Mobil Wangi yang dikendarai Galih melaju ke arah area ruko-ruko makanan.
"Wangi ingin makan apa?" Tanya Galih.
"Apa ya...?" Wangi bingung menjawab Galih karena banyak sekali stand makanan yang ada di sana. Matanya memindai satu persatu warung maupun restaurant makanan yang ada namun Wangi masih saja bingung harus makan apa malam ini.
"Aku bingung karena terlalu banyak yang harus dipilih, menurut Galih aja deh... Saya ngikut." Ujar Wangi yang menyerahkan pilihannya pada Galih.
"Saya kan tidak tahu selera kamu." Kata Galih.
"Saya gak pilih-pilih makanan kok, pokok jangan daging kambing atau sesuatu yang berlemak dan amis." Sahut Wangi.
"Bukankah itu sama saja pilih-pilih?" Suara dalam hati Galih.
"Ada lalapan nasi urap yang enak di sana, kamu tidak masalah kan Wangi?" Tanya Galih atas tawaran menu makan malam mereka.
"Tentu saja, lagian aku tidak terlalu tahu tempat makan enak di sini." Kata Wangi jujur, karena selama ini memang dia jarang sekali makan di luar kecuali saat di kampus atau di Rumah Sakit, itupun dia makan di kantin. Wangi lebih memilih makan masakan mamanya di rumah yang baginya lebih enak daripada masakan restaurant manapun.
"Baiklah, saya cari pakir dulu." Ujar Galih yang langsung menuju area parkir di sekitar ruko.
Setelah mendapatkan tempat parkir, mereka turun dari mobil dan menuju salah satu tempat makan lesehan yang sederhana namun ramai pengunjung.
"Waahh... Pengunjungnya banyak, pasti makanan di sini enak." Celetuk Wangi.
"Kamu bisa menilainya nanti setelah menyicipi rasanya." Ucap Galih.
"Sepertinya kamu sering datang kemari." Tebak Wangi.
"Kadang-kadang jika ada waktu saja, tahu sendiri begitu sulitnya bagi orang seperti kami memiliki waktu luang." Ungkap Galih dan Wangi langsung paham apa yang dimaksud Galih dengan 'orang seperti kami'. Tentu saja prajurit sepertinya jarang mendapatkan waktu luang di jam-jam bebas, karena sewaktu-waktu akan selalu ada pekerjaan mendadak yang harus mereka lakukan.
"Ahh... Di sana ada tempat kosong, kita duduk di sana saja." Galih menunjuk tempat duduk paling ujung yang kebetulan hanya di sana yang kosong karena memang keadaan rumah makan itu sedang ramai.
"Okey." Jawab Wangi seraya menganggukkan kepalanya.
Setelah mereka duduk, datanglah seorang pelayan yang menyodorkan buku menu dan mencatat pesanan mereka.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Galih pada Wangi.
"Saya urap-urap ayam goreng sama minumnya jeruk anget." Kata Wangi pada mas-mas yang mencatat pesanannya.
"Saya samain saja mas dan tambah kemangi gorengnya satu porsi." Ucap Galih yang pesanannya langsung dicatat oleh mas-mas pelayan rumah makan.
"Baik, ditunggu pesanannya ya mas mbak..." Kata si mas-mas kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
"Emang daun kemangi bisa digoreng ya?" Tanya Wangi pada Galih yang merasa heran dengan pesanan lelaki tersebut.
Galih terkekeh sejenak dan itu sontak membuat Wangi terpana sesaat karena baru kali itu Wangi melihat Galih yang tertawa.
"Barusan dia tertawa? Ternyata dia bisa tertawa juga dan itu ganteng banget... Aduh! Sadar Wangi! Kamu mikirin apa sih?!" Wangi mencoba menyadarkan pikirannya agar kembali waras.
"Kamu belum pernah memakannya?" Pertanyaan Galih itu seketika menyadarkan hal-hal aneh di otaknya.
"Eh... Eng nggak pernah, lihat saja belum gimana ngrasainnya?" Jawab Wangi setengah tergagap.
"Kalau gitu nanti kamu harus mencobanya." Ujar Galih.
"Boleh... Aku juga penasaran." Sahut Wangi dengan senyum yang mengembang.
Entah mengapa menurut Wangi pria di hadapannya itu tidak sekaku yang dia pikirkan, mungkin Galih akan menjadi teman bicara yang enak suatu saat nanti. Itupun jika Galih bisa bertahan lama menjadi sopir pribadi sekaligus pengawal pribadinya.
Dan ternyata perasaan itu tak hanya dirasakan oleh Wangi saja, Galih pun merasa jika Wangi adalah wanita yang baik dan enak diajak bicara meski awal pertemuan mereka yang sedikit tak terduga dan sempat ada perdebatan kecil diantara mereka. Namun setelah melihat Wangi yang begitu peduli pada sesamanya membuat Galih berpikir bahwa Wangi tidak seburuk perkenalan pertama mereka.
"Wangi, bolehkah saya bertanya sesuatu?" Kata Galih dengan wajah yang kembali menjadi serius.
"Tentu, tentang apa?" Jawab Wangi kemudian.
