. Tapi lagi-lagi raut wajah mereka berubah menjadi aneh. Ini membuat pertanyaan baru dibenak pemuda tampan itu.
"Apakah Sinar sudah menikah dan bahagia dengan lelaki lain? Mungkin dia lelah menungguku yang tak kunjung pulang, lalu dia memutuskan meninggalkanku dan memilih lelaki lain."
Namun belum sempat Galih bertanya soal itu pak Sastro sudah angkat bicara.
"Sebaiknya kita makan dulu, baru setelahnya kita bicara mengenai Sinar." Titah pak Sastro dan Galih pun mengiyakannya. Akhirnya mereka melanjutkan makan malam, walau sebenarnya Galih agak sulit menelan makanannya karena hatinya masih tidak tenang sebelum dia mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
Seusai makan malam mereka bertiga berkumpul di ruang tamu, sungguh suasana saat itu sangat tidak mengenakkan. Semua yang ada di sana terlihat tegang namun perlahan pak Sastro membuka suaranya.
"Sebelum saya bicara lebih jauh, saya mohon kepada nak Galih apapun yang saya katakan nanti saya ingin nak Galih bisa menerimanya dengan hati yang lapang." Pak Sastro menjeda ucapannya sejenak, mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, kemudian berkata kembali.
"Bengini nak Galih... Sebelumnya kami sekeluarga minta maaf sebab kami tidak memberi tahu soal ini lebih awal kepada nak Galih, karena kami memang tidak menyangka kalau nak Galih akan kembali setelah bertugas untuk sekian lama." Ujar pak Sastro setenang dan sebisa mungkin agar tidak mengejutkan Galih.
"Sebenarnya..." Ucapan pak Sastro terhenti di udara karena Galih memotong ucapannya.
"Tunggu sebentar pak, sebenarnya apa yang terjadi? Saya semakin bingung." Jantung Galih semakin berdebar karena kemungkinan yang ada dipikirannya benar adanya.
Pak Sastro pun mencoba untuk menjelaskannya lagi.
"Semenjak kepergianmu bertugas ke Papua, Sinar selalu setia untuk menunggumu. Tapi setahun berlalu kamu tak pernah memberi kabar, tidak lama setelah itu ada yang mengabarkan jika kamu gugur di medan pertempuran. Dan akhirnya..." Bibir pak Sastro bergetar seakan tak kuasa meneruskan perkataannya.
"Dan akhirnya apa pak? Dan akhirnya Sinar memutuskan untuk menikah dengan orang lain dan kini telah bahagia?" Apa yang ada dipikiran Galih akhirnya meluap juga, dengan segala sisa ketenangan yang ia miliki mencoba meredam emosi yang ada di dadanya.
Mendengar ucapan Galih itu bu Rukmini pun langsung angkat bicara.
"Sinar memang sudah bahagia sekarang, tetapi dia tidak menikah, kamu adalah satu-satunya lelaki yang putriku cintai, putriku... Dia sekarang sudah bahagia di sisi Penciptanya." Butiran bening menetes perlahan dari mata sayunya. Dengan segenap kekuatan dari hatinya yang rapuh itu bu Rukmini berkata kembali.
"Sinar meninggalkan kita semua enam bulan yang lalu." Akhirnya wanita berhati lembut itu tidak kuasa membendung air matanya lebih lama lagi, dia menangis tersedu-sedu sambil memeluk suaminya.
Setelah mendengar semua itu dada Galih terasa sesak bagai dihujam ribuan sembilu, jantungnya serasa berhenti berdegup. Berita itu sangat memukul hatinya, dia masih tidak percaya semua itu terjadi.
"Tidak mungkin, ini semua tidak mungkin terjadi!! Ini semua bohong kan pak, bu?" Galih mulai geram, emosi hatinya tidak stabil dan mulai memuncak.
"Sinar masih ada kan? Dia tidak mungkin meninggalkan saya, dia sudah berjanji untuk menunggu saya sampai kembali." Ungkapnya dengan bahu yang bergetar.
"Tenanglah nak Galih... Kamu harus bisa menerima semua ini, kamu harus ikhlas." Pak Sastro berusaha untuk menenangkan mantan calon menantunya itu.
"Setelah mendengar kabar bahwa kamu gugur dalam pertempuran, semangat hidupnya tidak ada lagi, diapun jatuh sakit. Liver yang dideritanya sudah cukup parah, semua makanan yang masuk ke dalam tubuhnya ditolaknya dan akhirnya Sinar tidak tertolong lagi." Ujar pak Sastro mengungkap kebenaran yang ada.
"Ini semua salah saya pak... Seandainya saya tidak pergi, seandainya saya tidak menyuruhnya untuk menunggu pasti Sinar masih ada di sini." Lelaki gagah itu tertunduk lemas, menangis tersedu-sedu. Sebuah penyesalan tertanam di hatinya.
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu nak... Kami sekeluarga sudah ikhlas melepaskannya pergi. Sinar sangat mencintaimu, kamu juga harus ikhlas melepaskannya pergi. Kepergian Sinar adalah takdir dari Yang Maha Kuasa, mungkin ini jalan terbaik bagi Sinar, kamu dan kami semua. Tidak ada yang harus disesali, tidak ada yang salah. Yang harus kita lakukan saat ini hanyalah berdo'a semoga Sinar bahagia di rumah barunya." Kata pak Sastro bijak, berharap Galih mengikhlaskan kematian putrinya dan tidak menyalahkan dirinya sendiri.
Flash Back Of...
Maka sejak itu Galih selalu dihantui rasa bersalah dan penyesalan yang sangat amat dalam. Bahkan setiap wanita yang terlintas oleh matanya terlihat seperti Sinar. Sampai orang-orang beranggapan dia sudah gila, untung saja itu tidak berlangsung lama dan masih beruntung dia memiliki teman-teman yang baik yang selalu mengingatkannya serta memberi nasehat disaat penyesalan itu datang kembali.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nurhayati Nia
sedihh thorr
2024-03-08
0