Sepasang sahabat yang masih berada di bawah guguran dedaunan kecil saling menatap beberapa saat. Kawin lari? Istilah yang cukup aneh bagi Sazi, mereka bukanlah pasangan kekasih. Jadi mengapa harus kawin lari?
"Dengar! Dave memang terlihat acuh di luar, tapi sebenarnya dia cerdas dan lembut padaku, selalu membuatku tertawa..." ucapnya tersenyum pada Rion.
"Walaupun aku tidak pintar, aku selalu lembut padamu dan dapat membuatmu tertawa, apa bedanya?" Rion mendekat, tepat berada di hadapan Sazi. Mata sepasang remaja yang saling menatap dari jarak yang begitu dekat.
Jantung yang berdegup begitu cepat membuat gadis itu gugup, mundur selangkah."A...aku ..."
"Kamu bisa menyukaiku kan?" pinta Rion mengepalkan tangannya, inilah kesempatan terakhir baginya. Tiket, tempat tinggal sementara, semua sudah direncanakan oleh dirinya dan sang ayah. Membawa Sazi, itulah tujuannya, membawa pergi gadis yang dicintainya.
Mungkin inilah saatnya dirinya harus berhenti berpura-pura bodoh. Mengumpulkan uang dan kekuasaan untuk ayahnya dan Sazi, membahagiakan mereka. Tapi apa bisa? Dengan rupanya yang sekarang akankah Sazi mencintainya?
"A...aku tidak bisa..." ucap Sazi tertunduk, sejenak kemudian kembali berusaha tersenyum, menatap ke arah sahabatnya. Seseorang yang membuat dirinya nyaman, menganggap Rion akan selalu ada untuknya.
Tapi apa benar? Hanya beberapa hari lagi dirinya harus pergi. Air mata Rion mengalir, memendam perasaan dari sekolah menengah pertama. Hingga hampir lulus sekolah menengah atas, perasaan yang tidak berbalas, walaupun sudah sedekat ini.
"Jangan menangis..." tangan Sazi terangkat, menghapus air mata sang pemuda.
Menyakiti Rion? Apa dirinya sudah menyakiti Rion? Tapi tidak ada yang salah dengan kata-katanya. Kesetiaan adalah suatu kebaikan bukan? Kebaikan yang juga akan menimbulkan sebuah kebaikan.
Mungkin kesalahan dirinya, hanya terlalu dekat dengan Rion.
"Aku mencintaimu..." kata-kata dari Rion lagi, tidak menyerah, memegang tangan Sazi yang menghapus air mata di pipinya.
Manusia bodoh? Mungkin aku memang bodoh, saat berfikir mungkin kamu menyukaiku. Tapi merupakan imajinasi yang indah, imajinasi yang aku harapkan untuk menjadi kenyataan... batin Rion, dengan air mata yang kembali mengalir.
Sazi terdiam sesaat, hatinya juga terasa menyakitkan entah kenapa. Tapi dirinya tetap harus setia pada Dave, seorang gadis yang menekan perasaannya, menolak perasaan pria di hadapannya."Aku tidak bisa, kita tetap dapat menjadi teman kan?" ucapnya penuh harap.
"Apa dengan kita menjadi sahabat, kamu akan bahagia?" tanya Rion, dengan nada suara bergetar. Menyatakan cinta pada wanita yang telah mencintai pria lain, benar-benar terasa menyakitkan. Andai saja dirinya orang yang dicintai Sazi.
Gadis yang mengangguk membenarkan, menepis semua perasaannya yang terpendam, baru saja tumbuh bagaikan tunas kecil di hatinya.
Rion tertawa kecil, kemudian menghapus air matanya sendiri."Mau aku gendong? Maka kamu akan tetap menjadi sahabatku," tanyanya, berusaha tersenyum.
Sazi mengangguk, perlahan pemuda gemuk itu membungkuk, membiarkan Sazi naik ke punggungnya. Mulai berjalan melewati area jembatan gantung, jembatan dengan pemandangan yang cukup indah.
"Sazi, aku akan tersenyum jika kamu tersenyum. Jadi tetaplah tersenyum seperti ini, apapun yang akan terjadi..." ucap Rion tiba-tiba memulai pembicaraannya.
Sazi mengangguk, tidak mengetahui masa depan menyakitkan yang akan dialaminya. Mungkin sebuah keputusan yang bodoh, takdir yang salah. Seharusnya dirinya ikut melarikan diri bersama Rion.
Namun, pilihan yang tidak mungkin akan dilakukannya. Mungkin dalam anggapannya, Rion akan selalu ada di dekatnya, menjaganya sebagai sahabat.
***
Beberapa hari kemudian...
Sudah cukup lama menunggu, namun wajah itu tidak terlihat juga. Tiga hari sudah Rion benar-benar menghilang, tidak berangkat ke sekolah. Bagaikan tidak pernah ada.
Ada saatnya seorang wanita tua datang menanyakan tentang Rion pada pihak sekolah, namun tidak ada yang dapat dikatakan para guru. Pernah ada saat, Sazi mencoba mencari alamat rumahnya, tapi hanya tempat kost sempit yang kosong.
