Siang ini terasa begitu terik, sangat terasa menyengat di kulit. Apalagi yang dirasakan oleh para tentara yang baru saja selesai latihan ini. Panasnya Matahari serasa bara api saja saking panasnya. Terlihat jelas peluh yang mengalir deras di tubuh lelah mereka, wajah merekapun terlihat memerah.
"Hari ini cuacanya panas banget ya, panas di dunia saja segini parahnya apalagi panas di neraka." Keluh Manuel sambil menyeka keringat di dahinya.
"Makanya kamu jangan banyak-banyak dosa Nuel, panas di sini saja kamu sudah mengeluh apalagi jika kamu nanti masuk neraka, ujung jarimu saja pasti langsung terbakar menyentuhnya." Kata Jarno sok menasehati.
"Hallahh kaya kau tak pernah punya dosa saja, apa kamu sudah lupa berapa banyak gadis yang kau buat sakit hati." Balas Manuel ke intinya.
"Bhahaha..." Semua yang mendengar ocehan keduanya langsung tertawa.
"Ckckk... Kalian ini adu mulut terus kaya bocah, lebih baik ngadem dulu cari minum yang seger-seger buat ngilangin haus." Ujar Johan.
"Ya sudah yuk ke warungnya bu Win saja sekalian makan siang, sudah lapar aku." Ajak Jarno.
"Kenapa tidak ke kantin Batalyon saja lebih dekat?" Tanya Galih yang tadinya diam saja.
"Tadi pagi kan kita sudah sarapan di kantin, cari menu lainnya, lagian sekarang ini kantin pasti lebih ramai kan." Jawab Jarno.
"Bukankah kalian penasaran dengan cewek yang nembak Galih beberapa hari lalu? Siapa tahu kita bakal ketemu di sana." Lanjut Jarno.
"Apaan sih No, jangan bicara ngawur kamu, jangan bikin gaduh." Ujar Galih memperingatkan.
"Siapa yang mau bikin gaduh? Ini kan cuma kemungkinan saja, belum tentu juga kita ketemu." Kata Jarno berkilah.
"Halahh... Kau ini pasti ingin modusin anak gadis orang, hati-hati kena karma kau!" Sindir Manuel.
"Sudahlah... Gak usah ribut begitu, yang ada kita makin haus, lebih baik kita jalan sekarang, Lih gimana? Kamu mau ikut kita ke warung bu Win atau ke kantin saja?" Tanya Johan.
"Aku sih terserah, buatku dimana saja tidak masalah." Jawab Galih cuek.
"Nah... Itu baru temanku, yuk!" Ujar Johan sambil merangkul pundak Galih, namun disaat mereka ingin beranjak pergi tiba-tiba Wahib datang menghampiri dengan agak tergesa-gesa.
"Galih tunggu!" Seru Wahib seraya menghampiri Galih dengan napas sedikit ngos-ngosan.
"Ada apa Hib?" Tanya Galih.
"Komandan Rendra mencarimu, beliau menyuruhmu untuk menemuinya sekarang di kantornya." Kata Wahib yang membuat Galih dan juga teman-temannya yang mendengar saling pandang dan bertanya-tanya kenapa sang komandan Batalyon yang biasanya jarang ketemu anak buahnya kecuali jika ada hal penting tiba-tiba mencari Galih.
"Mencari aku? Kenapa?" Tanya Galih bingung, pasalnya selama ini dia merasa tidak punya masalah apapun terkait tugas apalagi masalah dengan komandannya.
"Aku juga tidak tahu, tapi sebaiknya kamu segera bergegas menemui beliau." Ucap Wahib yang kemudian pergi setelah menyampaikan pesan itu kepada Galih.
"Memangnya kamu buat masalah apa?" Tanya Manuel.
"Aku juga tidak tahu, aku akan tahu jika sudah bertemu dengan komandan Rendra." Galih pun meninggalkan teman-temannya dan bergegas menemui komandannya.
"Menurut kalian mungkin gak kalau Galih melakukan kesalahan?" Tanya Jarno setelah kepergian Galih.
"Galih bukan orang seperti itu, kita kan sudah mengenal dia cukup lama pasti tahu bagaimana dia bersikap selama ini." Ungkap Manuel.
"Lagi pula dipanggil komandan bukan berarti selalu melakukan kesalahan kan? Mungkin komandan sedang ada perlu saja dengan Galih." Ujar Johan.
"Ya sudah kita tanyakan itu nanti setelah dia kembali, sekarang kita lanjut ke tujuan awal kita." Ucap Jarno seraya menggiring teman-temannya menuju warung bu Win.
Dilain sisi akhirnya Galih sampai juga di depan pintu ruangan komandannya. Dia berdiri sejenak di depan pintu ruangan itu, memeriksa pakaiannya apa sudah rapi atau belum dan setelahnya dia mengetuk pintu ruangan itu.
Tok..tok..tok...
"Masuk." Terdengar seruan dari dalam sana.
Galih membuka pintu ruangan komandannya tersebut dengan perlahan tapi pasti.
"Siap Ijin Komandan!" Seru Galih memberi salam hormat ketika sudah berhadapan dengan Komandan Rendra yang kini sedang duduk dibalik meja kerjanya.
"Sertu Galih Admaja." Komandan Rendra menyebut nama Galih seraya menatap lurus ke arah lelaki tegap itu.
"Siap Komandan!" Jawab Galih tegas.
"Kamu tahu kenapa saya memanggilmu?" Tanya sang komandan.
"Siap! Tidak!" Jawab Galih yang sama tegasnya.
"Menurut kamu kenapa saya memanggil kamu?" Tanya komandannya lagi.
