Terpukul atas kematian Rion? Tentu saja, seharian dirinya mengurung diri di kamar tanpa ada yang peduli. Ibu yang terlalu sibuk menurutnya, selalu berteriak, jika dirinya manja.
Membandingkan dirinya dengan Alexa, yang lebih modis dan cerdas. Modis dan cerdas? Tidak ada yang salah dengan dirinya menurut Sazi, beberapa piala lomba melukis terpajang di rak kamarnya.
Prestasi? Dirinya peringkat kedua di kelasnya. Sedangkan Alexa, berada jauh di belakangnya. Kehilangan sosok kekasih mulai dirasakannya. Dave yang menjauh, membentak dirinya dalam setiap kata-kata.
Ibu yang acuh padanya, apa ini semua karena Alexa? Tidak, Alexa adalah sepupu yang baik. Apa ini semua memang salahnya? Sazi memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, tidak ada yang dapat berbagi rasa duka dengannya. Kepergian Rion melengkapi segalanya.
"Rion..." ucapnya tersenyum meraih secarik kertas, memeluk satu-satunya sketsa sang sahabat yang dimilikinya. Satu-satunya orang yang membuatnya merasa nyaman entah kenapa.
Buket bunga mawar biru masih ada di kamarnya. Bunga yang terbuat dari kertas, terlihat benar-benar indah. Kenapa Tuhan harus mengambilnya? Entahlah... Sazi hanya dapat meringkuk seorang diri di tempat tidurnya.
***
Tiba hari kelulusan, bangku paling belakang itu tetap kosong. Rion benar-benar tidak pernah terlihat lagi.
Bug...
Dirinya terjatuh, Alexa menabraknya, terlihat sengaja."Maaf..." ucap Alexa kala itu.
"Em..." Sazi hanya tertunduk, mengambil beberapa barang yang terjatuh dari tasnya.
"Ada apa ini!? Sazi apa kamu cemburu pada Alexa dan mencoba menuduhnya lagi!?" bentak Dave, menatap kejadian yang sama sebelumnya. Tapi saat itu Alexa yang terjatuh, menuduh Sazi mendorongnya dengan sengaja. Sazi mencoba membela diri saat itu namun tidak ada yang percaya.
Hanya seorang wanita baik hati, itulah dirinya. Berfikir mungkin Alexa tidak sengaja atau Dave sedang memiliki masalah jadi kata-kata menyakitkan yang harus dimaklumi olehnya.
Sazi kali ini menggeleng."Aku jatuh sendiri," dustanya tidak ingin dituduh oleh Dave lagi.
Bahagia bersamanya? Akankah Dave kembali seperti dahulu? Anak berusia 5 tahun yang berusaha keras membuatnya tersenyum? Seperti dua sosok yang berbeda, Dave dan sahabat masa kecilnya.
Tapi hanya Dave, Alexa, ibu, ayah, dan pamannya yang saat ini dimiliki olehnya."Dave aku ingin pulang bersama, apa boleh?" tanya Sazi kepadanya.
Dave menggeleng, wajahnya kembali berusaha tersenyum."Aku harus mengantar Alexa membeli beberapa alat tulis. Kamu jangan cemburu, dia sepupumu dan kita sudah saling mengenal dari dulu tidak mungkin aku..."
"Aku mengerti," Sazi berusaha tersenyum, dengan air mata terurai. Apa dirinya bodoh? Tapi tidak memiliki pilihan lain dalam hidupnya. Ibu yang menjadikan Dave sebagai satu-satunya tujuan hidupnya.
Seorang ibu yang tidak mungkin ditentang dan ditinggalkannya. Ibu yang melahirkannya dengan susah payah, bertaruh nyawa. Walaupun tidak benar-benar mengurusnya dari masa kecil hingga dewasa. Hanya di hadapan sang ayah dirinya akan mendapatkan rasa kasih yang tulus dari ibunya. Namun, itu sudah cukup, dirinya mencintai Dini...
***
Hari kelulusan yang hanya dilewatinya seorang diri. Berjalan kaki dengan pakaian yang dipenuhi dengan coretan, supir yang tidak menjemputnya entah kenapa.
Menonggakan kepalanya sejenak, menikmati semilir angin dalam perjalanannya disertai guguran daun kecil."Kawin lari...?" gumamnya tersenyum, hanya kenangan tentang tingkah konyol Rion yang menghibur hari-harinya.
Hingga gerbang rumah terlihat, ada mobil dari salah satu perusahaan pengiriman disana. Seseorang yang membawa lukisan yang cukup besar, lukisan yang masih tertutup kertas.
"Ibu aku..." kata-kata Sazi disela.
"Pergi ke kamarmu!! Naik sekarang!! Keluyuran jam segini baru pulang!!" bentak Dini padanya.
"Tapi supir tidak..." kata-kata gadis itu lagi-lagi di sela.
"Ibu yang menyuruh supir tidak menjemputmu!! Pamanmu juga butuh supir!! Tidak apa-apakan hanya menggunakan supir pribadimu..." sinis Dini.
