Pernah dicelakai? Tentu saja, seorang anak rupawan yang cerdas akan tumbuh menyaingi Jameson. Hal yang paling mengerikan bagi sang anak disekap dalam sebuah rumah kosong yang gelap oleh orang suruhan Gerald.
Kaki dan tangan terikat, penjaga yang sering meninggalkannya seorang diri, melepaskan ikatannya hanya untuk buang air besar atau kecil saja.
Takut? Tentu saja, ruangan yang benar-benar gelap tanpa pencahayaan. Rumah tua terpencil yang mungkin sudah belasan tahun tidak berpenghuni. Sang penculik yang menghabiskan waktunya dengan bermain judi di ruangan lantai satu dari rumah terbengkalai.
Ayah...ayah...ayah... hanya satu nama yang ada dalam fikirannya, berusaha melepaskan ikatannya seorang diri. Hanya Fino satu-satunya orang yang melindungi dan mencintainya.
Hingga tiba di hari ketiga...
Rion berhasil melepaskan ikatannya, berusaha melarikan diri dengan fisiknya yang lemah akibat tidak dapat bergerak selama tiga hari. Perlahan pintu ruangan gelap itu terbuka, menyilaukan mata sang anak yang masih berpura-pura terikat.
"Ayo cepat makan! Kami masih menunggu bayaran dari bos untuk membunuhmu..." ucapnya, menyodorkan sebungkus roti.
Bos? Nenek? Ibu? atau mungkin ayah sambungnya? Hanya itulah orang-orang yang tidak menyukainya. Tapi dirinya benar-benar harus melarikan diri dari sini. Roti itu dimakannya dengan lahap kala disuapi, mengunggu sang penculik tidak waspada. Hingga...
Bug...
************ sang penculik ditendangnya. Mengaduh, menjerit, kesakitan, dengan cepat Rion berusaha melarikan diri. Tapi asupan nutrisi yang sedikit, tangan dan kaki yang lemah akibat tidak dapat banyak bergerak membuatnya terjatuh.
Beberapa penculik lainnya yang mendengarkan teriakan dari lantai dua segera bergerak naik. Rion yang masih berusaha melarikan diri ditatap oleh mereka. Ditarik kemudian dijambak."Anak sial!!" bentak salah seorang penculik, menarik rambut Rion.
"Sakit! Jangan..." lirihnya.
Tapi salah seorang penculik yang emosi, menatap keadaan rekannya. Menendang tubuh kecil Rion, hingga membentur dinding. Bagian punggung yang sedikit tergores pecahan kaca tempatnya mendarat. Luka yang mengeluarkan darah segar.
Sakit sekali rasa punggungnya, Rion menatap ke arah dinding, menyadari ada darah yang mengalir dari punggungnya. Dirinya harus berpura-pura mati agar bisa tetap hidup, hanya itulah pilihan satu-satunya. Berdiam disini, dirinya juga tetap akan dihabisi.
Rion memejamkan matanya, mendengar suara langkah kaki mendekat, mulai menahan napasnya. Dan benar saja salah seorang penculik, menyentuh tubuhnya menggunakan kakinya."Bangun, bocah br*ngsek!"
Tapi Rion hanya terdiam, hingga salah seorang dari mereka meletakkan jari tepat di depan lubang hidungnya."Bos! Dia sudah mati!" ucap salah seorang penculik.
Aku mohon, jangan beri perintah mutilasi atau kubur mayatnya. Beri perintah tinggalkan mayatnya disini. Atau buang ke dekat terminal, rumah ayahku sekalian juga boleh... batin Rion yang ingin segera pulang, berusaha menghirup napas sesekali agar tidak ketahuan.
"Buang mayatnya ke sungai belakang rumah, lagipula tugas yang diberikan memang untuk membunuhnya..." perintah ketua mereka.
Yes... tidak dimutilasi atau dikubur... fikirnya sesaat, tapi hanya sesaat. Hingga dirinya menyadari sesuatu, dirinya tidak bisa berenang, tangannya gemetar, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Jika bangun sekarang dipukuli sampai mati, jika tidak bangun maka harus mati tenggelam. Jalan buntu bagi seorang Rion.
***
Dan benar saja, tubuhnya terasa basah, dilempar ke dalam sungai berarus deras. Berusaha menghirup napas putus asa, tapi arus seakan tidak membiarkan untuk hidup.
Terus terbawa, apa nyawanya akan habis sampai disini? Mungkin itulah yang ada di benak sang anak saat ini, tidak mempedulikan perihnya luka pada punggungnya. Hingga batu yang kokoh dipeluk tangan kecilnya, masih berusaha untuk bertahan hidup. Memanjat batu besar bertahan duduk diatasnya. Mungkin sudah sekitar beberapa puluh meter dirinya terseret arus.
"Kamu sedang apa? Apa bertapa seperti pendekar dan biksu di film-film?" tanya seorang anak kecil dari pinggir sungai.
"Bisa kamu menolongku?" Rion masih disana membaringkan tubuhnya diatas batu besar menghirup napas dengan serakah, berada di tengah sungai saat ini.
"Membantu apa?" tanya sang anak perempuan tidak mengerti.
"Jalin akar pohon, ikat kemudian melempar padaku..." jawaban dari Rion.
Anak perempuan itu mengambil akar gantung sebuah pohon. Tanpa meminta ijin pada dedemit yang mungkin tinggal disana."Segini?" tanyanya mengangkat akar gantung pohon yang hanya secuil.
Rion mengenyitkan keningnya...Apa anak ini bodoh... fikirnya.
"Aku ingin yang sangat panjang dan sangat besar," permintaannya dari tengah sungai di atas batu besar ingin menyelamatkan dirinya dari tengah sungai, menggunakan akar nantinya.
