Tinggallah Bersamaku

Egois? Itulah Dini yang sebenarnya, dirinya sudah mengetahui hanya menjadi istri diatas kertas. Menjadi ibu yang baik untuk Sazi, diangkat dari seorang janda miskin, baby sitter sang anak, menjadi ibu sambung. Almarhum Herry dulu membebaskannya untuk bercerai, jika Dini memiliki pria yang dicintainya.

Tapi sekali lagi, Dini mulai serakah menginginkan cinta dari Herry. Cemburu setiap kali pria itu tersenyum pada foto almarhum Vallentina. Karena itulah wajah Sazi dibencinya, wajah yang sama dengan almarhum Vallentina.

Ini kesalahan Herry? Tidak sepenuhnya, Herry bukan mencari seorang istri dari awal, namun wanita yang bersedia mengabdikan hidupnya untuk Sazi. Uang bulanan senilai puluhan juta masuk ke rekeningnya.

Tidak perlu bekerja, hanya perlu mengasihi anak yang tidak memiliki seorang ibu. Fasilitas berupa pelayan, makanan enak yang terjamin, semua menjadi miliknya. Hidup yang mudah bukan?

Tapi sekali lagi, Dini menginginkan belaian seorang pria. Bercerai dengan Herry, kemudian menikah lagi? Maka semua miliknya akan lenyap. Seorang wanita serakah, yang tidak menjalankan kewajibannya lagi, untuk menyayangi dan menjaga sang anak.

Anak yang tumbuh dewasa di depan matanya. Tidak menggugah hatinya sama sekali, sang wanita mandul yang tidak dapat mencintai Sazi sedari kecil dengan tulus.

Kini semua terlihat jelas dalam kilatan matanya, memandang rendah anak yang diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk dirawatnya. Walaupun bukan anak yang terlahir dari rahimnya sendiri. Anak yang tidak pernah membatah, mencintainya selama bertahun-tahun.

"Bukan ibuku?" Sazi, memastikan pendengarannya, berucap dengan suara bergetar.

Sang pengacara menatap ke arahnya. Surat wasiat palsu yang telah disiapkannya sejak lama. Menunggu memenuhi persyaratan, yang diajukan almarhum Herry dahulu, saat Sazi sudah menikah dan berusia 25 tahun, barulah surat wasiat dapat diambil dari bank, dan akan dibacakan sang pengacara.

Tapi, seperti sudah direncanakan, surat wasiat asli yang disimpan bertahun-tahun dalam brankas bank telah ditukar oleh sang pengacara.

"Sazi, aku disini untuk membicarakan surat wasiat peninggalan ayahmu. Kamu tidak memiliki hak apapun atas peninggalannya," sang pengacara memulai pembicaraannya.

"A...apa maksudnya? Ibu apa kita akan kehilangan rumah dan perusahaan?" tanya Sazi dengan mata memerah, air mata yang mengalir tidak dapat ditahannya.

"Aku bukan ibumu. Ibumu seorang wanita penghibur bernama Vallentina, yang menggoda ayahmu. Kamu hanya anak diluar nikah. Berterimakasih lah karena aku sudah bersedia membesarkanmu..." dusta Dini, menatap ke arah anak sambungnya.

Sazi mundur selangkah, kakinya gemetaran bagaikan kehilangan pijakannya. Bukan ibunya? Bahkan ibunya seorang wanita penghibur?

"Ayahmu, mewariskan perusahaannya untuk pamanmu. Mengingat almarhum kakek dan nenekmu tidak membagi warisannya secara adil. Alexa mendapatkan saham yang ditanam Herry di beberapa bidang di negara lain. Sementara istrinya Dini, mewarisi aset lainnya, berupa rumah, tanah, beberapa villa dan resort..." ucap sang pengacara.

"Ibu? Tidak mungkin...ini tidak mungkin..." ucapnya menatap ke arah ibunya, menangis, bukan karena harta. Namun karena belum menerima kenyataan, Dini bukan ibu kandungnya.

Dave yang mendengar keributan, menghentikan kegiatannya sejenak. Sudah lebih dari sekali mereka melakukannya. Meraih jubah mandi yang berada di sana.

"Dave, kamu akan pergi ke kamar Sazi?" Alexa memegang tangan, hanya berbalut selimut.

