Hari ini merupakan hari ulang tahun Dave, tiga hari sebelum pernikahan mereka. Bis yang ditumpangi Sazi, pada akhirnya sampai di halte dekat kantor perusahaan milik keluarga kekasinya.
Kue berukuran kecil dibelinya, perlahan gadis itu melangkah. Baru saja pulang dari gedung bekas sekolah SMU-nya, pintu ruangan manager itu diketuknya.
Tersenyum padanya, yang terlihat tengah bekerja lembur."Selamat ulang tahun..." ucap Sazi membawa kue berukuran kecil.
Dave menghela napas kasar, menatap jenuh ke arahnya."Kekanak-kanakan..." cibirnya, kembali mengerjakan berkasnya.
Sazi mengepalkan tangannya dengan tangisan yang tertahan. Tidak memiliki siapa-siapa lagi, hanya mengharapkan perhatian dan rasa kasih dari orang-orang terdekatnya. Perlahan melangkah, mendekati meja Dave."Saat kecil kamu menyukainya, brownies strawberry. Ayo tiup lilinnya..." pinta Sazi.
Dave menghela napas kasar, menganggap semua perhatian itu omong kosong."Jika aku meniupnya kamu akan pergi!? Tidak akan menggangguku lagi?" tanyanya melepaskan kacamata bacanya.
Pergi? Apa hanya itu keinginan Dave? Namun, Sazi kembali hanya tersenyum, seraya mengangguk. Sekali lagi, dirinya tidak memiliki siapapun lagi."Aku akan pergi, setelah kamu meniup lilin dan membuka kadonya. Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi..."
Janji yang pada akhirnya benar-benar ditepati Sazi. Kala dirinya mengetahui segalanya nanti. Wanita yang entah bagaimana hatinya kala menatap wajah asli orang-orang yang dikasihinya.
Dave meniupnya tanpa meminta keinginan terlebih dahulu. Kemudian dengan cepat membuka kadonya, sebuah tempat alat tulis terbuat dari fiberglass hening, berbentuk hati dengan lampu kecil yang ada di dalamnya.
"Aku akan menjadi istri yang baik nanti..." ucapnya menyuapi Dave dengan kue.
Dave menerima suapannya, masih konsentrasi pada pekerjaannya. Sudah terbiasa dengan kehadiran Sazi, sudah terbiasa dengan perhatiannya, membuat Dave menganggap semua hal yang dilakukannya membosankan, kolot dan norak.
Cukup bodoh untuk seseorang yang saling mengenal selama 16 tahun. Namun, Sazi hanya tersenyum, berusaha untuk tetap dicintai oleh Dini, Dave, Alexa dan pamannya.
Tapi, walaupun rasa cinta mereka pudar, dirinya akan tetap berusaha, sebaik mungkin. Karena hanya mereka yang dimilikinya.
Sedangkan Dave mengenyitkan keningnya tidak menyukai hadiah dari Sazi, sesuatu yang terlihat norak. Sifat Alexa, memang terasa lebih lembut dan dewasa.
Lebih lembut dan dewasa? Bahkan Alexa tidak mengingat hari ulang tahunnya. Perhatian yang hanya didapatkan dari Sazi, sebuah kebiasaan yang tidak akan disadari oleh Dave.
Apa cinta dan napsu berjalan beriringan? Tentu saja, cinta dan napsu berjalan beriringan. Namun, keduanya bukan hal yang sama. Cinta tidak akan berkurang walaupun fisik telah renta, jemari tangan telah keriput, hanya berkurang dan lenyap oleh pengkhianatan. Tapi, napsu akan menghilang dengan mudah, kala tidak ada lagi kecocokan, kala wajah itu sudah tidak rupawan lagi.
***
Bukan gaun berharga fantastis, hanya sebuah gaun murah menghiasi tubuhnya. Mempelai wanita yang tidak tidak terlihat tersenyum, hari ini adalah hari terakhir dirinya memikirkan Rion. Air matanya mengalir, segera diseka olehnya.
Dave telah banyak berubah bukan menjadi Ultraman, atau sailor moon. Tapi lebih seperti perubahan sifat dan sikapnya. Begitu juga keluarga Dave yang mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Alexa.
Sazi menepuk-nepuk pipinya sendiri, berusaha untuk tersenyum. Setidaknya dirinya memiliki Dave yang akan menemani hari-harinya. Kesempatan untuk bahagia yang tidak akan disia-siakan olehnya, tidak ingin hidup seorang diri. Menerima apapun yang ada sebaik mungkin, mengasihi dan menjaganya, nanti.
Pengantin wanita yang cantik, walaupun hanya berbalut gaun murah menghapus air matanya. Mulai berjalan handak mengikat janji suci, tidak ingin mengecewakan orang-orang yang mencintainya.
Sedangkan mempelai pria melirik ke arah Alexa yang tertunduk. Mengenakan pakaian berharga fantastis. Terlihat cantik dengan make-upnya, berusaha terlihat setidak berdaya mungkin di hadapan Dave. Tapi dengan dandanan gila-gilaan yang bahkan mengalahkan pengantin wanita.
Dave mengepalkan tangannya, hanya sebuah pernikahan. Setelah acara, hubungannya dan Alexa dapat segera diumumkan, dirinya dapat meninggalkan Sazi. Kembali ke pelukan wanita yang dianggap memiliki nasib paling malang.
Pengantin wanita yang tersenyum kala janji suci itu terucap dengan kata bersedia. Tapi tidak dengan dengan mempelai pria, senyuman tidak terlihat di wajahnya, kala kata bersedia terucap.