Kali ini akar yang benar, sang anak perempuan yang seusia dengannya tengah berada di pinggir sungai. Rion tersenyum, kali ini dirinya akan selamat.
"Bagaimana menjalinnya?" sang anak perempuan kembali bertanya pada Rion dari pinggir sungai.
Rion menepuk jidatnya sendiri. Bagaimana caranya mengajari anak yang bahkan berada jauh darinya?
"Begini, kepang saja, seperti kepang rambut," jawabannya.
Sang anak perempuan mengenyitkan keningnya."Rambutku biasanya dikepang pengasuh..."
"Astaga..." Rion mulai emosi."Pilin asal saja, gulung sehingga menjadi tali yang kuat!"
Anak perempuan yang seusia dengannya itu menurut, memilin akar gantung pohon yang cukup panjang hingga menjadi tali yang kuat, sekuat tali tambang... mungkin...
"Lembar kemari!! Pegang ujungnya atau ikat ujungnya di..." perintah Rion yang antusias terhenti. Sang anak perempuan langsung mengikuti instruksi pertama tanpa mendengar instruksi selanjutnya, melempar akar itu dengan tangan lemahnya hingga hanyut di sungai.
"Ke... kenapa dilempar ke sungai?" tanyanya.
"Kamu menyuruhku melemparnya..." jawaban sang anak perempuan polos.
Kesal? Tentu saja, kali ini Rion tidak dapat mengendalikan emosinya."Dasar bodoh!! Dengarkan dulu baik-baik! Aku terperangkap disini!! Tali itu untuk menyelamatkan nyawaku!!" bentak Rion yang masih berada di atas batu besar tengah sungai.
Sang anak perempuan, awalnya terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya tangisan itu terdengar. Berlari ke tempat piknik keluarganya."Ayah!!" teriaknya ingin mengadu pada sang ayah.
"Tunggu!!" teriak Rion mengingat tidak ada seorangpun di wilayah terpencil tersebut. Takut akan arus yang semakin deras, membuat anak berwajah rupawan itu hanya meringkuk di sana, beberapa belas menit.
"Dimana?" suara seseorang akhirnya terdengar juga. Rion menoleh ke arah asal datangnya suara, sang anak perempuan datang bersama ayahnya.
"Tolong!! Aku terjebak!!" teriak Rion menangis pada akhirnya, menemukan orang dewasa yang benar-benar dapat menolongnya.
"Tunggu, aku akan mengambil tali untuk menyelamatkanmu!!" ucap ayah dari sang anak perempuan.
***
Rion meringis sesekali, kala lukanya tengah diobati.
"Kata putriku, kamu menyuruhnya membuat tali dari akar gantung..." gumam sang pemuda yang tengah mengobatinya. Rion mengangguk, membenarkan.
"Cukup pintar untuk anak seusiamu." Pria itu tersenyum, masih mengoleskan obat.
"Dia cukup pintar, hanya saja terlalu lugu." Rion menatap ke arah sang anak yang menunggu dengan sabar, ubi bakar yang dibuat ayahnya matang.
"Iya, dia tidak bodoh, tapi terlalu lugu dan rapuh. Omong-ngomong namamu siapa?" tanya sang pemuda pada Rion.
"Rion..." jawaban sang anak tersenyum.
Pemuda itu tertawa kecil."Kita sama-sama benda langit. Kamu rasi bintang Orion dan aku komet Halley..."
Rion mengangguk, kemudian tersenyum masih belum memakai atasannya, hanya celana pendeknya saja. Mengingat luka akibat pecahan kaca di punggungnya baru saja diobati.
"Kamu akan hidup lebih lama dariku, jika suatu hari nanti kamu bertemu dengan putriku lagi. Tolong jaga dan buat dia tersenyum..." ucap Herry tiba-tiba.
Rion mengenyitkan keningnya tidak mengerti."Kenapa?"
"Karena rasi bintang Orion akan selalu ada di langit. Sedangkan komet Halley akan menghilang dalam beberapa jam. Jangan salah paham, aku hanya ingin putriku ketika besar nanti, memiliki banyak kenalan yang akan menjaga dan menyayanginya..." jawaban Herry tertawa kecil.
Anak perempuan itu berjalan ke arahnya."Ayah bilang kamu tidak berniat buruk. Jadi aku minta maaf..." ucapnya menyodorkan ubi hangat yang baru matang, beralaskan alumunium foil dan daun talas.
"Siapa namamu?" tanya Rion tersenyum.
"Sazi..." jawabannya.
Rion tiba-tiba memeluknya erat."Aku yang seharusnya minta maaf. Dasar polos..." gumamnya gemas.
***
Bertahun-tahun berlalu, saat itu dirinya diantar pulang ke alamatnya oleh Herry. Fino merubahnya perlahan menjadi gemuk melarangnya menunjukkan kepandaian. Hingga pada usia 9 tahun Silvia mengurungkan niatnya untuk menjemput cucunya yang gemuk dan bodoh.
Hari, bulan, tahun kembali berlalu, pada akhirnya sosok Sazi yang saat itu masih mengenakan seragam sekolah menengah pertama pindah ke sekolah tempat Rion menimba ilmu.
Gadis yang membuatnya tidak dapat mengalihkan pandangannya.
***
Saat ini...
Rion masih menatap ke arah langit senja. Banyak hal yang ada difikirkannya. Dirinya ingin terus berada di dekatnya. Namun, akan sulit baginya, keluarga ibunya akan terus-menerus mengusiknya kecuali dirinya sudah mati.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Putri Nunggal
apa ini keluarganya sazi
2022-09-16
3
Putri Nunggal
sabar rion sabar ya
2022-09-16
3
Putri Nunggal
😂😂😂😂😂😂
2022-09-16
3