"Soal wali temanmu yang kamu hubungi tadi, apa benar suaminya?" Tanya Galih.
Wangi tidak menduga kenapa Galih tiba-tiba menanyakan hal itu. Dan jika dia berbicara yang sesungguhnya itu sama saja dia membuka aib Laras, padahal dia sudah berjanji jika hanya dirinya dan Riko saja yang tahu kebenarannya.
"Kena tiba-tiba kamu menanyakan hal itu?" Wangi bertanya balik.
"Hanya saja jika pria yang datang tadi adalah pria yang sama dengan orang yang kamu telphon sebagai wali temanmu itu mungkin akan menjadi masalah." Kata Galih ambigu, membuat Wangi mengerutkan dahinya.
"Maksudnya apa ya? Saya gak ngerti." Wangi benar-benar tidak mengerti, terkadang lelaki di hadapannya itu mengambil kesimpulannya sendiri dengan asal. Itu menurut Wangi. Seperti awal pertemuan mereka Galih dengan sendirinya menyimpulkan bahwa Wangi itu hanyalah bocah yang masih masa puber. Apakah kali ini juga begitu?
"Josep, lebih tepatnya Sertu Josep Simon. Itu nama wali temanmu yang datang tadi. Dia kawan satu angkatan dan satu kompi dengan saya. Jadi tidak mungkin tiba-tiba dia jadi suami seseorang karena dia tercatat masih bujang." Jelas Galih pada Wangi dan itu sukses membuat Wangi langsung menopang kepalanya seraya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Wangi tahu betul apa yang dikatakan oleh Galih meski lelaki itu berbicara berputar-putar dan berbelit-belit seakan bermain teka teki. Cocok sekali dengan kepribadian Galih yang sedikit kaku, maka cara bicaranya pun juga kaku.
"Apakah ini akan berdampak pada teman saya?" Tanya Wangi kemudian.
"Entahlah... Mungkin itu tidak terlalu berdampak pada si wanita kareka sudah keguguran dan hanya membutuhkan pemulihan baik fisik maupun psikologis. Namun jika kesatuan kami tahu, ini tidak akan bagus untuk prestasi Josep dalam kemiliteran ke depannya." Ungkap Galih dan kembali lagi Wangi jelas mengerti maksud Galih itu.
"Sementara ini Laras memintaku dan Riko untuk tidak mengatakan apapun pada keluarganya karena tidak seorangpun yang tahu dari mereka jika dia hamil. Kita tidak tahu keputusannya nanti bagaimana, mungkin kamu bisa menanyakannya pada Josep nanti." Kata Wangi.
"Iya, saya pun berpikir begitu." Sahut Galih.
"Tapi lebih baik jangan katakan pada siapapun tentang ini sebelum membicarakannya sendiri dengan Josep. Aku mohon padamu, ini bukan demi kawan brengsekmu itu, saya hanya tidak ingin Laras terlibat masalah lebih dalam lagi." Ujar Wangi yang sedikit merasa geram jika mengingat apa yang di alami temannya itu. Ya... Meski tidak menutup kemungkinan kesalah itu bukan hanya satu pihak saja. Hanya saja Wangi tidak habis pikir seorang Laras yang lembut dan pendiam bisa terlibat masalah seperti ini.
"Ahh maaf, aku baru saja memaki temanmu." Ucap Wangi merasa tidak enak karena harus memperlihatkan sisi bar-barnya pada Galih yang tidak salah apapun.
"Tidak apa, saya mengerti, saya pun juga ingin sekali memaki Josep saat ini." Waow... Tidak terduga Galih mengatakan hal itu.
Dan tidak lama kemudian pesanan mereka datang.
"Sebaiknya kita lupakan dulu tentang mereka, tidak ada gunanya memikirkan sesuatu jika perut kita kosong." Ujar Galih yang dibenarkan oleh Wangi. Toh ini bukan masalah mereka, kenapa juga mereka yang harus ambil pusing?
"Jadi ini yang namanya kemangi goreng?" Tunjuk Wangi pada salah satu menu makanan di meja tersebut yang langsung diangguki oleh Galih.
"Pfftt... Ternyata daun kemangi yang digoreng dengan tepung to... Kirain apa?" Seloroh Wangi yang menahan tawanya.
"Coba saja dulu... Itu enak kok." Suruh Galih agar Wangi mencoba kemangi goreng tersebut.
Wangi mengambil satu potong bagian kemangi goreng tersebut dan mencoba memakannya.
"Hmm..." Mata Wangi terbelalak dengan mulut yang masih mengunyah.
"Gimana? Enak kan?" Tanya Galih, Wangi pun mengangguk.
Terbersit senyum tipis di sudut bibir Galih ketika melihat Wangi yang begitu lahap mengunyah di hadapannya.
"Dasar, mirip bocah." Gumam Galih dalam hatinya.
Dan kini meja mereka kembali hening, hanya tersisa suara-suara pengunjung lainnya dan suara pengamen jalanan yang sedang bernyanyi, sementara Wangi dan Galih hanya diam menikmati makan malam pertama mereka.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nana_Ratna
baru tau aq
2022-08-28
1