Dirinya benar-benar merasa telah terpuaskan, tubuh mereka masih hanya berbalut sehelai selimut. Kening Alexa dikecupnya,"Terimakasih..." ucapnya.
"Em..." Alexa hanya mengangguk, mengecup pipi Dave.
Perlahan Dave berusaha bangkit, meraih boxernya yang berada di atas tempat tidur. Namun, dengan cepat Alexa mencegahnya."Jangan pergi..." pintanya.
"Tapi jika bibimu dan Sazi..." ucap Dave ragu.
Alexa ikut duduk diatas tempat tidur."Sazi mencintaimu dia akan percaya apapun yang kamu katakan. Sedangkan bibi Dini, dia bukan ibu kandung Sazi." Alexa memeluk lengan kekasihnya, menahannya untuk tidak pergi.
"Jadi?" tanyanya tidak mengerti. Walaupun seorang ibu tiri tapi seharusnya lebih berpihak pada anak angkatnya dibandingkan keponakannya.
Alexa tertunduk sesaat."Ini kesalahanku karena mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Tapi aku benar-benar tulus padamu, karena itu... karena itu... jika posisi kami sama, atau posisi status sosialku lebih tinggi, kamu aku memilihku atau Sazi?" tanyanya, menatap ke arah Dave bagaikan menahan tangis.
Dave terdiam sesaat, bibirnya kelu, seharusnya cukup mudah baginya untuk menjawab Alexa. Namun hatinya seperti melarang dirinya berkata demikian. Masa-masa yang dilaluinya saat itu masih teringat jelas di benaknya, Sazi yang menemani dari 9 tahun yang lalu. Dengan status pertunangan yang diatur oleh keluarga, sekolah di tempat yang sama, bahkan gadis itu mengetahui hal yang disukai dan tidak disukainya.
Tapi sekali lagi, perasaan ketertarikan sesaat akan ilusi dari sesuatu yang terlihat lebih menarik, membuatnya menganggap sosok Sazi hanya hitam putih, sesuatu yang tidak menarik. Bagaikan nasi putih sedangkan Alexa adalah sandwich.
Terkadang menginginkan terus menerus memakan sandwich yang baru pertama kali dicoba, menganggap nasi putih tidak menarik. Bagaimana jadinya jika harus makan, tanpa nasi sama sekali? Betapa enaknya pun sandwich, bagaimanapun nikmatnya olahan daging. Namun, perlahan setelah menghilang, mengingat harum aroma nasi yang akan dirindukannya.
Itulah Dave saat ini, menganggap keberadaan Sazi tidak penting sama sekali, karena selalu hadir di dekatnya. Sedangkan Alexa, sesuatu yang menarik, pertama kali ditemuinya.
"Aku salah..." ucap Alexa, menitikan air matanya."Aku ingin memilikimu, apa aku salah? Apa kita salah? Sazi dia memiliki segalanya semenjak dilahirkan. Jadi wajar saja jika kamu lebih memilihnya..."
Dave tersenyum, namun entah kenapa hatinya terasa berat. Tapi sekali lagi, kebutuhan biologis dan fikirannya menutupi perasaannya pada Sazi."Aku akan memilihmu. Kamu yang tercantik di mataku..."
"Benarkah?" tanyanya. Dave hanya mengangguk.
"Ayahku berencana merebut hak-nya dari Sazi. Paman Herry sakit keras tengah berobat di luar negeri saat ini. Sebentar lagi mungkin akan meninggal. Selama ini paman Herry dan Sazi bersikap tidak adil kepada kami. Merebut semua warisan kakek dan nenek, bahkan sering menghina kami pada perjamuan bisnis..." tangisannya lirih, bagaikan benar-benar dirundung oleh paman dan saudara sepupunya.
"Jadi setelah paman Herry meninggal, ayahmu akan merebut hak-nya?" tanyanya dijawab dengan anggukan oleh Alexa.
Dave tersenyum, mendekap erat tubuhnya, Alexa akan memiliki status Sazi nantinya. Kesepakatan antara kedua keluarga dapat berubah. Sazi yang akan jatuh nantinya. Mungkin sungguh beruntung dirinya bertemu dengan Alexa wanita yang patut dicintainya.
"Aku akan tidur di sini malam ini..." bisiknya tersenyum, merebahkan tubuh Alexa perlahan, memperlakukannya dengan baik. Kembali membuainya untuk melakukan penyatuan. Menggerakkan bibir dan tangannya yang merambat ke seluruh tubuh.
Hingga pada akhirnya kedua insan itu kembali menonggakkan kepalanya."Akh..." Dave menatap wanita yang ada di bawah tubuhnya. Ini sungguh indah dan nikmat, Sazi yang selalu mengikuti gaya berpacaran sehat, benar-benar berbeda dengan Alexa, yang selalu dapat memenuhi kebutuhannya.