"Tunggu sebentar, aku hanya ingin melihat keributan di luar. Setelah ini aku akan tetap menemanimu," ucapnya mengecup kening Alexa.

Alexa menghela napas kasar meraih yukata pendek yang memperlihatkan belahan dada dan pahanya. Mengikuti langkah Dave.

Perlahan pintu itu terbuka, Sazi disana dalam keadaan kacau. Air matanya berurai tiada henti, perlahan perhatian wanita itu teralih, pada pasangan yang baru keluar. Dengan banyak tanda keunguan di leher mereka.

Sazi mengepalkan tangannya, tidak dapat menerima ini, dirinya sudah mencoba untuk setia pada Dave, menyayangi Alexa layaknya saudara kandungnya. Mengakat tangannya hendak menampar Alexa.

Namun...

Plak...

Tangannya ditahan Dave, wajah Sazi di tampar sang pemuda. Belum menghilang rasa tamparan dari Dini, kini Dave yang membuat pipinya memerah, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.

"Kalian, tidak mencintaiku?" tanyanya mulai tertawa, melangkah mundur.

"Aku dan Alexa saling mencintai, dari pertemuan pertama kami. Kamulah yang menghalangi kami untuk bersama. Kamu adalah orang ketiga. Aku tidak menyukai wanita munafik sepertimu..." kata-kata menusuk keluar dari mulut Dave, bagaikan menghujam dirinya.

Di dunia ini memang tidak ada yang mencintainya."Kalian tidak mencintaiku!?" tanya Sazi lagi berlutut, tertunduk, menyakitkan ini sungguh menyakitkan. Semua orang mengkhianatinya dari awal.

"Aku tidak mencintaimu, sampai kapanpun tidak akan pernah. Perlakuanmu pada Alexa, aku tidak akan memaafkannya..." jawaban darinya menatap tajam.

"Aaa....aaa..." Sazi berteriak nyaring terlihat histeris."Ayah... Rion..." teriaknya mengingat orang-orang yang benar-benar menyayanginya telah tiada. Mengalami delusi, kedua sosok yang pergi berbalik meninggalkannya.

Dirinya sudah berusaha, namun tidak ada yang mencintainya. Dua orang security yang biasa menjaga rumahnya, menariknya. Menguncinya dalam gudang atas perintah Dini, gudang yang hanya berpenerangan lampu merah lima watt, mengeluarkan sinar remang-remang.

Kali ini Sazi hanya terdiam, tidak berteriak seperti sebelumnya lagi. Sebuah lukisan di tatapnya, wajah sang ayah terlihat dengan dirinya dan wanita yang mirip dengan dirinya.

Tangannya terangkat memeluk lukisan itu, menemukan satu kata,'keluarga' di dalamnya.

Terdiam dengan bibir kelu, enggan untuk bicara. Apa yang harus dibicarakan? Tidak ada orang di dunia ini yang benar-benar mencintainya. Memeluk sebuah lukisan putus asa. Inilah mungkin wajah ibu kandungnya yang sesungguhnya.

***

Pagi menjelang, Sazi masih terdiam dengan rambut acak-acakan. Tidak bicara satu patah katapun, tetap memeluk lukisan cat minyak yang dikirim ayahnya dari Singapura. Lukisan yang sejatinya dahulu disembunyikan Dini.

Dini membuka pintu, menarik paksa tangannya. Tapi Sazi bagaikan enggan bergerak, bau pesing tercium dari celana panjangnya. Masih tidak mengeluarkan satu patah katapun dengan tatapan kosong.

"Keluar!! Kemasi barang-barangmu!!" bentak Dini.

Tetap tidak ada respon, Sazi terdiam, mendekap lukisan tersebut, lukisan keluarga yang bahagia.

Alexa berada di ambang pintu, berjalan ke arahnya."Bibi, bau pesing, apa dia menjadi tidak waras? Hai... Sazi...nona muda..." ucapnya menarik rambut panjang wanita tersebut.

"Dave membuat badanku pegal semalaman. Dia berkata sekarang sedang pergi, mengurus surat perceraiannya denganmu. Dasar janda satu hari..." cibir Alexa, menarik rambutnya lebih kencang. Belum juga mendapatkan respon.

"Dasar bodoh! Gila! Tidak waras..." lanjutnya meludahi wajah sepupunya yang hanya diam dengan mata yang sembab, menatap ke satu titik.

