Wajah putranya ditatapnya, anak rupawan, lugu yang baik hati mulai mengangkat sendoknya, meraih lauk dan sayuran yang disukainya, beralaskan piring melamin.
Air mata Fino mengalir, ini adalah hari kematianya dan putranya. Hanya Rion, itulah yang dimilikinya kini. Haruskah dirinya bersyukur sudah pernah menikah dan mencintai Margaretha? Dirinya harus bersyukur karenanya lah Rion ada.
Karena nona muda yang mencintainya, seorang pria miskin yang tidak memiliki apapun. Cinta sejati? Menemani hingga maut memisahkan? Mungkin awalnya sebuah cinta begitu mahal dimatanya, tapi hanya karena rumah tanpa AC, daging, kebiasaan hidup yang berfoya-foya, semuanya telah berubah bagi Margaretha.
Hanya tuan muda kecil inilah miliknya saat ini, darah dirinya dan Margaretha mengalir di dalam tubuh Rion. Anak manis yang memanggilnya ayah. Silvia dan Margaretha ingin membawanya setelah sekian tahun mengabaikannya.
Cinta, harta, semua tidak dapat dimilikinya. Tidak bolehkah dirinya egois untuk memiliki putranya?
Anak itu mulai menyendok sayuran, sedikit lagi akan masuk ke mulutnya. Tangan Fino mengepal, sang ayah yang masih tidak dapat menahan air matanya, mengantar kepergian putranya bersama dirinya.
Sendok yang dipenuhi lauk dan sayuran mulai terangkat. Ingin tetap menggenggam jemari tangan putranya, walaupun sama-sama dalam keadaan tidak bernyawa.
Hingga...
Prang...
Rion tiba-tiba berdiri di sampingnya, membanting piring melamin di hadapan ayahnya. Air matanya mengalir."Ayah apa kita harus mati?" tanyanya sang anak berusia lima tahun dengan air mata berurai.
Fino terisak berlutut di hadapan putranya mensejajarkan tingginya, mendekapnya erat."Ayah hanya ingin tetap bersamamu..." lirihnya.
"A...aku ingin kita tetap hidup. Ayah aku takut mati, mati itu gelap dan dingin. Aku akan dikubur di bawah tanah, tidak bisa bermain layangan lagi ..." jawaban polos darinya dengan pipi yang dibasahi air mata.
Tangan Fino mengepal, mendekap lebih erat tubuh putranya. Perlahan jemarinya gemetar, melonggarkan pelukannya. Tangan dinginnya menyentuh pipi putranya."A...ayah tidak akan membiarkanmu mati..." ucapnya menggeleng, dengan suara bergetar.
"Ayah juga tidak boleh mati, karena jika ayah mati. Aku juga ingin mati..." teriaknya menangis dengan kencang.
Fino tertunduk, hatinya luluh di hadapan putranya. Kembali memeluk tubuh kecilnya."Ayah janji kita tidak akan mati. Lebih menghargai hidup lagi, siapa yang bilang ayah mau mati...?" ucapnya berusaha tersenyum.
"Botol yang ayah beli dan campur pada makanan, ada tulisan racun tikusnya," jawabnya jujur.
Fino melonggarkan pelukannya, membulatkan matanya. Putranya baru berusia lima tahun, namun dapat membaca tanpa mengeja?"Fino bisa membaca?" tanyanya.
Sang anak mengangguk, mengambil botol yang ada di atas meja dapur."Tulisannya, racun tikus. Cara penggunaan, komposisi tertera dalam brosur..." ucapnya membaca tulisan yang tertempel disana.
Wajah Fino yang murung, tersenyum mengangkat tubuh putranya. Kemudian berjalan dengan cepat mengambil koran bekas."Coba kamu baca ..."
"Mayat seorang wanita berusia diantara 28 dan 34 tahun ditemukan dalam sumur sedalam 10 meter dalam keadaan tubuh sudah membusuk," ucapnya menuruti perintah ayahnya, mulai membaca dengan lancar.