***
Bioskop? Bukan, area pinggir pantai menjadi tempat mereka berada saat ini. Menikmati udara sore hanya sekedar berjalan-jalan dengan ember kecil mengumpulkan kerang dan kepiting sebelum air laut pasang.
"Bintang laut..." ucap Sazi, meraih bintang laut yang ada si karang basah pinggir pantai.
"Pacarmu seperti bintang laut." Rion tersenyum, ikut berjongkok di sampingnya.
"Kenapa seperti bintang laut?" tanya Sazi tidak mengerti.
"Dave itu tampan seperti bintang laut yang memiliki warna dan rupa yang menarik," jawab Rion yang sejatinya jijik dengan kata-katanya sendiri.
Sazi taukah kamu bintang laut tidak memiliki otak sama sekali? Sama dengan pacarmu, entah otaknya ada dimana... batinnya, berusaha untuk tersenyum.
"Ada-ada saja ..." Sazi tertawa kecil."Omong-ngomong kalau aku makhluk hidup yang ada di laut, aku apa? Apakah putri duyung?" tanyanya antusias.
Rion mulai duduk di karang, tidak memikirkan celana panjangnya yang sedikit basah dan kotor. Pemuda itu terdiam sesaat."Kamu secantik putri duyung. Tapi putri duyung mengalami takdir yang tragis. Melihat sang pangeran menikahi wanita lain. Kemudian menjatuhkan dirinya dari tebing, merelakan nyawanya karena dikhianati, hingga tubuhnya menghantam air lautan berubah menjadi buih perlahan, buih indah yang menghilang."
"Menyedihkan, tapi aku tidak mungkin mengalaminya ada ayah dan ibu yang menyayangiku. Dave yang hanya mencintaiku, dan paman serta Alexa sebagai anggota keluarga yang menjagaku..." ucap Sazi tersenyum pada Rion.
Rion membalas senyumannya."Tapi jika ada saatnya, kamu ingin menjatuhkan dari tebing untuk menjadi buih. Tunggulah aku datang, aku akan memelukmu, mengatakan janji setia hingga maut memisahkan. Memeluk putri duyungku erat hingga tidak berubah menjadi buih karena dunia yang tidak adil padanya..." ucapnya menatap ke arah laut. Bersamaan dengan suara dengungan pesawat landing.
Mengingat area pantai memang berada dekat dengan bandara. Kata-kata Rion yang tidak didengar dengan jelas oleh Sazi, tersamarkan oleh deru mesin pesawat yang melintas di dekat mereka."Kamu bilang apa?" tanyanya.
"Aku bilang kamu benar, kamu adalah putri duyung yang akan selalu bahagia..." jawab Rion.
***
Orang terakhir yang akan mengujinya? Tentu saja psikolog. Dokter paruh baya di bidang psikologi itu perlahan mendekati mereka memakai pakaian ala bos kaya. Menggunakan setelan jas, sepatu kulit, bermerek.
Perlahan mendekati Sazi."Boleh bergabung?" tanyanya.
"Silahkan," jawaban dari Rion tersenyum.
"Aku kemari untuk menawarkanmu..." kata-kata sang psikolog disela.
"Sazi dia ingin menawarkanmu kredit panci makanya ke pantai dengan memakai setelan jas," ucap Rion yang berpura-pura bodoh. Tujuannya mengatakan itu? Tentu saja untuk orang biasa akan menganggapnya asal bicara. Tapi sejatinya tidak...
Apa tujuanmu kemari... mungkin itulah sejatinya arti dari kata-katanya. Orang ber-jas yang datang ke pantai. Ini pasti ulah anggota keluarga ibunya.
Sang psikolog tetap berpura-pura tersenyum, walaupun sejatinya kesal dikatakan sebagai tukang kredit panci."Kamu cantik..." ucapnya terlihat genit pada Sazi, menyentuh merangkul pinggangnya, tapi dengan cepat Sazi menepis tangannya.
"Rion sebaiknya kita pindah tempat." Sazi mulai berdiri merasa tidak nyaman dengan kehadiran sang psikolog.
Kesal tentu saja? Menyentuh wanita yang disukainya? Apa ini orang kiriman ayah tirinya untuk mengancam lagi? Baik, kalau begitu, kali ini Rion tidak akan membiarkan pria yang berani berprilaku buruk pada Sazi lolos."Tidak perlu pindah..."
Rion tersenyum menyiram pria itu dengan benda-benda yang ada di ember Sazi.
"Sialan!!" bentak sang psikolog.
"Maaf, paman aku tidak sengaja," ucapnya mendekat kemudian mencengkram bagian bahu jas hitam yang dipakai sang psikolog sebagai penyamaran.