***

Tidak memiliki apapun? Sesuai surat wasiat palsu yang dibuat pengacara, Sazi hanya mendapatkan sejumlah uang tabungan yang bernilai tidak seberapa.

Wanita yang kini tinggal di rumah sakit jiwa Bakti. Sesekali membenturkan kepalanya ke dinding, masih memeluk lukisan keluarganya. Sudah berusaha untuk dicintai, namun tidak pernah ada orang yang benar-benar mencintainya.

Enggan bicara bagaikan tidak memiliki ingatan. Seluruh uang di rekeningnya, ditarik secara berjangka oleh rumah sakit jiwa, untuk biaya hidup dan perawatannya.

Bahkan setelah tahun ke tiga, uang di rekening itu habis, tidak bersisa. Menghubungi pihak keluarga, namun tidak ada yang peduli, memberi kewenangan pada rumah sakit untuk melepaskannya di jalanan saja.

Tapi hal tersebut tidak dilakukan pihak rumah sakit, 7 bulan sudah biaya perawatan tidak di bayar. Sazi masih terdiam, disuapi makanan oleh sang perawat.

"Kamu cantik..." ucap sang perawat, merapikan anak rambutnya.

Hingga seorang pemuda berdiri di sana, tepat di belakang sang perawat.

"Biar aku yang menyuapi wanita cantik ini..." ucap sang pemuda, meraih piring dari tangan sang perawat.

"Kamu siapa?" tanya sang perawat pada sang pemuda rupawan.

"Katak, yang ingin menyuapinya dengan makanan...mau tinggal di atas daun teratai denganku?" tanyanya tersenyum, menyuapi Sazi.

Sazi yang hanya terdiam, mendengar kata-kata sang pemuda, membuka mulutnya, mulai mengunyah.

Seorang petinggi rumah sakit yang berdiri di belakang sang pemuda menggelengkan kepalanya kemudian berucap dengan suara kecil pada sang perawat,"Dia membeli setengah saham rumah sakit. Juga mengajukan diri menjadi donatur tetap..."

Sang perawat mengenyitkan keningnya, menatap ke arah sang pemuda. Hingga bau busuk tiba-tiba tercium.

"A...aku akan mengantarnya ke kamar mandi, sepertinya dia buang air besar..." ucap sang perawat hendak membimbing Sazi.

"Aku ikut, aku keluarganya. Tolong ajari aku untuk mengurusnya..." pemuda itu berusaha tersenyum, dalam air mata yang tertahan.

Sedangkan sang asisten yang menatap Rion, mengenyitkan keningnya. Pacarnya pasien rumah sakit jiwa, pantas saja dia juga sedikit oleng ... batinnya, menatap ke arah Rion, masih setia tersenyum cerah, walaupun terlihat ganjil..

Rion perlahan melangkah melewati sang asisten, sembari membimbing Sazi. Bagaikan dapat membaca isi fikiran asistennya."Aku punya pacar, walaupun pasien rumah sakit jiwa. Memangnya kamu punya? Apa alat berkembang biakmu berfungsi!?" ucapnya menatap celana panjang sang asisten.