"Siap! Saya tidak tahu!" Jawab Galih lagi.
"Ahh... Aku rasa Ridwan benar-benar tidak mengatakan hal apapun kepada Galih mengenai rencananya dan sepertinya dia belum juga mengatakan tentang penyakitnya. Dasar Ridwan, dari dulu tetap saja keras kepala." Ucap komandan Ridwan dalam hati yang tak lain adalah papanya Wangi.
"Kamu bisa menyetir mobil?" Tanya komandan Rendra.
"Siap! Bisa!" Jawab Galih cepat.
"Bagus, karena mulai besok saya menugaskan kamu untuk mengantar jemput anak perempuan saya pergi ke kampus ataupun ke tempatnya bekerja." Perintah sang komandan pada Galih dan itu membuat lelaki gagah itu sedikit kaget. Dia terdiam mencoba mencerna apa yang baru saja komandannya perintahkan.
"Mengerti?!" Ujar komandan Rendra setengah menegaskan pertanyaannya karena tidak mendapat jawaban dari Galih.
"Siap! Mengerti!" Galih langsung terhenyak dan langsung menjawabnya seketika.
"Besok pagi jam tujuh saya tunggu di rumah." Perintah komandannya lagi.
"Siap!" Jawab Galih.
"Ya sudah, kamu boleh kembali." Ucap sang komandan setelah pembicaraan mereka selesai.
"Siap!" Jawab Galih hormat dan segera bergegas keluar dari ruangan komandannya.
Galih menghela napasnya setelah keluar dari ruangan sang komandan. Dia sebenarnya agak bingung kenapa harus dirinya yang mendapat tugas itu, kenapa bukan yang lainnya? Dia berpikir mungkin komandannya memilih secara random siapa yang akan mendapat tugas itu.
"Tapi ini sedikit aneh, kenapa komandan memerlukan seseorang untuk jadi sopir anaknya? Apakah ini termasuk tugas pengawalan? Tapi tadi komandan tidak mengatakan apapun selain mengantar jemput anak perempuannya." Gumam Galih dalam hati di sepanjang jalannya.
🍁🍁🍁🍁
Di malam harinya, di kediaman Komandan Rendra alias papa Rendra. Wangi hendak masuk ke kamarnya setelah makan malam usai, banyak tugas yang harus dia kerjakan malam ini namun papanya menghentikan langkahnya sejenak.
"Wangi, papa ingin bicara sebentar." Ucap papa Rendra.
"Bicara apa pa? Jangan lama-lama lho... Soalnya Wangi banyak kerjaan yang belum kelar." Pinta Wangi pada papanya.
"Iya, sebentar saja kok gak lama." Jawab papanya.
"Ya sudah, papa mau ngomongin apa?" Tanya Wangi.
"Papa cuma mau bilang kalau mulai besok kamu akan diantar jemput entah itu ke kampus atau ke Rumah Sakit oleh anak buah papa." Ucapan papanya itu langsung membuatnya terperangah.
"Hahh?! Kok gitu? Selama ini kan Wangi biasa pergi sendiri pa, lagian kan ada Koko yang siap jadi tebengannya Wangi, kenapa tiba-tiba pakai orang buat antar jemput sih?" Protes Wangi pada papanya.
"Wangi juga ada mobil, bisa nyetir sendiri juga." Lanjut Wangi.
"Nahh itu dia, mobil kamu beberapa minggu ini tidak pernah dipakai keluar dan papa selalu khawatir kalau kamu nyetir sendiri, apalagi pas pulang dalam keadaan capek." Kata papa Rendra menanggapi aksi protes putri sulungnya itu.
"Itu karena beberapa minggu ini ada senior yang reseh suka minjem mobil Wangi gak jelas, lagian Wangi kan sudah bilang ada Koko." Ujar Wangi mencoba meyakinkan papanya.
"Memangnya mau sampai kapan kamu nyusahin Riko? Riko kan pasti ada urusan sendiri selain ngurusin kamu, memangnya jadwal Riko selalu sama dengan kamu? Enggak kan?" Skak mat! Ucapan papanya tidak ada yang salah dan Wangi pun hanya bisa pasrah, kalau papanya sudah berkehendak susah untuk dilawan.
"Lagian tidak ada salahnya kan sayang... Toh ini memudahkan kamu." Ucap papa Rendra sambil mengusap lembut kepala Wangi.
"Tapi kalau canggung gimana? Kan Wangi gak kenal pa." Keluh Wangi cemberut.
"Ya kan kenalan dulu, nanti lama-lama juga terbiasa." Ujar papa Rendra.
"Ya sudah terserah papa, Wangi mau ke kamar dulu, ada kerjaan yang numpuk." Pamit Wangi seraya berbalik melangkah pergi menuju kamarnya.
"Jangan begadang terlalu larut dan cepat istirahat!" Seru papa Rendra.
🍁🍁🍁🍁
Keesokan harinya...
"Wangi... Jemputan kamu sudah datang!" Seru papa Rendra dari luar rumah.
"Sebentar pa..." Seru Wangi memberi jawaban dari dalam rumahnya.
Dan tidak lama kemudian Wangi terlihat keluar dari dalam rumahnya dengan tas di punggungnya dan beberapa buku di tangannya.
"Wangi... Ini Sertu Galih Admaja yang akan bertanggungjawab mengantar jemput kamu. Dan Ini adalah Wangi Prameswari putri saya." Kata papa Rendra alias Komandan Rendra memperkenalkan keduanya. Namun alangkah terkejutnya Galih dan Wangi saat mereka beradu pandang.
"Kamu?!"
"Anak kecil?!"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Devi Handayani
oowww.... Galih tohh😌😌😌😌
2023-05-31
0