"A...aku juga butuh supir, besok aku akan mencari kampus untuk kuliah. Aku ..." ucapnya, yang untuk ke sekian kalinya disela. Membantah kata-kata orang tua yang melahirkannya? Sazi tidak dapat melakukannya tertunduk membiarkan dirinya dibentak.
"Pamanmu mencari pekerjaan!! Dia mencari uang!! Sedangkan kamu apa!? Hanya mencari kampus, naik bis atau ojek kan bisa!! Jangan manja..." kata-kata dari Dini membawa lukisan kiriman sang suami dari Singapura. Lukisan yang sejatinya dikirimkan untuk Sazi.
Ibunya benar, pekerjaan pamannya lebih penting. Tapi kenapa harus menggunakan supir yang diperuntukkan untuknya. Supir yang digaji menggunakan uang ayahnya, bukan uang pamannya.
Gadis itu melangkah, sedikit melirik pengacara perusahaan ayahnya yang terlihat bercengkrama dengan pamannya. Begitu akrab, entah apa yang mereka bicarakan.
Dirinya hanya dapat tertunduk diam di rumahnya sendiri. Terjerat kasih sayang sang ibu yang dicintainya. Berjalan ke kamar tanpa peduli atau meminta apapun.
***
Sedangkan di lantai satu, Dini yang menyadari Sazi sudah masuk ke dalam kamarnya membuka lukisan. Sebuah lukisan keluarga yang membuatnya muak."Tolong taruh di gudang!" perintahnya pada sang ART.
Mulai mendekati Fredric dan sang pengacara."Bagaimana?" tanya Dini, duduk di samping Fredric.
"Kemarin kondisinya berubah kritis, Herry mungkin akan meninggal di minggu-minggu ini. Kita hanya bisa menunggu..." jawaban dari sang pengacara.
"Apa isi surat wasiatnya?" Dini terdengar antusias.
"Rumah ini dan sebuah mobil akan menjadi milikmu. Selebihnya akan menjadi milik Sazi..." Sang pengacara menghela napas kasar.
"Herry br*ngsek! Bahkan sudah akan mati juga membuat masalah," geram Fredric.
"Aku bisa merubah isi surat wasiatnya, tapi sayangnya surat di simpan di bank atas perintah Herry. Akan dibacakan jika, Sazi sudah berumur di atas 25 tahun dan sudah menikah..." Sang pengacara meraih teh dingin di hadapannya.
"Jadi harus menunggu lagi," Dini memijit pelipisnya sendiri. Tidak tahan rasanya berada satu rumah dengan anak dari suaminya dengan almarhum istri pertamanya.
"Kita harus bersabar hingga Sazi menikah nanti..." sang pengacara tersenyum menatap ke arah mereka.
***
Sementara itu, warung pinggir jalan...
Sepasang ayah dan anak tengah memakan dua piring nasi hangat, lengkap dengan lauknya dan es teh manis. Rion tidak henti-hentinya menatap ke arah televisi yang tengah menyiarkan berita pencarian jenazah para korban, bis yang terjun langsung ke sungai.
"Ini perbuatan keluarga ibu..." gumamnya, yang tidak makan begitu banyak seperti biasanya.
"Kenapa berhenti makan?" tanya Fino pada putranya.
"Ini untuk ayah saja, jika tetap gemuk wajahku akan lebih mudah dikenali nenek. Aku juga ingin hidup lebih sehat..." ucapnya tersenyum pada ayahnya.
"Tapi syukurlah kita cuma membeli tiket, tapi turun di tengah perjalanan. Mencari kendaraan lain." Fino tertawa, memukul pundak putra gemuknya.
"Ini memang akan terjadi, karena itu kita harus berhenti dan berganti kendaraan beberapa kali di pinggir jalan," gumam Rion.
"Maksudnya?" Fino mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
Rion terdiam sejenak menatap bus yang berusaha di derek. Bagian depan dan belakang yang terdapat bekas benturan."Bus yang selain mengalami rem blong, juga di tabrak dari belakang, digiring menuju sungai. Ini perbuatan keluarga nenek..."
"Tidak mungkin nenekmu..." kata-kata Fino di sela.
"Bukan nenek, tapi ibu atau ayah tiriku. Mereka membunuh banyak orang, hanya untuk membuat kita mati ..." geramnya, tersenyum sinis menghina.
"Tidak mungkin ibumu berbuat seperti ini. Margaretha, dia walaupun manja, selalu berprilaku baik, membuatkanku sarapan, cantik, pintar..." ucap Fino yang masih mencintai sang mantan istri.
Sementara Rion menutup telinganya dengan kedua tangannya."Bucin!!" bentaknya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Widi Widurai
masalahnya yg pacar siapa cb yg dianter alexa meluku
2023-04-20
0
Azizah az
akan kah sazi tau kebenaran bahwa Dini bukan ibu ny
2022-10-30
2
alvalest
mirip sm ferrel y critny tp critamu punya khas thor kyk cinta sejati itu beneran ada apapun kondisinya bgmn pun keadaanny akan slalu nrima...pndpt y thor g da mksd pa pa...heheh
2022-07-27
2