Hari sudah mulai malam, suara batuk Fino (ayah Rion) terdengar. Perlahan putranya itu, mendudukan, memberikan obat padanya.
"Sudah kamu istirahat sana..." Fino menatap wajah lebam putranya, serta luka di kepalanya.
"Ayah tidur ya?" ucapnya dalam tempat kost 3 kali 3 meter. Disanalah mereka tinggal, tempat kost kumuh yang murah.
Sang ayah memejamkan matanya, bersamaan dengan Rion yang mulai bangkit, berjalan menuju sudut ruangan."Sudah 75, tinggal 25 lagi..." ucapnya bersemangat, mengeluarkan kantung kresek. Hal yang dilakukannya? Membuat sendiri hadiah ulang tahun untuk Sazi.
Potongan kertas mulai dibentuknya satu persatu. Tidak memiliki uang? Memang benar, namun dirinya tetap ingin memberikan kado di hari ulang tahun gadis itu nanti.
Satu persatu kertas biru itu terbentuk melekat...
Bunga mawar biru yang indah terbentuk satu-persatu. Dirangkainya perlahan, wajah yang tersenyum, mencintainya wanita terunik yang pernah ditemuinya.
Hingga rangkaian indah yang dikerjakannya dengan bergadang selama beberapa hari itu rampung pukul 1 dini hari.
Seratus tangkai bunga mawar biru dari kertas yang terangkai indah. Inilah hadiah ulang tahunnya untuk Sazi. Apa Sazi akan menyukainya? Entahlah...
Namun dirinya cukup bangga melihat hasil karyanya sendiri. Perlahan mendekati tubuh ayahnya yang semakin hari semakin lemah saja. Dalam seminggu mungkin hanya dapat bekerja di pasar tiga kali, karena itulah dirinya yang terkadang menggatikan sang ayah.
Hidup berdua sudah cukup bahagia bagi seorang Rion. Tidak memiliki handphone android, belajar segala hal dari perpustakaan sekolahnya.
Pemuda itu mulai berbaring di samping tubuh ayahnya. Lembar jawaban yang diisinya mengganggu fikirannya hingga sekarang. Demi uang sekolah yang banyak menunggak, dirinya mengisi semuanya. Tapi tidak ada pertanyaan yang penting disana. Bahkan pertanyaan yang menyangkut perusahaan.
Tidak pernah mengikuti tes IQ? Tentu saja, dirinya asing dengan hal itu. Hanya menuruti kata ayahnya, menjadi gemuk, jelek dan bodoh.
***
Pemuda bertubuh sintal itu memakan banyak nasi kali ini. Hanya nasi dan kerupuk. Buket bunga dititipkannya pada warung dekat sekolah. Menunggu saat yang tepat untuk memberikannya pada Sazi.
Hingga wanita itu turun dari mobil pribadinya bersama dengan seorang gadis.
"Hai ..." Dave yang baru memarkirkan motornya menyapa mereka tersenyum.
"Sazi, aku akan pindah ke sekolah ini, hari ini. Boleh aku minta tolong pacarmu untuk mengantar berkeliling, aku takut dikerjai karena aku siswa baru." ucap Alexa tersenyum diam-diam ke arah Dave.
Sazi tersenyum."Kenapa bukan aku saja, aku bisa..." kata-katanya tiba-tiba disela.
"Aku tidak ingin tuan putriku ini kelelahan. Jadi biar aku saja yang mengantar Alexa," ucap Dave benar-benar pandai, mengacak-acak rambut Sazi. Perlahan berjalan bersama Alexa setelah meletakkan helm di atas motornya.
Gadis itu hanya menghela napasnya masih tersenyum. Hingga orang yang paling mendebarkan aura minus mendekat tanpa disadarinya."Melihat apa? Pacarmu selingkuh dengan sepupumu ya?" tanyanya memakan roti bantet gagal jadi pemberian tetangganya yang membuka pabrik roti tawar.
Plak...
Entah kenapa tiba-tiba lengan pemuda itu dipukul oleh Sazi."Sakit...." pekiknya.
"Makanya kalau punya mulut itu dijaga!" bentak Sazi.
"Aku menjaganya, memberinya makan setiap hari. Kamu yang tidak menjaga mulutmu, makanya jadi kurus," jawabannya tersenyum. Sedangkan Sazi memijit pelipisnya sendiri menatap sifat minus pemuda ini.