Rion yang berada di dekat telinganya mulai menyeringai kemudian berbisik."Pernah menonton film dimana psikopat menyembunyikan jati dirinya? Itulah aku. Hari ini aku mendapatkan beberapa ubur-ubur kotak kecil beracun yang biasanya berhabitat di Australia. Berapapun ayahku membayarmu, sekali sengatan maka uang itu tidak ada artinya. Ada berapa banyak yang sekarang menempel di tubuhmu? Ubur-ubur kecil yang transparan..."
Sang psikolog membulatkan matanya, melirik ember berisikan berbagai hewan laut yang disiramkan ke tubuhnya oleh Rion. Berbagai hewan laut memang ada disana. Tapi apa ubur-ubur kecil yang transparan juga ada?
Entahlah yang pasti dirinya harus ke rumah sakit saat ini sebelum mati diperjalanan ketika menyetir karena disengat.
"A...aku..." pria paruh baya yang langsung pergi, ketakutan. Berlari mencari mobilnya yang terparkir di pinggir jalan menyetir dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
"Ubur-ubur kotak (Spesies ubur-ubur paling berbahaya di dunia. Mampu membunuh sekitar 60 orang dalam waktu 5 menit) bahkan aku saja takut menyentuhnya. Bagaimana cara menangkapnya?" cibirnya, tersenyum menatap pria yang dapat ditakut-takuti dengan dengan mudah.
"Ubur-ubur kotak?" Sazi mengenyitkan keningnya.
"Sudahlah tidak usah di fikirkan."Sejenak Rion terdiam, menatap ke arah Sazi."Maaf di rambutmu ada sedikit pasirnya..." ucapnya hendak membersihkan, tapi wajah itu terlihat semakin jelas, wajah tenang yang membuat hatinya berdebar cepat.
"Kamu cantik, bukan cuma rupa. Tapi juga hati..." Rion menelan ludahnya."Maaf, kita adalah teman. Sebentar lagi ujian dan kelulusan. Aku mungkin tidak akan bertemu denganmu lagi. Karena itu..."
"Karena itu, boleh aku menciummu? Aku dengar di negara barat ada yang namanya ciuman persahabatan. Kita akan berbeda kampus, karena itu boleh aku menciummu?" tanyanya.
Sazi menggeleng."Tapi Dave..." ucapnya tidak menyanggupi.
Tanpa diduga olehnya, Rion dengan cepat memegang tengkuknya. Mendekap pinggangnya, Sazi mencoba melawan. Namun, tubuh tinggi gemuk itu seakan tidak melepaskannya.
Hanya satu ciuman saja, sebelum aku akan melarikan diri dengan ayahku... harapannya dalam hati menitikan air matanya. Perlahan lidahnya menerobos ke dalam mulut Sazi.
Tangan gadis yang awalnya meronta seketika menjadi lemas, berubah memegang kaos merah yang dipakai Rion. Entah kenapa jantungnya berdegup cepat pada pemuda ini. Dia tidak sempurna, namun bagaikan hanya Rion yang pernah tulus kepadanya.
Lidah yang perlahan saling membuai...
Hingga, tautan singkat itu terlepas, dua orang yang mengatur napasnya."Apa kamu mencintaiku? Bisa tinggalkan Dave untukku?" pintanya penuh harap ingin memiliki tujuan untuk tetap tinggal.
Sazi terdiam sejenak mengepalkan tangannya. Belakangan ini memang terasa aneh, apa dirinya mencintai Rion? Tapi tetap saja, ini sebuah kesalahan, hanya akan menyakiti hati banyak orang."Aku tidak bisa, mungkin kamu salah paham. Tapi aku..."
"Aku mengerti..." Rion menitikkan air matanya yang mengalir dalam senyuman."Kita tetap sahabat?" tanyanya.
Sazi mengangguk, menatap ke arah Rion."Kita sahabat, selamanya akan menjadi sahabat..."
"Maaf sudah menciummu secara paksa," Rion mengusap air matanya sendiri. Teman? Bukan itu yang diharapkannya. Dirinya ingin memiliki Sazi.
Dua pasang mata yang saling menatap, menyiratkan perasaan Rion yang memang sudah tertanam nama gadis itu dari dulu. Sedangkan Sazi, perasaannya mungkin mulai bertunas, namun ditepis dengan satu kalimat, tidak ingin menyakiti Dave. Hanya Dave yang akan menjadi pasangannya nanti.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
mama angga
😂😂🤣🤣🤣
2023-05-23
2
mama angga
sazi gak pernah nonton spongebob jd gak tau klo bintang laut itu gak punya otak 😂🤣
2023-05-23
2
Anis
q g bisa bayangin setelah sazi tahu penghianatan dave dan alexa jg dini,, yg menyebabkan dia gila
2022-06-16
3