"Putraku jenius..." gumamnya mencium wajah Rion berkali-kali. Kemudian dengan cepat meraih kertas dan pensil, membuat beberapa rangkaian soal penjumlahan susun. Memberikan satu contoh padanya. Dengan cepat anak itu mengerjakannya bahkan tanpa menghitung menggunakan jarinya.
Fino pada akhirnya kembali memberi penjelasan tentang pengurangan dan perkalian dengan hanya memberikan contoh. Soal yang seharusnya tidak dikerjakan anak yang masih bersekolah di taman kanak-kanak, mulai dikerjakan dengan baik.
Seorang ayah yang tersenyum pada putranya. Memeluknya erat dalam pangkuannya, putranya benar kematian yang dingin dan menyakitkan tidak pantas untuk anak seusianya. Yang dapat dilakukan Fino saat ini hanya mempertahankannya, bekerja keras untuknya walaupun fisiknya lemah akibat beberapa penyakit bawaan yang dimilikinya.
"Ayah...aku tidak ingin mati, atau ayah mati, aku tidak ingin keduanya..." ucap anak itu gemetar.
Fino mengangguk, kemudian tersenyum pada putranya."Apa Rion bersedia menjalani kehidupan yang sulit dengan ayah? Atau ingin tinggal di rumah besar bersama ibumu, bisa mendapatkan segalanya, makanan, bersekolah di sekolah elite dan tempat tinggal besar?" tanyanya.
Rion menggeleng,"Aku ingin terus bersama ayah..." ucapnya yang sudah jauh lebih tenang.
"Kalau begitu ayah akan mencari cara, agar kita bisa terus bersama," Fino tersenyum pada putranya.
***
Di tempat lain...
Silvia mulai memakan makanan di hadapannya, kemudian meminum sedikit air putih dinginnya."Margaretha, suruh pelayan menyiapkan kamar dan keperluan sekolah Rion.."
Kata-kata yang membuat ketiga orang yang duduk di meja makan terdiam sejenak. Gerald (suami Margaretha) bahkan meletakkan alat makannya.
"Ibu!!" bentak Margaretha bangkit dari tempatnya duduk.
"Dia itu keturunan laki-laki dari keluarga kita, walaupun memiliki darah dari mantan suamimu yang hanya menjadi kuli angkut di pasar. Tapi dia tetap cucu dari ayahmu..." ucapnya masih makan dengan tenang.
"Cucu dari almarhum ayah mertua? Lalu setelah aku menikah dengan Margaretha status anak kami apa? Apa yang akan dimiliki putra kami!? Belum lagi Jameson, dia dari kecil memiliki kecerdasan tinggi. Minggu ini dia sudah dapat membaca. Apa keturunan dariku tidak berharga di mata ibu mertua?" tanya Gerald menatap tajam.
Silvia menghela napasnya."Ayahmu berasal dari keturunan keluarga terpandang, bahkan dari jaman Hindia-Belanda. Hingga kini, semua milik dan warisan keluarganya masih terjaga, berkembang dengan pesat. Seperti kata-kata terakhirnya, kepala keluarga ini harus cucu laki-lakinya, pesan yang memang turun-temurun dijaga keluarganya..."
"Aku dan Gerald masih bisa mempunyai anak laki-laki!!" bentak Margaretha.
"Buktikan! Dalam waktu 4 tahun hadirkan cucu kandung laki-laki di rumah ini. Jika tidak bisa, Rion harus tetap tinggal disini..." ucap Silvia.
Margaretha tersenyum."Akan ada anak laki-laki secepatnya..."
Tidak ingin bertemu mantan suaminya, hanya itulah yang ada di benaknya saat ini. Entah kenapa, terlalu enggan berhadapan dengannya. Pemuda baik hati yang selalu meramaikan harinya dahulu.
Mencintainya? Jika tidak mencintainya, mengapa menikah? Tentu saja Margaretha mencintainya, tapi seorang nona muda yang menikah segera setelah lulus SMU, mengira pernikahan adalah hal yang mudah.
Terlalu labil, hingga, meninggalkan suami dan putranya yang saat itu baru berusia 2 tahun. Tidak ingin hidup bersama suaminya yang sakit-sakitan. Terkadang dapat bekerja, juga terkadang tidak. Mungkin sebagai istilahnya, seorang nona muda yang terbiasa memakan keju, harus memakan singkong demi yang namanya cinta.