Tidak dapat menjawab dan berkata-kata itulah yang terjadi padanya. Bagikan berhadapan dengan seorang pelawak, berjalan meninggalkannya.
"Sazi tunggu aku..." panggil Rion berjalan mengikutinya, dengan mulut dipenuhi roti.
"Berhenti mengikutiku atau..." kata-kata Sazi terhenti sejenak.
"Atau apa? Apa kamu akan kamu akan menyukaiku lalu memutuskan Dave?" tanya Rion antusias.
"Dasar bodoh!" umpat Sazi berjalan pergi meninggalkannya.
***
Hari sudah semakin siang gadis itu diam terpaku menatap derasnya hujan yang turun. Dave? Pemuda itu pulang bersama Alexa terlebih dahulu. Dengan alasan perut Alexa tiba-tiba sakit.
Sedangkan dirinya masih berada di area sekolah guna menunggu jemputan. Tangannya tiba-tiba ditarik oleh Rion, tersenyum membawanya ke sudut tangga darurat yang sepi.
"Selamat ulang tahun..." ucapnya, menatap ke arah Sazi dengan mata yang masih lebam dan tubuh yang babak belur. Menyodorkan buket bunga mawar birunya yang terbuat dari kertas.
"Aku memerlukan waktu untuk membuatnya jadi..." kata-katanya terhenti, Sazi tiba-tiba menunduk menangis di hadapannya. Bahkan Dini melupakan hari ulang tahunnya, begitu juga dengan Dave dan Alexa. Tapi si buluk mengingatnya?
"Hadiahnya jelek ya? Aku akan menggantinya... maaf..." Rion tertunduk berusaha meraihnya kembali dari tangan Sazi.
"Aku menyukainya... mawar biru, aku menyukainya..." ucapnya tersenyum, mempertahankan buket bunga agar tidak diambil kembali oleh Rion.
Pemuda itu tertegun, kemudian tersenyum. Satu kata menyukai, kata yang akan selalu diingat olehnya.
"Terimakasih, sebagai rasa terimakasihku kamu adalah orang pertama yang mengingat hari ulang tahunku. Aku akan menggambar sketsa wajahmu," ucapnya tertunduk berurai air mata, segera dihapus olehnya.
Pemuda itu kemudian menggangguk dengan cepat, berjalan bersama Sazi menuju ruangan seni. Sepasang tangan saling bersinggungan perlahan saling bergandengan menuju ruangan di lantai dua.
Senang? Tentu saja, dirinya merasa bagaikan telah memiliki dunia.
Sketsa indah yang dibuatnya di ruang kesenian, untuk seorang sahabat bernama Rion. Pemuda gemuk yang dari dulu memendam perasaan padanya.
Sahabat? Rion hanya berusaha tersenyum ingin lebih dari itu. Masih teringat jelas dibenaknya kala Sazi tersenyum pindah pertama kali ke sekolah menengah pertama tempatnya mereka bersekolah dahulu. Anak yang ceria, memperkenalkan dirinya dengan nama Sazi.
Sebuah perasaan kagum yang timbul karena rupa fisik. Namun, kejadian saat dirinya dipukuli, membuat Rion yakin Sazi-lah yang diinginkannya. Bukan karena kecantikan sebuah rupa fisik. Namun, perasaan yang benar-benar tulus. Hingga Rion sempat menjadikan dirinya sebagai perisai, untuk melindungi tubuh gadis ini.
Sazi, nama yang akan diingatnya sebagai cinta pertama yang menyelamatkan nyawanya. Sekaligus wanita pertama yang membuat dirinya rela mengorbankan hidupnya, untuknya.
Goresan tangannya menggunakan pensil, benar-benar terlihat nyata, beberapa kali Sazi melirik mawar biru yang ada di sampingnya, sungguh indah, walaupun hanya terbuat dari kertas.
Wajah Rion kembali dilukisnya, dirinya tersenyum menatap wajah gemuk dengan satu mata yang lebam. Serta balutan perban di kepala. Tulus, ketulusannya membuat Sazi perlahan munyukainya tanpa disadari oleh dirinya sendiri.
Sketsa yang sudah usai dibuatnya, Rion segera bangkit ingin melihat hasilnya. Namun dengan cepat Sazi menyembunyikannya."Ini untukku, anggap saja hadiah kedua."