Bersambung

Terpopuler

Comments

Khasanah Mar Atun

Khasanah Mar Atun

sefrekuensi nih atasan dan bawahan

2022-10-26

3

Putri Nunggal

Putri Nunggal

😂😂😂😂😂asisten kurang ajar

2022-09-16

2

Putri Nunggal

Putri Nunggal

kondisimu sanggat tragis sazi

2022-09-16

2

lihat semua
Episodes
1 Kamu Di Mataku
2 IQ
3 Jalan Belakang
4 Pencuri
5 Talas
6 Merah ya
7 Frog
8 Spesies Berbahaya
9 Kasih
10 Kata-kata Dari Orang Lain
11 Ubi
12 Buanglah Sampah Pada Tempatnya
13 Duka
14 Bucin
15 Anak Katak
16 Pergi
17 Ukuran
18 Muak
19 Tinggallah Bersamaku
20 Akan Melakukan Apapun
21 Memilih Pasangan Hidup
22 Tidak Pernah Ada
23 Hadiah Mobil
24 Karya Terbaik
25 Hidup Ini Indah
26 Pasukan Penyerbu Outlet
27 Grimm Ripper
28 Kalah
29 Keinginan
30 Pabrik
31 Calon Kaisar
32 Melindungi
33 Gudang
34 Jika
35 Miss You
36 Dekat
37 Tensi
38 Pilihan
39 Bukan Tipe
40 Mission
41 Fatamorgana
42 Meminta Ijin
43 Anak Darimu
44 Senyuman
45 Rindu
46 Secret Of The Cat
47 Affair
48 Grimm
49 Dinner
50 Rion
51 Mati Atau Tidak
52 Manisan
53 Geram
54 Mouse
55 Merindu Lagi
56 Siapa Pelakunya
57 Dusta
58 Kulit Buaya
59 Imajinasi
60 Celah
61 Memalukan
62 Nilai Cinta
63 Kejahatan
64 Two Rings
65 Like Father Like Son
66 Masa Depan
67 Sama Saja
68 Menginginkan
69 Anak Katak Yang Tidak Bisa Berenang
70 Akhir Cerita
71 Anak Kecil
72 Istri Orang
73 Hikaru
74 Ayah
75 Kabut
76 Bagaimana?
77 Mati Dengan Cara Apa
78 Fans Fanatik
79 Materialistis
80 Maaf
81 Cara Apa
82 Oh Belinda
83 Supir Truk Kalau Beruntung
84 Ujung Pertengkaran
85 Maaf
86 Full Service
87 Penguntit
88 Kita Pacaran
89 Maaf Dan Terimakasih
90 Bucin Tingkat Dewa
91 Ikan Emas
92 Seonggok Daging
93 Karma
94 Pisau
95 Pain
96 Pria Lain
97 Satu Spesies
98 Nanti
99 Tidak Ada
100 Kutukan
101 Spesial Episode
102 Gugurkan
103 Pendarahan
104 Sesekali
105 Satu Titik
106 Koala
107 Pasir
108 Keluarga
109 Akhir
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Kamu Di Mataku
2
IQ
3
Jalan Belakang
4
Pencuri
5
Talas
6
Merah ya
7
Frog
8
Spesies Berbahaya
9
Kasih
10
Kata-kata Dari Orang Lain
11
Ubi
12
Buanglah Sampah Pada Tempatnya
13
Duka
14
Bucin
15
Anak Katak
16
Pergi
17
Ukuran
18
Muak
19
Tinggallah Bersamaku
20
Akan Melakukan Apapun
21
Memilih Pasangan Hidup
22
Tidak Pernah Ada
23
Hadiah Mobil
24
Karya Terbaik
25
Hidup Ini Indah
26
Pasukan Penyerbu Outlet
27
Grimm Ripper
28
Kalah
29
Keinginan
30
Pabrik
31
Calon Kaisar
32
Melindungi
33
Gudang
34
Jika
35
Miss You
36
Dekat
37
Tensi
38
Pilihan
39
Bukan Tipe
40
Mission
41
Fatamorgana
42
Meminta Ijin
43
Anak Darimu
44
Senyuman
45
Rindu
46
Secret Of The Cat
47
Affair
48
Grimm
49
Dinner
50
Rion
51
Mati Atau Tidak
52
Manisan
53
Geram
54
Mouse
55
Merindu Lagi
56
Siapa Pelakunya
57
Dusta
58
Kulit Buaya
59
Imajinasi
60
Celah
61
Memalukan
62
Nilai Cinta
63
Kejahatan
64
Two Rings
65
Like Father Like Son
66
Masa Depan
67
Sama Saja
68
Menginginkan
69
Anak Katak Yang Tidak Bisa Berenang
70
Akhir Cerita
71
Anak Kecil
72
Istri Orang
73
Hikaru
74
Ayah
75
Kabut
76
Bagaimana?
77
Mati Dengan Cara Apa
78
Fans Fanatik
79
Materialistis
80
Maaf
81
Cara Apa
82
Oh Belinda
83
Supir Truk Kalau Beruntung
84
Ujung Pertengkaran
85
Maaf
86
Full Service
87
Penguntit
88
Kita Pacaran
89
Maaf Dan Terimakasih
90
Bucin Tingkat Dewa
91
Ikan Emas
92
Seonggok Daging
93
Karma
94
Pisau
95
Pain
96
Pria Lain
97
Satu Spesies
98
Nanti
99
Tidak Ada
100
Kutukan
101
Spesial Episode
102
Gugurkan
103
Pendarahan
104
Sesekali
105
Satu Titik
106
Koala
107
Pasir
108
Keluarga
109
Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!