Perlahan Margaretha sudah tidak tahan lagi, meninggalkan suaminya, setelah pertengkaran hebat mereka. Karena dirinya yang tidak pernah bersedia merawat Rion.
Meninggalkan rumah dengan berkata penuh ego, cinta tidak akan membuat perut kenyang.
Hal yang terjadi setelahnya? Margaretha kembali menjalani kehidupannya seperti biasanya. Walaupun tetap merindukan sosok Fino yang mencintainya dengan tulus.
Almarhum ayahnya memang membebaskannya memilih hidup yang diinginkannya. Tapi berakhir meninggal segera setelah perceraiannya dengan Fino.
Ibunya sendiri cukup mengatur hidupnya. Mengoceh hal yang buruk tentang Fino setiap hari, hingga Margaretha meyakinkan asumsinya, dirinya tidak pernah salah dalam perceraian ini.
Perlahan ego menutupi dirinya, memiliki suami mapan dan lebih rupawan dari Fino akan lebih baik. Bagaikan menunjukkan kelebihannya sebagai seorang wanita kepada Fino.
Tapi apa yang dicarinya? Dirinya memang akhirnya mendapatkan Gerald, seorang duda mapan yang memiliki satu putra dari pernikahannya sebelumnya. Tapi dirinya tidak pernah benar-benar mencintai Gerald.
Kasar di ranjang, bahkan tidak begitu perhatian padanya. Hanya memberinya uang saja, uang yang juga dimiliki olehnya. Tapi sekali lagi, opini banyak orang akan lebih meyakinkan dari pada pilihan hatinya sendiri. Bukan hanya satu, banyak yang mengatakan dirinya beruntung karena menikah dengan Gerald yang diidamkan banyak wanita kalangan atas.
Gerald terdiam, menghela napas kasar, melirik ke arah putranya, kemudian berbisik,"Senangkan nenek dan ibumu, mereka adalah milikmu. Bukan milik anak lainnya..."
Jameson segera bangkit."Nenek, siang ini aku akan mengikuti lomba mewarnai. Nenek akan hadir kan...?" ucapnya tersenyum.
"Anak pintar, kamu akan mendapatkan peringkat pertama," Silvia tersenyum padanya, mengusap-usap kepalanya.
Gerald menatapnya dari jauh, kemudian sedikit melirik pada istrinya. Mertua yang tidak pernah puas, istri yang tidak pernah dapat memuaskannya di tempat tidur.
Jika saja, akan ada anak laki-laki yang terlahir, maka akan mengukuhkan kedudukannya di keluarga ini. Silvia tidak akan menghalangi penyatuan perusahaannya dengan perusahaan besar milik keluarga ini.
Jalannya akan terbuka lebar untuk mengatasnamakan semua pada dirinya dan keturunannya. Saat dimana dirinya tidak perlu berpura-pura baik di hadapan istri manja dan mertua egois ini lagi.
Tapi sebelum itu Rion, nama anak yang akan menjadi penghalang jalannya. Tangannya mengepal, wajahnya tersenyum. Benalu dari pernikahan pertama istrinya, aib yang harus disingkirkannya.
Tidak malu pada lukisan besar pemilik rumah ini. Pemuda rupawan, cerdas, yang hanya menginginkan keturunannya yang memiliki segalanya. Lukisan yang mungkin akan benar-benar mirip dengan Rion dewasa nantinya. Lukisan sang kakek kala muda, yang telah meninggal kala Rion berusia tiga tahun.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Яцяу
masih sedih aja 😭😭🤧🤧
2023-05-26
3
Herlan
ternyata Gerald cuma ingin menguasai harta Silvia
2022-07-06
4
Anis
si gerald ini mapan apa kere,, kalo dia mapan dan kaya kn anaknya bisa mewarisi usahanya dia kan.. ngapain ngarep hartanya istrinya.. kalo dia udh pny anak dr Margaretha ya beda lg ceritanya
2022-06-16
4