Hingga datang hari dimana sang wanita tua itu datang kembali ke sekolah, memakai pakaian serba hitam. Membawa foto berukuran 10R, dengan wajah Rion yang tersenyum berada di sana.
Sarung tangan putih membawa foto sang pemuda. Menanyakan pada wali kelas, dimana tempat Rion duduk.
Sang wali kelas menunjuk bangku kosong paling belakang. Perlahan wanita tua itu melangkah, meletakkan foto berukuran 10R di tempat Rion biasa duduk. Serta buket bunga lily putih.
Wanita tua yang sejenak melepaskan kacamata hitamnya, meraba foto, terlihat dengan jelas air mata yang mengalir di pipi keriputnya. Kembali melangkah ke depan berada di samping kepala sekolah dan wali kelas.
"Maaf, mengganggu waktu belajar kalian. Perkenalkan, beliau adalah Silvia, nenek dari teman kita Rion. Kedatangannya kemari, ingin meminta doa serta meminta maaf jika almarhum teman kalian Rion, pernah berbuat kesalahan..." kata-kata dari sang kepala sekolah, membuat wajah Sazi seketika pucat pasi.
Tangannya gemetar, air matanya mengalir, melirik ke arah belakang. Foto pria gemuk yang tersenyum, lengkap dengan buket bunga lily putih di hadapan foto yang berada di sana.
Rion... batinnya, terasa menyakitkan, sangat. Pemuda gemuk, baik hati, kenapa harus pergi di usia semuda ini? Satu-satunya orang yang mengingat hari ulang tahunnya, sudah tidak ada.
Suara sang wanita tua terlihat bukan dari kalangan menengah ke bawah, namun, terlihat dari kalangan atas, mulai terdengar,"A...aku tidak begitu mengenal cucuku. Ka... karena itu, aku sudah salah..." ucapnya tertunduk, menangis lirih."Kalian yang dekat dengannya, tolong kirimkan doa, agar dia memaafkanku. Agar dia tenang di sisi-Nya..."
Tangisan lirihnya terdengar, setelah beberapa hari, menelusuri jejak Rion. Namun, ayah dan anak itu melarikan diri, beberapa kali, hingga pergi jauh ke luar kota, menumpangi bis yang mengalami rem blong mengantar mereka pada kematian.
Sebuah bis yang kehilangan kendali, hingga jatuh ke dalam sungai besar, menyebabkan tidak satupun penumpangnya selamat. Jenazah-jenazah yang mungkin telah terseret arus.
Rasa bersalah yang menggerogoti Silvia, cucu yang berpura-pura bodoh agar tidak dipisahkan dengan ayahnya. Semua baru disadari olehnya, seberapa kesulitan hidup cucunya.
Keturunan laki-laki dari pria yang dicintainya. Tuan muda pemilik rumah itu sebenarnya, sudah meninggal karena egonya yang tidak dapat menerima, seorang keturunan dari menantu yang dianggapnya rendah.
Kini dirinya mengerti setelah kepergian Rion, mimpi buruk yang selalu mendatanginya. Almarhum suaminya, yang berbalik pergi bagaikan kecewa padanya. Seseorang yang mengangkat statusnya dari seorang pelayan, hingga menjadi nyonya muda.
Mungkin inilah yang terjadi, kala dirinya mengabaikan satu-satunya permintaan almarhum suaminya. Hanya Rion cucu laki-laki satu-satunya yang terlahir, harus meninggal di usia yang semuda ini karena kesalahannya.
Sang kepala sekolah menghela napas kasar."Teman kalian Rion, merupakan salah satu korban kecelakaan bis yang terjatuh ke dasar sungai. Tidak ada korban yang selamat. Karena itulah, tolong doakan teman kalian agar tenang di sisi-Nya. Menurut agama dan kepercayaan kalian masing-masing..."
Sazi terisak, tidak dapat menerima kepergian Rion. Namun apa yang dapat dilakukannya? Hanya menunduk mengirimkan doa padanya, dengan tangan gemetar.
Maaf sudah menolakmu, aku akan menjadi pasangan yang mencintaimu, mungkin di kesempatan atau kehidupan yang lain. Tenanglah di sisi-Nya...
Sazi membuka matanya, air matanya mengalir menyadari perasaannya. Perasaan yang sejatinya dianggap salah olehnya. Tidak seharusnya memiliki perasaan pada pria selain Dave.
Namun...
"Aku juga mencintaimu..." lirihnya, berusaha tersenyum, sedikit menoleh ke belakang. Foto seorang pemuda yang tersenyum di meja tempatnya biasa duduk, dengan buket bunga lily putih di hadapannya. Penanda sang pemuda telah tenang menghadap-Nya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Priska Jacob
gak mungkin meninggal rion, kalo meninggal pasti udah tamat nih ceritanya
2022-06-18
3
Priska Jacob
tuh kan baru sadar kalo sazi juga cinta sm rion pas rion nya udah dinyatakan meninggal
2022-06-18
2
Noveler
bner2 genius si Rion, 👍👍👍👍👍
2022-06-16
4