Tidak ada ciuman setelahnya hanya bertukar cincin. Bagaikan melaksanakan acara formal biasa untuk Dave. Tapi tidak dengan Sazi, mengira ini adalah hari yang seharusnya paling membahagiakan dalam hidupnya, walaupun sejatinya bibirnya hanya memaksakan diri untuk tersenyum.
Buket bunga yang indah terlempar, pernikahan yang bahkan tidak mengadakan acara resepsi sama sekali.
***
Sazi mulai membersihkan tubuhnya, Dave merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Hidup dalam bayang-bayang ketiga kakaknya yang cerdas. Hanya Sazi-lah kelebihannya di bandingkan kakak-kakaknya yang lain, berhasil menarik perhatian anak tunggal dari seorang pemilik perusahaan besar.
Berhasil menarik perhatiannya? Sejatinya tidak akan berhasil, jika bukan karena kebohongan Dini tentang anak yang bermain bersama Sazi ketika berusia 5 tahun, hingga Sazi bersedia bermain dan berusaha mengenal Dave lebih dekat.
Dave menghela napas kasar, hendak memasuki kamar Sazi. Namun, jemari tangan Dave ditahan Alexa."Kamu ingin tidur dengannya? Kamu mencintainya? Aku tau kamu lebih mencintainya karena saat kita pertama kali melakukannya aku sudah tidak perawan. Tapi, itu benar-benar bukan kemauanku, aku dilecehkan..." ucapnya, mengundang simpati, berurai air mata.
Pemuda itu menggeleng, kemudian tersenyum, menghapus air mata Alexa."Aku hanya mencintaimu, tidak mencintai Sazi sama sekali..."
Alexa tetap meneteskan air matanya, memeluk erat tubuh Dave di depan kamar Sazi. Pemuda yang perlahan mulai tersenyum, ini kesalahannya. Hati Alexa terluka karenanya, untuk itu dirinya mungkin lebih baik menemani Alexa malam ini, wanita yang disakiti oleh Sazi. Sepupu yang hak-haknya dirampas oleh Sazi dan almarhum Herry.
Satu jam berlalu dalam kamar Alexa, hanya menemani agar Alexa lebih tenang? Tentu saja tidak, tubuh itu tengah menyatu, berbagi peluh dan beradu racauan. Saling bertatap memasrahkan dirinya bergelimang napsu.
***
Bau semerbak tercium dari tubuhnya, hanya sabun dan lotion murah. Mengingat penghasilannya sebagai pelukis yang tidak tetap. Menabung sedikit demi sedikit, tidak ada satupun aset ayahnya yang diatur olehnya. Bahkan uang yang mengalir setiap bulan ke rekeningnya di bawa oleh ibunya.
Ibu kandung yang melahirkannya, tidak akan memiliki niat buruk padanya. Satu-satunya anggota keluarga terdekatnya. Menabung untuk masa sulit mereka menjadi alasan Dini. Tapi anehnya, Dini tetap menjalani kehidupan ala sosialitanya, pergi dengan Alexa setiap malam entah kemana.
Ini adalah malam pertamanya dengan Dave. Sazi menatap wajahnya di cermin, gadis yang jarang merias diri. Namun dari wajahnya terlihat anggun, cerah dan baik hati, kecantikan yang diwarisinya dari Vallentina. Ibu yang sejatinya meninggal kala melahirkannya.
Jantungnya berdegup cepat, tegang dalam malam pertamanya. Walaupun tidak yakin, apakah dirinya masih mencintai Dave. Namun, Dave pria yang baik, tidak pernah mengkhianatinya sama sekali, untuk itu Sazi tidak ingin memikirkan almarhum Rion lagi. Dave merupakan cinta pertama dan berharap menjadi cinta terakhir untuknya.
Hingga satu jam berlalu, tidak ada yang masuk ke dalam kamarnya. Kemana Dave? Entahlah... Sazi menghela napas kasar, berjalan keluar dari kamarnya. Membawa tea pot kaca yang kosong, hendak mengambil air mineral yang habis. Berjalan menelusuri lorong, mencari keberadaan pemuda yang kini bersetatus suaminya.
Hingga...
"Alexa... Alexa...sayang...ssshh...." suara Dave terdengar samar dari dalam kamar sepupunya.
Tangan Sazi gemetar, dirinya sudah curiga, namun semuanya tertutup rasa kasih sayangnya. Setiap bertanya hanya bentakan yang didapatkannya, dari Dave. Dan kini?
Air matanya mengalir tanpa dapat ditahan olehnya. Hingga, meraih hendel pintu kamar Alexa, hendak membukanya.
"Berhenti! Jangan buka pintunya, jangan menggagu sepupumu..." suara Dini terdengar, dibelakang wanita itu juga berdiri seorang pria paruh baya. Pengacara perusahaan milik almarhum Herry.
"Ibu, tapi Dave dan Alexa! Mereka..."
Plak...
Satu tamparan mendarat di pipi Sazi, tamparan yang benar-benar keras. Membuatnya tertegun tidak dapat mengeluarkan kata-kata...
"Aku bukan ibumu. Jangan memanggilku dengan sebutan ibu lagi. Ibumu sudah membusuk di tanah, dimakan cacing! Aku tidak memiliki anak sepertimu yang hanya seorang benalu," Dini tersenyum sinis padanya, melampiaskan rasa dendam yang disimpannya bertahun-tahun. Muak melihat wajah Sazi yang menyerupai wajah Vallentina.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Hanipah Fitri
sadis banget peran antagonisnya
2022-12-29
3
Putri Nunggal
akhirnya terlihat juga topeng aslinya
2022-09-16
2
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Dasar gak tau malu Dini kupret
2022-06-27
2