Rion baru membuka mulutnya ingin bicara, namun...
"Kenapa? Mau protes!? Makanya lihat ke arah cermin, gambar wajahmu sendiri!" Sazi tersenyum mengeluarkan aura judesnya.
Rion menggeleng."Mumpung sudah disini, aku ingin memberikan hadiah ketiga..." ucapnya, membuka lemari ruang musik. Meraih biola, partitur dan buku petunjuk tangga nada dan cara memainkannya yang ada di sana.
Sazi tertawa menatapnya."Memang kamu bisa memainkannya? Aku harus mengambil penyumbat telinga dulu..."
"Beri aku waktu 30 menit, mumpung hujan di luar masih lebat," ucapnya menatap hujan angin disertai petir dari jendela.
Sazi mengangguk menghela napas kasar mulai memainkan phoncellnya. Seperti biasa tidak ada ucapan selamat dari ibunya sendiri. Terkadang Sazi tidak mengerti, jika ayahnya di rumah keluarga mereka bagaikan keluarga sempurna. Namun, jika tidak, dirinya bagaikan orang asing di hadapan ibunya.
Mengapa? Entahlah, dirinya juga tidak tau ...
Beberapa puluh menit mencoba beberapa nada, akhirnya Rion menatap ke arah Sazi."Jika aku bisa memainkan biola, apa aku boleh meminta satu hadiah darimu?" tanya Rion ragu.
Sazi tertawa kecil, kemudian mengangguk."Tapi hanya kalau bisa memainkannya dengan baik,"
Perlahan senyuman itu memudar kala sang remaja memainkan nada yang ada di partitur di hadapannya. Benar-benar nada yang sama, bahkan lebih indah dari yang dimainkan temannya yang juga mengikuti kelas seni.
Wajah si gemuk yang lebam, bagaikan bos-bos tua mesum dalam komik atau novel. Tapi nada-nada ini dimainkan oleh Rion. Bagaikan wajah sebenarnya yang tertutup timbunan lemak jahat dan luka terlihat. Wajah rupawan seorang pemuda dalam imajinasi Sazi.
Cahaya yang menyinari rambut hitam dan kulit putihnya, konsentrasi memainkan nada menatap dengan mata tajamnya. Hingga nada terhenti, semua ilusi itu berakhir, rupa asli Rion yang gemuk kembali...
Sazi menjambak rambutnya sendiri."Kenapa aku jadi berimajinasi Rion menjadi bertubuh proposional!?" gumamnya.
Pemuda itu perlahan berjalan mendekatinya."Aku bermain dengan sempurna, berarti ada hadiah untukku..."
"Kamu minta apa? Segerobag ayam goreng? Atau traktiran di restauran mahal?" tanya Sazi mengakui kekalahannya, masih duduk di kursinya.
"Ini..." Rion membungkuk, bergerak cepat mengecup bibir gadis tercantik di kelasnya. Kemudian meletakkan biolanya asal. Berlari melarikan diri dengan cepat.
"Br*ngsek! Itu ciuman pertamaku!! Hanya milik Dave!!" bentaknya, bangkit mengejar Rion.
"Maaf!!" teriak Rion melarikan diri.
Hingga...
Bug...
Tas Sazi yang berat menimpa kepalanya, setelah dilemparkan sang gadis dari jarak 8 meter menyisakan si gemuk yang jatuh terkapar."Inilah penderitaan cinta..." gumamnya, menatap langit-langit lorong sekolahnya, tersenyum.
Bersambung
...Aku terlalu miskin? Memang benar, saat aku menatap hadiah bunga langka bernilai puluhan juta rupiah......
...Hadiah yang ingin aku berikan padamu, wanita yang aku cintai......
...Tidak memiliki uang untuk membelinya, karena itulah aku membuatnya......
...Mawar biru......
...Kamulah satu-satunya, mungkin itulah maknanya. Berharap di masa depan kamu akan menatapku, sebagai satu-satunya pria dalam hidupmu......
...Untuk Sazi, satu-satunya wanita dalam hidupku......
Rion...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Яцяу
masih baper aja bacanya.. 😍😍
2023-05-21
2
Widi Widurai
paling indehoy
2023-04-20
1
Widi Widurai
mulai dr sini hrsnya curiga. knp ga ngajak keliling sazi? caper aja si itu mwh
2023-04-20
1